Dalam sejarah resmi Orde Baru, Siti Hartinah, yang dikenal sebagai Tien Soeharto, nyaris tidak pernah disebut sebagai pengambil keputusan. Ia bukan menteri, bukan anggota kabinet, bukan pula pejabat dengan cap dan tanda tangan yang mengikat.
Namun di balik banyak proyek infrastruktur, budaya, dan olahraga yang berdiri megah sepanjang 1970-an hingga 1990-an, ada sebuah pola yang terus berulang: kehendak Tien disampaikan, dan aparatur negara bergerak untuk mewujudkannya.
Mekanisme ini dimungkinkan oleh satu hal yang sederhana. Kala itu, suaminya adalah presiden Republik Indonesia selama lebih dari tiga dekade, yang memegang kekuasaan nyaris tanpa batas. Tidak dibutuhkan memo resmi, tidak perlu keputusan presiden. Cukup dengan “keinginan Ibu,” maka pejabat-pejabat bergegas, anggaran dialihkan, dan lahan dibebaskan.
Bagi pendukung Tien Soeharto, proyek-proyek ini adalah warisan kebudayaan dan kemajuan bangsa. Bagi pengkritiknya, daftar proyek ini adalah bukti paling telanjang dari bagaimana kekuasaan absolut mengaburkan batas antara negara dan kepentingan pribadi.
Yang pasti, tidak satu pun dari proyek-proyek besar berikut ini lahir dari proses perencanaan nasional yang terbuka, berbasis riset kebutuhan, atau melalui konsultasi publik. Semuanya lahir dari inisiatif satu perempuan yang kebetulan tidur seranjang dengan penguasa.
- Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
Tidak ada proyek yang lebih ikonik sekaligus paling telanjang politiknya daripada TMII. Gagasan ini pertama kali disampaikan Tien dalam rapat Yayasan Harapan Kita (YHK) di kediamannya di Jalan Cendana 8 pada 13 Maret 1970. Ia terinspirasi dari taman-taman wisata yang dikunjunginya di luar negeri dan ingin membangun sesuatu yang menampilkan “kebesaran Indonesia dalam bentuk miniatur.”
Angka yang disebut Rp 10,5 miliar, angka fantastis untuk ukuran 1971. Skema pembiayaannya juga dianggap ganjil. Meski diklaim ditanggung swasta, provinsi-provinsi seluruh Indonesia diwajibkan menanggung 16 persen biaya. Artinya, uang rakyat dari daerah dipakai membangun proyek pribadi Ibu Negara.

Amarah mahasiswa Jakarta meledak. Demonstrasi besar pecah pada 1972, salah satu gelombang oposisi terbesar di awal Orde Baru, yang kelak disebut sebagai bagian dari rantai panjang menuju peristiwa Malari 1974.
Soeharto bergeming. TMII diresmikan 20 April 1975. Kawasan itu dikelola oleh YHK, yayasan milik Tien, selama lebih dari empat dekade, tanpa menyetorkan pendapatan kepada negara secara memadai. Baru pada 2021, lewat Perpres No. 19, pemerintah mengambil alih pengelolaan TMII.
- Museum Purna Bhakti Pertiwi
Jika TMII adalah mimpi Tien tentang Indonesia, maka Museum Purna Bhakti Pertiwi (MPBP) adalah mimpi tentang Soeharto sendiri. Berlokasi di dalam kompleks TMII, museum ini dibangun atas prakarsa penuh Tien untuk menyimpan ribuan koleksi cinderamata dan hadiah kenegaraan yang diterima Soeharto selama menjabat. Pembangunan di atas lahan 19,73 hektare berlangsung dari 26 Desember 1987 hingga 26 Desember 1992, dan diresmikan 23 Agustus 1993.
Museum ini tidak dirancang untuk menjawab kebutuhan publik atau mengisi kekosongan fasilitas budaya nasional. Fungsi utamanya jelas: mengabadikan kebesaran seorang penguasa lewat pajangan benda-benda hadiah dari para kepala negara asing. Ia adalah mausoleum reputasi yang dibangun selagi empunya masih hidup. Pada 2021, museum ini menjadi salah satu aset yang diminta disita dalam gugatan perusahaan Singapura terhadap anak-anak Soeharto senilai Rp 584 miliar.
- Stadion Manahan Solo
Pembangunan Stadion Manahan di Surakarta dimulai tahun 1989, dibiayai Yayasan Ibu Tien Soeharto, di atas lahan 170 ribu meter persegi. Stadion ini diresmikan Soeharto sendiri pada 21 Februari 1998, hanya tiga bulan sebelum ia lengser.
Pertanyaannya bukan soal apakah Solo layak punya stadion. Pertanyaannya adalah mengapa Solo, dan mengapa dari yayasan pribadi Ibu Negara? Jawabannya ada pada nama Arseto Solo. Klub ini didirikan oleh Sigit Harjojudanto, anak kedua Soeharto dan Tien, pada 1978. Arseto adalah kekuatan besar Galatama: juara 1982, 1983, dan 1992, serta pernah melaju ke semifinal Liga Champions Asia. Dan, Arseto bermarkas di Solo.

Pola ini sulit diabaikan, bahwa Ibu Negara membangun stadion mewah berkapasitas 35 ribu penonton di kota yang menjadi kandang klub milik putranya. Setelah Soeharto jatuh dan Arseto bubar pada 1998, ikut tersapu gelombang reformasi, stadion itu ditinggal begitu saja oleh konteks yang melahirkannya.
- Taman Buah Mekarsari
Digagas Tien selaku Ketua Yayasan Purna Bhakti Pertiwi, Taman Buah Mekarsari dibangun mulai 1990 di atas bekas perkebunan karet PTP IX di Cileungsi, Kabupaten Bogor, seluas 264 hektare. Kawasan ini diresmikan Soeharto pada 14 Oktober 1995 bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia, lengkap dengan framing konservasi plasma nutfah buah tropis.
Gagasan awalnya terdengar mulia. Saat itu Tien prihatin dengan membanjirnya produk buah Bangkok yang mengancam varietas lokal. Tim ahli dikirim ke 27 provinsi untuk mengumpulkan sampel buah-buahan Nusantara. Hasilnya memang signifikan secara ilmiah: 1.470 varietas, laboratorium pemuliaan, 100 ribu pohon.
Namun fakta yang jarang disebut, pemilik Taman Buah Mekarsari saat ini adalah Siti Hutami Endang Adiningsih atau Mamiek, putri bungsu Soeharto. Proyek negara yang dimulai dari yayasan Ibu Negara, digarap di atas lahan negara, kini menjadi aset bisnis anak presiden. Lingkaran yang sempurna.
- Pusat Perlebahan Nasional (Pusbahnas)
Pusbahnas berdiri melalui kerja sama Departemen Kehutanan dan FAO pada 1985, dengan mandat resmi pengembangan perlebahan untuk pembangunan pedesaan. Proyek ini diresmikan 20 Februari 1992 dan dikelola Perum Perhutani di Parung Panjang, Bogor.
Pusbahnas adalah contoh proyek yang secara formal tampak legitimate: ada kerja sama internasional, ada tujuan pemberdayaan petani. Namun dalam konteks Orde Baru, proyek-proyek seperti ini kerap berfungsi ganda. Secara resmi untuk rakyat, tapi secara praktis untuk memperkuat ekosistem bisnis dan patron di sekitar kekuasaan. Yang menarik bukan asal-usulnya, melainkan skalanya yang tidak proporsional dengan kebutuhan riil industri madu Indonesia, yang produksinya terus turun bahkan setelah Pusbahnas berpuluh tahun berdiri, sementara kebutuhan nasional hampir separuhnya masih dipenuhi impor.
- Taman Anggrek Indonesia Permai dan Padepokan Pencak Silat
Daftar ini belum selesai. Yayasan Harapan Kita, kendaraan utama Tien, juga mendirikan Taman Anggrek Indonesia Permai seluas 4 hektare di Jakarta Timur, lengkap dengan laboratorium persilangan anggrek, dan Padepokan Pencak Silat seluas 4,5 hektare. Keduanya dikembangkan atas “prakarsa almarhumah Ibu Hajjah Siti Hartinah Soeharto,” demikian tertulis di situs resmi Yayasan Harapan Kita.
Anggrek adalah kegemaran pribadi Tien, bahkan ada spesies anggrek endemik Sumatera yang dinamai atas namanya. Sedangkan pencak silat adalah minat budaya yang ia junjung. Keduanya menjadi institusi nasional, didanai setidaknya sebagian oleh yayasan yang ia pimpin, dan dikelola atas namanya. Hobi menjadi kebijakan, dan selera menjadi fasilitas negara.

- Astana Giribangun
Pada 1974, Tien, yang mengaku sebagai keturunan Mangkunegaran, mulai membangun kompleks pemakaman keluarga di lereng Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah, melalui Yayasan Mangadeg Surakarta. Diresmikan 23 Juli 1976, di sini dimakamkan orang tua dan keluarga dekat Tien, dan kelak juga Tien sendiri (1996) serta Soeharto (2008).
Astana Giribangun adalah proyek yang paling jujur dalam deretan ini. Tidak ada klaim kepentingan nasional, tidak ada pembungkus konservasi atau kebudayaan. Ini murni makam keluarga yang dibangun dengan menggunakan nama dan jaringan kekuasaan, di lahan yang diproses melalui jalur yang tidak mungkin tersedia bagi rakyat biasa. Sebuah kesimpulan yang tepat untuk sebuah era di bawah kepemimpinan Soeharto.










