Tidak ada karya seni, termasuk musik, yang lahir dan berdiri di ruang hampa. Ia selalu dipengaruhi oleh konteks zamannya dan mengusung tujuan tertentu.
Jejak ingatan serta dokumentasi sejarah menunjukkan bahwa lagu-lagu memiliki peran besar: menyuarakan hak-hak rakyat, membangunkan kesadaran mereka yang terlelap, sekaligus menjadi energi bagi derap perjuangan. Termasuk di dalamnya, lagu-lagu yang hadir untuk mengiringi perjuangan kaum buruh.
Berikut 10 lagu populer yang menyuarakan hak-hak dan perjuangan kaum buruh:
Peete Seger: Solidarity Forever
Lagu Solidarity Forever ditulis oleh seorang aktivis buruh, Ralph Chaplin, tahun 1915. Awalnya lagu ini ditulis untuk sebuah gerakan buruh Amerika, Industrial Workers of the World (IWW). Tetapi, seiring perjalanan waktu, lagu ini kemudian menjadi lagu kebangsaan kaum buruh di berbagai negara.
Lagu ini makin populer setelah dinyanyikan oleh banyak musisi, seperti Utah Philips, Pete Seeger, hingga Tom Morello (pentolan Rage Against The Machine). Tetapi yang paling mempopulerkan lagu ini adalah Pete Seeger, seorang musisi ternama sekaligus aktivis sosialis Amerika.
Lagu ini punya versi bahasa Prancis, Solidarité mes frères et mes soeurs.
Judy Collins: Bread and Roses
Bread and Roses berasal dari pidato berapi-api Rose Schneiderman, seorang sosialis dan aktivis buruh Amerika Serikat. “Buruh harus punya roti, tapi juga punya mawar juga,” katanya.
Pidato itulah yang menginspirasi lahirnya puisi dengan judul serupa oleh James Oppenheim. Puisi inilah yang kerap dimusikalisasi dan dinyanyikan oleh banyak musisi. Salah satu yang terkenal adalah Judy Collins.
John Lennon: Working Class Hero
Lagu Working Class Hero tentu tidak asing lagi di telinga para aktivis. Ya, lagu ini diciptakan oleh musisi kelahiran Inggris, John Lennon, pada 1970.
Working Class Hero lahir di tengah ledakan gerakan politik kiri di tahun 1960-an dan 1970-an, dari gerakan hak-hak sipil, anti-perang Vietnam, hingga kebangkitan kiri-baru (new-left). Tidak mengherankan, lagu ini sangat bernuasa heroik-revolusioner.
“Saya pikir ini lagu revolusioner, ini benar-benar revolusioner. Saya pikir ini untuk kaum buruh, bukan untuk kue tar dan rokok,” kata John Lennon, seperti dikutip Jann S Wenner dalam Lennon Remembers.
Melalui lagu ini, Lennon bicara tentang nasib pekerja yang terdiskriminasi dan terhisap oleh kaum kaya. Ironisnya, sudah begitu, pikiran kaum buruh dikotori oleh kaum kaya melalui agama, seks dan televisi.
Eugène Pottier: Internationale
Inilah lagu kaum buruh dan kaum tertindas paling terkenal sepanjang masa: Internationale. Lagu ini diciptakan aktivis buruh sekaligus sosialis Prancis, Eugène Pottier, tahun 1871.
Lagu ini ditulis bersamaan Pottier hanya beberapa minggu setelah runtuhnya negara proletar pertama di dunia, Komune Paris, yang hanya berumur 72 hari. Pottier sendiri anggota Komune Paris. Karena itu, dia menjadi salah satu incaran kaum kontra-revolusi untuk dieksekusi mati.
Dalam pelariannya di London, Pottier menerbitkan buku berjudul Chants Révolutionnaires, yang di dalamnya ada lirik Internationale. Tak lama kemudian, tepatnya 1888, seorang komunis Belgia, Pierre De Geyter, menggubah lirik ini jadi musik.
Tetapi lagu itu tidak segera populer. Bahkan dalam Kongres Sosialis Internasional ketiga di Zurich, Swiss, tahun 1893, yang dihadiri oleh Friedrich Engels, yang dinyanyikan malah Marseillaise. Bukan lagu Internationale.
Baru, pada 1900, dalam Kongres Sosialis Internasional kelima di Paris, pengikut Jules Guesde dari Partai Sosialis Prancis memperkenalkan lagu ini kepada peserta kongres. Barulah setelah itu lagu ini mulai populer.
Di tahun 1912, lagu Internationale muncul dalam banyak bahasa. Juga dinyanyikan di banyak negara, baik Eropa maupun Amerika. Juga mulai diperdengarkan dalam rapat-rapat umum, demonstrasi, hingga peringatan hari buruh sedunia (May Day).
Puncaknya, setelah revolusi Rusia 1917, lagu ini menjadi lagu kebesaran negara proletar Uni Soviet. Sejak itu Internationale menyebar ke seantero dunia, dialihbahasakan ke ratusan bahasa, sebagai lagu perjuangan kaum buruh dan kaum tertindas.
Di Indonesia sendiri Internationale pertama kali disadur ke dalam bahasa Melayu oleh Soewardi Soeryaningrat alias Ki Hadjar Dewantara. Terjemahan itu dimuat di harian Sinar Hindia pada 5 Mei 1920, sebuah surat kabar yang dikeluarkan oleh Sarekat Islam Semarang.
Victor Jara: Te Recuerdo Amanda
Lagu Te Recuerdo Amanda diciptakan oleh musisi kerakyatan asal Chile, Victor Jara. Lagu yang dibuat tahun 1969 ini berkisah tentang sepasang kekasih dari kelas pekerja, Amanda dan Manuel, yang rutin bertemu di luar pabrik setiap jam istirahat.
Mereka bertemu hanya lima menit. Dan setelah sirine berbunyi, keduanya kembali ke pekerjaan masing-masing. Walaupun pertemuan itu sangat singkat, Manuel tidak bisa lupa dengan senyum Amanda.
Suatu hari, Manuel ikut perjuangan bersenjata. Dan berakhir tragis: muchos no volvieron/tampoco Manuel…(banyak di antara mereka yang tak kembali/termasuk Manuel).
Victor Jara adalah seorang marxis, pendukung Presiden Salvador Allende dan partainya, Unidad Popular. Ketika Allende dikudeta oleh seorang militer yang disokong AS, Augusto Pinochet, Victor bersama ribuan aktivis lainnya turut dieksekusi mati.
Selain Te Recuerdo Amanda, lagu Victor lainnya yang berbicara nasib buruh adalah La Plegaria A Un Labrador (Doa untuk Buruh) dan Cuando Voy Al Trabajo (Di Jalan untuk Bekerja).
Billy Bragg: Power in a Union
Lagu Power in a Union ditulis oleh seorang aktivis buruh bernama Joe Hill pada 1913. Joe sendiri anggota gerakan buruh Industrial Workers of the World (IWW) atau Wobblies.
Lagu ini sebetulnya berisi seruan kepada kaum buruh agar bergabung dengan serikat buruh, sebagai jalan untuk membebaskan diri dari perbudakan upah, kemiskinan, dan kelaparan.
Lagu ini populer setelah dinyanyikan oleh seorang musisi cum aktivis kiri, Billy Bragg, di tahun 1986.
Woody Guthrie: Union Burying Ground
Lagu Union Burying Ground diciptakan oleh penyanyi balada Amerika, Woody Guthrie. Lagu ini muncul di album Struggle yang mulai direkam tahun 1940-an.
Lagu ini diciptakan oleh Guthrie sebagai bentuk penghormatan kepada perjuangan kelas buruh Amerika yang telah mengorbankan nyawa demi tegaknya kemanusiaan.
Guthrie sendiri dikenal sebagai orang kiri, yang kerap menulis untuk majalah Partai Komunis Amerika, People’s World. Dia selalu tampil dengan gitar bertuliskan: mesin ini akan membunuh kaum fasis. Lagunya yang sangat terkenal, This Land is Your Land, sangat populer di Amerika. Dia dianggap musisi yang mempengaruhi banyak musisi sesudahnya, seperti Bob Dylan, Billy Bragg, Phil Ochs, Johnny Cash, Bruce Springsteen, Pete Seeger, Joe Strummer, dan lain-lain.
Florence Reece: Which Side Are You On?
Lagu Which Side Are You On? ditulis oleh seorang aktivis sosial Amerika, Florence Reece. Kebetulan, dia juga istri dari seorang aktivis buruh Amerika, Sam Reece.
Lagu ini ditulis Reece di tahun 1931, bersamaan dengan meletusnya peristiwa Harlan County Strike, serangkain pemberontakan pekerja tambang batubara melawan perusahaan dan otoritas setempat.
Pete Seeger mulai memperkenalkan lagu ini tahun 1941. Berikutnya, grup musik folk kiri Almanac Singers merekam dan menyanyikannya. Lagu ini makin populer karena dinyanyikan banyak musisi, seperti Billy Bragg, Ani DiFranco, dan lain-lain.
Bruce Springsteen: Factory
Lagu Factory diciptakan oleh Bruce Springsteen pada 1978. Konon, saat menulis lagu ini, Bruce terinspirasi oleh ayahnya yang seorang buruh.
Lagu ini berkisah tentang kehidupan sehari-hari seorang buruh, mulai dari bangun pagi-pagi karena sirine pabrik, lalu berangkat ke pabrik, dan keluar lagi setelah sirine berbunyi.
Bruce sendiri dikenal sebagai musisi yang kritis dan politis. Ia pernah terlibat gerakan anti-nuklir hingga gerakan Occupy Wall Street (OWS).
Tom Morello: Union Song
Lagu Union Song merupakan bagian dari album mini berjudul Union Town yang dirilis oleh salah satu pentolan Rage Against The Machine (RATM), Tom Morello, pada 2011.
Tetapi di lagu ini Tom tidak memakai bendera RATM, melainkan The Nightwatchman. Lagu ini ditulis Tom tahun 2003, hanya sesaat setelah demonstrasi rakyat Amerika menentang Free Trade Area of America di Miami.
“Demonstrasi damai kami bersama puluhan ribu buruh ditembaki gas air mata. Saya tampil di hadapan aksi buruh dan saya sadar bahwa saya tidak bisa lagi sendiri untuk tampil di kegiatan seperti itu,” kenangnya.
Lagu bertutur tentang penderitaan kaum buruh, mulai dari PHK hingga upah murah. Karena itu terjadilah “pertarungan ke bawah” (race to bottom), yang menyebabkan kondisi hidup kaum buruh jatuh ke titik nadir.
Tom memang lahir dari keluarga buruh penambang batubara di Illinois. Tidak heran, dia tahu betul pahit-getir kehidupan kaum buruh. Dia sendiri menjadi anggota Industrial Workers of the World (IWW).










