Senjata Nada Iksan Skuter

Di tengah deru industri musik yang kian sibuk mengejar tren dan viralitas, masih ada suara yang tetap lantang dan jernih: petikan gitar akustik yang sederhana, lirik setajam pisau, dan semangat yang tak pernah tunduk.

Suara itu milik Iksan Skuter. Ia bukan sekadar musisi folk, melainkan pejuang tanpa senjata yang menjadikan lagu sebagai medium perlawanan terhadap ketidakadilan, korupsi, ketimpangan sosial, dan kerusakan ekologi. Melalui musiknya, Iksan menyuarakan betapa keadaan tidak baik-baik saja.

Lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 30 Agustus 1981, pemilik nama asli Mohammad Iksan sudah mulai jatuh cinta pada musik sejak usia kanak-kanak. Ia menggemari lagu-lagu Iwan Fals dan Franky Sahilatua.

Ketertarikan serius pada musik makin membuncah saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun, ketertarikan itu baru benar-benar berwujud setelah ia menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur.

Awalnya, ia banyak bermain musik dari kafe ke kafe. Namun, pada 2000, ia dan teman-temannya sesama mahasiswa hukum sepakat mendirikan band bernama Draft.

Di kampusnya, Iksan bersinggungan dengan banyak hal, termasuk aktivisme dan kelompok diskusi. Ia membaca buku, baik yang berbau kiri maupun kanan. Ada dua penyair besar yang cukup memengaruhinya, yaitu WS Rendra dan Wiji Thukul. Kelak, dua tokoh sastra Indonesia itu memengaruhi cara Iksan menyusun lirik-lirik lagunya yang sederhana dan tembak langsung.

Pada 2005, Draft Band dikontrak label besar di Jakarta. Di ibu kota, nama Draft Band berganti menjadi Putih. Di bawah payung label besar, Putih menghasilkan tiga album. Semuanya bertema cinta, sesuai selera dan permintaan pasar.

Iksan Skuter ketika masih menjadi bagian Grup Musik Putih Band. Kredit: Thumbnail video maafkan dari kanal YouTube alfarecords

Tahun 2010, ketika kontrak berakhir, Putih pun redup. Iksan memilih jalan lain: bersolo karier. Sejak itu pula ia bermetamorfosis menjadi Iksan Skuter. Skuter singkatan seniman kurang terkenal, sebuah deklarasi kerendahan hati ketimbang sinisme.

Album pertama dan kedua, Matahari (2012) dan Folk Populi Folk Dei (2013), yang diproduksi di bawah naungan label Audiolectica di Jakarta, kurang mendapat respons pasar.

Iksan pun banting setir. Ia kembali ke Kota Malang, kota yang menempa langkah awal kariernya. Di kota bunga itu, selain melanjutkan berkarya dengan lagu-lagunya, ia membuka usaha Warung Kopi Srawung. Srawung, yang berarti bergaul atau bersosialisasi, menjadi ruang berkumpul para seniman, aktivis, maupun komunitas.

Lewat usaha warung kopi ini, Iksan membangun Srawung Records, tempat ia memproduksi dan merilis lagu-lagunya. Album Kecil itu Indah (2014), yang diperuntukkan untuk anak-anak Indonesia, lahir di kota ini. Disusul album-album lainnya: Shankara (2015), Benderang Terang (2016), Gulali (2017), Lumintu (2018), Balakosa (2019), Bapakku Indonesia (2019), Selera Nusantara (2020), Codex 13 (2020), Orbit (2021), Blitz (2022), Pos Ronda (2023), dan Vis a Vis (2025).

Menyalakan tanda bahaya

Bagi Iksan, musik seharusnya tak sekadar menyuguhkan hiburan, bukan sekadar pelipur lara, atau sekadar teman di kala sepi, tetapi sebagai alat perjuangan.

“Dalam sejarah, leluhur kita menggunakan medium musik bukan untuk itu. Itu mungkin tujuan sekunder, bahkan tersier. Sejarah dan leluhur menggunakan musik sebagai medium keagamaan, juga kebangsaan seperti lagu Indonesia Raya,” ujarnya, dikutip dari Dwi As Setianingsih dalam “Iksan Menyalakan Tanda Bahaya”, Kompas.id, 20 Maret 2021.

Mungkin karena itulah lagu-lagunya banyak berbicara soal ketidakadilan, korupsi, ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, dan kemiskinan. Lagunya banyak bersuara untuk petani, buruh, perempuan, dan anak-anak.

Yang paling banyak dihardik adalah politisi korup. Setidaknya itu yang terlihat ketika ia meluncurkan album Matahari pada 2012. Ia langsung menyindir keras politisi korup lewat lagu Partai Anjing. Partai anjing adalah bentuk sarkasme bagi politisi korup yang kebanyakan berbaju partai.

“Awalnya cuma obrol­an warung kopi, di pos Siskamling, pinggir jalan. Ketika mereka melihat berita dan membaca koran tentang korupsi, ya umpatan pertama yang akan keluar ya kata-kata itu ‘anjing’ atau kalau orang Jawa bilang itu ya ‘asu’,” kenang Iksan.

Iksan Skuter. Kredit: pophariini

Konon, gara-gara lagu Partai Anjing ini, ada petinggi partai besar di Indonesia yang merasa tersinggung. Tak hanya itu, berkali-kali muncul larangan untuk menyanyikan lagu ini di atas panggung.

Namun, Iksan tak gentar. Melalui lagu Nyalakan Tanda Bahaya, Iksan melontarkan kritik yang tak kalah pedasnya. Tentang pemimpin yang hidup mewah dengan segala privelegenya. Dan pahitnya, segala kemewahan itu dibiayai lewat korupsi.

Lebih pahit lagi, para pemimpin korup yang hidup mewah itu sulit sekali tersentuh oleh hukum. Sesuatu yang tak hanya hadir dalam lirik lagu, tetapi tersuguhkan secara langsung dalam realitas politik kita sehari-hari.

“Nyalakan tanda bahaya bagi rakyat jelata
Hukum tak bisa menyentuh yang di atas sana
Nyalakan tanda bahaya bagi rakyat jelata
Hukum dijadikan alat penindas kita.”

Seakan tidak cukup dengan menyalakan tanda bahaya, Iksan membuat perang terbuka terhadap korupsi lewat Hymne Koruptor, sebuah satire untuk menunjukkan betapa sistemiknya persoalan korupsi di Indonesia. Lagu ini menunjukkan betapa koruptor saling melindungi, memanfaatkan aparat penegak hukum, hingga membodohi rakyat, agar tak tersentuh oleh hukum.

Kemudian lagu Teruslah Miskin, Teruslah Bodoh, sebuah kritik reflektif atas sikap apolitis di tengah sistem politik yang korup dan menindas. Sebuah seruan agar rakyat tak hanya mengorganisir diri, tetapi juga mendidik diri secara politik. Ini mengingatkan kata-kata Mas Marco Kartodikromo: “Didik rakyat dengan pergerakan, didik penguasa dengan perlawanan.”

Tema yang diangkat oleh Iksan sebetulnya sangat luas. Dalam lagu Kukira Jakarta, tersirat senandung yang berkisah tentang nasib kaum urban. Mereka yang terdesak meninggalkan desa-desa karena kemiskinan demi mimpi mengubah nasib di kota besar. Faktanya, di kota besar, seperti Jakarta, kesempatan untuk mengubah nasib tidak cukup terbuka lebar.

Di album Shankara, kritik Iksan tak meredup. Lewat lagu Logika di Mana, ia mempertanyakan mengapa petani, nelayan, buruh, dan kuli terus miskin, meskipun mereka sudah bekerja keras. Ia mempertanyakan mengapa sembako mahal, padahal tanah Indonesia sangat subur dan kaya raya.

Menariknya, meskipun banyak melontarkan kritik terhadap penyelenggara negara, tetapi kecintaannya terhadap negerinya tak menciut. Lewat lagu Shankara, ia mengumbar puja-puji untuk negeri tempat tumpah darahnya.

“Tak ada di dunia negri yang seperti ini/Aku lahir, hidup dan mati, di negri terindah di bumi,” demikian bunyi liriknya.

Pada 2016, Iksan meluncurkan album Benderang Terang, yang berisikan lusinan keluh-kesah terhadap keserakahan yang tak berujung, labeling dan stereotyping yang mengkotak-kotakkan manusia, tentang kaum marginal yang tersingkir dari modernisasi kereta api, efek media sosial, hingga kekerasan yang merenggut cinta seorang kakek dengan cucunya.

Dalam lagu Bingung, Iksan berkeluh-kesah tentang labelling dan stereotyping, baik berbasis ideologi maupun identitas, yang membuat manusia terkotak-kotak. Selain itu, lagu ini menyuguhkan ironi-ironi dalam kehidupan berbangsa kita. Misalnya, maling ayam dibakar, sementara koruptor dilindungi.

Iksan juga berbicara soal Papua. Dalam lagu Papua Kucinta, ia berseru: janganlah lagi kau letupkan senjata. Sebuah seruan untuk mengakhiri penggunaan jalan kekerasan bersenjata dalam mengatasi konflik di Papua. Dalam lagu ini, ia menyelipkan fakta yang getir: “uranium dan emas kusumbangkan untuk Ibu Pertiwi/ lalu kau tembakkan peluru kepada kami.”

Beberapa purnama lalu, jelang peringatan Hari Buruh Sedunia, Iksan meluncurkan Lagu Pekerja. Lagu ini didedikasikan untuk kelas pekerja Indonesia, yang selama ini dipaksa bekerja keras, dengan kondisi kerja buruk dan upah tak laya, tetapi menjadi pembayar pajak yang aktif bagi negara.

Memang, sejak album pertama hingga kiwari, lagu-lagu berkarakter kritik sosial senantiasa mendominasi karya-karyanya. Bukan karena Iksan seorang pemarah atau pengeluh, melainkan karena ia tak mampu berdiam diri menyaksikan korupsi, ketidakadilan, serta penderitaan rakyat kecil yang terus berulang.

Selama korupsi, kemiskinan, kesenjangan sosial, ketidakadilan, kerusakan ekologi, dan berbagai masalah struktural lainnya, masih terus terjadi, maka Iksan tak akan berhenti menyalakan tanda bahaya.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Guruh Sukarnoputra dan Kerja Kebudayaan yang Belum Selesai

Guruh Sukarnoputra dan Kerja Kebudayaan yang Belum Selesai

Guruh Sukarnoputra telah pergi

You May Also Like
Total
0
Share