Fajar belum sepenuhnya tiba ketika patroli pantai Kuba mengepung sebuah kapal di perairan yang mendekati Havana. Di dalamnya, ada 10 orang dan muatan senjata berpeti-peti yang cukup untuk menyulut kekacauan. Pada 25 Februari 2026, operasi itu digagalkan sebelum berhasil dijalankan.
Namun, apakah ancaman serupa atau yang lebih besar akan terhenti? Jawabannya ada dalam konteks yang sudah berlangsung 67 tahun.
Kuba hari ini sedang berada di titik ekonomi paling lemah dalam beberapa dekade. Pemadaman listrik berlangsung hingga 20 jam sehari. Toko-toko separuh kosong. Antrean panjang di bawah matahari tropis sudah menjadi pemandangan biasa. Sebagian besar kesengsaraan ini bukan alam yang menciptakannya, melainkan kebijakan yang disengaja: embargo ekonomi AS yang berjalan sejak 1962. Ditambah lagi, pada 29 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan pengenaan tarif impor terhadap negara mana pun yang memasok minyak ke Kuba.
Negara berjuluk Mangkuk Gula Dunia itu kini benar-benar terkepung. Tidak ada setetes minyak pun yang boleh masuk ke wilayahnya. Venezuela, yang sudah lama dihantam sanksi berat AS, kehilangan kendali atas penjualan minyaknya setelah serangan militer AS pada 3 Januari 2026. Meksiko, pemasok terbesar minyak mentah Kuba tahun 2025 dengan kontribusi 44 persen, langsung menyerah. Rusia, yang sempat menjadi harapan terakhir, juga bergeming.
Formula ini bukan baru: ciptakan penderitaan melalui tekanan ekonomi, biarkan keresahan menjadi ranting-ranting yang mudah terbakar, lalu percikkan api. Biarkan rakyat Kuba resah, tidak puas, dorong mereka berbuat kerusuhan, lalu persenjatai mereka. Kuba sudah mengenal formula ini sejak Fidel Castro masih hidup.
April 1961: CIA melatih sekitar 1.400 warga Kuba buangan dan mendaratkan mereka di Teluk Babi. Invasi itu runtuh dalam tiga hari. Bukannya melemahkan Castro, operasi itu justru memberinya legitimasi terbesar yang pernah ia miliki di mata rakyatnya. Lalu datanglah Operasi Mongoose, sebuah program sabotase dan subversi yang dirancang oleh Robert Kennedy, termasuk tidak kurang dari delapan rencana pembunuhan Castro, dari cerutu beracun hingga penyelam berpakaian diving yang dilumuri racun. Komisi Gereja pada 1975 membongkarnya di hadapan Senat AS sendiri.
Ketika cara-cara kasar gagal, Washington beralih ke cara yang lebih halus namun lebih mematikan: ekonomi. Hukum Helms-Burton 1996 mengkriminalisasi perusahaan dari negara mana pun yang berbisnis dengan Kuba menggunakan aset yang pernah dimiliki warga AS. Artinya, Washington bukan sekadar memboikot, ia memaksa seluruh dunia ikut mengisolasi Havana. Majelis Umum PBB telah lebih dari 30 kali memungut suara menentang embargo ini, dan selalu dengan mayoritas di atas 180 negara mendukung penghentian embargo. Selalu hanya AS dan Israel di sisi lain.
Tekanan tidak berhenti di sana. National Endowment for Democracy dan USAID mengucurkan jutaan dolar setiap tahun untuk kelompok-kelompok oposisi. Pada 2014 terungkap bahwa USAID menciptakan ZunZuneo, sebuah platform media sosial palsu yang dirancang khusus untuk memprovokasi kerusuhan di Kuba. Saat protes besar meledak pada Juli 2021, pemerintah Kuba mendokumentasikan bagaimana infrastruktur tagar dan koordinasi media sosial disiapkan dari Miami sebelum massa turun ke jalan.
Yang membuat kisah ini tidak sesederhana “kediktatoran versus demokrasi” adalah apa yang berhasil dicapai oleh Kuba di bawah blokade itu.
Kuba memiliki rasio dokter per kapita tertinggi di dunia—8,4 per 1.000 penduduk, melampaui Amerika Serikat. Angka harapan hidupnya setara dengan negara yang memblokadenya, meski pendapatan per kapitanya hanya sepersepuluh. Angka kematian bayi Kuba juga lebih rendah dari AS. WHO menyatakan Kuba sebagai negara pertama di dunia yang mengeliminasi penularan HIV dari ibu ke anak. Ketika Covid-19 melanda, Kuba mengembangkan lima vaksin sendiri dan memvaksinasi hampir seluruh penduduknya—tanpa bergantung satu pun pada negara kaya.
Dalam pendidikan: dari tingkat buta huruf 40 persen saat revolusi, Kuba mencapai 99,7 persen melek huruf hari ini melalui kampanye literasi 1961 yang kini dipelajari di universitas-universitas pendidikan dunia. Sekolah kedokteran internasional Kuba, ELAM, telah meluluskan ribuan dokter dari lebih 100 negara—kebanyakan anak-anak dari keluarga miskin—yang kembali ke komunitas paling terpinggirkan di tanah mereka. Brigade medis Kuba beroperasi di lebih dari 60 negara, dari gempa Haiti hingga wabah Ebola di Afrika Barat.
Tidak ada negara lain di dunia yang menyumbangkan proporsi sebesar itu dari sumber daya yang begitu terbatas.
Itulah yang sebenarnya ditakuti Washington sejak 1959: bukan ancaman militer dari pulau berpenduduk 11 juta jiwa di Karibia, melainkan ancaman Kuba sebagai inspirasi setiap negeri di berbagai sudut dunia yang memimpikan berdiri di kaki sendiri. Jika Kuba bisa membuktikan bahwa negara kecil yang miskin dan diembargo mampu memberi warganya kesehatan, pendidikan, dan martabat, maka seluruh narasi tentang kapitalisme sebagai satu-satunya jalan kemakmuran akan retak.
Kuba bukan tanpa cela. Ruang oposisi yang sempit, kebebasan pers yang terbatas, dan kesulitan ekonomi yang nyata adalah bagian dari realitasnya yang tidak adil untuk diabaikan. Namun membaca Kuba tanpa membaca blokadenya seperti menghakimi seseorang yang baru keluar dari enam dekade pengepungan karena tampak kelelahan.
Senjata itu disita. Tapi perang untuk mengakhiri revolusi Kuba, dengan cara apa pun, kapan pun ada celah, belum selesai.










