Ketika Gen Z Peru Berhasil Menjatuhkan Presiden Otoriter

Terinspirasi gelombang protes di berbagai belahan dunia, dari Indonesia, Nepal, Madagaskar, hingga Maroko, para pemuda Peru mengubah kemarahan di media sosial menjadi mobilisasi massa melawan korupsi dan represi.

Puluhan demonstran melompat kegirangan di luar gedung Kongres Republik Peru (Parlemen Peru). Hari itu, 10 Oktober 2026, Presiden Dina Boluarte berhasil dilengserkan dari jabatannya oleh anggota parlemen yang selama hampir tiga tahun menjadi sekutu sekaligus pelindungnya.

Sehari sebelumnya, krisis sosial dan politik Peru yang berkepanjangan mencapai titik didihnya. Calon presiden Phillip Butters, yang berasal dari partai kanan Avanza País, dilempari batu saat kunjungan provokatif ke sebuah kota di bagian selatan negeri itu yang para pengunjuk rasanya sudah lama ia tuduh sebagai “teroris.”

Di Lima, penembakan brutal di sebuah konser band cumbia (genre musik populer Amerika Latin) melukai lima musisi, meningkatkan perasaan bahwa kejahatan sudah tak terkendali. Beberapa jam setelah penembakan itu, pada Jumat (10/10) dini hari, Boluarte dimakzulkan (dilengserkan) oleh Kongres setelah sidang kilat tanpa kehadiran dirinya.

Namun, kemarahan publik terhadap pemerintah sudah berakar jauh lebih dalam. Gelombang kemarahan dan ketidakpuasan ini dimulai pada 20 September, ketika puluhan anak muda turun ke jalan di pusat Kota Lima untuk memprotes undang-undang reformasi pensiun yang akan mewajibkan mereka untuk berkontribusi pada dana pensiun nasional mulai usia 18 tahun. Polisi menanggapi demonstrasi tersebut dengan kekerasan.

“Represinya terlalu berlebihan,” kata Jessica, seorang mahasiswi berusia 19 tahun yang hanya memberikan nama depannya karena masalah keamanan. “Mereka menembak langsung ke tubuh para pengunjuk rasa. Satu anak laki-laki terkena peluru di dada. Kalau dia tidak menaikkan lengannya, dia pasti sudah mati,” katanya.

Anak muda Peru terlibat bentrok dengan aparat keamanan. Kredit: nbcnews

Kekerasan ini terus berlanjut pada protes-protes berikutnya. Dalam demonstrasi di Lima, 21 September 2025, polisi menahan Samuel Rodríguez, seorang pemuda yang mencoba menolong seorang petugas tetapi malah ditangkap. Akhir pekan itu, 18 pengunjuk rasa terluka dalam demonstrasi lain di Kota Lima, termasuk seorang pria lanjut usia yang penganiayaannya dengan cepat menjadi viral setelah terekam kamera.

Sama seperti protes baru-baru ini di Nepal, Maroko, dan Madagaskar, anak-anak muda telah memimpin upaya untuk mengecam krisis Peru—dan menuntut perubahan. Seperti rekan-rekan mereka di seluruh dunia, pemuda Peru berkumpul di bawah bendera bergambar tengkorak tersenyum dengan topi jerami dari anime One Piece. Karakter utamanya, bajak laut muda Monkey D. Luffy, memulai perjalanan bersama krunya untuk menggulingkan kekuatan korup dan mencari kebebasan. Itu adalah simbol yang pas untuk filosofi generasi Z (gen Z): mengubah segalanya.

Negara penuh kekerasan

Ketegangan sosial di Peru, yang merupakan produk dari krisis politik yang mengakar, telah meningkat sejak 2022, ketika mantan Presiden Pedro Castillo melakukan upaya kudeta pura-pura (self-coup) sebagai dalih untuk membubarkan Kongres. Boluarte, yang saat itu menjabat wakil presiden, langsung bergerak cepat mengambilalih jabatan sebaagi presiden dan segera bersekongkol dengan kekuatan tengah dan sayap kanan untuk tetap berkuasa.

Kepresidenan Boluarte, yang dicemari oleh skandal korupsi, bahkan gagal mengatasi masalah paling mendasar rakyat Peru. “Ada perasaan gelisah yang semakin besar,” kata Omar Coronel, seorang ilmuwan politik di Universitas Katolik Kepausan Peru. “Tidak hanya di kalangan anak muda, tetapi di seluruh negeri. Sejak tahun 2023, jajak pendapat sangat konsisten, memberikan tingkat persetujuan presiden dan Kongres kurang dari 10 persen.”

Kekerasan terhadap pengunjuk rasa telah menjadi hal yang lumrah di seluruh negeri, hingga memicu pemberontakan saat ini. “Protes pertama saya adalah pada 20 September. Saya berada di barisan depan,” kata Jessica. “Apa yang saya lihat membuat saya muak. Polisi tidak menunjukkan belas kasihan. Mereka menembak Anda karena ya ingin menembak. Jika ada anak kecil di sana, mereka tidak peduli. Jika ada orang tua di sana, mereka tidak peduli.”

Kekerasan terhadap demonstran telah lama menjadi ciri khas negara Peru, hingga memunculkan anggapan pemerintahan Boluarte sangat brutal. Represi dimulai setelah jatuhnya Castillo. Di bagian selatan negara itu meletus dalam protes pada akhir 2022 dan awal 2023 untuk membela Castillo. Sekitar 49 orang tewas selama demonstrasi di kota-kota yang sebagian besar penduduknya pribumi (masyarakat adat) seperti Apurímac, Ayacucho, dan Puno, termasuk para pengamat dan tujuh remaja. Pembantaian 9 Januari 2023 di Puno menjadi terkenal karena kebrutalannya: setidaknya 18 orang ditembak mati dalam satu hari, dalam apa yang digambarkan oleh Mahkamah Hak Asasi Manusia Inter-Amerika (Inter-American Court of Human Rights) sebagai “pembantaian.”

Pedro Castillo, guru SD yang terpilih sebagai Presiden Peru pada Pemilu 2021, dilengserkan setelah tindakan gegabahnya membubarkan Kongres.

Pemerintah membantah semua tuduhan, melabeli para pengunjuk rasa sebagai “teroris.” Dalam konferensi pers dengan media internasional, Boluarte mengatakan kepada wartawan, “Puno bukan Peru,” sebuah pernyataan terbuka yang membawa pesan perpecahan geografis Peru yang mendalam.

Sementara, di Kota Lima saat itu, orang-orang tetap diam saja. “Tidak ada dukungan dari kami. Kami masih berada dalam gelembung,” kata Yacok Solano, penduduk Lima berusia 22 tahun. “Itulah mengapa ada kebencian terhadap orang-orang Lima. Ketika Anda tinggal di Lima, Anda berpikir itu adalah pusat dunia,” lanjutnya.

Namun, demonstrasi baru-baru ini mirip dengan api yang menyambar ranting kering. Hanya dalam sembilan tahun, Peru telah memiliki tujuh presiden, sebuah siklus pergantian kekuasaan politik yang sangat cepat dan menumbuhkan ketidakstabilan institusional, impunitas (kekebalan hukum), dan korupsi. Hari ini, gen Z dan sekutu-sekutunya menuntut perombakan total kekuasaan negara.

Akar ketidakpuasan

Pada 5 September, pemerintah menyetujui reformasi pensiun yang mewajibkan semua orang di atas 18 tahun untuk berkontribusi pada sistem tersebut mulai tahun 2027. Undang-undang tersebut juga mewajibkan kontribusi bagi pekerja mandiri dan menetapkan usia pensiun pada usia 65 tahun. Tindakan penghematan ini memicu reaksi keras dengan cepat.

Sebanyak 70 persen dari angkatan kerja Peru adalah pekerja informal (tidak tercatat resmi dan tanpa jaminan). Namun, di kalangan anak muda, angkanya lebih tinggi lagi. Laporan Pemuda Nasional tahun 2021 mengungkapkan bahwa 83 persen pekerjaan yang dipegang oleh kaum muda adalah informal. Kesenjangan antara Lima dan wilayah Andean (pegunungan Andes) sangat mencolok. Sementara informalitas di daerah perkotaan mencapai 79 persen, di daerah pedesaan naik menjadi 96 persen. Di samping itu, pendapatan rata-rata untuk kaum muda adalah sekitar $320 per bulan (sekitar Rp 5 juta), hanya sedikit di atas upah minimum.

Kondisi ekonomi yang genting kian membuka kondisi kontras mayoritas besar penduduk Peru dengan perilaku para pemimpinnya. Pada Juli, Boluarte menaikkan gajinya dua kali lipat menjadi sekitar $10 ribu per bulan (sekitar Rp 150 juta). Para politisi negara itu “tidak memikirkan rakyat,” kata Jessica. “Mereka tidak memikirkan kaum muda. Mereka hanya berpikir untuk mengisi kantong, menjarah negara, dan melakukan apa pun yang mereka inginkan.”

Dina Boluarte, Presiden Peru yang dilengserkan, bertemu Puan Maharani saat kunjungan ke Indonesia. Kredit: Akurat.co

Para pekerja transportasi Peru juga ikut bergabung dalam protes. Mereka sudah lama menjadi sasaran kekerasan di tangan kelompok kriminal. Tahun ini saja, lebih dari 180 pengemudi telah dibunuh karena menolak membayar uang pemerasan/setoran. Permintaan para supir agar diberi perlindungan tidak digubris. Boluarte menanggapi kekhawatiran mereka dengan menyarankan pengemudi untuk menghindari menjadi sasaran dengan “tidak menjawab panggilan telepon” dari nomor tak dikenal. Karena tidak ada tempat lain untuk mengadu, mereka bergabung dengan para pengunjuk rasa Gen Z untuk menuntut perombakan status quo (keadaan saat ini).

Jessica juga menggemakan perasaan krisis besar yang terkait dengan ketidakamanan. “Bukan hanya undang-undang AFP [Administradoras de Fondos de Pensiones, dana pensiun swasta] yang mempengaruhi saya, tetapi apa yang saya lihat di berita. Kejahatan, undang-undang yang menguntungkan penjahat, pemerasan. Itulah yang memicu gen Z turun ke jalan untuk protes,” katanya.

“Ketidakpuasan meledak di semua sisi,” kata Noelia Chávez, seorang sosiolog di Universitas Katolik Kepausan. “Tetapi di Peru, tidak ada partai, pemimpin, atau proyek politik yang berfungsi sebagai titik acuan. Anak-anak muda memprotes karena ada penyebab langsung yang mempengaruhi mereka. Dan, ditambahkan wacana melawan ketidakadilan ini adalah wacana pemerintah yang korup yang represinya mereka alami secara langsung.”

Ketidakpuasan ini telah menelan korban politik pertamanya: Boluarte, yang disingkirkan dan digantikan oleh Presiden Kongres José Jerí pada 10 Oktober. Namun, menurut para aktivis, pelengserannya hanyalah permulaan. Gen Z mengatakan pawai akan terus berlanjut.

Dari TikTok ke jalanan

Instagram dan TikTok adalah platform utama yang digunakan gen Z untuk tetap mendapatkan informasi. Dengan meme dan video pendek yang secara cepat menjadi viral, mereka menjadi terampil dalam menghasilkan pesan-pesan sederhana yang dapat menghasilkan kemarahan populer massal di jalanan. Mereka mengoordinasikan demonstrasi melalui grup Telegram dan Facebook.

“Ini adalah anak-anak muda yang memiliki sumber daya, waktu, dan lebih banyak peluang untuk keluar dan berunjuk rasa daripada generasi lain,” kata Chávez. “Meskipun mereka adalah kelompok yang heterogen, mereka berbagi identitas yang sama terkait dengan situasi politik dan sosial dan, yang terpenting, penggunaan teknologi.”

Peran jalanan antara demonstran dengan aparat keamana. Kredit: NACLA

Tagar #GenZ, #Corrupción (Korupsi), dan #ProtestasPeru (Protes Peru) menghasilkan konten yang memicu kemarahan, kegeraman, dan protes. Ketika Boluarte jatuh, anak-anak muda menggunakan taktik ini untuk dengan cepat memobilisasi kerumunan untuk mengepung Kedutaan Brasil dan Ekuador untuk mencegah kemungkinan pelariannya. Menurut Jessica, poster dengan foto Boluarte dibagikan di WhatsApp dengan pesan: “Jangan biarkan tikus kabur.”

“Kami mengatur diri kami sendiri dengan lebih baik, menciptakan aliansi, dan secara bertahap membawa lebih banyak orang. Dengan sedikit pengalaman yang kami miliki, kami mencapai banyak hal,” katanya.

Kekuatan organisasi para pengunjuk rasa kaum muda Peru sudah lama diremehkan. Menteri Transportasi dan Komunikasi Boluarte, César Sandoval, mengejek mereka dengan menyebut “Degeneration Z” (generasi dekadensi).

Fenomena global

Gerakan anak muda Peru telah mengambil inspirasi dari pemberontakan di luar negeri. Mereka belajar bagaimana protes dapat membuahkan hasil setelah pemuda Nepal membakar parlemen dan memaksa pengunduran diri Perdana Menteri Khadga Prasad Oli. Istrinya, Rajyalaxmi Chitrakar, meninggal karena luka-luka setelah rumah mereka dibakar.

Kemarahan dan ketidakpuasan Nepal terhadap “nepo babies” negara itu (istilah untuk anak-anak politisi yang memamerkan gaya hidup mewah secara online di tengah meningkatnya ketidaksetaraan) dengan mudah diterjemahkan ke dalam frustrasi rakyat Peru dengan elite politik mereka sendiri.

Identitas generasi sangat penting untuk membingkai protes di negara-negara Selatan (negara-negara berkembang, yang sebagian besar terletak di belahan bumi selatan) sebagai perjuangan kaum muda untuk masa depan mereka. Di Peru, gelombang protes turut dipicu oleh kepastian bahwa sistem pensiun akan gagal; di Nepal oleh pengangguran dan ketergantungan ekonomi eksternal.

Namun, protes yang dipimpin pemuda menghadapi keterbatasan. “Mobilisasi gen Z berfungsi lebih sebagai rem terhadap otoritarianisme daripada sebagai gerakan sosial yang mengubah keadaan (kondisi ekonomi dan politik),” kata ilmuwan politik Coronel. “Anak-anak muda memiliki klaim yang sah untuk memulihkan demokrasi dan keseimbangan kekuasaan, tetapi kita harus ingat bahwa generasi ini sangat besar dan beragam.”

Tetapi kaum muda saat ini menarik banyak simbol bersama untuk secara kreatif mengecam konsentrasi kekuasaan di tangan segelintir orang. Dalam skenario ini, bendera One Piece telah menjadi lambang yang kuat. Anime itu menggambarkan elite politik sebagai kelompok parasit yang mengambil keuntungan dari warga negara, dan karena alasan itu, pantas untuk digulingkan.

Jalan di depan

Para pemuda Peru yang memimpin protes mengatakan perjuangan mereka masih jauh dari selesai. Mereka menggunakan simbol dari anime One Piece yang telah menginspirasi untuk bergerak.

Dalam video terbaru yang mengumumkan aksi nasional pada 15 Oktober lalu, selusin anak muda muncul dengan wajah di-pixelate (disamarkan dengan kotak-kotak), berdiri di depan bendera One Piece yang tergantung di dinding ruang tamu.

Meskipun perjuangan masih panjang dan sulit, presiden baru negara itu, José Jerí, adalah sasaran berikutnya. Dia pengacara berusia 38 tahun yang berafiliasi dengan partai kanan Somos Perú, punya rekam jejak yang kelam, termasuk tuduhan pemerkosaan, memperkaya diri secara ilegal (korupsi), dan penghinaan terhadap pengadilan. Presiden baru itu juga melindungi Boluarte dari penyelidikan atas pembantaian yang dilakukan di bawah pemerintahannya.

Gen Z telah mencapai kemenangan besar melawan korupsi dan impunitas dengan melengserkan Boluarte. Tetapi, seperti kisah bajak laut Monkey D. Luffy dan krunya, masih banyak lautan yang harus diarungi.

Lucero Chávez, Jurnalis yang berspesialisasi dalam isu gender, kewarganegaraan, dan migrasi. Ia lahir di Lima, Peru, dan saat ini bermukim di Santiago, Chili. Artikel-artikelnya telah terbit di Epicentro TV, Anfibia Chile, dan La Indómita.

Artikel ini sebelumnya tayang di NACLA dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ira Kusumah.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Selamat Jalan Jill Hickson, Filmmaker di Balik Film Perlawanan Rezim Soeharto

Selamat Jalan Jill Hickson, Filmmaker di Balik Film Perlawanan Rezim Soeharto

Aktivis sosialis dan filmmaker, Jill Hickson meninggal dunia pada 15 Oktober

Next
Samba sebagai Identitas dan Alat Perlawanan

Samba sebagai Identitas dan Alat Perlawanan

Siapa tidak kenal samba?

You May Also Like
Total
0
Share