Tamasya Penembak Jitu, Kisah Kekejian Orang Kaya di Sarajevo

Setelah berakhirnya Perang Dunia II, kemanusiaan bangkit dari tidur panjangnya, mengusap-usap mata, lalu pelan-pelan membuka tirai jendela, menatap langit cerah. Dalam benaknya, hari-hari yang gelap, penuh peperangan dan kejahatan kemanusiaan, sudah berlalu.

Ternyata ia salah. Di Sarajevo, kota indah paling multikultural di Eropa, berubah menjadi panggung kejahatan kemanusiaan pada 1990-an. Bukan saja karena kota itu dikepung oleh tentara Serbia yang dipimpin Radovan Karadžić, tetapi juga karena adanya bisnis paling menjijikkan dalam sejarah umat manusia: tamasya penembak jitu (sniper tourism).

Sedikit konteks

Setelah ditinggal oleh Joseph Broz Tito, Yugoslavia terperangkap dalam perpecahan berbalut nasionalisme etnik. Pada awal Maret 1992, Republik Bosnia dan Herzegovina resmi memisahkan dari dari Republik Federasi Yugoslavia. Proklamasi itulah yang memicu konflik berbau etnik yang melibatkan Serbia.

Sejak 6 April 1992, Tentara Republik Srpska (VRS) dan Tentara Rakyat Yugoslavia (JLA) mulai mengepung Kosovo. Dengan menguasai wilayah perbukitan dan penggunungan, pasukan VRS/JLA mulai menghujani Kota Kosovo dengan artileri dan mortir.

Akibat pengepungan itu, rakyat Sarajevo berjumlah hampir 500 ribu orang pada masa itu kesulitan mengakses air minum, obat-obatan, dan makanan.

Pengepungan Kota Sarajevo berlangsung selama 1.425 hari (hampir empat tahun), menjadikan pengepungan terlama dalam sejarah umat manusia. Pengepungan Leningrad, yang berlangsung pada Perang Dunia II, berlangsung selama 872 hari.

Warga Sarajevo berlari menghindari penembak jitu yang mengincar mereka saat pengepungan Sarajevo, 1992-1996. Kredit: Balkan Insight

Tamasya penembak jitu

Beberapa hari lalu, jaksa penuntut di Milan yang dipimpin oleh Alessandro Gobbi sudah memulai penyelidikan dugaan keterlibatan orang-orang kaya di Italia, termasuk orang kaya di beberapa negara Eropa, dalam apa yang disebut ”tamasya penembak jitu” atau ”sniper tourism” di Sarajevo saat pengepungan 1992-1996.

Investigasi itu bermula dari laporan investigasi jurnalis bernama Ezio Gavazzeni. Ia sudah lama melakukan investigasi dan mengumpulkan banyak bukti terkait dugaan itu.

Menurut Gavazzeni, orang-orang kaya dari Eropa, seperti Italia, Prancis, Inggris, Jerman, dan Rusia, juga dari AS dan Kanada, datang ke Sarajevo untuk berburu manusia. Mereka membayar sekitar €100,000 kepada milisi Serbia (VRS) untuk masuk ke wilayah perbukitan dan menembaki warga sipil Sarajevo.

”Tidak ada motivasi politik maupun agama. Mereka orang-orang kaya yang datang ke sana untuk bersenang-senang dan demi kepuasan pribadi. Mereka orang-orang yang menyukai senjata dan mungkin sering pergi berburu di Afrika,” jelas Gavazzeni.

Korban bergelimpangan di Sarajevo, Agustus 1995. Kredit: Reuters

Jadi, orang-orang kaya ini datang berburu manusia di Sarajevo layaknya berburu binatang liar di pedalaman Afrika. Dari atas perbukitan, mereka membidik warga sipil secara random.

”Ada label harga untuk perburuan ini: anak-anak dihargai lebih mahal, kemudian pria dewasa, terutama yang berseragam dan bersenjata, lalu perempuan, dan terakhir lansia yang dianggap gratis,” kata Gavazzeni.

Untuk diketahui, selama pengepungan Sarajevo, sekitar 11.500 nyawa melayang, termasuk 1.600 anak-anak. Memang tidak ada data resmi terkait jumlah mereka yang menjadi korban dari ”tamasya penembak jitu” ini.

Gavazzeni bilang, ia pertama kali mengetahui soal ”tamasya penembak jitu” lewat laporan media Italia pada 1990-an. Namun, ia semakin yakin sejak menyaksikan film dokumenter berjudul ”Sarajevo Safari” yang tayang pada 2022. Film karya Miran Zupanic sempat menggegerkan masyarakat di Eropa.

Pada 2007, mantan Marinir AS, John Jordan, memberi kesaksian di Pengadilan Kriminal Internasional untuk bekas Yugoslavia (ICTY) perihal adanya “turis penembak jitu” (tourist shooters) yang datang ke Sarajevo “untuk menembak warga sipil demi kepuasan pribadi mereka sendiri.”

Kelompok perlawanan Sarajevo mencoba melakukan perlawanan terhadap tentara Serbia pada 9 Juni 1992. Kredit: AFP

Sebuah film pada 1992, yang memperlihatkan kunjungan nasionalis Rusia, Eduard Limonov, sedang menunjukkan penembak jitu melepaskan tembakan ke arah Kota Sarajevo.

Kemudian, dalam film Romeo and Juliet in Sajarevo (1994) juga menceritakan nasib malang sepasang kekasih, Admira Ismić dan Boško Brkić, yang meninggal karena ditembak oleh penembak jitu saat menyeberangi jembatan Vrbanja.

Dalam laporan Deutsche Welle pada 2022, yang mengutip pernyataan Zilha Mastalic Kosuta, peneliti Institute for Researching Crimes Against Humanity and International Law di Sarajevo University, setidaknya terdapat 300 sniper saat pengepungan Sarajevo. Para sniper biadab itu membunuh sedikitnya 225 orang, termasuk 60 anak-anak.

Kabarnya, Mantan Walikota Sarajevo, Benjamina Karic, sudah memasukkan laporan terkait ”sniper tourism” ini ke jaksa penuntut di Milan.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Dari Glorifikasi ke Dekonstruksi: Taiwan Menata Ulang Narasi Chiang Kai-shek

Dari Glorifikasi ke Dekonstruksi: Taiwan Menata Ulang Narasi Chiang Kai-shek

Di taman-taman kota, di halaman sekolah, bahkan di bandara, patung Chiang

Next
Cara Kerala Keluar dari Kemiskinan Ekstrem

Cara Kerala Keluar dari Kemiskinan Ekstrem

India, negeri berpenduduk sekitar 1,45 miliar penduduk dunia dan terluas ke-7

You May Also Like
Total
0
Share