Bernyanyi tentang Bumi, Membuktikannya dalam Kehidupan

Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia yang terjadi di berbagai wilayah, mulai dari Sumatera, Kalimantan, meluas ke Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua, benar-benar membuat kita prihatin. Bencana yang berlangsung secara masif sejak 18 Agustus 2026 hingga awal November 2026 ini menyisakan penderitaan bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak.

Aku membayangkan betapa berat kehidupan mereka yang harus berhadapan dengan kabut asap setiap hari. Dari foto-foto dan video yang beredar di media sosial maupun media arus utama, kita bisa melihat bagaimana kabut asap mengubah warna langit menjadi kuning atau oranye pekat. Pemandangan yang mungkin terlihat seperti fenomena alam biasa bagi sebagian orang, padahal sesungguhnya menyimpan ancaman serius bagi kesehatan manusia.

Kabut asap karhutla mengandung partikel halus hasil pembakaran yang beterbangan di udara, terhirup saat kita bernapas, lalu masuk ke paru-paru. Dan dampaknya, berdasarkan laporan lembaga riset dan kesehatan periode Agustus–September 2026, polusi udara akibat karhutla memicu krisis kesehatan massal dan menyebabkan lonjakan kematian. Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), misalnya, memperkirakan asap karhutla menyumbang sekitar 3.560 kematian pada September saja dan berdampak pada jutaan warga di berbagai wilayah terdampak.

Di tengah situasi seperti ini, rasanya kita tidak bisa hanya diam. Setiap orang bisa mengambil peran, termasuk kami yang berkecimpung di dunia musik.

Mencipta sebagai bentuk keprihatinan

Berangkat dari keprihatinan tersebut, aku bersama beberapa teman musisi menggagas sebuah wadah atau perkumpulan untuk membangun ruang kreatif bersama. Harapannya, kumpulan ini nantinya tidak berhenti sebagai ruang berkarya, tetapi bisa berkembang menjadi sebuah gerakan.

Aku membayangkan sesuatu seperti semangat “No Music on a Dead Planet” yang pernah digaungkan para musisi di Indonesia melalui gerakan Music Declares Emergency pada 22 April 2023 lalu.

Suasana konser musik “No Music on a Dead Planet”. Kredit: Sonic Panic/Raka

Menurutku, tidak ada salahnya meniru inisiatif yang sudah lebih dahulu dilakukan. Justru kita bisa belajar dari gerakan serupa untuk membangun komitmen dan keberpihakan sebagai pekerja seni, khususnya di bidang musik, terhadap persoalan lingkungan. Syukur-syukur, komitmen itu nantinya tidak hanya berhenti pada pernyataan sikap, tetapi juga diwujudkan melalui kerja-kerja konkret untuk pelestarian alam.

Sebagai langkah awal, kumpulan kami tengah menyiapkan sebuah album kompilasi musik bertajuk “Hijaukan Bumi”. Kami akan mengajak banyak musisi lintas genre, baik band maupun solois, untuk berkontribusi dengan satu lagu bertema lingkungan.

Album ini nantinya akan menghadirkan beragam ekspresi musikal. Ada lirik penuh emosi dalam lagu-lagu balada, ledakan amarah punk, tegangan tinggi musik grunge, hingga letupan energi dalam musik rock. Riff-riff gitar di album ini diharapkan tidak berhenti sekadar menjadi hiburan, tetapi terus menyuarakan keprihatinan atas bencana karhutla sekaligus mengampanyekan pentingnya pelestarian bumi.

Mungkin band-band yang akan terlibat sudah terbiasa mengangkat isu perlawanan dan kritik sosial melalui karya mereka. Namun, mulai mengangkat persoalan keberlanjutan lingkungan membutuhkan pintu masuk. Dalam hal ini, bencana karhutla bisa menjadi pemantik atau trigger untuk mulai membangun kesadaran bersama tentang krisis iklim dan kerusakan lingkungan.

Idealnya, sebelum proses penciptaan lagu dimulai, perlu ada semacam lokakarya atau workshop. Para musisi yang tergabung dalam proyek album ini dikumpulkan selama beberapa hari dan mendapat paparan pengetahuan dari lembaga-lembaga yang memiliki perhatian serta kompetensi dalam isu lingkungan. Dengan begitu, karya yang lahir nantinya tidak hanya berangkat dari kegelisahan personal, tetapi juga memiliki pemahaman yang lebih utuh mengenai persoalan yang ingin disuarakan. Setelah itu, barulah kita berkarya!

Aku sendiri sudah menyiapkan satu lagu untuk berpartisipasi dalam proyek ini. Judulnya “Hisap Asap”. Lagu ini bercerita tentang langit berwarna kuning tembaga, napas yang terengah di ruang sesak, serta anak-anak yang tercekik karena menghirup racun kabut asap. Di dalamnya juga terselip kritik terhadap negara yang seolah tidak peduli dengan penderitaan masyarakat akibat bencana tersebut.

Membangun sikap keberlanjutan lingkungan

Nah, bagian ini mungkin justru yang paling sulit sekaligus berat tanggung jawabnya. Membangun sikap keberlanjutan lingkungan membutuhkan komitmen dan kesediaan untuk mengubah kebiasaan.

Sebab, attitude atau perilaku kita sebagai musisi yang mengusung semangat keberlanjutan lingkungan harus sejalan dengan isu yang disuarakan melalui karya. Jangan sampai kita lantang bernyanyi tentang kerusakan bumi, mengkritik eksploitasi alam, atau mengajak orang menjaga lingkungan, tetapi dalam keseharian justru melakukan hal-hal yang bertentangan dengan pesan tersebut.

Menurutku, semangat pelestarian lingkungan harus mulai dihadirkan dalam setiap kegiatan musik, baik untuk diri sendiri maupun semua orang yang terlibat dan hadir dalam sebuah acara.

Spanduk atau banner tidak lagi cetak digital printing. Di lokasi acara panitia perlu menyediakan galon air minum untuk isi ulang tumbler. Konsumsi sebisa mungkin prasmanan, hindari kemasan plastik. Perlu tanggung jawab terhadap sampah selama acara, tertib membuangnya ke tempat yang telah dipilah (organik-anorganik).

Selain itu, gaya hidup slow fashion juga perlu diterapkan, kalau jadi EO jangan lagi cetak kaos sebagai seragam panitia, karena sering kali kaos hanya dipakai sekali saat hari-H, setelah itu cuma ditumpuk di lemari.

Sebagai penutup aku ingin menyudahi tulisan ini dengan kutipan:

“Bumi tidak membutuhkan manusia untuk tetap berputar dan beregenerasi. Tapi, manusia sangat bergantung pada bumi untuk bertahan hidup”.

Ya, kita butuh air, tanah, dan udara untuk hidup, tapi perilaku kita terhadap bumi yang kita tinggali ini justru bukan tindakan “menyelamatkan bumi”, melainkan menyelamatkan diri kita sendiri dari ancaman kepunahan dan penderitaan hidup akibat kerusakan ekologis.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Gerakan Mahasiswa Serbia Tumbangkan Rezim Berkuasa Lewat Pemilu

Gerakan Mahasiswa Serbia Tumbangkan Rezim Berkuasa Lewat Pemilu

Aleksandar Vučić, tokoh politik yang menguasai Serbia selama 14 tahun sebagai

You May Also Like
Total
0
Share