Pep Guardiola, Pelatih Paling Sukses dan Politis di Abad ini

Jika ada pertanyaan, siapa pelatih sepak bola paling sukses di abad ini? Nama Pep Guardiola akan selalu menjulang teratas. Pelatih asal Catalan itu sudah mengoleksi lebih 40 trofi major dalam kariernya sebagai pelatih hingga saat ini.

Tadi malam, Pep Guardiola berhasil mengantarkan Manchester City yang sedang terseok-seok di musim ini untuk merebut trofi ketiga di Piala FA (Inggris) usai menumbangkan raksasa London, Chelsea, di Stadion Wembley. Dengan demikian, bersama Manchester City, Pep sudah mengumpulkan 20 trofi major.

Siapa Pep Guardiola

Josep “Pep” Guardiola Sala lahir di Santpedor, Catalunya, Spanyol, pada 18 Januari 1971. Lahir di sebuah kota kecil, dari keluarga kelas pekerja, tak ada yang istimewa di masa kecil Pep.

Namun, ada bakat yang jarang dimiliki anak-anak di masanya, yakni sepak bola. Berbekal bakat itu, ia direkrut oleh tim lokal Club Gimnàstic Manresa. Siapa sangka, pada usia 13 tahun, La Masia melihat potensinya dan langsung merekrutnya.

Pep cepat menunjukkan potensinya sebagai calon pemain hebat di masa depan. Dalam waktu singkat, hanya enam tahun akademi, pelatih legendaris Barcelona masa itu, Johan Cruyff, langsung memboyong Pep ke tim utama Barcelona. Itu terjadi pada 1990, ketika Pep baru berusia 19 tahun.

Di tangan Cruyff yang menempatkannya di posisi sebagai pivot, Pep berkembang menjadi pemimpin inti dalam “dream team” Barcelona pada 1990-an. Di bawah Cruyff, Barcelona meraih 11 trofi mayor: empat gelar liga secara beruntun dan satu gelar Liga Champions.
Sayang, cedera otot betis dan lutut mengganggu perjalanan karier Pep. Ia terpaksa menepi dari ajang Piala Dunia 1998. Sempat kembali pada musim 1998/1999, cedera kembali mengganggu jalan kariernya. Akhirnya, pada 2012, ia tak bisa memperpanjang kontraknya di Barcelona.

Setelah mengembara ke Brescia (bermain bersama Roberto Baggio di bawah pelatih Carlo Mazzone), lalu ke AS Roma di bawah Fabio Capello, kemudian Al-Ahli di Qatar (2003–2005), Pep bersandar di pelabuhan terakhir di klub Meksiko, Dorados de Sinola. Di sini, dia berguru pada Juan Manuel Lilo, yang memperkenalkannya pada pola 4-2-3-1. Pada saat bersamaan, sekitar 2006, ia mulai mengambil kursus kepelatihan.

Pada 4 November 2006, Pep resmi mengumumkan akhir perjalanannya sebagai pemain sepak bola.

Menjadi pelatih

Hampir setahun setelah gantung sepatu, Pep dipercaya untuk melatih Barcelona B yang baru saja degradasi ke Tercera Division (divisi keempat sepak bola Spanyol). Pep sukses besar. Ia membawa Barcelona B menjuarai grup dan memenangkan babak play-off untuk promosi kembali ke kasta ketiga (Segunda Division B).

Pada 2008, Barcelona di bawah kepelatihan Frank Rijkaard mengalami krisis. Amburadul dari ruang ganti hingga penerapan taktik di lapangan, Barcelona terpaksa puasa gelar selama dua musim berturut-turut.

Berkat masukan Cruyff, Barcelona menunjuk Pep Guardiola sebagai pelatih tim utama. Ia mulai dengan merevolusi ruang ganti, melepas semua pemain bintang yang tinggi ego, lalu membuka pintu bagi pemain-pemain muda. Meski awal musim 2008-2009 diawali dengan kekalahan dari Numancia, Pep berhasil mengantarkan Barcelona menjuarai La Liga.

Dengan taktik penguasaan bola, umpan-umpan pendek, dan pergerakan cepat, yang kelak dinamai tiki-taka (meskipun Pep tak begitu menyukai istilah itu), Barcelona mencapai puncak kejayaannya pada 2009. Dengan trio gelandang, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, dan Sergio Busquets, sementara Lionel Messi berperan sebagai false-nine, Barcelona meraih seluruh enam trofi dalam satu tahun kalender (La Liga, Copa del Rey, Liga Champions, Piala Super Spanyol, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub) atau sextuple. Rekor dunia ini menobatkan tim Barcelona 2009 sebagai salah satu tim terbaik sepanjang sejarah sepak bola.

Selama empat musim bersama Barcelona, Pep mempersembahkan 14 trofi mayor: tiga trofil La Liga, dua trofi Liga Champion, dua trofi Copa del Rey, tiga trofi piala super spanyol, dua trofi Piala Super Eropa, dan dua trofi untuk Piala Dunia AntarKlub.

Tahun 2012, merasa mulai mengalami burn-out, Pep tak memperpanjang kontraknya di Barcelona. Ia memilih menepi selama satu tahun (sabbatical year) di New York, Amerika Serikat.

Namun, pada 2013, ia kembali ke kursi kepelatihan dengan menangani raksasa Jerman, Bayern Munchen. Pada musim pertamanya (2013/2014), Pep membawa Bayern mengunci gelar juara Bundesliga hanya dalam 27 pertandingan, rekor tercepat dalam sejarah Liga Jerman. Namun, meski sukses di Liga, tetapi Pep gagal membawa Munchen meraih satu trofi pun di Liga Champion.

Pada Desember 2015, dia mengumumkan tidak memperpanjang kontraknya di Munchen. Dia memilih merasakan kerasnya Liga Inggris dengan menjadi pelatih Manchester City.

Sejak mendarat di Etihad Stadium pada Juli 2016, Pep telah mengubah Manchester City menjadi kekuatan dominan yang menakutkan di Inggris dan Eropa. Pada musim keduanya (2017/2018), Pep membawa City menjuarai liga dengan memecahkan rekor 100 poin pertama dan satu-satunya dalam sejarah Premier League.

Puncaknya, pada musim 2022/2023, Pep membawa City meraih gelar liga Champions pertamanya sekaligus mengunci status Treble Winner (Premier League, FA Cup, Champions League). Sejauh ini, bersama Manchester City, Pep sudah merebut 20 trofi mayor.

Pandangan politik yang terbuka

Yang menarik dari Pep, selain torehan prestasinya di lapangan hijau, baik sebagai pemain maupun pelatih, adalah respons dia terhadap isu-isu sosial maupun politik.

Terlahir sebagai anak Catalan, Pep adalah pendukung setia penentuan nasib sendiri Catalunya dari Spanyol. Tahun 1992, ketika Barcelona merebut trofi Liga Champion pertama mereka dalam sejarah, Pep Guardiola berdiri di atas balkon lalu menirukan kata-kata Josep Tarradellas, seorang pejuang kemerdekaan Catalunya, ketika kembali ke Barcelona pada 1977 usai menjalani 38 tahun pengasingan di bawah rezim fasis Franco: “Warga Catalunya, akhirnya saya di sini!”.

“Warga Catalunya, piala ini ada di sini untuk kalian,” kata Pep Guardiola sembari mengangkat piala tinggi-tinggi.

Kakak perempuan Guardiola, Francesca, sebelumnya bekerja untuk pemerintah Catalan dan dicopot dari jabatannya sebagai duta besar untuk negara-negara Nordik oleh Perdana Menteri Spanyol saat itu, Mariano Rajoy, setelah presiden Catalan, Carles Puigdemont, mendorong kemerdekaan pada 2017.

Pep pernah bergabung dalam petisi mendukung referendum untuk bangsa Catalunya. Bahkan, pada Juni 2017, Pep berada di tengah 40 ribu orang yang berbaris di Barcelona untuk mendukung referendum kemerdekaan Catalunya.

“Kami tidak punya pilihan lain selain memilih. Kami menyerukan kepada komunitas internasional untuk mendukung kami dan kepada para demokrat di seluruh dunia untuk membantu kami membela hak-hak yang terancam di Catalunya, seperti hak kebebasan berekspresi dan hak untuk memilih,” katanya ketika berorasi.

Pada 2018, Pep sering memakai pita kuning ketika mendampingi timnya, Manchester City, baik di pinggir lapangan maupun saat konferensi pers. Aksi Pep itu sebagai bentuk protes terhadap keputusan pemerintah Spanyol yang memenjarakan dua tokoh gerakan kemerdekaan Catalunya, Jordi Sanchez dan Jordi Cuixart, tanpa proses pengadilan.

”Sudah lebih dari 140 hari mereka dipenjara tanpa pengadilan,” kata Guardiola dalam jumpa pers di London selepas laga final Piala Carabao melawan Arsenal.

Gara-gara itu, FA menjatuhkan sanksi kepada Pep. Namun, sanksi itu tak membuat semangat dan aksi politiknya surut.

Selain isu Catalunya, Pep juga bersuara keras mengutuk kekejaman genosida Israel di Gaza, Palestina.

“Sangat menyakitkan melihat apa yang terjadi di Gaza. Rasanya sakit di sekujur tubuh saya. Biar saya perjelas, ini bukan tentang ideologi, ini bukan tentang saya benar dan Anda salah. Ini tentang rasa sakit sebagai manusia yang menyaksikan penderitaan sesama,” kata Pep dalam sebuah mimbar akademik pada 2025.

Dalam acara amal “Act x Palestine” di Palau Sant Jordi, Barcelona, pada akhir Januari 2026, Pep tampil berpidato sembari mengenakan keffiyeh hitam-putih sebagai simbol solidaritas.

“Kami berada di pihak yang tertindas. Hari ini kami berdiri bersama Palestina. Tapi bukan hanya Palestina, melainkan semua perjuangan (untuk kemanusiaan). Ini adalah pernyataan untuk Palestina dan untuk kemanusiaan,” kata pelatih Manchester City ini.

Menurut Pep, tidak sulit bagi warga Barcelona untuk merasakan dan berempati terhadap penderitaan rakyat Gaza. Dia merujuk pada kisah Barcelona pada 1938, ketika kota itu dibombardir oleh aliansi fasis Jenderal Franco bersama Italia dan Jerman. Sekitar 1.300 warga Barcelona tewas dan ribuan lainnya terluka.

Pada 11 Mei lalu, saat pemain Barcelona, ​​Lamine Yamal, memegang bendera Palestina ketika merayakan kemenangan bersama timnya di atas bus setelah memenangi gelar La Liga Spanyol di Barcelona, ​​Spanyol, lalu mendapat kecaman dari Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, Pep turut angkat bicara.

”Pesepak bola adalah panutan bagi jutaan orang dan pendapatnya berpengaruh. Karena itu, ia harus menyampaikannya ketika memang diperlukan. Lamine Yamal seharusnya bangga,” kata Pep.

Begitulah Pep Guardiola, seseorang yang tak hanya mengukir namanya dalam sejarah sepak bola sebagai pemain sekaligus pelatih paling berprestasi, tapi juga menunjukkan posisi yang benar dalam sejarah: selalu memihak kaum tertindas, membela kemerdekaan, dan membela kemanusiaan.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Mengenal Konsep Kapitalisme Kroni

Mengenal Konsep Kapitalisme Kroni

Artikel itu membahas distorsi ekonomi di Filipina di bawah rezim Ferdinand

Next
Kisah Aktivis Era Bung Hatta: Pilih Beasiswa atau Indonesia Merdeka

Kisah Aktivis Era Bung Hatta: Pilih Beasiswa atau Indonesia Merdeka

Menjadi pejuang kemerdekaan, kalau kamu anak turunan ningrat atau orang kaya,

You May Also Like
Total
0
Share