Energi dan Berakhirnya Imperium Pax Americana

“Drill, baby, drill.” Tiga kata itu menjadi kunci proklamasi kedaulatan energi yang diumumkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada 17 Oktober 2025.

Dua bulan kemudian, Trump menyerang Venezuela serta menculik Presiden Nicolas Maduro dan istrinya. Bukan tanpa alasan Venezuela diserang. Negara berpenduduk 28 juta jiwa itu adalah pemilik cadangan minyak terbesar di dunia, dengan menguasai 303 miliar barel cadangan minyak terbukti atau 17 persen cadangan minyak dunia.

Hampir dua bulan berselang, Trump bersama Israel mengalihkan bidikannya ke Iran. Negeri para Mullah ini tak hanya pemilik cadangan minyak terbesar ketiga dunia, dengan 208,6 miliar barel atau 13,3 persen cadangan minyak dunia, tetapi juga punya selat Hormuz yang menjadi salah satu jantung perdagangan minyak global.

Melihat rentetan kejadian itu, kita mudah untuk meraba motif utamanya: minyak. ”Siapa menguasai minyak, dia menguasai dunia,” begitu kata wejangan lama. AS hendak mengukuhkan diri sebagai raja minyak dan gas. Sejak 2018, AS menjadi produsen minyak terbesar dunia. AS juga produsen gas terbesar sejak 2011 melampaui rival terbesarnya, Rusia.

Namun, bagi AS, minyak bukan hanya sumber energi yang menggerakkan industri dan ekonomi mereka. Lebih penting dan strategis dari itu, minyak merupakan fondasi utama dari Pax Americana.

Imperium dan energi

Sejarawan dari Universitas Wisconsin–Madison, Alfred McCoy, menghabiskan waktu untuk meneliti faktor di balik jatuh dan bangunnya imperium dalam 500 tahun terakhir. Jawabannya, yang ia tuangkan dalam buku “To Govern the Globe: World Orders and Catastrophic Change (2022), ternyata bukan militer, bukan ideologi, dan bukan pula keberuntungan geografis. Jawabannya adalah energi.

Pada abad ke-15, Spanyol dan Portugis menemukan cara menundukkan angin. Hasilnya, mereka merancang layar segitiga (Lateen) yang bisa menangkap angin dari samping dengan kapal yang lebih kuat (Caravel dan Carrack) memungkinkan mereka membawa logistik untuk perjalanan berbulan-bulan tanpa harus sering bersandar di daratan. Berkat keunggulan itu, Portugis berhasil menguasai jalur laut dari Samudra Atlantik hingga Laut Jawa.

Pada abad ke-17, Belanda menemukan energi baru: kincir angin (windmill). Selain berhasil mengendalikan banjir, kincir angin menggerakkan mesin-mesin industri, seperti gergaji kayu untuk galangan kapal, menggiling biji-bijian, memproduksi kertas, dan mengeluarkan minyak dari biji-bijian.

Berkait inovasi energi itu, Belanda tak hanya bisa membuat kapal dalam ukuran yang lebih besar, tetapi menghasilkan kapal lebih banyak, lebih cepat, dan lebih efisien. Belanda pun tampil sebagai imperium baru.

Namun, tak berselang lama, Belanda meredup. Inggris berhasil menemukan mesin uap berbahan bakar batu bara. Mesin-mesin ini mulai menggerakkan kereta api pada 1825 dan kapal-kapal perang angkatan laut kerajaan pada 1840-an. Mesin uap kemudian merambah ke mana-mana: menggerakkan gergaji, membajak ladang, menggali tanah dengan eskavator uap.

Singkat cerita, mesin uap melahirkan revolusi industri. Berkat inovasi teknologi itu, Inggris yang hanya berpenduduk 40 juta jiwa berhasil menguasai seperempat wilayah dan penduduk dunia di bawah koloninya.

Kemudian, setelah Perang Dunia II berlalu, AS memimpin era baru: minyak. Pada 1950, berkat energi minyak, AS berhasil menguasai hampir 50 persen PDB ekonomi dunia. Kemudian, sekitar 60 persen produk manufaktur dunia masa itu berasal dari pabrik-pabrik AS yang digerakkan oleh minyak dan gas.

Puncaknya, pada 1974, setelah Kissinger membuat kesepakatan dengan Arab Saudi untuk memperdagangkan minyak dengan dollar, yang melahirkan era petro-dollar. Kebijakan ini memicu permintaan dollar yang bersifat struktural dan permanen dari seluruh dunia. Seluruh dunia belanja minyak menggunakan dollar.

Uang dollar yang dibayarkan dunia untuk membeli minyak mengalir ke negara-negara OPEC. Tapi negara OPEC tidak bisa membelanjakan semua dollar itu di dalam negeri, lalu menginvestasikan sisanya ke dalam obligasi pemerintah AS dan pasar Wall Street.

Artinya, dollar yang keluar dari AS untuk membayar minyak, kembali lagi ke AS dalam bentuk pinjaman murah. AS bisa terus berutang dalam jumlah raksasa tanpa krisis. Hasilnya, AS bisa belanja militer berskala besar, subsidi, dan infrastruktur jauh melampaui kemampuan fiskalnya sendiri, tanpa inflasi yang menghancurkan. Ini yang disebut Menteri Keuangan Prancis era 1960-an, Valéry Giscard d’Estaing, sebagai “exorbitant privilege”, keistimewaan luar biasa yang tak dimiliki negara mana pun di dunia.

Era baru: Energi terbarukan

Sebagai energi tak terbarukan, minyak ada batasnya. Meskipun prediksi M. King Hubbert soal puncak minyak “peak oil” agak meleset, misalnya penemuan teknologi fracking yang menyebabkan produksi minyak naik signifikan, tetapi minyak akan memasuki era puncak permintaan (peak demand).

Badan Energi Internasional (IEA) memprediksi puncak permintaan minyak terjadi sebelum 2030. Sementara OPEC sendiri memprediksi paling lambat sebelum 2045. Setelah itu, dunia akan memasuki era pasca-minyak.

Penyebabnya beragam. Pertama, ancaman krisis iklim sudah mencapai titik kritis (tipping point). Suhu global setahun terakhir bahkan telah mencapai 1,64 derajat Celcius di atas suhu masa pra industri. Situasi ini memaksa banyak negara bergegas dalam mendorong transisi ke energi hijau. Sektor transportasi, yang menyumbang 60 persen konsumsi minyak dunia, mulai bergeser ke kendaraan listrik.

Kedua, biaya eksplorasi dan produksi minyak semakin mahal karena lapangan yang sudah tua dan cadangan terbukti (proven reserve) semakin tipis. Di sisi lain, biaya energi terbarukan turun drastis. Dalam satu dekade terakhir, harga panel surya turun sekitar 90 persen. Tenaga angin juga turun sekitar 70 persen sejak tahun 2014.

Pergeseran ini melahirkan kekuatan baru. Dan itu bukan Amerika Serikat, tetapi negara yang juga tengah bangkit secara ekonomi dan geopolitik, yakni Tiongkok. Hari ini, Tiongkok menjadi kekuatan dominan dalam industri energi terbarukan global secara menyeluruh. Tiongkok menjadi investor terbesar di dunia dalam energi bersih, dengan belanja mencapai USD 625 miliar pada 2024 atau setara dengan 31 persen dari total investasi energi bersih global sebesar USD 2.033 miliar.

Hari ini, Tiongkok memegang kendali atas lebih dari 80 persen hingga 95 persen kapasitas produksi global di seluruh tahap manufaktur panel surya. Per akhir tahun 2025, perusahaan asal Tiongkok menguasai sekitar 70 persen pangsa pasar baterai kendaraan listrik (EV) global. Pada 2023, penjualan BYD, mobil listrik buatan Tiongkok, sudah menyalip Tesla.

Runtuhnya Pax Americana

Jika negara-negara tak lagi bergantung pada minyak untuk menggerakkan ekonominya, permintaan struktural terhadap dollar AS pun akan luruh. Di sisi lain, gelombang de-dolarisasi yang dimotori oleh negara-negara BRICS.

Alih-alih bersiasat merespons pasang energi baru, Amerika Serikat di bawah Trump justru menarik diri Perjanjian Paris dan UNFCCC. Di Sidang Umum PBB pada 2025 lalu, Trump menyebut isu perubahan iklim sebagai “penipuan terbesar”.

Sementara Trump membakar sekitar USD 2 miliar per hari dalam memerangi Iran, ekonomi AS hanya tumbuh 2,1 persen pada 2025, jauh di bawah Tiongkok yang masih tumbuh 5 persen di bawah serbuan tarif Trump. Pola ini mengingatkan pada diagnosis Alfred McCoy bahwa imperium yang kehilangan keunggulan energinya akan kehilangan daya ungkit ekonominya secara bertahap.

Secara ekonomi, AS semakin surut. Pada 1945, PDB AS mewakili 40 persen PDB dunia. Pada 1970-an, angkanya mulai menurun menjadi 31 persen, dan sekarang tinggal 26 persen. Pangsa pasar perdagangan dunia dari AS juga merosot, dari 20-25 persen pada 1945 menjadi 11-12 persen pada 2025.

Di masa lalu, AS menjadi kekuatan utama dunia. Hampir semua negara di berbagai belahan dunia membuka pintu ekonomi untuk bekerjasama dan berdagang dengan AS. Sekarang, situasinya berbalik. Tiongkok hari ini menjadi mitra dagang terbesar bagi sekitar 70 persen perekonomian dunia (sekitar 145 negara), sementara Amerika Serikat menyusut menjadi hanya 30-an negara.

Trump menggiring AS makin terisolir. Kebijakan tarif Trump yang agresif, ditambah invasi ke Venezuela, ancaman menganeksasi Greenland, dan serangan ke Iran, belum lagi ancaman yang ditebar ke Meksiko dan Kolombia, semakin mengisolasi Gedung Putih. Tiga sekutu tradisional AS, yakni Kanada, Inggris, dan Spanyol, baru-baru ini berkunjung ke Beijing.

Pax Americana tidak runtuh dalam semalam. Namun, Donald Trump, Presiden AS yang kurang berpikir strategis, ceroboh, rasis, dan anti-sains itu, mendorong kejatuhan Pax Americana lebih cepat.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Politik Beras Bung Hatta

Politik Beras Bung Hatta

“Saudara-saudara, di perayaan Natal ini saya dengan bangga, hari ini saya bisa

Next
10 Lagu Populer tentang Perjuangan Buruh

10 Lagu Populer tentang Perjuangan Buruh

Jejak ingatan serta dokumentasi sejarah menunjukkan bahwa lagu-lagu memiliki

You May Also Like
Total
0
Share