Selama lima dekade, sistem petrodollar telah menjadi tulang punggung dominasi ekonomi dan geopolitik Amerika Serikat (AS). Lahir dari krisis minyak 1970-an, sistem ini mengikat perdagangan minyak global dengan dolar AS, menciptakan permintaan konstan terhadap mata uang tersebut, dan memungkinkan AS mendanai defisitnya dengan biaya rendah.
Namun, kini sistem itu menghadapi krisis mendalam akibat pergeseran geopolitik, perang di Timur Tengah, dan upaya de-dolarisasi oleh negara-negara BRICS. Diskusi mendalam antara ekonom Marxis Richard Wolff dan Yanis Varoufakis (mantan Menteri Keuangan Yunani) menyoroti bagaimana krisis ini bukan sekadar fluktuasi pasar, melainkan gejala struktural dari penurunan hegemoni AS.
Asal-usul petrodollar
Pada 1944, Konferensi Bretton Woods menetapkan dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia, dengan didukung emas. Namun, defisit perdagangan AS yang membengkak dan pengeluaran perang Vietnam menyebabkan tekanan besar. Pada 1971, Presiden Richard Nixon menghentikan konvertibilitas dolar ke emas (Nixon Shock), meninggalkan sistem moneter internasional tanpa jangkar komoditas.
Krisis minyak 1973, yang dipicu Perang Yom Kippur dan embargo OPEC, menjadi titik balik. Harga minyak melonjak tiga kali lipat, menciptakan surplus besar bagi negara pengekspor minyak Teluk. Melalui diplomasi Henry Kissinger, AS mencapai kesepakatan dengan Arab Saudi dan negara Teluk lainnya: minyak dijual secara eksklusif dalam dolar AS, dengan imbalan perlindungan militer dan penjualan senjata. Petrodollar “recycling” pun lahir: surplus dolar dari penjualan minyak diinvestasikan kembali ke Treasury AS atau bank-bank Barat.
Manfaatnya bagi AS sangat besar. Pertama, permintaan global terhadap minyak menciptakan permintaan permanen terhadap dolar, memperkuat statusnya sebagai mata uang cadangan. Kedua, recycling menjaga suku bunga rendah dan mendanai defisit anggaran serta neraca perdagangan AS. Sistem ini menggantikan “dolar emas” dengan “dolar minyak”, yang memperpanjang era dominasi pasca-Perang Dunia II ketika AS menjadi kekuatan yang hegemonik.
Richard Wolff menjelaskan konteks historis ini sebagai puncak sementara kapitalisme kolonial pasca-1945. AS memanfaatkan kehancuran Eropa dan Jepang melalui Marshall Plan, sementara Inggris kehilangan imperiumnya. Petrodollar adalah upaya “penyangga” ketika tanda-tanda batas hegemoni mulai terlihat, termasuk tuntutan De Gaulle untuk emas.
Mekanisme dan kekuatan
Perdagangan minyak dunia bernilai sekitar $2-3 triliun per tahun. Dengan penetapan harga dalam dolar, negara importir seperti Jepang, India, dan Eropa harus mengakumulasi dolar untuk membeli minyak.
Negara Teluk, terutama Saudi Arabia, menginvestasikan surplus tersebut ke aset dolar, termasuk Treasury Bonds. Ini menciptakan “Oil-Dollar-Wall Street complex” yang menjaga likuiditas dolar dan menekan biaya pinjaman AS.
Menurut data historis, daur ulang petrodollar pada 1970-an membantu mendanai pinjaman ke negara berkembang, meski berkontribusi pada krisis utang Latin America 1980-an. Sistem ini juga memperkuat eurodollar market—dolar di luar AS—sebagai pusat keuangan global. Selama dekade-dekade berikutnya, meski fluktuasi harga minyak (seperti penurunan 2014-2016 atau pandemi 2020), dolar tetap dominan. Hingga baru-baru ini, sekitar 80 persen perdagangan minyak global masih dalam dolar.
Tanda-tanda krisis
Krisis saat ini dipercepat oleh konflik di kawasan Asia Barat, khususnya ketegangan dengan Iran yang mengancam Selat Hormuz, jalur transit 21 juta barel minyak per hari. Penutupan atau gangguan selat ini mendorong harga minyak melonjak, memicu inflasi global, dan merusak daur ulang petrodollar. Iran dilaporkan menerima yuan Tiongkok untuk beberapa transaksi, sementara negara lain mulai diversifikasi.
Lebih luas, BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, plus anggota baru) mendorong de-dolarisasi. Negara-negara ini meningkatkan perdagangan dalam mata uang lokal, mengembangkan sistem pembayaran alternatif seperti BRICS Bridge, dan mengakumulasi emas. Tiongkok, importir minyak terbesar, telah bereksperimen dengan petroyuan. Sanksi AS yang “dijadikan senjata” untuk menekuk Rusia dan Iran justru mempercepat dorongan ini, karena negara-negara tersebut mencari alternatif untuk menghindari risiko pembekuan aset dolar.
Varoufakis dan Wolff menekankan bahwa ini bukan sekadar perubahan teknis, melainkan erosi hegemoni AS. Wolff melihatnya sebagai akhir dari “imperium Amerika” pasca-1945. Kapitalisme global menghadapi kontradiksi internal, yakni ketergantungan pada pertumbuhan tak terbatas di tengah sumber daya terbatas dan persaingan multipolar. Perang Iran bukan penyebab utama, melainkan gejala dari upaya mempertahankan status quo yang semakin mahal.
Jika petrodollar melemah signifikan, AS bisa menghadapi bebeberapa masalah. Pertama, kenaikan biaya pinjaman. Penurunan permintaan Treasury asing mendorong suku bunga naik, membebani defisit federal (sudah triliunan dolar).
Kedua, depresiasi dolar, yang akan mengurangi daya beli impor AS, termasuk energi dan barang konsumsi, berpotensi memicu inflasi domestik.
Ketiga, gangguan energi global. Harga minyak volatile memukul negara importir, menyebabkan resesi, rationing, dan kerusuhan sosial, seperti yang terlihat di Asia.
Bagi dunia, transisi bisa berarti multipolaritas yang lebih adil, tetapi juga ketidakstabilan jangka pendek. Negara berkembang mungkin mendapat ruang bernapas dari dominasi dolar, sementara BRICS memperkuat pengaruhnya. Namun, tanpa koordinasi, pergeseran ini berisiko membuat fragmentasi keuangan global. Varoufakis sering menyoroti perlunya “internasionalisme progresif” untuk mengelola transisi ini, bukan kembali ke nasionalisme sempit. Wolff menekankan pentingnya analisis kelas, di mana krisis ini membuka peluang bagi gerakan buruh dan masyarakat sipil untuk menuntut perubahan struktural, mirip protes WTO 1990-an.
Menuju masa depan multipolar?
Petrodollar bukanlah mitos, tapi juga bukan abadi. Seperti yang dicatat analis, dolar masih dominan karena likuiditas, kedalaman pasar keuangan AS, dan tidak adanya rival sempurna. Namun, tren jangka panjang, dari meningkatnya penggunaan energi terbarukan yang mengurangi ketergantungan minyak, perdagangan bilateral non-dolar, dan kelelahan geopolitik AS, menunjukkan erosi bertahap.
Krisis petrodollar mencerminkan transformasi kapitalisme global: dari unipolar pasca-Perang Dingin ke multipolar yang penuh gesekan. Bagi AS, ini berarti penyesuaian sulit dari “kekaisaran” menjadi bersaing pengaruh dengan kekuatan lain. Bagi dunia, ini peluang sekaligus risiko, dari inflasi energi hingga pembangunan aliansi baru.
Seperti dibahas Wolff dan Varoufakis, memahami krisis ini memerlukan lensa materialis historis: bukan kesalahan individu pemimpin, melainkan problem dari sistem kapitalisme global yang selama ini AS menjadi arsitek utamanya. Transisi yang adil membutuhkan kerjasama internasional, bukan konfrontasi lebih lanjut.
Di tengah ketidakpastian, ada satu hal jelas: era dominasi dolar tanpa tantangan sedang berakhir, dan dunia sedang memasuki babak baru. Mari menyambut babak baru itu.










