Blunder Strategi Trump Kerek Kekuatan Tiongkok

Redaksi The Economist edisi 4 April 2026 menampilkan Xi Jinping dan Donald Trump berdampingan di sampulnya. Di sana, tertera satu kalimat yang terasa seperti pukulan telak: “Never interrupt your enemy when he is making a mistake.”

Dalam edisi yang sama, para akademisi dan mantan diplomat Tiongkok yang diwawancarai hampir bulat berkata: serangan Amerika Serikat (AS) ke Iran adalah kesalahan strategis terbesar Amerika dalam satu generasi, dan Tiongkok tidak berniat menghalanginya.

Namun perang Iran hanyalah bab terbaru dalam kisah yang lebih panjang. Sejak Januari 2025, kebijakan demi kebijakan Trump, tarif, pembubaran USAID, ancaman aneksasi Greenland, invasi Venezuela, bom Iran, membentuk pola yang konsisten dan konsekuensinya bisa diukur: AS melemahkan dirinya sendiri, dan Tiongkok memungut hasilnya. Ini bukan spekulasi. Ini adalah data.

Dimensi ekonomi: Surplus rekor di tengah perang tarif

Teori Trump sederhana: tarif tinggi akan menekan ekspor Tiongkok, memukul ekonominya, dan memaksa Beijing ke meja negosiasi dalam posisi lemah. Yang terjadi adalah kebalikannya secara telak. Tiongkok menutup 2025 dengan surplus perdagangan $1,2 triliun, rekor sepanjang sejarah, tepat di tengah-tengah perang tarif yang oleh pemimpin redaksi The Economist, Zanny Minton Beddoes, disebut “guncangan kebijakan perdagangan terbesar dalam sejarah.” Ekspor Tiongkok melompat 21,8 persen secara tahunan dalam dua bulan pertama 2026, jauh melampaui ekspektasi.

Bagaimana Tiongkok melakukannya? Ketika pasar AS mengecil akibat tarif 145 persen, Beijing tidak panik. Mereka memutar haluan. Ekspor ke Asia Tenggara, Eropa, Timur Tengah, dan Amerika Latin melonjak. Data Brookings Institution menunjukkan bahwa diversifikasi ini memungkinkan pabrik-pabrik Tiongkok beroperasi pada tingkat utilisasi tinggi, menghasilkan kesenjangan kinerja manufaktur yang melebar antara AS dan Tiongkok. Sementara itu, para konsumen AS membayar tarif sebagai pajak impor yang terbukti menaikkan harga dan menekan daya beli.

Perusahaan-perusahaan Tiongkok bahkan merespons tarif AS dengan ekspansi agresif ke luar negeri. Mereka membangun pabrik di Vietnam, Meksiko, dan Eropa. Yao Yang, Dekan Sekolah Pembangunan Nasional Universitas Peking, menyebutnya “kesalahan bersejarah” Trump. Tarif AS justru mendorong perusahaan-perusahaan Tiongkok mempercepat ekspansi global dan merebut pangsa pasar yang lebih luas.

Dimensi teknologi: Tiongkok tak terhentikan oleh sanksi chip

Salah satu tujuan utama Trump adalah memotong akses Tiongkok ke teknologi semikonduktor canggih. Kontrol ekspor chip Nvidia, larangan investasi di AI Tiongkok, tekanan pada TSMC untuk mengurangi produksi di Tiongkok, semua ini dirancang untuk memperlambat kebangkitan teknologi Beijing. Hasilnya justru sebaliknya. Tiongkok dipaksa mandiri lebih cepat dari yang direncanakan, dan ketika mandiri, ia tampil mengejutkan.

Januari 2025, DeepSeek merilis model AI berbiaya rendah yang menggemparkan Silicon Valley. Para insinyur Barat terpana, bahwa model yang dikembangkan dengan chip terbatas dan investasi jauh lebih kecil mampu menyaingi model frontier Amerika. Ini bukan sekadar kemenangan teknis. Ini adalah bukti bahwa sanksi chip, alih-alih menghambat Tiongkok, justru mendorong inovasi rekayasa untuk mengakali keterbatasan.

Pada bidang kendaraan listrik, dominasi Tiongkok bahkan lebih telak. BYD kini mengalahkan Tesla sebagai produsen kendaraan listrik baterai terlaris di dunia—416 ribu unit pada Q1 2025 versus 337 ribu unit Tesla, penurunan 13 persen yang sebagian dipicu boikot konsumen atas posisi politik Elon Musk.

CATL dan BYD bersama menguasai 55 persen pasar baterai EV global. Enam produsen baterai Tiongkok terkemuka mengendalikan 68,9 persen seluruh instalasi baterai EV dunia pada Januari–Oktober 2025.

Di sektor kendaraan listrik, kecepatan inovasi Tiongkok sungguh mencolok. Dalam setahun hingga Oktober 2025, BYD saja mendapat persetujuan untuk 38 model mobil baru di Tiongkok, sementara Tesla hanya tiga. Riset AlixPartners menunjukkan bahwa perusahaan EV Tiongkok rata-rata hanya butuh 20 bulan untuk mengembangkan model baru, dibandingkan 40 bulan untuk produsen non-Tiongkok. Tiongkok juga menguasai 70 persen produksi EV global, menurut IEA.

Namun senjata teknologi Tiongkok yang paling menakutkan bukan chip atau mobil listrik. Ini adalah rare earth atau tanah jarang. Menurut IEA dan CSIS, Tiongkok menguasai sekitar 70 persen penambangan global dan hampir 90 persen kapasitas pemrosesan dan pemurnian rare earth global. Untuk beberapa elemen berat seperti disprosium dan terbium, yang krusial untuk magnet performa tinggi di jet tempur F-35, kapal selam kelas Virginia, dan motor EV, Tiongkok memiliki monopoli yang mendekati absolut.

Ketika Trump mengumumkan tarif “Liberation Day” April 2025, Beijing membalas dengan membatasi ekspor tujuh elemen rare earth berat. Hasilnya langsung terasa. Pengiriman magnet rare earth Tiongkok anjlok 74 persen pada Mei 2025 dari tahun sebelumnya. Produsen otomotif AS dan Eropa kelimpungan, beberapa memotong kapasitas produksi. Harga rare earth di Eropa bahkan menyentuh enam kali lipat harga di Tiongkok. Al Jazeera mengutip para analis: memutus dominasi Tiongkok atas rare earth akan memakan waktu minimal satu dekade, bahkan dengan investasi miliaran dolar dan komitmen politik penuh.

”Tiongkok telah berinvestasi di seluruh rantai pasokan rare earth sejak 1980-an—penambangan, pemisahan kimia, manufaktur magnet, daur ulang, teknologi paduan. Integrasi vertikal itu menurunkan biaya jauh di depan pesaing. Dan sekarang, Tiongkok dapat membuka atau menutup keran pasokan berdasarkan pertimbangan politik.”— Pusat Studi Keamanan Eropa-Atlantik (CEPA), Januari 2026

Dimensi geopolitik: Vakum yang diisi Beijing

Sementara keunggulan ekonomi dan teknologi Tiongkok tumbuh dari kapasitas internalnya sendiri, keunggulan geopolitiknya sebagian besar adalah hadiah langsung dari kebijakan Trump. Dan hadiah terbesar itu diberikan dalam dua bentuk. Pertama, penarikan diri AS dari peran global; kedua, perilaku AS yang menggerogoti kepercayaan sekutunya sendiri.

Pembubaran USAID. Trump memotong 83 persen program USAID, mengakhiri tujuh dekade kepemimpinan pembangunan global AS. Lowy Institute menyebutnya “penyerahan soft power kepada Tiongkok.” Di Kamboja, ketika AS membatalkan dua program literasi dan gizi anak, Beijing mengumumkan pendanaan untuk program yang hampir identik seminggu kemudian. Di Nepal, Rwanda, Mongolia, pola serupa berulang. Di setiap negara tempat USAID dipangkas, Tiongkok masuk dengan proyek infrastruktur, kesehatan, atau pendidikan yang diumumkan dengan simbol dan bendera. “Ini hadiah diplomatik bagi Tiongkok,” kata Charles Kenny dari Center for Global Development.

Angkanya penting untuk dipahami. Anggaran USAID di Asia Tenggara saja mencapai $860 juta setahun, lebih dari seluruh China’s Foreign Assistance Grants selama enam tahun (2013–2018). Dengan ketiadaan AS, Tiongkok mendapat bobot lebih besar di ruang yang mengecil, sementara negara-negara penerima bantuan mulai melihat Beijing sebagai mitra yang lebih dapat diandalkan.

Aneksasi Greenland, invasi Venezuela, bom Iran. Tiga aksi Trump ini, yang dipandang dari perspektif berbeda, memberi Tiongkok amunisi naratif yang tak ternilai. Beijing, yang selama bertahun-tahun dituduh melanggar kedaulatan negara lain, kini bisa berdiri di podium multilateral dan berkata: lihat, siapa sesungguhnya yang melanggar hukum internasional? Tiongkok mempromosikan dirinya sebagai “anggota setia Global South” yang menghormati kedaulatan, sementara AS melancarkan invasinya sendiri.

Dalam Forum Modernisasi Global South di Beijing November 2025 yang dihadiri ratusan pejabat dari seluruh dunia, Tiongkok memposisikan diri sebagai pemimpin alternatif tatanan dunia yang stabil. KTT perdana ASEAN-China-GCC, yang menghimpun lebih dari 2,1 miliar penduduk dan output ekonomi mendekati $25 triliun, menjadi puncak dari strategi ini. Wang Yong, Direktur Pusat Studi Amerika di Universitas Peking, menyebutnya “titik balik dalam keseimbangan kekuatan” dan “jendela peluang baru bagi Tiongkok.”

Perang Iran dan dolar yang tergerus. Serangan AS-Israel terhadap Iran sejak akhir Februari 2026 menambahkan dimensi kritis lain. Tiongkok memiliki cadangan minyak strategis 1,3–1,4 miliar barel, akses ke minyak Rusia yang murah, dan portofolio energi terbarukan yang masif. Ketika Selat Hormuz terganggu dan harga energi global melonjak, Tiongkok berada dalam posisi relatif lebih kuat dari mayoritas mitra dagangnya di Asia. Asia Times mencatat bahwa kepemilikan asing atas obligasi Treasury AS kini berada di level terendah sejak 2012, sebuah sinyal bahwa kepercayaan pada aset dolar sedang tererosi, membuka jalan bagi internasionalisasi yuan.

Strategi diam Tiongkok

Penting untuk tidak meromantisasi posisi Tiongkok. Ekonomi domestiknya masih rapuh: krisis properti memasuki tahun keempat, deflasi mengancam, dan 70 persen kekayaan rumah tangga terikat di sektor properti yang stagnan. Perang Iran justru menghilangkan akses ke 1–1,4 juta barel minyak Iran per hari yang selama ini dinikmati Tiongkok. Dan bahkan angka PDB resmi 5 persen dipertanyakan. Rhodium Group memperkirakan pertumbuhan aktual hanya 2,5–3 persen.

Namun yang membuat Tiongkok berbeda dari AS dalam konteks ini bukan kekuatan absolutnya, melainkan kesiapannya. Konsep “perubahan yang belum pernah terjadi dalam satu abad” (百年未有之大变局) mulai digunakan Xi Jinping sejak 2017, setelah menyaksikan Brexit dan kemenangan pertama Trump.

Selama delapan tahun itu, Beijing menyusun strategi “Dual Circulation”, yaitu membangun ketahanan domestik sambil tetap memanfaatkan pasar global. Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030), yang disetujui Maret 2026, mengonsolidasikan arah ini: kemandirian teknologi sebagai pilar keamanan nasional, bukan sekadar tujuan ekonomi.

Seorang juru bicara pemerintah Tiongkok bahkan menyatakannya secara terus terang kepada media pada awal 2025: “Tiongkok telah mempersiapkan konfrontasi ini selama 10 tahun.” Ini bukan omong kosong. Ini adalah penjelasan mengapa, ketika tarif 145 persen datang, Tiongkok sudah memiliki pasar alternatif. Ketika rare earth dijadikan senjata, Tiongkok sudah memiliki rantai pasokan yang terkonsolidasi. Ketika Iran digempur dan energi global terguncang, Tiongkok sudah memiliki cadangan yang memadai dan energi terbarukan yang berkembang pesat.

Ada pepatah dalam strategi Tiongkok kuno: 坐山观虎斗 — duduk di atas gunung, menonton dua harimau bertarung. Xi tidak perlu menang melawan Trump secara langsung. Ia hanya perlu memastikan bahwa ketika Trump selesai bertempur, AS lebih lemah dari sebelumnya, dan itulah yang sedang terjadi.

Secara ekonomi: surplus dagang Tiongkok memecahkan rekor, sementara AS kehilangan pekerjaan manufaktur. Secara teknologi: DeepSeek mengejutkan dunia, BYD mengalahkan Tesla, dan Tiongkok menguasai 90 persen pemrosesan mineral strategis yang dibutuhkan seluruh dunia. Secara geopolitik: vakum yang ditinggalkan USAID diisi Beijing satu per satu, sementara ancaman aneksasi Greenland dan invasi Venezuela menggerus kepercayaan sekutu NATO terhadap Washington.

Yang benar-benar bodoh bukan kebijakan individual Trump yang masing-masing mungkin memiliki rasionalnya sendiri. Yang bodoh adalah pola kumulatifnya: tindakan tanpa strategi keluar, kekerasan tanpa koalisi, isolasionisme yang dipadukan dengan imperialisme, tarif yang dikenakan pada sekutu sekaligus lawan. Pola ini tidak hanya gagal mencapai tujuannya. Ia secara sistematis mengikis posisi kompetitif AS terhadap Tiongkok.

Napoleon boleh jadi tidak pernah benar-benar mengucapkan kalimat di cover The Economist itu. Tapi maknanya tepat. Dan di Beijing, tidak perlu ada pesta kemenangan; cukup kesabaran, persiapan, dan kemampuan untuk menonton sambil menunggu waktunya.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Mengenang 32 Tahun Kepergian Kurt Cobain

Mengenang 32 Tahun Kepergian Kurt Cobain

Tiga puluh dua tahun silam, dunia tersentak oleh kabar yang nyaris tak sanggup

Next
Fajar Masyarakat Pasca-Melek Huruf Dan Berakhirnya Peradaban

Fajar Masyarakat Pasca-Melek Huruf Dan Berakhirnya Peradaban

Yang ditakuti Orwell adalah orang-orang yang akan membakar buku

You May Also Like
Total
0
Share