Pada 28 Februari 2026, pukul 02.30, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump muncul lewat video delapan menit yang diunggahnya ke Truth Social. Ia mengumumkan AS telah memulai “operasi tempur besar-besaran di Iran”. Ada optimisme, atau tepatnya keangkuhan, bahwa perang itu akan dimenangkan dalam hitungan hari.
Keyakinan itu tercermin dari pilihan katanya. Trump sesumbar kepada wartawan bahwa “hampir segalanya sudah dihancurkan” dan Iran tidak lagi memiliki angkatan laut, angkatan udara, sistem deteksi udara, maupun radar. Beberapa hari kemudian, ia menelepon CBS News dan berkata, “Saya rasa perang ini sudah sangat selesai, hampir tuntas.”
Pada 9 Maret, nadanya bahkan lebih meremehkan. “Kami melakukan sedikit excursion (kunjungan singkat) karena kami merasa harus melakukannya untuk menyingkirkan kejahatan. Dan saya rasa ini akan menjadi petualangan jangka pendek. Kami sudah sangat dekat untuk menyelesaikannya.”
Namun musuh yang dianggap sudah tamat itu ternyata belum selesai. Iran membalas, dan serangan balasan itu benar-benar di luar dugaan serta perhitungan Washington.
Tagihan perang yang membengkak
Daftar kerugian terus bertambah dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Pada 10 Maret 2026, jumlah tentara AS yang tewas sudah 13 orang dan 200 personel lainnya terluka akibat serangan meluas Iran ke negara-negara satelit AS di Asia Barat.
Namun, kerugian yang paling nyata adalah pundi-pundi militer dikuras dengan sangat cepat. Operasi Epic Fury, nama operasi militer AS dalam agresi ke Iran, menghabiskan USD 11,3 miliar hanya untuk amunisi dalam enam hari pertama. Angka itu belum termasuk biaya operasional dan pemeliharaan pasukan yang terlibat, maupun kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan balik Iran.
Lembaga kajian strategis Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang berbasis di Washington memperkirakan 100 jam pertama perang menelan biaya USD 3,7 miliar, atau setara dengan sekitar USD 891 juta per hari.
Persediaan senjata yang menipis
Tekanan juga mulai terasa pada ketersediaan persenjataan. AS selama ini membanggakan diri sebagai kekuatan militer yang menggunakan senjata-senjata berteknologi tinggi dan sangat mahal. Namun kini, pengeluaran besar itu mulai memperlihatkan konsekuensinya.
Berdasarkan laporan Bloomberg, “Saat konflik memasuki pekan ketiga, upaya perang AS menunjukkan tanda-tanda ketegangan yang tidak terduga dalam menghadapi musuh yang anggaran militernya lebih kecil dari GDP negara bagian Vermont—namun memiliki gudang rudal dan drone yang belum pernah dihadapi AS sebelumnya.”
Salah satu amunisi yang paling cepat terkuras adalah rudal jelajah Tomahawk (Tomahawk Cruise Missile)—senjata presisi jarak jauh yang dapat ditembakkan dari kapal perang maupun kapal selam untuk menyerang target di darat. Hanya dalam 100 jam pertama operasi, sebanyak 168 rudal Tomahawk telah diluncurkan. Harga satu unit rudal ini mencapai USD 3,6 juta.
Ini angka yang luar biasa jika dibandingkan dengan laju produksinya, di mana selama lima tahun terakhir, AS hanya memproduksi 322 unit Tomahawk. Seorang sumber yang dikutip oleh Financial Times pun menggambarkan dampaknya. “Angkatan Laut akan merasakan pengeluaran ini selama beberapa tahun ke depan.”
Iran justru lebih hemat
Sementara Pentagon sesumbar berhasil meredam serangan Iran hingga 80 persen atau lebih, Teheran justru semakin cermat dan efisien dalam menyerang. Sasaran-sasaran militer dan infrastruktur energi di seluruh Timur Tengah berhasil dihantam dengan efek yang signifikan.
Beberapa fasilitas strategis yang berhasil dirusak antara lain:
- Markas Armada Kelima AL AS di Bahrain—dihantam rudal balistik, menghancurkan dua terminal komunikasi satelit militer (AN/GSC-52B SATCOM).
- Radar peringatan dini AN/FPS-132 di Qatar—fasilitas senilai USD 1,1 miliar berhasil ditembus rudal balistik Iran. Radar jenis ini berfungsi mendeteksi serangan rudal dari jarak jauh.
- Sistem radar AN/TPY-2 di berbagai lokasi: Pangkalan Udara Prince Sultan (Arab Saudi), Al Ruwais (UEA), Al Dhafra Air Base (dekat Abu Dhabi), dan Pangkalan Udara Muwaffaq Salti (Yordania).
Radar AN/TPY-2 adalah komponen kunci dari sistem pertahanan rudal THAAD (Terminal High Altitude Area Defense), sebuah sistem yang dirancang untuk menembak jatuh rudal balistik di fase akhir penerbangan pada ketinggian tinggi. Pakar persenjataan N.R. Jenzen dari Armament Research menjelaskan betapa vitalnya komponen ini: “Radar AN/TPY-2 pada dasarnya adalah jantung dari baterai THAAD, yang memungkinkan peluncuran rudal pencegat dan berkontribusi pada jaringan pertahanan udara yang lebih luas.” Jika radar ini hancur, seluruh sistem THAAD menjadi buta dan tidak dapat beroperasi.
Matematika perang
Salah satu ironi paling mencolok dari konflik ini adalah ketimpangan biaya antara senjata penyerang Iran dan sistem pertahanan AS.
Senator Demokrat dari Arizona, Mark Kelly, seorang mantan astronaut dan pilot militer, mengungkapkan keprihatinannya. “Peluru yang kita tembakkan (maksudnya peluru Patriot dari THAAD) sistem senjata ini, setiap pelurunya berharga jutaan dolar. Matematika ini tidak masuk akal.”
Yang dimaksud Senator Kelly adalah untuk menembak jatuh satu drone murah Iran, AS terpaksa menggunakan rudal pencegat yang jauh lebih mahal. Salah satu “bintang” dalam serangan Iran adalah drone Shahed-136, pesawat nirawak kamikaze buatan Iran yang harganya hanya sekitar USD 35 ribu per unit, namun mampu melukai ratusan personel militer AS.
Menurut Panglima United States Central Command (CENTCOM), komando militer AS untuk kawasan Asia Barat dan Asia Tengah, Laksamana Brad Cooper, sebagian besar dari 140 personel AS yang terluka mengalami luka akibat serangan drone one-way (drone yang dirancang untuk menabrak sasaran dan meledak) semacam ini.
Pentagon minta dana tambahan
Situasi ini mendorong Pentagon untuk lebih serius mengembangkan sistem senjata murah miliknya sendiri, yaitu Low-Cost Uncrewed Combat Attack System (LUCAS), sistem drone tempur biaya rendah yang kini mulai digunakan untuk menghadapi serangan Iran.
Namun lebih dari itu, Pentagon juga berencana meminta dana tambahan sebesar USD 50 miliar dari Kongres. Permintaan ini tidak disambut bulat. Senator Republik dari Alaska, Lisa Murkowski, anggota Komite Anggaran Senat, menegaskan: “Anda harus mampu memberi kami lebih banyak informasi sebagai justifikasi. Jangan begitu saja menganggap peran Kongres hanyalah menandatangani cek.”
Dampak ke sekutu Asia
Perang ini tidak hanya menguras sumber daya, tetapi juga menarik perhatian ke ketidakstabilan yang ditimbulkannya di kawasan Asia.
Dalam rapat kabinet terbaru, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengonfirmasi bahwa Washington mungkin akan memindahkan aset pertahanan udara dari kawasan Asia ke Timur Tengah. Beberapa peluncur sistem THAAD dilaporkan telah atau sedang dipindahkan ke Pangkalan Udara Osan di Pyeongtaek, sekitar 70 km selatan Seoul, dengan rudal pencegat yang diambil dari sistem tersebut untuk dikirim ke Timur Tengah.
Padahal, baterai THAAD itu awalnya ditempatkan di Korea Selatan sejak 2017 justru untuk melindungi negara itu dari ancaman Korea Utara yang memiliki senjata nuklir. Pengurangan amunisi dari sistem tersebut memunculkan kekhawatiran nyata tentang meningkatnya kerentanan Seoul.
Taiwan pun turut menyuarakan kekhawatiran. Chen Kuan-ting, anggota legislatif yang duduk di Komite Luar Negeri dan Pertahanan Taiwan, menyatakan bahwa aset militer AS “tidak bisa dikerahkan di dua tempat sekaligus.” Ia menegaskan bahwa prioritas seharusnya ada di Asia. “Menggelar aset militer utama di Asia dan menghadapi pesaing utama AS di sini lebih sesuai dengan kepentingan Amerika,” ujarnya.
Perang untuk siapa?
Di balik seluruh kalkulasi militer ini, ada pertanyaan yang semakin keras disuarakan di dalam negeri AS sendiri: perang ini sebenarnya untuk siapa?
Trump melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran setelah melalui proses lobi selama berminggu-minggu oleh dua sekutu AS di Asia Barat: Israel dan Arab Saudi. Namun Israel-lah yang paling gigih mendorong Washington ke arah konfrontasi ini.
Selama bertahun-tahun, kelompok-kelompok lobi seperti American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), Foundation for Defense of Democracies, Zionist Organization of America, dan United Against Nuclear Iran bekerja keras untuk mendemonisasi Iran, mencegah perusahaan-perusahaan AS berbisnis di sana, dan menggagalkan upaya-upaya sebelumnya untuk memperbaiki hubungan dengan Teheran.
AIPAC sendiri adalah kelompok lobi pro-Israel paling berpengaruh di AS, sebuah organisasi yang memiliki jutaan anggota dan kemampuan menggelontorkan puluhan juta dolar untuk mendukung atau menjatuhkan anggota Kongres yang tidak sejalan dengan kepentingannya.
Pengaruh itu terlihat nyata ketika Kongres mencoba mengerem laju perang. Ketika Partai Demokrat mendorong resolusi untuk memblokir Trump mengambil tindakan militer lebih lanjut tanpa persetujuan Kongres, upaya itu dihadang oleh tiga anggota partai mereka sendiri, yang bersama-sama menerima total USD 1,7 juta dari AIPAC.
Perlawanan dari dalam pemerintahan Trump pun mulai muncul. Pejabat senior kontraterorisme Joe Kent mengundurkan diri, menyatakan bahwa “Iran tidak menimbulkan ancaman mendesak bagi negara kita, dan jelas bahwa kita memulai perang ini karena tekanan dari Israel dan lobi Amerika yang kuat.”
Yang membuat situasi ini semakin ironis, bahkan menyakitkan, adalah kondisi dalam negeri Amerika sendiri. Negara yang sedang menguras miliaran dolar per hari untuk perang di Timur Tengah ini tengah berjuang dengan persoalan domestik yang serius. Sepanjang 2025, Amerika Serikat hanya menambah 181.000 lapangan kerja, hanya sekitar 14 persen dari pencapaian 2024—angka yang oleh seorang ekonom Fed digambarkan sebagai “hampir tidak ada artinya.”
Pemotongan anggaran oleh DOGE, melemahnya sektor perumahan, dan ketidakpastian tarif menjadi beban yang menekan pasar kerja sepanjang tahun lalu. Pemotongan besar-besaran pada Medicaid, Affordable Care Act (ACA)—program asuransi kesehatan terjangkau, dan SNAP (program bantuan pangan) mulai berlaku pada Januari 2026, dengan proyeksi sekitar 5 juta orang kehilangan asuransi kesehatan dan lebih dari 2 juta orang kehilangan akses bantuan pangan.
Sekitar tujuh dari 10 warga Amerika yang disurvei CBS News mengaku kesulitan membayar kebutuhan pokok: makanan, tempat tinggal, dan layanan kesehatan. Jumlah tunawisma di Amerika melampaui 770 ribu orang pada 2024, angka yang terus meningkat seiring dengan krisis perumahan yang semakin parah dan harga properti yang tidak terjangkau.
Inilah paradoks yang paling menyedihkan dari perang ini: sebuah negara yang jutaan warganya tidak mampu membayar sewa rumah, kehilangan asuransi kesehatan, dan mengantre di bank pangan, kini menggelontorkan hampir USD 900 juta per hari untuk memenuhi ambisi geopolitik negara lain.
Jika perang berlarut, yang terus menyedot sumber daya AS dan memicu krisis ekonomi lebih luas, bukan tak mungkin kursi kekuasaan Trump yang justru di ujung tanduk. Setidaknya berdampak keras terhadap Republik dan kandidatnya di pemilu selanjutnya.










