Guruh Sukarnoputra telah pergi. Yang tersisa bukan semata kesedihan dan nostalgia, melainkan sebuah pertanyaan yang jauh lebih besar: siapa yang akan meneruskan kerja kebudayaan yang sepanjang hidupnya ia perjuangkan?
Guruh bukan sekadar menciptakan musik, tari, dan pertunjukan, ia berusaha merumuskan wajah Indonesia melalui seni. Karena itu, kepergiannya semestinya tidak hanya dikenang sebagai kehilangan seorang maestro, tetapi juga sebagai alarm, apakah Indonesia masih memiliki generasi yang bersedia melanjutkan pekerjaan besar menerjemahkan keindonesiaan ke dalam kebudayaan?
Indonesia hari ini menghadapi persoalan kebudayaan yang tidak sederhana.
Kita memiliki kekayaan tradisi yang luar biasa, tetapi pada saat yang sama berhadapan dengan arus budaya global yang semakin deras. Generasi muda hidup dalam ekosistem budaya yang bergerak melalui telepon genggam, media sosial, musik digital, film, mode, dan berbagai bentuk hiburan yang nyaris tidak mengenal batas negara. Di tengah arus tersebut, kebudayaan Indonesia tidak cukup hanya dipamerkan sebagai warisan. Ia harus tetap hidup, berkembang, dan mampu berbicara dalam bahasa zamannya.
Maka, kepergian Guruh menjadi lebih dari sekadar peristiwa kehilangan seorang tokoh seni. Ia mengingatkan kita pada sebuah pekerjaan besar yang belum selesai, yakni bagaimana menjaga keindonesiaan tanpa menjadikannya museum, dan bagaimana menjadi modern tanpa kehilangan akar kebudayaan sendiri.
Guruh lahir dari keluarga yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah bangsa. Ayahnya, Sukarno, adalah proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia. Nama keluarga itu tentu memberi Guruh posisi yang istimewa dalam sejarah Indonesia. Namun, membicarakan Guruh hanya sebagai “putra Sukarno” justru berisiko mengecilkan perjalanan artistiknya sendiri.
Guruh membangun identitasnya melalui dunia seni. Ia memilih musik, tari, koreografi dan seni pertunjukan sebagai ruang untuk berbicara tentang Indonesia. Karena itu, Guruh lebih tepat dipahami bukan hanya sebagai musisi, melainkan sebagai seniman lintas-disiplin yang mencoba menerjemahkan identitas budaya Indonesia ke dalam bahasa modern. Di situlah arti penting Guruh.
Tidak ingin menjadi salinan
Pada dekade 1970-an, ketika musik populer Indonesia semakin banyak berinteraksi dengan pengaruh Barat, Guruh melakukan eksperimen yang pada zamannya tergolong berani. Melalui Guruh Gipsy, ia mempertemukan musik modern dengan unsur musik tradisional Nusantara, terutama gamelan Bali. Bersama para musisi seperti Chrisye, Keenan Nasution, Roni Harahap dan Abadi Soesman, lahirlah sebuah karya yang tidak mudah dimasukkan ke dalam kategori musik populer biasa.
Guruh tidak menolak modernitas. Ia justru masuk ke dalam modernitas dan mencoba membawa identitas Indonesia ke dalamnya. Di sinilah letak penting Guruh Gipsy. Eksperimen tersebut menunjukkan bahwa musik modern tidak harus berarti meninggalkan akar kebudayaan sendiri. Gitar listrik, kibor, teknologi rekaman dan berbagai idiom musik modern dapat berdampingan dengan gamelan, ritme, melodi dan rasa Nusantara.
Guruh tidak mengajukan pilihan antara tradisi dan modernitas. Ia mencoba mempertemukan keduanya.
Gagasan itu berkembang dalam karya-karya seperti Indonesia Maharddhika dan Smaradhana. Musik bukan lagi sekadar hiburan, tetapi menjadi medium untuk mengatakan bahwa identitas kebangsaan dapat hadir melalui kreativitas.
Barangkali inilah salah satu pelajaran terpenting dari Guruh, bahwa menjadi Indonesia tidak harus berarti menolak perubahan. Menjadi Indonesia justru berarti mampu mengolah perubahan tanpa kehilangan jati diri.
Tradisi bukan benda mati
Guruh juga memiliki pandangan yang menarik terhadap tari dan seni pertunjukan. Tradisi baginya bukan benda mati yang hanya perlu disimpan di museum. Tradisi dapat bergerak, ditafsirkan kembali, dan bertemu dengan musik modern, tata panggung, busana, pencahayaan serta teknologi pertunjukan.
Pemikiran tersebut tampak dalam berbagai pergelaran karya cipta Guruh sejak akhir 1970-an. Musik, tari, koreografi, kostum dan tata panggung dipadukan menjadi pertunjukan yang utuh.
Guruh sebenarnya melakukan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar menciptakan lagu. Ia sedang membangun bahasa pertunjukan Indonesia.
Bahasa itu tidak sepenuhnya tradisional, tetapi juga tidak sepenuhnya Barat. Ia merupakan pertemuan berbagai unsur yang kemudian membentuk ekspresi baru.
Karena itu, menyebut Guruh hanya sebagai musisi terasa kurang lengkap. Ia bekerja melampaui batas-batas disiplin. Musik bertemu tari. Tari bertemu teater. Busana bertemu identitas budaya. Panggung bertemu gagasan kebangsaan.
Semuanya bertemu dalam satu gagasan besar: Indonesia.
Nasionalisme Guruh
Ada hal lain yang menarik dari karya-karya Guruh. Nasionalismenya tidak selalu hadir dalam bentuk pidato. Ia hadir melalui musik, gerakan tari, pakaian, simbol, bunyi gamelan yang bertemu dengan musik modern, dan panggung yang mencoba menghadirkan Indonesia dalam bentuk yang megah.
Ini adalah nasionalisme yang bekerja melalui kebudayaan.
Di tengah zaman ketika nasionalisme mudah direduksi menjadi slogan, karya Guruh memberikan pengertian yang berbeda. Mencintai Indonesia juga dapat dilakukan dengan menciptakan sesuatu yang membuat orang lain mengenali Indonesia.
Kebudayaan menjadi cara untuk mengatakan kepada dunia: kita modern, tetapi memiliki akar. Kita terbuka terhadap perubahan, tetapi tidak harus kehilangan identitas. Kita dapat belajar dari luar tanpa harus menjadi salinan dari luar.
Ruang bagi generasi baru
Warisan seorang seniman tidak hanya dapat diukur dari jumlah lagu atau pertunjukan yang ditinggalkannya. Warisan juga dapat dilihat dari ruang yang ia ciptakan bagi orang lain untuk tumbuh.
Dalam konteks ini, Swara Maharddhika menjadi bagian penting dari perjalanan Guruh. Kelompok tersebut menjadi wadah bagi anak-anak muda untuk mengembangkan kemampuan dalam musik, tari dan seni pertunjukan. Sejumlah seniman yang kemudian dikenal publik pernah tumbuh atau bersentuhan dengan ekosistem yang dibangun Guruh.
Kebudayaan tidak pernah tumbuh hanya dari seorang jenius. Kebudayaan membutuhkan ekosistem. Membutuhkan panggung. Membutuhkan kesempatan. Membutuhkan pendanaan. Membutuhkan pendidikan. Dan yang tidak kalah penting, membutuhkan generasi yang lebih muda.
Guruh memahami hal tersebut melalui praktik. Ia tidak hanya menciptakan karya, tetapi juga menciptakan ruang agar karya dan seniman baru dapat lahir.
Setelah Guruh pergi, siapa pelanjutnya
Wafatnya Guruh seharusnya tidak berhenti pada ungkapan kehilangan, namun apa yang akan kita lakukan terhadap warisannya?
Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Namun, memiliki kekayaan budaya tidak otomatis berarti memiliki kebudayaan yang kuat.
Ada perbedaan antara memiliki budaya dan menghidupkan kebudayaan.
Kita memiliki ribuan tradisi, bahasa, musik, tari, ritual, karya kerajinan dan pengetahuan lokal. Tetapi sebagian di antaranya semakin jauh dari kehidupan generasi muda. Banyak kesenian hidup dalam ruang-ruang seremonial, tetapi tidak selalu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Pada saat yang sama, industri budaya global bergerak sangat cepat. Selera berubah. Teknologi berubah. Cara orang mendengarkan musik berubah. Cara orang menonton pertunjukan berubah. Bahkan cara anak muda membangun identitas berubah.
Dalam kondisi seperti itu, pertanyaan kebudayaan tidak bisa dijawab dengan nostalgia.
Kita tidak dapat meminta generasi muda sekadar “kembali” ke masa lalu. Yang harus dilakukan adalah membuat kekayaan masa lalu mampu berbicara kepada masa depan. Dan itulah yang pernah dilakukan Guruh. Ia tidak membawa kita kembali ke masa lalu. Ia membawa unsur masa lalu ke masa depan.
Jangan hanya mengabadikan Guruh
Ada kecenderungan setiap kali seorang tokoh besar meninggal, kita sibuk mengabadikan namanya. Jalan diberi nama. Gedung diberi nama. Festival dibuat. Lagu diputar kembali. Dokumentasi dihimpun. Semua itu penting sebagai bentuk penghormatan.
Tetapi kebudayaan tidak hidup karena monumen. Kebudayaan hidup karena ada manusia yang terus menciptakan. Karena itu, penghormatan paling bermakna kepada Guruh bukan hanya mengulang karya-karyanya, melainkan melanjutkan keberanian kreatifnya.
Jika Guruh pernah mempertemukan gamelan dengan musik progresif, generasi sekarang harus memiliki keberanian untuk mempertemukan kekayaan budaya Indonesia dengan teknologi baru.
Jika Guruh menjadikan tari sebagai bagian dari pertunjukan modern, generasi sekarang perlu menemukan cara agar tari tradisional dapat berbicara kepada generasi digital.
Jika Guruh membangun Swara Maharddhika sebagai ruang bagi anak muda, Indonesia hari ini perlu membangun lebih banyak ruang kreatif yang memungkinkan seniman muda bereksperimen tanpa kehilangan akar kebudayaannya.
Kita tidak membutuhkan Guruh Soekarnoputra kedua. Kita membutuhkan keberanian yang pernah dimiliki Guruh.
Krisis kebudayaan bukan sekadar hilangnya tradisi
Krisis kebudayaan Indonesia sebenarnya bukan semata-mata karena tradisi semakin jarang dipentaskan.
Krisis yang lebih dalam terjadi ketika sebuah bangsa kehilangan kemampuan untuk menciptakan masa depan dengan menggunakan akar kebudayaannya sendiri. Kita bisa memiliki banyak museum, festival budaya, pakaian tradisional dan pertunjukan seremonial, tetapi jika kebudayaan hanya diperlakukan sebagai ornamen, ia perlahan kehilangan daya hidupnya.
Guruh memberikan contoh yang berbeda.
Ia memperlakukan kebudayaan sebagai sumber kreativitas. Ia mengambil sesuatu dari tradisi, membawanya masuk ke dalam percakapan dengan zaman, kemudian menghasilkan bentuk baru.
Tantangan kebudayaan Indonesia hari ini bukan sekadar melestarikan apa yang telah ada, namun menciptakan apa yang belum ada tanpa memutus hubungan dengan apa yang telah kita miliki. Itulah pekerjaan kebudayaan yang sesungguhnya.
Maestro yang meninggalkan pertanyaan
Ketika Indonesia menyebut Guruh Sukarnoputra sebagai maestro, kita seharusnya tidak hanya melihat jumlah karya atau popularitasnya.
Guruh meninggalkan sesuatu yang lebih penting, yakni cara pandang.
Ia menunjukkan bahwa Indonesia tidak harus memilih antara tradisi dan modernitas. Keduanya dapat bertemu. Keduanya dapat berdialog. Bahkan dari pertemuan itu dapat lahir sesuatu yang sama sekali baru.
Guruh Soekarnoputra adalah seniman lintas-disiplin yang mencoba menerjemahkan identitas budaya Indonesia ke dalam bahasa musik, tari, dan pertunjukan modern.
Kini orangnya telah pergi. Tetapi pertanyaan yang pernah ia ajukan melalui karya-karyanya masih tinggal bersama kita adalah ketika dunia berubah begitu cepat, apakah kita mampu tetap menjadi Indonesia tanpa berhenti menjadi modern?
Pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan seremoni. Tidak bisa dijawab dengan nostalgia. Dan tidak cukup dijawab dengan mengatakan bahwa Guruh adalah maestro. Jawabannya harus lahir dari karya-karya baru, dari keberanian seniman muda, dari ruang kebudayaan yang terbuka, dari pendidikan yang memberi tempat bagi kreativitas, dan dari kebijakan kebudayaan yang memandang seni bukan sebagai pelengkap pembangunan, melainkan sebagai bagian dari cara bangsa memahami dirinya sendiri.
Mungkin itulah warisan Guruh yang sesungguhnya.
Bukan hanya lagu yang terus kita dengarkan. Bukan hanya pertunjukan yang kita kenang. Melainkan keberanian untuk terus mencari bentuk baru bagi Indonesia.
Guruh telah pergi. Tetapi keindonesiaan jangan ikut pergi bersamanya.










