Malam 25 Oktober 2026 di Belgrade terasa seperti penanda berakhirnya sebuah era yang panjang dan menyesakkan. Klakson mobil bersahutan, kembang api menerangi langit, sementara ribuan anak muda berseru lantang: “Serbia is free!” dan “Students are winning”.
Aleksandar Vučić, tokoh politik yang menguasai Serbia selama 14 tahun sebagai perdana menteri lalu presiden, terpaksa mengakui kekalahan. Partainya, Serbian Progressive Party (SNS), kalah telak dari sebuah gerakan yang dipimpin mahasiswa, Students’ List.
Dengan sekitar 53 persen suara (sekitar 2,2 juta) berbanding 39 persen (1,72 juta) milik SNS, dan partisipasi pemilih mendekati 70 persen—tertinggi dalam beberapa dekade—kaum muda Serbia berhasil melakukan sesuatu yang dianggap mustahil: menumbangkan mesin kekuasaan yang kokoh lewat kotak suara.
Kisah ini dimulai dari tragedi. Pada November 2024, atap kanopi stasiun kereta api Novi Sad yang baru direnovasi runtuh, menewaskan 15 orang, termasuk anak-anak. Tragedi itu memicu kemarahan publik terhadap korupsi, kelalaian pemerintah, dan sistem yang dianggap melindungi kepentingan kroni.

Mahasiswa tumpah ruah ke jalan-jalan di Kota Belgrade dan kota-kota lain di Serbia. Mereka memblokade jalan, menggelar aksi damai, dan membentuk majelis-majelis mandiri (plenums). Dalam waktu kurang dari dua tahun, protes yang awalnya lokal itu berkembang menjadi gerakan nasional anti-korupsi dan anti-otoritarianisme yang leaderless—tanpa tokoh tunggal yang bisa diserang atau dikompromikan.
Bagaimana kaum muda mampu mengubah keadaan? Pertama, mereka mengubah kemarahan menjadi organisasi yang disiplin dan berkelanjutan. Berbeda dengan protes sporadis, gerakan ini membangun struktur horizontal: aksi di lebih dari 400 kota, kunjungan door-to-door hingga ke daerah pedesaan yang selama ini menjadi basis Vučić, serta strategi komunikasi yang efektif di media sosial dan jalanan. Mereka menolak kekerasan, menjaga disiplin, dan secara konsisten menuntut akuntabilitas, kebebasan media, dan pembersihan institusi dari pengaruh mafia politik. Slogan “Students are winning” (Studenti pobeđuju) menjadi mantra yang memobilisasi bukan hanya mahasiswa, tetapi juga profesor, petani, seniman, dokter, dan warga biasa.
Kedua, mereka memahami logika kekuasaan rezim. Vučić dan SNS menguasai media, lembaga negara, dan mesin pemilu. Gerakan mahasiswa menyadari bahwa pemilu bisa dimanipulasi, tetapi sulit dicuri jika kemenangan bersifat landslide dan partisipasinya sangat tinggi. Maka mereka fokus pada mobilisasi massal. Hasilnya, turnout mendekati 70 persen—jauh di atas pemilihan sebelumnya. Ribuan pemilih muda dan mereka yang selama ini apatis, datang ke bilik suara. Strategi “pemilu tidak bisa dicuri jika marginnya besar” terbukti berhasil. Vučić sendiri, hanya sekitar 90 menit setelah TPS ditutup, mengakui kekalahan berdasarkan sampel partainya sendiri, memproyeksikan Students’ List meraih 135–141 kursi dari 250 kursi parlemen.
Ketiga, mereka berhasil mengubah energi jalanan menjadi kekuatan institusional tanpa kehilangan karakter. Mereka tidak mencalonkan diri sebagai anggota parlemen, melainkan memilih 250 kandidat dari berbagai latar belakang, dari akademisi, pengacara, dokter, petani, aktor, bahkan mantan pejabat independen, yang dipercaya membawa semangat perjuangan ke dalam lembaga. Gerakan ini menjadi referendum terhadap masa depan Serbia: apakah tetap di bawah sistem yang dianggap korup dan otoriter, atau membuka jalan bagi pembaruan.
Tragedi Novi Sad menjadi titik kritis yang membuka ruang publik. Protes yang konsisten selama hampir dua tahun berhasil mengikis legitimasi rezim. Struktur gerakan yang leaderless membuat gerakan sulit dijinakkan atau dipecah-belah. Dan yang paling menentukan adalah kemampuan kaum muda untuk menjembatani generasi dan kelas sosial. Mereka tidak hanya berbicara untuk diri sendiri, tetapi menjadi suara harapan bagi rakyat yang lelah dengan polarisasi dan korupsi sistemik.
Kemenangan ini bukan tanpa tantangan. Students’ List belum berpengalaman memerintah. Mereka harus segera membentuk pemerintahan, menghadapi resistensi birokrasi lama, mengelola hubungan internasional (termasuk dengan Uni Eropa, Rusia, dan Tiongkok), serta menjaga persatuan internal.
Namun, malam kemenangan itu membuktikan satu hal yang mendasar: ketika kaum muda bergerak secara terorganisir, damai, dan strategis, mereka mampu mengubah ketakutan menjadi kekuatan, dan apatisme menjadi partisipasi.
Di jalan-jalan Belgrade, Novi Sad, dan Niš, generasi yang pernah dianggap “hanya anak sekolah yang bolos kelas” telah menuliskan sejarah. Mereka menunjukkan bahwa demokrasi tidak hanya milik mereka yang sudah mapan di dalam sistem, tetapi juga milik mereka yang berani turun ke jalan, bertahan lama, dan akhirnya membawa suara rakyat ke dalam kotak suara. Rezim Vučić tumbang bukan karena kudeta atau kekerasan, tetapi lewat kotak suara.
Pengalaman Serbia bisa menjadi rujukan gerakan mutakhir di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, bahwa kemarahan di jalanan perlu konversi menjadi kemenganan politik. Salah satunya melalui jalan elektoral.









