Pada 29 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan pengenaan tarif impor terhadap negara mana pun yang memasok minyak ke Kuba. Dalih yang digunakan adalah klaim palsu bahwa Kuba merupakan ancaman terorisme terhadap AS.
Pada 20 Februari lalu, Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa Trump tidak memiliki wewenang konstitusional untuk mengenakan tarif tersebut. Namun, kebijakan blokade minyak tetap berlanjut dengan dalih hukum yang berbeda. Blokade ini bukan sekadar sanksi ekonomi biasa. Ia adalah pengepungan total yang berpotensi mematikan, setara dengan keadaan perang.
Kuba kini benar-benar terkepung. Tidak ada setetes minyak pun yang boleh masuk ke wilayahnya. Venezuela, yang sudah lama dihantam sanksi berat AS, kehilangan kendali atas penjualan minyaknya setelah serangan militer AS pada 3 Januari 2026. Meksiko, pemasok terbesar minyak mentah Kuba tahun 2025 dengan kontribusi 44 persen, langsung menyerah.
Presiden Claudia Sheinbaum pada 10 Februari menyatakan bahwa perusahaan negara PEMEX tidak akan lagi mengirimkan minyak ke Havana. Ketergantungan Meksiko terhadap gas alam AS mencapai 96 persen dari total impornya, membuat negara itu tak berdaya menghadapi tekanan Washington.
Rusia sempat menjadi harapan kecil. Pengiriman besar terakhir dari Rusia tiba pada Februari 2025. Pada 12 Februari, pemerintah Moskow mengumumkan akan mengirimkan minyak mentah dan produk petroleum sebagai bantuan kemanusiaan. Bahkan ada laporan kapal tanker berbendera Hong Kong membawa minyak Rusia akan tiba di Kuba awal Maret. Namun, sumber di Moskow kemudian membantahnya.
Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodríguez diberitahu bahwa tidak ada pengiriman minyak dari Rusia. Sementara itu, krisis kemanusiaan di Kuba semakin parah setiap hari.
Kuba yang lumpuh
Gambaran di lapangan sungguh menyayat hati. Alejandra Garcia melaporkan antrean panjang untuk mendapatkan bahan bakar, pemadaman listrik total, rumah sakit tanpa listrik, keluarga yang berjalan kaki puluhan kilometer untuk mendapatkan kebutuhan dasar. Bus-bus berhenti beroperasi karena kekurangan bahan bakar. Di salah satu rumah sakit, tim dokter harus mengoperasi seorang ibu hamil hanya dengan cahaya ponsel. Lampu operasi, mesin anestesi, dan inkubator bayi baru lahir mati total.
Sejak Januari 2026, situasi memburuk drastis. Sistem irigasi pertanian lumpuh karena pompa air tidak mendapat listrik. Koperasi pertanian hanya memperoleh aliran listrik empat jam sehari. Lebih dari separuh lahan mereka terpaksa dibiarkan tidak ditanami karena benih dan pupuk kimia tidak tersedia. Petani juga memasak dengan kayu bakar dan arang.
Roxana Elizabeth di Springer menulis bahwa efek blokade energi yang belum pernah terjadi sebelumnya sudah terlihat di jalanan: lalu lintas kendaraan pribadi dan angkutan umum menurun tajam, maskapai penerbangan internasional membatalkan penerbangan karena tidak bisa mengisi bahan bakar. Pemadaman listrik sering mencapai lebih dari 20 jam sehari. Sektor pertanian, industri, dan jasa yang sudah terpuruk bertahun-tahun terpaksa menghentikan atau memangkas operasionalnya. Akibatnya, inflasi melonjak, kekurangan barang meluas, dan keresahan sosial meningkat.
Rasa sakit akibat blokade minyak ini bertambah parah oleh luka lama blokade ekonomi AS selama 65 tahun. Menurut perhitungan Kuba, kerugian total mencapai USD 171 miliar, atau setara USD 2,10 triliun jika dihitung dengan inflasi. Hanya dalam periode Maret 2024 hingga Februari 2025, blokade menyebabkan kerugian USD 7,5 miliar—naik 49 persen dibanding tahun sebelumnya.
Revolusi Kuba bertahan dengan segala cara
Pada konferensi pers 6 Februari, Presiden Miguel Díaz-Canel menguraikan rencana darurat yang disusun oleh Biro Politik Partai Komunis, Dewan Pertahanan Nasional, dan Dewan Menteri. Para menteri muncul di televisi nasional untuk menjelaskan perubahan kepada rakyat.
Di sektor energi, bahan bakar minyak dialokasikan hanya untuk layanan publik esensial dan kegiatan ekonomi yang tak boleh berhenti. Listrik akan bergantung sepenuhnya pada minyak mentah dan gas alam produksi sendiri serta energi terbarukan. Penjualan bensin dibatasi sesuai ketersediaan. Sebanyak 20 ribu rumah tangga akan mendapat panel surya. Insentif ekonomi diberikan bagi pengembangan energi terbarukan, dan pembangunan taman surya menjadi prioritas investasi.
Di bidang kesehatan, layanan dasar diprioritaskan, terutama gawat darurat, kesehatan ibu dan anak, serta pengobatan kanker. Layanan “Medibus” tetap berjalan. Menteri Kesehatan José Ángel Portal Miranda mengumumkan penyesuaian penugasan staf, pengurangan operasi non-darurat, pemendekan masa rawat inap, penguatan sistem dokter keluarga, serta penggunaan telemedicine.
Produksi pangan diserahkan kepada provinsi dan munisipalitas dengan pendekatan yang lebih beragam: kebun kota, kebun keluarga, penggunaan tenaga hewan, dan irigasi berbasis energi terbarukan. Sumber daya dalam negeri dimaksimalkan. Kegiatan yang menghasilkan devisa, perlindungan sumber air, produksi industri yang menarik valuta asing, persiapan pertahanan, serta menjaga pelabuhan dan bandara tetap terbuka untuk bantuan bahan bakar, pangan, dan obat-obatan menjadi prioritas.
Untuk ketenagakerjaan, perjalanan dinas dibatasi, kerja jarak jauh dan dari rumah ditingkatkan. Aktivitas administrasi negara dan swasta hanya empat hari kerja dalam seminggu. Acara budaya dan olahraga dibatasi, kecuali seri baseball nasional yang tetap berlanjut hingga semifinal karena sudah masuk tahap krusial. Pendidikan disesuaikan dengan jadwal yang lebih pendek, penugasan guru berdasarkan jarak, dan penggabungan sesi belajar.
Solidaritas internasional
Partai-partai kiri, organisasi warga Kuba di luar negeri, Federasi Serikat Buruh Dunia, serta ratusan tokoh hiburan, akademisi, dan aktivis AS—termasuk 20 anggota Dewan Kota New York—menandatangani “Let Cuba Live, Biarkan Kuba Hidup”. Terdapat 45 sarjana menyatakan dukungan terhadap kemerdekaan Kuba dan menentang sanksi AS.
Bantuan material mulai berdatangan. Spanyol mengirimkan pangan dan obat-obatan melalui PBB. Afrika Selatan menyumbang makanan dan obat senilai USD 3,2 juta. Uni Eropa mengirimkan donasi USD 3 juta melalui gereja Katolik. Dua kapal perang Meksiko tiba di Havana pada 13 Februari membawa 814 ton pangan dan suplai medis. Presiden Sheinbaum berjanji pengiriman akan berlanjut dan “jembatan udara” dari negara lain akan dibuka.
Tiongkok menyatakan dukungan tegas. Setidaknya 90 ribu ton beras sedang dalam perjalanan, ditambah pinjaman USD 80 juta. Konvoi Nuestra América yang diorganisir Progressive International akan tiba di Havana pada 21 Maret dengan bantuan kemanusiaan dari berbagai organisasi internasional.
Namun, dukungan internasional masih jauh dari cukup. Editorial surat kabar Claridad di Puerto Riko menyebut “keheningan masyarakat internasional sungguh memekakkan telinga”, terutama dari negara-negara Karibia dan Amerika Latin.
Uni Eropa pada 5 Februari mengumumkan 123 juta euro bantuan kemanusiaan untuk Amerika Latin dan Karibia tahun 2026, tetapi hanya 4 juta euro untuk seluruh Karibia selain Haiti—termasuk Kuba.
Realitas yang kejam
Minyak adalah nyawa masyarakat modern. Tanpa pasokan yang memadai, rakyat Kuba akan mati. Laporan Lancet tahun 2025 menyebut bahwa sejak Perang Dunia II, sanksi sepihak telah menyebabkan 564.258 kematian per tahun di seluruh dunia—setara dengan korban perang bersenjata global. Sanksi AS terhadap Kuba adalah perang ekonomi. Angka kematian bayi dan balita sudah meningkat sejak 2014, jauh sebelum blokade minyak ini. Penambahan blokade minyak dan blokade ekonomi dikhawatirkan akan memakan korban jiwa lebih banyak lagi.
Kuba memiliki keunikan sejarah yang membuatnya selalu menjadi “kasus khusus” bagi AS. Sejak Doktrin Monroe 1823, Kuba dipandang sebagai wilayah yang harus dikuasai. Perjuangan kemerdekaan di bawah José Martí, penolakan terhadap “republik semu” (republik di bawah diktator Fulgencio Batista) yang didominasi AS, hingga Revolusi 1959 yang benar-benar membebaskan negeri itu dari pengaruh Washington, membuat Kuba selalu menjadi duri dalam daging imperialisme AS. Tidak seperti revolusi sosialis lain yang akhirnya berkompromi dengan kapitalisme AS, Kuba tetap teguh mempertahankan kedaulatan nasionalnya.
Hari ini, blokade minyak hanyalah satu episode baru dari pengepungan panjang. Horor ini mengingatkan pada pentingnya Resolusi H.Res 1056 yang baru diajukan di Kongres AS oleh Rep. Nydia Velázquez. Dengan 17 rekan sponsor, resolusi ini menuntut pencabutan Doktrin Monroe dan penggantiannya dengan “Kebijakan Tetangga Baik Baru” yang menghormati kedaulatan negara-negara Amerika Latin dan Karibia.
Selama lebih dari enam dekade, Amerika Serikat telah mencekik rakyat Kuba dengan sanksi ekonomi yang sudah usang dan tidak manusiawi. Sanksi ini paling menyiksa kelompok rentan: orang sakit, anak-anak, lansia, dan ibu hamil. Sifatnya retroaktif dan ekstrateritorial, melanggar hukum internasional. Sejak 1992, Majelis Umum PBB setiap tahun secara bulat mengecam sanksi ini.
Kuba dalam kepungan imperialis bukan hanya cerita tentang satu pulau. Ini cermin bagaimana hegemoni AS masih berusaha mengendalikan kawasan yang seharusnya merdeka. Perlawanan Kuba hari ini adalah perlawanan bagi semua bangsa yang menolak dijajah kembali di abad ke-21.
W.T. Whitney Jr, pensiunan dokter anak dan jurnalis politik yang tinggal di Maine, Amerika Serikat










