Bagaimana Podcast Menyetir Isu-isu Politik?

Podcast atau siniar telah berevolusi dari hiburan audio sederhana menjadi kekuatan signifikan dalam membentuk wacana publik global dan nasional.

Dengan format yang intim, panjang, dan fleksibel, podcast memungkinkan diskusi mendalam yang sulit dicapai oleh media tradisional seperti televisi atau koran. Di era fragmentasi media, podcast tidak hanya mencerminkan isu politik dominan, tetapi juga secara aktif menyetirnya dengan membentuk persepsi publik, memengaruhi partisipasi, dan bahkan menjadi rujukan isu-isu politik.

Perkembangan pesat podcast

Pertumbuhan podcast sangat eksplosif. Menurut data eMarketer, jumlah pendengar podcast global meningkat dari sekitar 506,9 juta pada 2023 dan diproyeksikan menjadi 651,7 juta pada 2027, dengan pertumbuhan tahunan yang signifikan. Di Amerika Serikat (AS), lebih dari 54 persen orang dewasa mendengarkan podcast dalam 12 bulan terakhir, naik dari tahun-tahun sebelumnya. Genre berita dan politik mendominasi pangsa pasar, menyumbang lebih dari 27 persen pada 2024.

Di Indonesia, perkembangannya lebih dramatis. Indonesia sempat menduduki peringkat kedua negara dengan pendengar podcast terbanyak di dunia setelah Brasil, dengan penetrasi mencapai 38-42 persen populasi pengguna internet. Pendengar muda (gen Z dan milenial) mendominasi, dengan genre politik mencapai sekitar 35 persen.

Platform seperti Spotify, YouTube, dan lokal seperti Noice menjadi katalisator. Podcast politik seperti Bocor Alus, Endgame, dan Total Politik menunjukkan lonjakan popularitas, terutama saat mengangkat isu-isu aktual dan menghadirkan tokoh-tokoh kontroversial.

Faktor pendorong utamanya adalah aksesibilitas. Pendengar bisa mengonsumsi sambil beraktivitas, ditambah algoritma yang merekomendasikan konten serupa, menciptakan echo chamber atau ruang gema yang memperkuat pandangan tertentu.

Mekanisme pengaruh terhadap persepsi publik

Podcast membentuk persepsi melalui tiga elemen kunci: intimasi, keaslian, dan durasi panjang. Berbeda dengan berita 30 detik di televisi, podcast menawarkan percakapan berjam-jam yang membangun rasa kedekatan antara host dan pendengar. Penelitian menunjukkan bahwa hubungan ini meningkatkan kepercayaan dan loyalitas, membuat pesan politik terasa lebih autentik daripada propaganda langsung.

Studi Pew Research Center (2023) menemukan bahwa 54 persen penggemar podcast mendengar opini politik dari host atau tamu, dan hampir separuh merasa pandangan tersebut selaras dengan mereka. Di kalangan pendengar berat, podcast meningkatkan personal politics atau keterlibatan pribadi dalam isu politik.

Contoh global paling menonjol adalah The Joe Rogan Experience (JRE). Dengan puluhan juta pendengar, terutama pria muda, JRE menjadi platform utama kandidat seperti Donald Trump pada pemilu AS 2024. Analisis menunjukkan pendengar JRE cenderung condong ke Trump, dan paparan podcast berkorelasi dengan perilaku voting.

Studi Rasul et al. (2025) meneliti bagaimana siniar (podcast) politik non-mainstream memengaruhi keyakinan akan misinformasi dan partisipasi politik. Temuannya menyoroti bahwa keterpaparan terhadap siniar ini dapat meningkatkan disinformasi, memicu polarisasi, dan mendorong keterlibatan dalam aksi protes yang kontroversial.

Ketidakpercayaan terhadap media arus utama (mainstream) mendorong audiens untuk mencari sumber alternatif, yang sering kali justru mengekspos mereka pada narasi yang terdistorsi.

Studi ini menemukan bahwa konsumsi siniar politik memiliki hubungan positif dengan partisipasi politik yang “kritis” atau “bermuatan konflik,” termasuk memotivasi pendengar untuk turun ke jalan mengikuti protes.

Di Indonesia, podcast politik berfungsi sebagai ruang klarifikasi politisi dan edukasi bagi gen Z yang alergi terhadap media konvensional. Namun, sifat long-form juga berisiko: kurangnya fact-checking real-time memudahkan penyebaran klaim tidak terverifikasi, meski banyak pendengar (sekitar 87 persen di beberapa survei) menganggapnya akurat.

Pengaruh terhadap Isu dominan dan partisipasi

Podcast menyetir isu dominan dengan memilih topik dan framing. Isu yang diangkat berulang kali—seperti imigrasi, kebebasan berpendapat, atau korupsi—naik ke permukaan publik. Di AS, podcast berkontribusi pada “podcast election” 2024, di mana kandidat bisa mem-bypass media tradisional untuk bicara langsung ke pemilih muda.

Secara ilmiah, paparan podcast berkorelasi positif dengan partisipasi politik, baik online maupun offline. Studi menunjukkan pendengar lebih teredukasi tentang isu lokal dan nasional, serta lebih mungkin mendiskusikannya. Namun, efek sampingnya adalah polarisasi: algoritma mendorong konten ekstrem, dan host dengan gaya santai bisa menormalisasi pandangan radikal.

Di konteks Indonesia, podcast membantu demokratisasi wacana dengan menyertakan suara marginal, tapi juga rentan terhadap framing partisan. Penelitian lokal menunjukkan podcast politik memengaruhi opini publik, terutama di kalangan muda yang aktif di media sosial.

Kesimpulan dan implikasi

Podcast telah mengubah lanskap politik dari siaran satu arah menjadi dialog intim yang massif. Perkembangannya didorong teknologi dan preferensi generasi muda, sementara pengaruhnya terbukti melalui data empiris: peningkatan kepercayaan, perubahan persepsi, dan dorongan partisipasi. Namun, potensi misinformasi menuntut literasi media yang lebih baik dari pendengar dan tanggung jawab etis dari kreator.

Bagi politisi dan aktivis, podcast adalah alat strategis. Bagi masyarakat, ini peluang sekaligus tantangan untuk berpikir kritis. Di masa depan, dengan pertumbuhan AI dan video podcast, pengaruh ini kemungkinan akan semakin kuat. Memahami dinamikanya bukan hanya soal tren, tapi soal masa depan demokrasi informasi.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Senjalaka Sistem Petrodollar

Senjalaka Sistem Petrodollar

Namun, kini sistem itu menghadapi krisis mendalam akibat pergeseran geopolitik,

Next
Kisah Anak Pengungsi Bernama Luka Modrić

Kisah Anak Pengungsi Bernama Luka Modrić

Namanya Luka Modrić

You May Also Like
Total
0
Share