Bachtiar Siagian, Sutradara Kiri yang Terlupakan

Namanya pernah menghiasi sejarah perfilman Indonesia. Film-filmnya diputar di Istana Negara, meraih empat piala Festival Film Indonesia, bahkan menembus festival internasional di Uni Soviet. Ironisnya, nama dan hampir seluruh karyanya kemudian nyaris hilang dari panggung sejarah.

Dia adalah Bachtiar Siagian. Seniman kiri yang produktif, revolusioner, dan visioner. Dalam satu dekade saja ia menciptakan belasan film yang menyentuh kehidupan rakyat kecil. Namun, setelah peristiwa 1965, jajaknya dihapus. Film-filmnya dimusnahkan, namanya dibungkam, dan ia sendiri dikurung tanpa pengadilan selama 12 tahun.

Lahir dari keluarga kuli kontrak

Bachtiar lahir di Binjai, Sumatera Utara, pada 19 Februari 1923. Secara turun-temurun, keluarganya menggantungkan hidup di perkebunan tembakau di Deli, daerah yang dahulu kala disebut “dollar land” karena kejayaan perkebunan tembakaunya.

Leluhurnya bagian dari ratusan ribu kuli-kuli kontrak yang didatangkan dari Pulau Jawa pada akhir abad ke-19 untuk menggerakkan perkebunan kolonial di Sumatera Utara. Bapaknya, Koempoel Siagian, adalah pegawai administrasi di gudang pengiriman tembakau yang letaknya tak jauh dari Stasiun Binjai.

Meskipun dijuluki “dollar land”, kehidupan kuli kontrak di perkebunan tembakau Deli sangat jauh dari sejahtera. Karena penghasilan orang tuanya tak cukup untuk menggerakkan roda ekonomi keluarga, Bachtiar kecil sempat bekerja sebagai pelayan di rumah orang Belanda.

Dengan bersusah payah, Bachtiar berhasil menuntaskan pendidikan dasar, sekaligus meraih dua kemampuan paling dasar untuk mengenal dunia: membaca dan menulis. Bapaknya, yang sering diundang ke pesta-pesta untuk membacakan syair, memperkenalkan syair, opera, dan teater. Sementara ibunya mengajari memainkan harmonium.

Menginjak usia remaja, bakat seninya semakin matang. Bachtiar mulai ikut manggung dari satu pesta ke pesta lain bersama kelompok orkes gambus keliling di Medan. Pengalaman ini memperkaya pengetahuannya soal musik rakyat. Sementara berkat syair dan opera, ia bersinggungan dengan kelompok teater yang ditukangi oleh kaum nasionalis-radikal.

Bachtiar Siagian dan Bachtiar Effendi, dua sutradara film Indonesia yang terhapus dalam jejak sejarah karena persoalan politik. Kredit: buku Sinema pada Masa Soekarno

Persinggungan dengan kaum nasionalis-radikal itu yang membentuk kesadaran politik Bachtiar. Sementara persentuhannya dengan kelas pekerja, terutama kuli kontrak di perkebunan di kampung halamannya, membentuk kesadaran kelasnya.

Ia mendirikan kelompok teater sendiri yang dinamai “Kencana”. Kelompoknya kerap berkeliling dari Aceh hingga Sumatera bagian timur. Dia kemudian bergabung dengan kelompok teater milik temannya, Jhon Hutapea di Tarutung.

Bachtiar seorang pembelajar yang tangguh. Ia menjadikan semua orang, setiap aktivitas, dan setiap pengetahuan baru sebagai guru. Dari situlah ia memulai keahlian menulis naskah drama. Sebagai anak muda yang sedang ditempa oleh zaman pergerakan, Bachtiar muda berusaha menyisipkan tema nasionalisme dalam setiap karyanya, seperti Dr. Darman dan Angin Berkisar.

Karya-karya itu lahir berimpitan dengan kedatangan Jepang yang baru saja mendepak Belanda keluar dari Nusantara. Akibatnya, ia pernah berurusan dengan polisi Jepang, Kempetai, karena karya-karyanya yang berseru-seru menentang penjajahan.

Sutradara otodidak

Ketika Jepang baru menginjakkan kaki di Nusantara, Bachtiar sedang jatuh cinta dengan film. Usianya masih sangat muda saat itu, 19 tahun. Namun, itu juga usia ketika orang mulai melambungkan mimpi-mimpi besar.

Ia mulai terlibat dalam pembuatan film. Ia membuat film propaganda Jepang tentang Tonarigumi, cikal bakal dari sistem Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) yang kita kenal sekarang. Bekerja untuk orang Jepang, Bachtiar mendapat pengetahuan dasar membuat film.

Saat revolusi nasional 1945-1949, di sela-sela kesibukannya sebagai sekretaris Persatuan Perjuangan Cabang Langkat, ia mulai mempelajari teori-teori montage dan penyutradaraan dari sineas legendaris Rusia, Vsevolod Pudovkin. Ia mempelajari buku buah tangan Pudovkin, Film Technique and Film Actin. Namun, ia mendapatkan buku itu dalam versi bahasa Tiongkok, sehingga terpaksa meminta bantuan kawannya untuk menerjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Usai pengakuan kedaulatan 1949, Bachtiar semakin menyeriusi dunia film. Ia menjadi anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi seniman yang mengusung kebudayaan progresif dan revolusioner, di cabang Medan. Tahun itu juga ia mendapat tawaran dari Njoto, salah satu pucuk pimpinan PKI sekaligus salah satu pendiri Lekra, agar pindah ke Jakarta.

Kartu peserta Bachtiar Siagian dalam Konferensi Wartawan Asia Afrika, 1963. Kredit: arsip keluarga Bachtiar Siagian

Tiba di Jakarta pada 1954, Bachtiar langsung diberi tanggung jawab untuk memimpin kerja-kerja perfilman Lekra. Ia memimpin Indonesia Film Institution, yang kelak berkembang menjadi Lembaga Film Indonesia (LFI) di bawah naungan Lekra. Melalui wadah ini, ia tak hanya mengorganisasikan sineas-sineas yang bertekad berkarya untuk rakyat, tetapi juga mengembangkan mutu perfilman Indonesia agar senapas dengan arah dan jalannya revolusi.

Di Jakarta, berkat bantuan dari kawannya sesama bekas aktivis Persatuan Perjuangan, Bachtiar dipertemukan dengan politisi yang juga mantan aktivis pergerakan kelahiran Pematang Siantar, Adam Malik. Saat itu, Adam Malik sedang memimpin perusahaan film bernama PT Muara Film.

Berkat bantuan dari Muara Film, Bachtiar berhasil melayarlebarkan film berjudul “Kabut Desember” pada 1955. Setelah itu, ia semakin produktif. Energi kreatifnya yang meluap langsung melahirkan deretan film: Tjorak Dunia (1955), Daerah Hilang (1956), dan Melati Sendja (1956).

Pada 1957, ia melahirkan film yang menjadi salah satu karya terbesarnya: Turang. Mengambil latar masyarakat Karo, Sumatera Utara, film ini berkisah tentang perjuangan melawan agresi militer Belanda. Menariknya, film ini menggunakan masyarakat setempat sebagai pemainnya.

Turang sukses besar. Selain pernah diputar di Istana Negara dan disaksikan langsung oleh Presiden Sukarno, film Turang juga meraih penghargaan tertinggi sebagai Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Bachtiar Siagian), dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik
(Ahmadi Hamid) dalam Pekan Apresiasi Film Nasional 1960 (cikal bakal Festival Film Indonesia). Pada tahun 1958, film ini menjadi salah satu primadona dalam Festival Film Asia Afrika pertama di Tashkent, Uzbekistan

Pasca Turang (1957), energi produktif Bachtiar tidak surut. Karya-karya yang lain lahir susul-menyusul. Dari Sekejap Mata (1959), Violetta (1962), hingga Njanjian di Lereng Dieng (1964). Dari 1955 hingga 1964, sekitar sembilan tahun, ia berhasil menghasilkan 16 film.

Berpihak pada revolusi

Tahun 1960-an, Indonesia sedang menggelinding di tengah dua arus besar. Pertama, arus dekolonialisasi dan anti-imperialisme yang menyapu negara-negara bekas jajahan, termasuk Indonesia. Kedua, sisa-sisa kolonialisme dan imperialisme yang berusaha mempertahankan tatanan lama.

Dunia perfilman tidak luput dari benturan itu. Saat itu, bioskop-bioskop Indonesia didominasi film impor. Mayoritas dari Amerika Serikat. Seperti pernah dicatat Lekra, dari 1960-1961, ada 130 judul film Amerika yang beredar. Sisanya adalah film Jepang (59), India (30), Italia (25), RRT (25), Pakistan (24), Inggris (20), Hongkong (15), Uni Soviet (10), Singapura (5), Jerman Barat (2), Prancis (1), Lebanon (1), dan RDR Korea Utara (1).

Dari kuota pemutaran, America Movie Picture Association of Indonesia (AMPAI) menguasai 70 persen seluruh gedung bioskop yang ada. Sisanya dibagi film impor negara Asia, Eropa, Afrika. Adapun Indonesia kebagian 1 persen.

Bagi Lekra, organisasi tempat Bachtiar bernaung, dominasi film Amerika bukan sekadar persoalan bisnis, melainkan bentuk nyata dari imperialisme kebudayaan. Mereka bertekad menjadikan film-film Indonesia punya tempat di rumah sendiri.

Pada Festival Film Asia-Afrika (FFAA) III di Jakarta, April 1964, semangat mengganyang film-film imperialis semakin bergelora. Di ujung festival ini, semua peserta sepakat untuk mengakhiri dominasi imperialisme AS di lapangan perfilman. Tidak lama berselang, terjadi aksi boikot film impor di bioskop-bioskop di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Bachtiar hadir di tengah kampanye itu. Ia hadir bersama seniman-seniman kiri lainnya di jalanan untuk mendesak pemboikotan film-film Amerika. Bagi Bachtiar, film-film Amerika saat itu hanya mengumbar khayalan dan komedi murahan yang melemahkan semangat revolusioner bangsa.

Salah satu adegan dalam film ”Turang” garapan Bachtiar Siagian saat Tipi (kiri) merawat wakil pemimpin gerilyawan, Rusli, yang terluka (tengah). Film ini diputar kembali di festival dan komunitas pada 2025 setelah sempat ”menghilang” pascaperistiwa 1965.

Arus balik

Sayang sekali, peristiwa 1965 berhasil menginterupsi kerja-kerja politik sineas kiri, termasuk Bachtiar Siagian.

Saat peristiwa penculikan jenderal pada 30 September 1965 terjadi, keberadaan Bachtiar Siagian sendiri simpang-siur. Indra Porhas Siagian, putra Bachtiar, menyebut ayahnya sedang berada di Bali untuk mempersiapkan syuting film Karmapala.

“Dalam perjalanan pulang, bapak melihat kepala orang dipajang di pinggir jalan di Banyuwangi,” kata Indra, seperti ditulis detik.com, 1 Oktober 2017.

Sementara menurut Krishna Sen, akademisi yang mewawancarai Bachtiar Siagian pada 1980-an, menyebut Bachtiar sedang mengambil gambar dokumenter di sebuah konferensi di Tokyo ketika kudeta gagal itu terjadi. Beberapa minggu setelah kembali ke Indonesia, ia baru menyadari dirinya diburu.

Namun, terlepas dari dua versi itu, yang jelas jalan hidup Bachtiar berbalik arah pasca peristiwa G30S 1965 itu. Ia tertangkap pada awal 1966, lalu dijebloskan ke penjara Salemba, Jakarta, kemudian dipindah ke Nusakambangan, dan akhirnya dikirim ke Pulau Buru untuk menjadi tahanan politik selama 12 tahun. Pahitnya, semua penahanan itu tidak didahului proses pengadilan.

Selama proses politik itu, hampir semua karyanya dihilangkan, termasuk film “Turang”. Seluloid film fisiknya dibakar atau dihancurkan karena dicap sebagai alat propaganda kiri. Dari belasan film yang pernah ia buat, tidak ada satu pun yang tersisa di Indonesia.

Pengujung 1977, Bachtiar baru dipulangkan dari Pulau Buru. Usianya ketika itu 55 tahun. Ia melewati puncak usia produktifnya sebagai tahanan politik.

Namun, lepas dari tahanan politik bukan berarti merdeka 100 persen. Dengan status “eks tapol”, jalan rezeki Bachtiar nyaris tertutup rapat. Ia tak bebas dan terus dirundung stigma. Dalam perjuangan membiayai hidup keluarganya, ia menulis skenario film menggunakan nama samaran. Beberapa skenario film ia tulis dengan nama samaran, seperti Intan Mendulang Cinta, Busana dalam Mimpi, dan Membelah Kabut Tengger.

Begitulah sineas kiri itu bertahan hidup hingga usia senja. Pada akhirnya, 19 Maret 2002, ia berpulang dalam kesunyian. Ia kembali ke pangkuan Sang Khalik dalam kesendirian, ketika nama dan karya-karyanya coba dihapuskan dari khazanah sejarah.

Akan tetapi, sejarah yang ditulis pemenang tak selamanya menang. Sebab, tidak ada kekuasaan yang fana. Begitu pula Orde Baru dengan segala narasi yang dibangunnya.

Pada akhir 2023, atau 21 tahun setelah kepergian Bachtiar Siagian, film “Turang” berhasil ditemukan pusat arsip film Rusia, Gosfilmofond. Penemuan itu buah dari perjuangan tak kenal lelah dari putrinya, Bunga Siagian, yang berusaha mencari jejak karya-karya sang ayah. Film yang pernah meraih predikat terbaik di masanya akhirnya naik ke layar lebar lagi di International Film Festival Rotterdam (IFFR), Belanda pada Februari 2025.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Memenangkan Pasal 33 UUD 1945 dalam RUU Reforma Agraria

Memenangkan Pasal 33 UUD 1945 dalam RUU Reforma Agraria

Dalam konteks pembentukan RUU Reforma Argaria ada beberapa problem mendasar yang

You May Also Like
Total
0
Share