Perang Dingin Baru: Tiongkok versus AS

Dunia hari ini seolah menyaksikan pertarungan dua raksasa. Keduanya mewakili kekuatan adikuasa abad ke-21: Tiongkok dan Amerika Serikat (AS).

Selain bersaing di bidang geopolitik dan perdagangan, keduanya juga berlomba dalam teknologi. Namun, dalam perlombaan itu, mereka menguasai sumber daya penting yang berbeda. Tiongkok menguasai sebagian besar mineral kritis dunia, terutama unsur tanah jarang (rare earth elements/REE). Amerika unggul dalam teknologi semikonduktor paling canggih yang dibutuhkan untuk kecerdasan buatan. Sederhananya, Tiongkok punya batu, Amerika punya chip.

Dengan kekuatan super itu, kedua negara saling berbenturan dalam berbagai perundingan dagang, ketegangan militer, dan pertemuan tingkat tinggi. Mereka terlibat tarik-ulur panjang bukan untuk menyelamatkan dunia, melainkan demi kepentingan nasional masing-masing. Sementara mereka berselisih, dunia semakin mendekati kekacauan.

Jeda dalam permusuhan

Ketika Presiden Donald Trump bertemu pemimpin Tiongkok Xi Jinping di Beijing pertengahan Mei lalu, suasananya cukup ramah. Kedua negara sudah terlibat perang tarif yang naik-turun sejak Trump memulai masa jabatan keduanya. Konflik itu sempat mengancam lepas kendali. Di saat yang sama, Tiongkok sangat khawatir dampak perang AS-Israel melawan Iran terhadap stabilitas internasional, terutama karena harga minyak melonjak dan berdampak pada ekonomi dunia.

Namun di pertemuan Beijing itu, kedua pemimpin sepakat mengejar tujuan bersama “stabilitas strategis yang konstruktif.” Untuk membangun semacam “G2” (dua negara adidaya yang bekerja sama), Trump bersedia menunda pengiriman senjata ke Taiwan. Ia juga mengizinkan penjualan chip komputer Nvidia yang canggih (meski bukan yang paling mutakhir) ke Tiongkok. Sebagai imbalannya, Tiongkok setuju meningkatkan pembelian dari Amerika, termasuk 200 pesawat Boeing dan barang pertanian senilai 17 miliar dolar per tahun hingga 2028.

Gembar-gembor seputar pertemuan itu, yang digaungkan kantor pers kedua pihak, menutupi kenyataan bahwa hampir tidak ada kesepakatan konkret yang dicapai. Trump tidak mendapatkan akses jangka panjang ke mineral kritis yang dikuasai Tiongkok, khususnya unsur tanah jarang yang sangat dibutuhkan industri teknologi tinggi dan peralatan militer canggih AS.

Raksasa teknologi yang ikut serta bersama Trump juga tidak mendapat konsesi besar berupa akses lebih luas ke pasar Tiongkok. Sementara itu, Tiongkok gagal mengubah kebijakan keamanan AS di kawasan Asia-Pasifik. Para pemimpin G2 baru ini seharusnya bisa memikirkan ulang aturan main global, tetapi itu tidak ada dalam agenda pertemuan Beijing.

Meski begitu, dua negara adidaya itu akhirnya turun dari jalur konfrontasi yang semakin memanas. Yang lebih penting, Trump sepertinya sudah meninggalkan tujuan sebelumnya untuk memutus hubungan ekonomi Amerika dari Tiongkok. Tujuan itu, bersama upaya membendung “pesaing strategis,” sebelumnya sudah menjadi semacam kesepakatan bipartisan di AS.

Setidaknya untuk sementara, dua kekuatan adidaya dunia ini tidak lagi menghancurkan tanah di bawah kaki mereka. Mengingat betapa besar kekuatan yang mereka miliki, itu sudah merupakan pencapaian yang tidak kecil. Namun perang masih berkecamuk di dunia mineral.

Merebut batu-batu itu

Unsur tanah jarang, atau REE, sebenarnya tidak jarang. Namun mengekstraknya dari bijih di sekitarnya memang sangat sulit. Dulu Amerika adalah penghasil dan pengolah terbesar sumber daya ini, dari tambang di California dekat perbatasan Nevada. Itu masih zaman ketika REE lebih banyak dipakai untuk televisi hitam-putih. Kerusakan lingkungan akibat penambangan dan pengolahan, ditambah biaya tenaga kerja, membuat Amerika akhirnya memindahkan operasi itu ke Tiongkok.

Ketika REE menjadi sangat penting untuk membuat magnet kuat yang dipakai di mana-mana, dari pengisi daya iPhone nirkabel hingga jet tempur F-35, Tiongkok sudah menguasai lebih dari 60 persen penambangan dan 90 persen pengolahannya. Tiongkok juga mengajukan lebih banyak paten teknik pengolahan terbaru dibanding negara mana pun. Lewat Inisiatif Belt and Road, jaringan proyek infrastruktur yang tersebar di seluruh dunia, Tiongkok juga mengamankan akses ke tambang di luar negeri.

Di Tanzania, misalnya, perusahaan Australia Peak Rare Earths menemukan cadangan REE yang mungkin terbesar yang belum digarap pada 2010. Ini tepat yang dicari Amerika dan sekutunya: bijih yang bisa ditambang dan diolah di luar Tiongkok. Namun tahun lalu, perusahaan Tiongkok Shenghe Resources membeli perusahaan Australia itu, beserta hak atas cadangan di Tanzania, seharga sedikit lebih dari 100 juta dolar. Tiongkok terus menguasai pasar dengan mengimpor bijih dari tambang di Myanmar, mengeksploitasi deposit baru di Brasil, dan mengincar Malaysia serta Indonesia untuk fasilitas pengolahan.

Untuk menjamin pasokan mineral yang dibutuhkan Pentagon dan industri AS, pemerintahan Trump meningkatkan eksploitasi deposit REE di dalam negeri. Tambang Mountain Pass di California, yang sebelumnya ditutup karena gugatan lingkungan dan outsourcing ke Tiongkok, dibuka kembali pada 2012. Namun masih sulit bersaing dengan Tiongkok yang membanjiri pasar dengan REE murah. Tahun lalu, Pentagon membeli saham mayoritas di MP Materials, pemilik tambang itu. Sekarang tambang tersebut menghasilkan lebih dari 10 persen pasokan REE global.

Trump juga menyuntikkan dana ke USA Rare Earths yang sedang mengembangkan tambang Round Top di Texas. Tambang ini diharapkan bisa menyaingi produksi Mountain Pass. Namun meski dipercepat, tambang baru itu baru akan mulai produksi paling cepat 2028. Sementara itu, pemerintahan AS bermain di banyak sisi: menyuntik dana ke fasilitas pengolahan REE di Arizona, bekerja sama dengan operasi serupa di Prancis, dan membuat kontrak pasokan dengan perusahaan tambang di Australia. Aktivitas sibuk ini mungkin mengurangi ketergantungan pada Tiongkok, tetapi tidak menghilangkannya sama sekali.

Dan ini bukan hanya soal unsur tanah jarang. Tiongkok menguasai 95 persen produksi magnesium, lebih dari 80 persen tungsten, lebih dari 70 persen grafit dan silikon, serta tiga perempat kobalt, mineral yang penting hampir untuk semua manufaktur modern. Di sisi pengolahan, Tiongkok adalah pengolah utama 19 dari 20 mineral paling dicari, dengan pangsa pasar rata-rata 70 persen. Bahkan di hilir, Tiongkok juga mendominasi. Misalnya, Tiongkok bertanggung jawab atas 94 persen produksi magnet paling kuat yang dipakai di mobil, komputer, dan peralatan medis.

Perebutan “bahan baku kritis” ini, banyak di antaranya penting untuk infrastruktur energi bersih, tetapi juga sangat dibutuhkan untuk berbagai produk militer canggih yang digandrungi Amerika, mempertajam persaingan antara Tiongkok dan AS di Global South yang kaya mineral.

Negara-negara itu umumnya melihat Tiongkok sebagai penyedia modal dan pembiayaan yang bersedia. Mereka memandang Trump, yang pernah menyebut banyak negara Global South sebagai “negara sampah,” mendeportasi warga mereka dalam jumlah besar, dan mengenakan tarif menghukum hampir ke semua pemerintah mereka, dengan sikap skeptis.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan AS untuk mengejar dan menetralisir kekuatan super mineral Tiongkok? Dalam skenario terbaik, Amerika baru bisa memenuhi separuh kebutuhannya akan unsur tanah jarang pada 2028, dan saat ini hanya menghasilkan kurang dari 1 persen magnet kuat itu. Sampai Amerika berhasil mengejar, atau membangun kemitraan dengan negara lain lewat inisiatif seperti Pax Silica yang dipimpin AS, Tiongkok masih bisa memutus pasokan mineral kunci itu lebih mudah daripada Iran menutup Selat Hormuz.

Menguasai chip

Silicon Valley sudah lama menjadi sinonim inovasi: iPhone Apple, mesin pencari Google, platform media sosial Facebook. Namun jantung Silicon Valley, setidaknya di awal, terbuat dari silikon. Chip-lah yang membuat lembah itu. Pada 1980-an, Jepang menghasilkan semikonduktor yang lebih unggul daripada apa pun yang bisa dikeluarkan perusahaan Amerika. Persaingan itu mendorong Silicon Valley melompati Jepang.

Perancang chip Nvidia memulai di 1990-an sebagai pemasok unit pemrosesan grafis (GPU) untuk industri video game. Chip Nvidia itu secara harfiah menjadi “otak” di balik Xbox Microsoft. Kemudian mereka juga menggerakkan PlayStation 3 Sony, menandai bahwa Silicon Valley sudah definitif mengungguli pesaing Jepang.

Lalu Nvidia mulai mengembangkan perangkat keras yang dibutuhkan untuk revolusi teknologi berikutnya: kecerdasan buatan. Platform AI besar pertama yang tersedia untuk publik, yakni ChatGPT, dibangun di atas GPU generasi berikutnya dari Nvidia. Tiba-tiba Nvidia menjadi pemasok paling dicari dan perusahaan paling berharga di dunia, sekarang bernilai lebih dari 5 triliun dolar.

Satu hal jika hanya menguasai grafik untuk game seperti Grand Theft Auto atau membuat efek khusus film Godzilla vs. Kong 2021 terlihat sangat nyata. Lain soal jika menciptakan blok bangunan teknologi AI yang merayap ke setiap sudut ekonomi, termasuk militer.

Untuk mempertahankan keunggulan ekonomi dan militer, Amerika memasang kontrol ekspor terhadap semikonduktor paling canggih Nvidia ke Tiongkok. Tidak mengherankan jika dalam enam tahun terakhir, Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok mencoba ratusan kali memperoleh chip berharga itu.

Untuk mencegah Tiongkok membuat sendiri, Belanda juga membatasi ekspor mesin yang dipakai untuk mencetak chip tersebut. Ada dua tantangan dalam strategi pembatasan ini. Pertama, meski namanya Silicon Valley, mereka sebenarnya tidak memproduksi sebagian besar chip komputer canggih itu. Lebih dari 90 persen semikonduktor mutakhir dunia bergantung pada Taiwan. Amerika khawatir respons Tiongkok terhadap ketergantungan chip ini adalah cukup dengan menginvasi Taiwan dan mengambil alih industri semikonduktornya.

Di sisi lain, pemerintahan Biden mendorong CHIPS Act untuk memindahkan kembali manufaktur chip ke dalam negeri, yang mengubah Arizona menjadi Silicon Valley sungguhan. Intel dan TSMC Taiwan termasuk di antara lebih dari 75 perusahaan yang membangun pabrik di sana. Namun itu akan membutuhkan banyak air (di gurun) dan menghasilkan ton “kimia selamanya” (senyawa sintetis yang tidak terurai secara alami), mencemari lingkungan dan menumpuk di tubuh manusia (di tengah populasi yang terus bertambah).

Melihat kegagalan Rusia merebut Ukraina dan ketidakmampuan AS serta Israel mengganti rezim di Iran, Tiongkok kemungkinan besar tidak akan mencoba mengambil alih Taiwan dalam waktu dekat. Sebaliknya, Tiongkok menempuh pendekatan berbeda, dan ini adalah masalah kedua dari strategi pembatasan. Karena dicegah mendapatkan chip terbaik Nvidia, Tiongkok menuangkan uang besar untuk menjadikan sektor chipnya yang terbaik di dunia.

Investasi negara yang besar itu menghasilkan “momen Sputnik” pada Januari 2025 ketika perusahaan Tiongkok DeepSeek merilis pesaing ChatGPT. Terobosan besarnya justru di belakang layar: Tiongkok mampu menggunakan chip produksi dalam negeri untuk menghasilkan hasil AI yang sebanding dengan biaya lebih murah.

Pengeluaran sektor swasta untuk AI di Amerika masih jauh melebihi investasi Tiongkok. Namun pemotongan dana sains dan pembatasan visa kerja oleh pemerintahan Trump akan menghambat kemajuan teknologi AS selama bertahun-tahun, bahkan mungkin puluhan tahun. Sementara itu, Tiongkok kemungkinan besar akan punya mesin siap produksi untuk kebutuhan model AI-nya pada 2030, target yang ditetapkan Beijing untuk menutup kesenjangan chip canggih.

Pertarungan terbuka

Baik Tiongkok maupun Amerika sudah saling mendaratkan beberapa pukulan dalam pertarungan duel mereka. Pemerintahan Trump tetap mempertahankan kontrol ekspor chip paling canggih dan membuat daftar hitam perusahaan Tiongkok yang dituduh bekerja sama dengan Tentara Pembebasan Rakyat, termasuk perusahaan mobil BYD dan perusahaan teknologi Baidu. Tiongkok membalas dengan memasukkan dua perusahaan Amerika dan 14 perusahaan Eropa ke daftar hitamnya sendiri karena “penggunaan ganda” unsur tanah jarang untuk keperluan sipil dan militer. Ini ditambahkan di atas pembatasan ekspor Tiongkok pada 2025 terhadap tujuh logam tanah jarang, serta pengumuman bahwa lima unsur lagi akan ditambahkan pada November.

Saling balas-membalas ini mungkin memberi kesan kedua pihak seimbang. Memang begitu satu dekade lalu. Namun hari ini, meski status ikoniknya dan kekuatan menghancurkannya, Amerika terlihat goyah. Obsesi Trump memotong anggaran pemerintah dan kegagalannya mengisi posisi yang tersisa dengan pejabat kompeten membuat upaya mencegah Tiongkok mendapatkan chip paling canggih jadi lemah.

Sederhananya, Departemen Perdagangan gagal menegakkan pembatasan ekspor terhadap perusahaan AS, dan ribuan chip kuat itu kemungkinan besar sudah masuk ke tangan Tiongkok. Bahkan tanpa ketidakmampuan pemerintah, Amerika tetap kesulitan mempertahankan keunggulan. Intinya, Tiongkok akan bisa membuat chip sendiri lebih cepat daripada Amerika bisa memperoleh batunya sendiri.

Kekuatan super sesungguhnya yang dimiliki Tiongkok, dengan kata lain, adalah kemampuan pemerintahnya menghimpun sumber daya untuk melompat maju secara teknologi dan mempertahankan keunggulan materialnya secara substantif.

Berkat kekuatan ini, seperti dicatat Evan Osnos di The New Yorker, “Tiongkok menghasilkan setidaknya 70 persen drone, kendaraan listrik, baterai lithium-ion, dan sel surya dunia.” Tiongkok begitu yakin dengan kekuatan ini sampai baru-baru ini mengeluarkan baterai sodium-ion yang tidak membutuhkan mineral kritis baterai lithium yang dipakai kendaraan listrik.

Pemerintahan Biden mencoba meniru kekuatan super ini dengan CHIPS Act dan subsidi terarah dari Inflation Reduction Act. Trump juga mencoba kebijakan industri serupa dengan investasi di mineral kritis, ditambah tarif acak dan kontrol ekspor. Namun ia juga melemahkan kekuatan dasar aksi pemerintah lewat pemotongan dana dan pemecatan massal di lembaga-lembaga kritis. Akibatnya, banyak tembakan yang diluncurkan pemerintahan Trump ke Tiongkok sebenarnya hanyalah peluru kosong.

Di dunia nyata, Amerika membuang miliaran dolar untuk perang di Iran, pemerintahan Trump fokus mengisi kantong sendiri dari transaksi orang dalam, sementara universitas dan perusahaan AS kehilangan dana dan talenta. Di saat yang sama, Tiongkok menguasai pasar global teknologi terbarukan dan memperkuat hubungan dagang serta investasi dengan hampir 150 negara dalam Belt and Road Initiative (BRI).

Siapa bakal unggul?

Laporan terbaru dari ASPI Critical Technology Tracker menunjukkan pergeseran peta kekuatan sains yang masif. Tiongkok tidak lagi sekadar menjadi basis perakitan, melainkan pusat inovasi garis depan.

Tiongkok memimpin riset berdampak tinggi (berdasarkan 10 persen publikasi ilmiah yang paling banyak dikutip) pada 66 sektor teknologi strategis. Bidang ini mencakup kecerdasan buatan (AI), materi tingkat lanjut, komunikasi 5G/6G, drone, baterai kendaraan listrik, hingga teknologi hipersonik. AS kini hanya memimpin di delapan bidang, seperti komputer kuantum dan rekayasa genetika.

Sektor kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) menjadi medan tempur paling sengit. Data dari Stanford AI Index Report mengungkap anomali besar dalam efisiensi modal antara kedua negara. Pada tahun 2023, jarak kualitas antara model AI terbaik AS dan Tiongkok berkisar antara 17,5 persen hingga 31,6 persen. Namun, data terbaru menunjukkan kesenjangan performa tersebut telah menyusut hingga hanya 2,7 persen.

Kesenjangan performa yang hampir hilang ini dicapai dengan modal yang jauh lebih sedikit. Investasi swasta AS di sektor AI mencapai USD 285,9 miliar, sedangkan Tiongkok hanya menggelontorkan USD 12,4 milliar. Artinya, korporasi Tiongkok mampu menghasilkan kualitas teknologi yang setara meskipun beroperasi dengan anggaran 23 kali lipat lebih hemat dibandingkan mitranya di Silicon Valley.

Tiongkok kini menguasai mayoritas mutlak pendaftaran paten AI di seluruh dunia, jauh meninggalkan AS yang unggul dalam hal infrastruktur pusat data (5.427 pusat data milik AS). Lembaga riset Tiongkok menyumbang 23,2 persen dari total publikasi ilmiah AI global, melahirkan ekosistem akademis yang terus mereproduksi talenta-talenta digital baru secara mandiri.

Tiongkok memimpin adopsi otomatisasi dengan memasang 295 ribu unit robot industri dalam rantai produksinya. Jumlah ini sembilan kali lipat lebih banyak dibandingkan jumlah instalasi robot serupa di seluruh wilayah Amerika Serikat.

Pemerintah Tiongkok menargetkan penetrasi perangkat terminal berbasis AI (AI-intelligent terminal) mencapai lebih dari 90 persen pada tahun 2030, memperkuat cengkeraman mereka pada komersialisasi gawai dan perangkat pintar global.

Dengan perkembangan itu, kita bisa memprediksi siapa pemenang dalam perang dingin baru ini, yakni Tiongkok.

John Feffer, direktur Foreign Policy In Focus. Buku terbarunya adalah Right Across the World: The Global Networking of the Far-Right and the Left Response.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Perlawanan Tanpa Kepemimpinan Politik

Perlawanan Tanpa Kepemimpinan Politik

Setidaknya, sepanjang 2019–2025, Indonesia menyaksikan lima gelombang protes

Next
Ketika Tiongkok Menggelar Pesta Olahraga Robot Humonoid

Ketika Tiongkok Menggelar Pesta Olahraga Robot Humonoid

Itulah yang terjadi di Beijing pada 22–26 Agustus 2026, saat Tiongkok menggelar

You May Also Like
Total
0
Share