Ini kisah tentang Kuba, negara kecil di Karibia dengan pendapatan per kapita yang jauh di bawah rata-rata dunia, terimpit embargo lebih dari enam dekade, dan hidup dalam keterbatasan bahan bakar, pangan, serta teknologi.
Dalam situasi sulit, ketika wabah Ebola melanda Afrika Barat, Kuba justru hadir dengan mengirimkan ratusan dokter. Lebih dari itu, Kuba juga mengembangkan vaksin kanker pertama dan memiliki jumlah dokter yang melimpah di tengah segala keterbatasan.
Sampai-sampai Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Ban Ki Moon, saat mengungjungi Kuba pada 2014 lalu, menyebut sistem kesehatan Kuba bisa menjadi “contoh bagi negara lain di dunia”.
Sejak 1962, Amerika Serikat (AS) memberlakukan embargo maksimum terhadap Kuba. Aksi itu mulai melarang perdagangan, memblokir akses ke obat-obatan dan peralatan medis berteknologi tinggi, serta memutus Kuba dari sistem keuangan internasional. Dampaknya terasa sampai ke meja operasi dan lemari obat rumah sakit.
Namun alih-alih menyerah, Kuba memilih jalan yang berbeda. Negara ini membangun sistem kesehatan berbasis komunitas, menginvestasikan sumber daya yang terbatas ke riset bioteknologi, dan melatih lebih banyak dokter dibanding rasio hampir semua negara di dunia.
Hasilnya, pencapaian luar biasa yang layak diakui dan dicatat. Kisah Kuba merupakan cermin bagi dunia tentang politik kesehatan yang mengabdi kepada kepentingan warga dan kemanusiaan.
Berikut sembilan catatan prestasi Kuba di bidang kesehatan:
───
- Berperan penting mengatasi wabah ebola
Ketika ebola meledak di Afrika Barat pada 2014 dan merenggut ribuan nyawa di Guinea, Sierra Leone, dan Liberia, respons internasional terbilang lambat. Negara-negara kaya berdebat di ruang rapat. PBB mengingatkan bahwa bantuan besar-besaran dibutuhkan segera.
Kuba tidak menunggu lama. Dalam hitungan minggu, ratusan dokter dan perawat Kuba sudah berada di garis depan wabah. Mereka mengenakan alat pelindung diri di tengah panas tropis, dan merawat pasien yang sekarat diterjang wabah mengerikan. Srbetulnya ini bukanlah kejutan. Seluruh tenaga medis Kuba memang diwajibkan mengikuti pelatihan respons bencana dan pelatihan penanganan wabah sebagai bagian dari kurikulum standar mereka.
Ironisnya, Kuba yang ekonominya tertekan embargo mampu menggerakkan brigade medis internasional jauh lebih cepat dari negara-negara dengan anggaran pertahanan ratusan miliar dolar. Ini menunjukkan betapa sebuah negeri kecil, yang berjuang nyaris sendirian melawan embargo dan plot kudeta dari imperialisme AS, tetap bisa menunjukkan solidaritas kemanusiaan.
- Rasio dokter tertinggi di dunia
Kuba memiliki rasio dokter per kapita tertinggi di dunia: sekitar 8 hingga 9 dokter per 1.000 penduduk, jauh melampaui AS yang berada di angka 2,6 per 1.000 penduduk maupun rata-rata global yang hanya sekitar 1,5 per 1.000 penduduk. Angka ini bukan kebetulan. Ia adalah hasil dari keputusan politik yang konsisten selama lebih dari enam dekade. Bagi Kuba, mencetak dokter adalah investasi negara, ketimbang belanja militer dan birokrasi.
Di Kuba, kuliah kedokteran sepenuhnya gratis. Tidak ada utang mahasiswa, tidak ada tekanan pasar yang mendorong lulusan memilih spesialisasi bergaji tinggi di kota besar. Dokter yang baru lulus dikirim ke klinik-klinik komunitas di seluruh pelosok negeri, termasuk daerah terpencil yang di negara lain tidak akan pernah dijamah tenaga medis karena tidak menguntungkan secara ekonomi.
Sistem ini juga yang memungkinkan Kuba melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan negara manapun: mengirim ribuan dokter ke luar negeri secara bersamaan tanpa meruntuhkan sistem kesehatan di dalam negeri. Saat ebola melanda Afrika Barat, saat gempa menghancurkan Haiti, saat bencana lain membutuhkan respons cepat, Kuba selalu punya cadangan tenaga medis yang siap berangkat. Ini adalah “kekayaan” yang tidak bisa diblokade oleh embargo manapun, karena ia tersimpan dalam diri manusia, bukan di gudang atau rekening bank.
- Membuat obat diabetes pencegah amputasi
Bagi jutaan penderita diabetes di seluruh dunia, luka kaki yang tidak sembuh adalah mimpi buruk yang berakhir di meja operasi. Komplikasi ini, yang dikenal sebagai ulkus diabetikum, adalah salah satu penyebab utama amputasi tungkai non-traumatik di dunia.
Pada 2006, ilmuwan bioteknologi Kuba meluncurkan Heberprot-P, sebuah obat suntik berbasis faktor pertumbuhan epidermal yang terbukti mempercepat penyembuhan luka kaki parah dan secara signifikan mengurangi risiko amputasi. Puluhan negara di Eropa, Amerika Latin, dan Asia kini telah menggunakannya.
Di AS, belum. Obat ini tidak disetujui FDA hingga hari ini. Sebagian pasien AS yang putus asa bahkan rela terbang ke Havana demi mendapatkan pengobatan yang tidak tersedia di negara terkaya di dunia.
- Menghapus penularan HIV dan sifilis dari ibu ke bayi
Pada 2015, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan sesuatu yang luar biasa. Kuba disebut sebagai negara pertama di dunia yang berhasil mengeliminasi penularan HIV dan sifilis dari ibu ke bayi baru lahir. WHO menyebutnya sebagai salah satu pencapaian kesehatan masyarakat terbesar yang mungkin dicapai manusia.
Kuncinya bukan teknologi mutakhir, tapi sistem. Setiap ibu hamil di Kuba mendapat akses ke perawatan prenatal sejak awal kehamilan, tes HIV dan sifilis dilakukan secara rutin, dan persalinan caesar tersedia bagi mereka yang membutuhkannya untuk mencegah penularan. Tidak ada biaya, tidak ada hambatan administratif, tidak ada asuransi yang ditolak.
AS, dengan anggaran kesehatan terbesar di planet ini, hingga kini belum mampu mencapai hal yang sama. Setiap tahun, masih ada bayi-bayi yang lahir dengan HIV di negeri yang paling sering mengklaim dirinya sebagai yang terdepan dalam segala hal.
- Sekolah kedokteran gratis untuk mahasiswa seluruh dunia
Sekolah Kedokteran Amerika Latin (ELAM) di Havana adalah institusi yang sulit dijelaskan kepada orang yang terbiasa dengan logika pasar.
Sekolah ini menerima mahasiswa dari negara-negara miskin, termasuk dari Palestina, memberikan mereka pendidikan kedokteran penuh selama enam tahun, termasuk tempat tinggal dan makan, tanpa biaya sepeser pun. Syaratnya satu: setelah lulus, mereka kembali ke komunitas asal dan mengabdi kepada mereka yang paling membutuhkan.
Hingga 2019, ELAM telah meluluskan lebih dari 29 ribu dokter dari lebih dari 100 negara. Termasuk sejumlah kecil mahasiswa dari keluarga miskin di AS, di mana biaya kuliah kedokteran mencapai sekitar Rp 6 miliar untuk satu gelar.
ELAM adalah laboratorium nyata bahwa pendidikan kedokteran tidak harus menjadi industri yang menghasilkan dokter dengan utang ratusan ribu dolar, yang kemudian terpaksa memilih spesialisasi bergaji tinggi ketimbang pengabdian di daerah terpencil.
- Mengirim bantuan medis ke berbagai bencana dunia
Saat gempa mengguncang Cile pada 1960, Kuba adalah salah satu yang pertama mengirimkan tim medis. Sejak saat itu, pola ini berulang puluhan kali. Ketika bencana terjadi, Kuba hadir jauh lebih cepat.
Tahun 2005, setelah AS dihantam badai Katrina, Kuba mengirim 1.500 dokter ke sana. Mereka diberi nama “Brigade Henry Reeve”, yang merujuk pada nama tentara kelahiran Amerika yang memilih bergabung dengan rakyat Kuba dalam memerangi kolonialisme.
Hingga pertengahan 2020, Brigade Henry Reeve sudah mengirim dokter ke 51 negara di dunia. Secara keseluruhan, ada 55 ribu dokter Kuba yang melakukan kerja kemanusiaan di 66 negara. Ya, kerja kemanusiaan. Mereka tak dibayar sepeser pun.
Di Indonesia, jejak dokter Kuba juga sangat membekas. Saat Aceh diguncang gempa dan diterjang tsunami pada 2004, yang menewaskan lebih 200 ribu orang, Kuba mengirim 25 dokter dan tenaga medis. Mereka langsung diterjunkan ke lapangan.
Dua tahun kemudian, Yogyakarta dan Jawa Tengah diguncang gempa berkekuatan 6,3 SR. Hanya 60 jam setelah Fidel Castro menelepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 135 dokter Kuba tiba di Yogyakarta. Tak hanya itu, dokter-dokter Kuba juga mendirikan dua rumah sakit lapangan.
- Menciptakan vaksin kanker pertama di dunia
Pusat Imunologi Molekuler Kuba mengembangkan CIMAvax-EGF — vaksin terapeutik pertama di dunia untuk kanker paru-paru. Berbeda dari vaksin pencegah penyakit pada umumnya, vaksin ini bekerja pada pasien yang sudah terdiagnosis. Ia membantu sistem imun tubuh mengenali dan menyerang sel tumor, memperlambat pertumbuhan kanker dan memperpanjang harapan hidup pasien stadium lanjut hingga berbulan-bulan, bahkan lebih lama.
Vaksin ini telah tersedia gratis bagi seluruh warga Kuba sejak 2011. Di AS, ia masih dalam tahap uji klinis. Sejumlah pasien AS yang kehabisan pilihan rela melanggar embargo demi terbang ke Havana dan mendapatkan pengobatan yang tidak diizinkan di negara mereka sendiri.
- Angka kematian bayi lebih rendah dari AS
Salah satu data paling mengejutkan dalam perbandingan kesehatan global adalah angka kematian bayi di Kuba lebih rendah dari AS. Berdasarkan data WHO dan UNICEF, tingkat kematian anak di bawah lima tahun di Kuba berada di kisaran 4 hingga 5,5 per 1.000 kelahiran hidup, lebih baik dari AS yang mencatat angka sekitar 6,5. Dalam konteks Amerika Latin dan Karibia, Kuba hanya kalah dari Kanada.
Pencapaian ini bukan kebetulan. Setiap ibu hamil di Kuba mendapat setidaknya 12 kali kunjungan pemeriksaan selama kehamilan. Perempuan dengan risiko kesehatan atau sosial tinggi ditempatkan di rumah bersalin komunitas—fasilitas residensial gratis yang menyediakan makanan bergizi, edukasi kesehatan, dan pengawasan medis intensif hingga persalinan tiba. Program ini membantu menekan angka bayi lahir dengan berat badan rendah: hanya 5,3 persen di Kuba, dibanding 8,3 persen di AS.
Yang membuat angka ini lebih bermakna adalah konteksnya. Di mana pendapatan per kapita Kuba hanya sepersepuluh dari AS. Artinya, Kuba membuktikan bahwa kematian bayi bukan semata soal kekayaan negara—melainkan soal keseriusan negara dalam melindungi nyawa warganya sejak sebelum mereka lahir.
Catatan jujur perlu ditambahkan. Angka kematian ibu (maternal mortality) Kuba lebih sulit untuk dibanggakan. Indikator ini stagnan selama dua dekade di kisaran 40-an per 100 ribu kelahiran hidup, dan sempat meningkat dalam beberapa tahun terakhir di tengah krisis ekonomi yang memperlemah sistem kesehatan. Ini adalah pengingat bahwa bahkan sistem yang paling progresif pun tidak kebal terhadap tekanan struktural—termasuk tekanan yang ditimbulkan oleh embargo yang terus berlangsung.
- Memberantas polio dan enam penyakit menular lainnya
Pada 1962, tepat di tengah krisis rudal Kuba yang hampir memicu perang nuklir, pemerintah Kuba meluncurkan kampanye vaksinasi polio nasional. Dalam satu program terkoordinasi, lima juta dosis vaksin diberikan kepada 87,5 persen populasi anak di seluruh negeri, dari kota besar hingga desa terpencil. Hasilnya, sejak 1962, tidak ada lagi kematian akibat polio yang tercatat di Kuba. WHO dan PAHO secara resmi menyertifikasi eliminasi polio di Kuba pada 1994, dan menjadikan Kuba salah satu negara pertama di dunia yang mencapai hal ini.
Namun Kuba tidak berhenti di situ. Program imunisasi nasionalnya kini melindungi anak-anak dari 13 penyakit sekaligus: polio, tifus, tetanus, difteri, batuk rejan, rubela, campak, gondok, tuberkulosis, hepatitis B, haemophilus influenza B, meningitis B, dan meningitis C. Vaksin meningitis B bahkan dikembangkan sendiri oleh ilmuwan Kuba ketika negara-negara lain belum memilikinya. Cakupan vaksinasi campak mencapai 100 persen pada 2022.
Enam penyakit menular lainnya, tetanus neonatal, difteri, campak, batuk rejan, dan rubela, telah dieradikasi dari Kuba. Di banyak negara berkembang, penyakit-penyakit ini masih merenggut ribuan nyawa anak setiap tahunnya.
Di dunia, Indonesia menjadi negara penderita campak terbesar kedua dunia. Di Kuba, mereka tinggal sejarah. Ini adalah produk dari sistem kesehatan yang percaya bahwa pencegahan jauh lebih murah dan lebih manusiawi daripada pengobatan.
Bayangkan Kuba tanpa embargo
Mungkin fasilitas kesehatan Kuba tak semewah negara maju, tapi pencapaian mereka sangat luar biasa. Pertanyaan yang menggantung: apa yang bisa dicapai Kuba jika embargo tidak pernah ada?
Selama lebih dari 60 tahun, embargo AS membekukan akses Kuba ke peralatan medis berteknologi tinggi, obat-obatan paten, sistem pembiayaan internasional, dan mitra riset ilmiah. Kuba mengembangkan Heberprot-P bukan karena punya sumber daya berlimpah, melainkan karena mereka tidak punya pilihan lain selain berinovasi dengan apa yang ada.
Negara-negara Skandinavia sering dijadikan tolok ukur: sistem kesehatan universal, angka harapan hidup tinggi, pendidikan gratis, ketimpangan rendah. Mereka mencapai ini dengan ekonomi terbuka, akses penuh ke pasar dunia, dan tidak pernah diblokade oleh tetangga adikuasa selama enam dekade.
Kuba meraih sebagian dari capaian itu dalam kondisi yang jauh lebih keras. Bukan karena keajaiban, melainkan karena sebuah pilihan mendasar, bahwa kesehatan dan pendidikan adalah hak, bukan komoditas.
Ketika sebuah negara kecil yang dikepung dan dimiskinkan oleh kekuatan terbesar dunia masih mampu mengirim dokter ke seluruh penjuru bumi, menciptakan vaksin kanker, dan menghapus penularan HIV dari ibu ke bayi, maka ada sesuatu yang layak dipelajari dari sana.










