Pada 14 Mei 2026, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, tiba di Beijing, Tiongkok. Kehadirannya disambut ratusan anak-anak dengan pakaian berwarna-warni sambil melambaikan bunga.
Anak-anak itu menunjukkan ekspresi penuh keceriaan, seakan mewakili rasa percaya diri Tiongkok yang sedang menikmati kemajuan ekonomi dan pengaruh geopolitik yang makin menguat. Sementara Trump, yang sejak tahun lalu mengobarkan perang dagang dengan Tiongkok, datang terseok-seok: perang dengan Iran yang menguras sumber daya, popularitas yang merosot, inflasi yang merangkak naik, serta dukungan sekutu yang makin memudar.
Betapa kontrasnya pertemuan hari itu dibanding 54 tahun lalu. Pada 21-28 Februari 1972, Presiden AS Richard Nixon menginjakkan kaki di tanah yang sama.

Nixon dan era Pax Americana
Ketika Nixon mengunjungi Beijing, AS sedang berjaya. Meski sempat kalah di perang Vietnam, namun AS sedang beranjak menjadi imperium tunggal saat itu.
Angkatan Laut Amerika menguasai seluruh samudera. Produk-produk Amerika, dari Coca-Cola hingga film Hollywood, mendefinisikan apa arti “modern”. American Dream masih memikat banyak bangsa lain di dunia. PDB AS mewakili sekitar 31,4 persen dari total PDB Dunia. The Big Three, GM, Ford, Chrysler, menguasai lebih separuh pangsa pasar otomotif dunia.
Tiongkok saat itu merupakan negara yang baru saja melewati Revolusi Kebudayaan (1966–1976) yang konon menewaskan ratusan ribu hingga jutaan orang. Pendapatan per kapita Tiongkok di tahun 1972 diperkirakan hanya sekitar USD 150 per tahun. Sekitar 85 persen penduduknya hidup dalam kemiskinan ekstrem. Tiongkok adalah negara besar, tetapi masih terperangkap dalam kemiskinan dan ketertinggalan teknologi. Saat itu, berkait permainan kartu Henry Kissinger, Nixon mengunjungi Tiongkok yang baru saja pecah kongsi dengan Uni Soviet.
Bangkitnya era petrodollar
Dua tahun setelah kunjungan Nixon ke Beijing, berkat Kissinger juga, AS berhasil meyakinkan Arab Saudi untuk menetapkan dan menjual minyak dengan dollar AS. Tidak hanya itu, Arab Saudi juga bersedia menginvestasikan kembali (surplus) miliaran dolar hasil penjualan minyaknya ke dalam obligasi pemerintah AS (US Treasuries).
Kebijakan ini memicu permintaan dollar yang bersifat struktural dan permanen dari seluruh dunia. Seluruh dunia belanja minyak menggunakan dollar. Artinya, dollar yang keluar dari AS untuk membayar minyak, kembali lagi ke AS dalam bentuk pinjaman murah.
Inilah basis utama imperium Pax Americana. AS bisa terus berutang dalam jumlah raksasa tanpa krisis. Hasilnya, AS bisa belanja militer berskala besar, subsidi, dan infrastruktur jauh melampaui kemampuan fiskalnya sendiri, tanpa inflasi yang menghancurkan.
Sejarah mencatatnya sebagai era dimulainya petrodollar. Dan AS sangat diuntungkan dengan petrodollar itu hingga saat ini. Menteri Keuangan Prancis era 1960-an, Valéry Giscard d’Estaing, menyebutnya sebagai “exorbitant privilege”, keistimewaan luar biasa yang tak dimiliki negara mana pun di dunia.
Tiongkok 1972–2026: Lompatan jauh ke depan
Kampanye ”lompatan jauh ke depan” dilakukan pada 1958 hingga 1962. Namun, lompatan jauh ke depan justru baru dimulai pasca 1975, setelah Perdana Menteri Zhou Enlai mengumumkan empat langkah modernisasi Tiongkok, yang semakin digencarkan di era Deng Xiaoping.
Usai deklarasi empat modernisasi itu, ekonomi Tiongkok mulai berlari kencang. Ekonomi tumbuh 9 persen, dan terus berlanjut hingga dekade-dekade berikutnya.
Bank Dunia menyebut ini sebagai “ekspansi tercepat yang pernah dialami ekonomi besar manapun dalam sejarah.” Antara 1978 dan 2020, lebih dari 800 juta orang Tiongkok berhasil keluar dari kemiskinan ekstrem, sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah peradaban manusia. Persentase penduduk yang hidup dalam kemiskinan ekstrem anjlok dari 88 persen pada 1981 menjadi hampir nol persen pada 2020.
Pada 2026, Tiongkok adalah ekonomi terbesar dunia dalam ukuran purchasing power parity (PPP), menyumbang sekitar 19 persen output ekonomi global. Ia adalah produsen manufaktur terbesar, eksportir terbesar, pemegang cadangan devisa terbesar, dan pemimpin dalam teknologi kendaraan listrik, kecerdasan buatan, hingga infrastruktur telekomunikasi 5G.
Meredupnya Pax Americana
Lima dekade setelah kunjungan Nixon, AS seperti koboi tua yang semakin terseok-seok. Pax Americana mulai meredup.
Secara ekonomi, ekonomi AS semakin surut. Dollar AS memang masih menguasai 58 persen cadangan devisa dunia, tetapi perannya semakin menurun. Seruan dedolarisasi terus menguat. BRICS, yang beranggotakan 11 negara dan menguasai lebih 40 persen PDB dunia, mulai mewacanakan meninggalkan dollar AS. Beberapa negara juga mulai beralih pada transaksi mata uang lokal (LCT).
Dalam perdagangan, pada 1945, PDB AS mewakili 40 persen PDB dunia. Pada 1970-an, angkanya mulai menurun menjadi 31 persen, dan sekarang tinggal 26 persen. Pangsa pasar perdagangan dunia dari AS juga merosot, dari 20-25 persen pada 1945 menjadi 11-12 persen pada 2025.

Dulu, AS jadi kiblat inovasi dan kemajuan. Hampir semua perangkat teknologi, dari lampu pijar, telepon, komputer, internet, perangkat portabel, hingga telepon seluler, diciptakan di sana, ditambah Jepang dan Eropa. Hollywood juga menghegemoni dunia.
Sekarang, World Intellectual Property Organization (WIPO), organisasi yang menyusun Indeks Inovasi Global, menempatkan Shenzhen–Hong Kong–Guangzhou sebagai klaster inovasi terbaik di dunia. Dalam Indeks Inovasi Global, Tiongkok sekarang berada di peringkat ke-10, di atas Jepang, Jerman, Prancis, dan Israel.
Merujuk pada Competitive Industrial Performance Index dari PBB, nilai tambah manufaktur Tiongkok mencapai 31 persen dari output manufaktur global pada 2023, yang berarti dua kali lipat dari Uni Eropa (16 persen) dan Amerika (15 persen).
Hari ini, Tiongkok merajai investasi untuk pengembangan AI, yang nilainya 38 persen dari total investasi AI global (2025). Sementara AS tersalip dengan investasi hanya 33 persen dari investasi global. Pada 2023, dari 4,2 juta robot yang beroperasi di berbagai industri di dunia, 41 persen di antaranya beroperasi di Tiongkok. Jepang, yang berada di urutan kedua, hanya punya 10 persen.
Secara militer, AS bisa saja bergaya ala koboi. Namun, mereka tak lagi ditakuti. Setelah dua dekade memerangi Taliban di Afghanistan, mereka justru terusir keluar pada 2021 dengan kerugian sekitar USD 2,3 triliun. Di Iran, mereka kembali dipermalukan.
Secara geopolitik, AS bukan lagi pemimpin aliansi besar. Gara-gara Trump, hampir semua sekutu tradisional AS menyingkir jauh, dari Kanada hingga Eropa. Sebelum kunjungan Trump ke Beijing, sekutunya justru mendahului silih berganti: Mark Carney (Perdana Menteri Kanada), Keir Starmer (Inggris), dan Pedro Sánchez (Spanyol).
Dulu, AS merangkul dunia dengan gagasan tatanan dunia berbasis aturan (rules-based order), demokrasi liberal, perdagangan bebas, hak asasi manusia (HAM), hingga pendekatan soft-power. Namun, hari ini, semua itu diruntuhkan oleh Trump. Ia membubarkan lembaga yang selama ini menjadi corong mereka dalam mempromosikan demokrasi dan nilai-nilai Amerika, seperti USAID, NED, dan Voice of America. Trump menggiring AS keluar dari 66 organisasi internasional, yang sebagian besar mereka sendiri yang mendirikan.
Beda kelas
Pertemuan Trump dan Xi Jinping di Balai Agung Rakyat menunjukkan perbedaan kelas kedua pemimpin sekaligus kedua negara.
Sementara Trump melontarkan pujian-pujian yang hambar. ”Anda adalah pemimpin yang hebat. Terkadang orang tidak suka saya mengatakannya, tetapi saya tetap mengatakannya karena itu benar,” kata Trump.
Xi Jinping menguliahi Trump soal ”Jebakan Thucydides”. Konsep yang dipopulerkan Graham Allison ini merujuk pada pola historis ketika kekuatan yang sedang naik daun mengancam untuk menggantikan kekuatan yang sudah mapan, hasilnya sering kali adalah perang. Dari 16 kasus historis kekuasaan hegemonik berhadapan dengan kekuatan penantang, 12 di antaranya berakhir dengan perang.
”Kerja sama menguntungkan kedua belah pihak, sementara konfrontasi merugikan keduanya. Kedua negara harus menjadi mitra daripada pesaing demi mencapai kesuksesan bersama, mengejar kemakmuran bersama, dan merancang jalan yang benar untuk hubungan negara-negara besar di era baru,” kata Xi.
Hari ini, dunia telah mulai berganti rupa. Dunia tak lagi unipolar, tak juga bipolar, tapi mulai mengarah ke multipolar. Negara-negara Selatan dan middle power, yang meliputi 130 negara atau 60 persen populasi dunia, mulai punya daya tawar di panggung global.
Pax Americana tidak runtuh dalam semalam. Namun, Donald Trump, Presiden AS yang kurang berpikir strategis, ceroboh, rasis, dan anti-sains itu, mendorong kejatuhan Pax Americana lebih cepat.










