George Habash, Natal, dan Palestina

Lonceng gereja di Betlehem dan Gaza berdenting tahun ini dengan nada yang berbeda. Perayaan Natal 2025 di Palestina tampak lebih hidup setelah kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dengan Israel.

Di Betlehem, Tepi Barat, kota tempat kelahiran Yesus Kristus, jalan-jalan dipenuhi keluarga dan diterangi rangkaian lampu merah. Sementara di Gaza, perayaan Natal dilakukan di tengah pengungsian dan bunyi dentuman senjata yang masih kerap terjadi.

Di tengah momentum yang sakral ini, ingatan kolektif bangsa Palestina melayang pada sosok yang lahir di malam Natal hampir seabad lalu: George Habash. Ia bukan sekadar pemimpin politik, namun personifikasi dari pejuang besar yang namanya disejajarkan dengan Yasser Araraf.

Bagi generasi yang tumbuh dalam bayang-bayang perlawanan, Habash adalah “Al-Hakim” (Sang Bijak), dokter yang meninggalkan stetoskopnya demi mendiagnosis penyakit penjajahan yang pelan-pelan hendak membunuh negerinya. Dan, seperti dikatakan Karl Marx, Habash tak hanya sibuk menafsirkan dunia, tetapi juga mengubahnya.

Dari Lydda ke Beirut

Dilahirkan di Lydda pada 1 Agustus 1926 dalam keluarga Kristen kelas menengah, kehidupan George Habash muda hancur lebur oleh peristiwa Nakba 1948. Ia menyaksikan keluarga dan ribuan warga Palestina lainnya diusir dengan kekerasan oleh milisi zionis yang dipimpin oleh Yitzhak Rabin. Pengusiran itu bukan sekadar catatan sejarah baginya, melainkan trauma personal yang mendalam.

George Habash di depan poster Mao Zedong pada 1970. Kredit: Getty Images

Saat itu, Habash adalah mahasiswa kedokteran di American University of Beirut (AUB). Di sana, ia terilhami oleh gagasan nasionalisme Arab di klub mahasiswa al-‘Urwah al-Wuthqah. Kematian adiknya dalam pelarian maut 1948 menjadi titik balik. Ia menyadari bahwa menyembuhkan tubuh individu tidak ada artinya jika tubuh bangsanya sendiri sedang dihancurkan. Bersama sahabat karibnya, Wadi’ Haddad, ia mendirikan klinik untuk pengungsi miskin di Yordania, namun hati mereka tetap berada di medan tempur.

Saat itu, Habash sudah menyadari bahwa penjajahan Israel tak bisa diakhiri di atas meja perundingan, melainkan dengan jalan kekerasan. Bersama kawan-kawannya sesama mahasiswa UAB, ia mendirikan Harakat Al-Qawmeyon Al-Arab atau Gerakan Nasionalis Arab (ANM). Organisasi ini dipengaruhi oleh Nasserisme.

Pendiri FPLP

Pada 1967, setelah kekalahan negara-negara Arab dalam perang enam hari melawan Israel, keyakinan Habash pada jalan kekerasan bersenjata semakin membuncah. Keyakinannya itu akhirnya terwujud lewat pendirian sebuah organisasi politik berideologi Marxis: Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP).

Meskipun mendaulat diri sebagai Marxis-Leninis, tapi strategi perjuangan PFLP lebih banyak Terinspirasi oleh Mao Zedong, Ho Chin Minh, dan Che Guevara. Nama-nama ini dikenal dalam sejarah dengan penekanannya pada perjuangan bersenjata.

Secara politik, posisi PFLP lebih radikal dan keras. PFLP melihat agresi Israel sebagai bentuk penjajahan, yang modus operandi dan target besarnya berkelindan dengan agenda imperialisme global. Karena itu, bagi PFLP, perjuangan pembebasan Palestina searah-setujuan dengan perjuangan anti-imperialisme.

Bagi PFLP, agresi Israel terhadap Palestina bukanlah motif agama, melainkan motif ekonomi-politik. Karena itu, mereka tidak memusuhi Yahudi sebagai ras maupun agama, melainkan zionisme sebagai proyek kolonial dan imperialisme.

Cuplikan berita foto George Habash di UPI Telephoto

Memasuki 1970-an, nama PFLP mulai terdengar di luar Palestina, melintasi batas-batas benua. Pada Juli 1968, aktivis PFLP membajak pesawat El Al Penerbangan 426 yang sedang terbang dari Roma ke Tel-Aviv. Kemudian, pada Agustus 1969, aktivis PFLP kembali membajak pesawat Trans World Airlines (TWA) penerbangan 840 dari Roma menuju Athena. Aksi ini melambungkan nama seorang aktivis perempuan PFLP, Laela Khaled. Puncaknya, tiga anggota Tentara Merah Jepang yang direkrut oleh PFLP menyerang Bandara Lod (sekarang Ben Gurion) di Tel Aviv menggunakan senapan mesin dan granat, pada 30 Mei 1972. Kejadian itu menewaskan 26 orang.

Melalui aksi-aksi radikal itu, Habash membawa isu Palestina ke layar televisi setiap rumah di dunia. Sementara Barat dan media arus utama menjadikan aksi itu sebagai dalih untuk menyematkan predikat ”teroris” kepada Habash dan PFLP.

Antitesis Yasser Arafat

Dalam perjuangan pembebasan Palestina, Habash menyadari perlunya persatuan nasional. Prinsip politik itulah yang membenarkan kerjasama PFLP dengan organisasi politik yang lebih moderat, seperti Fatah, yang melahirkan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).

Namun, pada 1990-an, ketika posisi politik PLO di bawah Yasser Arafat semakin kompromis, bahkan mulai menerima solusi dua negara, Habash dan PFLP bereaksi keras. Ia memimpin “Front Penolakan” (Rejectionist Front). Baginya, Oslo adalah “penyerahan diri secara total” yang hanya akan memberikan otonomi palsu dan administratif di bawah ketiak pendudukan permanen.

Ia meramalkan dengan akurat bahwa pemukiman ilegal Israel akan terus merayap di Tepi Barat meskipun kertas perjanjian ditandatangani. Baginya, tidak ada perdamaian sejati tanpa pemulangan seluruh pengungsi ke tanah asal mereka (hak untuk kembali). Karena keteguhannya ini, ia sering disebut sebagai “hati nurani revolusi Palestina” yang menolak menjual prinsip demi jabatan politik di otoritas baru.

Yasser Arafat, Moammar Khadafi, Nayef Hawatmeh, dan George Habash di Tripoli, Mesir, 1977.

Dalam narasi sejarah Palestina, Habash sering kali ditempatkan sebagai kutub yang berlawanan dengan Yasser Arafat. Jika Arafat adalah politisi yang lihai, pandai bernegosiasi, dan kadang manipulatif, maka Habash adalah antitesisnya. Ia adalah sosok yang jujur saat Arafat tidak jujur; konsisten saat Arafat plin-plan; dan transparan saat Arafat penuh rahasia.

Integritas Habash melegenda. Di masa tuanya di Amman, ia menolak menerima pensiun lebih dari USD 300 per bulan. Kelompok pengusaha kaya Palestina pernah mencoba memberikan dana bantuan agar sang simbol revolusi ini tidak mati dalam kemiskinan, namun Habash bergeming. Ia bahkan menolak dana untuk menyewa asisten riset guna membantu menulis memoarnya. Ia hidup dalam asketisme (kesederhanaan) revolusioner yang murni—sebuah karakter yang kini hampir mustahil ditemukan pada pemimpin politik modern.

Ia menghabiskan sisa hidupnya di pengasingan, di Amman, Yordania. Meski didera berbagai masalah kesehatan namun pikirannya tetap tajam hingga wafat pada Januari 2008. Kendati tubuhnya tak pernah kembali ke Lydda, semangatnya terus menghantui setiap narasi diplomasi yang dianggap mengkhianati hak dasar rakyat Palestina.

Natal dan warisan perjuangan

Ketika George Habash wafat pada 2008, ia meninggalkan PFLP yang mulai meredup di bawah bayang-bayang kebangkitan kelompok Islamis seperti Hamas dan Hizbullah.

Di tahun-tahun terakhirnya, Habash menunjukkan sisi demokratis yang luar biasa. Ia terbuka terhadap kritik atas kegagalan PFLP dan dengan rendah hati berkata tentang bangkitnya gerakan Islamis, “Kami sudah mencoba, sekarang biarkan mereka mencoba. Ini giliran mereka.”

Kini, di Natal pasca gencatan senjata 2025, sosok Habash relevan bukan sebagai tokoh agama, karena ia sendiri adalah seorang sekuler dan Marxis, melainkan karena kejernian pikiran dan perjuangan. Di saat banyak pemimpin terjebak dalam kepentingan pragmatis dan korupsi, ingatan tentang “dokter yang jujur” ini menjadi lilin yang menerangi kegelapan.

Warga Kristen di Bethlehem dan Gaza yang kini merayakan Natal di bawah bayang-bayang reruntuhan tahu betul bahwa musuh mereka tidak memandang salib atau tasbih di dada. Habash telah mengajarkan bahwa perjuangan Palestina adalah perjuangan kemanusiaan yang utuh.

Meskipun PFLP secara militer dan politik mungkin telah gagal mencapai tujuan akhirnya, tapi integritas pribadi George Habash tetap menjadi standar emas bagi setiap revolusioner. Natal di Palestina tetaplah sebuah perlawanan, dan jejak langkah Habash adalah detak jantung dari perlawanan itu.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Catatan Akhir Tahun:Narasi Kerakyatan di Tengah Gelombang Represi

Catatan Akhir Tahun:Narasi Kerakyatan di Tengah Gelombang Represi

Di tengah dinamika penanganan bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan

Next
Indonesia Diusulkan Pimpin Dewan HAM PBB, Luka HAM di Dalam Negeri Masih Menganga

Indonesia Diusulkan Pimpin Dewan HAM PBB, Luka HAM di Dalam Negeri Masih Menganga

Pengumuman Kementerian Luar Negeri pada 24 Desember 2025 mengenai nominasi

You May Also Like
Total
0
Share