Nuansa Politik dalam Rivalitas El Clásico: Barcelona vs Real Madrid

Bicara liga sepak bola terbaik, perdebatan seringkali mengerucut pada dua nama, Premier League Inggris dan La Liga Spanyol. La Liga sejak lama dianggap sebagai penantang utama dominasi Premier League dalam hal popularitas dan gemerlaap sepak bola dunia.

Namun, terlepas dari debat yang mungkin tanpa ujung itu, ada satu hal yang membuat La Liga selalu menarik sepanjang masa, yakni rivalitas Barcelona dan Real Madrid yang membara sepanjang masa. Dua klub itulah yang melahirkan derby paling ikonik di planet Bumi: El Clásico. Pertarungan mereka bukan cuma di lapangan, atau jumlah trofi, tapi juga politik.

Rivalitas talenta terbaik dua klub, misalnya antara Lionel Messi versus Ronaldo, juga dua pelatih legendaris mereka Pep Guardiola versus José Mourinho atau ribut besar saat Luís Figo memutuskan hengkang dari Barcelona ke Real Madrid, hanyalah percikan api yang sudah terbentuk sejak awal abad ke-20.

Untuk memahami rivalitas ini, kita harus melihat jauh melampaui Santiago Bernabeu dan Camp Nou, menuju konteks politik rumit yang menjadi nyawa El Clásico.

Jenderal Francisco Franco, diktator Spanyol, pada 1960-an. Kredit: AFP/Getty images

Los Blancos dan Jenderal Franco

Secara historis, Barcelona mewakili perjuangan Catalan dan semangat separatisme yang diusung oleh Catalanisme. Di sisi lain, Real Madrid dipandang sebagai klub kaum elite, klubnya para bangsawan Spanyol. Maka, jangan heran jika ada mahkota di logo Real Madrid. Sementara kata “Real” sama artinya dengan kata “Royal”, yang berarti kerajaan. Klub ini bukan hanya elite, tapi milik monarki.

Semua ini berakar dari keterlibatan Jenderal Franco, mantan diktator Spanyol, dalam sejarah Real Madrid.

Begini cerita singkatnya. Pada 1936, seiring dengan pasang fasisme di seantero Eropa, kaum fasis Spanyol yang menyebut diri kaum nasionalis di bawah Jenderal Franco berusaha meruntuhkan Republik Spanyol yang dipimpin Presiden Manuel Azaña. Kaum anti-fasis, yang menyebut diri kaum Republiken, berbaris menentang Franco. Terjadilah perang sipil sepanjang 1936 hingga 1939.

Dalam perang sipil itu, kaum Caralan berada di sisi kaum Republiken. Punya pemerintahan lokal yang disebut “Generalitat de Catalunya”, mereka turut menyuplai milisi untuk membantu kaum Republiken melawan fasis Franco.

Perang sipil itu mengorbankan sedikitnya 200 ribu tentara dari kedua belah pihak, juga ratusan ribu warga sipil tak berdosa. Dengan bantuan Jerman dan Italia, Franco memenangkan perang itu. Setelah perang, 20 ribu pendukung Republik ditembak mati. Memenangkan perang, Franco ingin menyeragamkan negara Spanyol. Caranya, dengan melarang penggunaan bahasa Catalan, Basque, dan Galicia.

Negara yang masih dalam pemulihan dari kebrutalan perang saudara itu, “dijual” oleh Franco sebagai kisah sukses melalui keberhasilan Real Madrid di Eropa. Sama seperti Mussolini yang menggunakan kemenangan Timnas Italia untuk membuktikan keberhasilan rezimnya, Franco melakukan hal yang sama dengan memamerkan kesuksesan Los Blancos.

Bagi Franco, Real Madrid melambangkan tradisi Spanyol, baik bahasa maupun budayanya. Mereka mewakili sentralisasi kekuasaan yang didambakan Franco. Real Madrid adalah alat pencitraan yang ideal. Semua ini mempertajam perbedaan antara dua kutub klub elite Spanyol.

Kapten Real Madrid, Miguel Muñoz, menerima trofi Champion dari Jenderal Franco. Kredit: footytimes.com

Pada 1941, Athletic Club (dari wilayah Basque) dipaksa meninggalkan kebijakan pemain asli mereka dan mengubah nama menjadi Atlético Club. Sementara Barcelona dan Bilbao menentang rezim Franco, Real Madrid tidak.

Di lapangan, pengaruh Franco paling kentara terjadi pada 1943, saat Barcelona kalah telak 11-1 dari Real Madrid di semifinal Copa del Generalísimo—yang namanya diambil dari julukan Franco sendiri.

Sid Lowe, dalam bukunya Fear and Loathing in La Liga, menyebut pertandingan ini sebagai “laga yang pertama kali membentuk identitas Madrid sebagai tim diktator dan Barcelona sebagai korbannya.”

Kala itu, para pemain Barcelona mendapat ancaman dari militer dan polisi sebelum pertandingan dimulai, sehingga mempengaruhi hasil akhir. Sejarawan Joan Barau mengatakan, “Dalam laga itu, Barcelona takluk oleh tekanan militer dan orang-orang yang dekat dengan Falange (partai fasis).”

Drama transfer Alfredo Di Stefano

Salah satu kisah paling memicu amarah dan sarat muatan politis terjadi di pertengahan abad ke-20, dan berpusat pada satu nama: Alfredo Di Stefano.

Saat itu, Di Stefano bermain untuk klub Kolombia, Millonarios. Namun, klub lamanya, River Plate, masih mempermasalahkan legalitas transfernya.

Musim panas 1952, setelah tampil gemilang dalam turnamen pramusim di Spanyol, Barcelona dan Real Madrid sama-sama kepincut. Keduanya siap bertarung untuk mendapatkan tanda tangan Di Stefano.

Alfredo Di Stefano berseragam Real Madrid. Kredit: Transfermarkt.

Apa yang terjadi selanjutnya adalah kisah yang rumit dan penuh misteri. Singkat cerita, Barcelona merasa hanya perlu bernegosiasi dengan River Plate, dan mereka berhasil mencapai kesepakatan. Di Stefano bahkan sempat bermain dalam laga pramusim untuk Barça.

Namun, Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) turun tangan. Mereka menyatakan transfer itu tidak sah karena Millonarios belum memberi restu. Di tengah ketidakpastian inilah, Real Madrid bergerak cepat, membuat kesepakatan dengan Millonarios, dan berhasil memboyong sang pemain.

Intervensi RFEF inilah yang membuat para Culés (fans Barcelona) yakin bahwa Franco ikut campur untuk menggagalkan transfer Di Stefano ke Barcelona, agar sang bintang bisa pindah ke Real Madrid.

Faktanya, Franco memang punya hubungan dekat dengan presiden Madrid saat itu, Santiago Bernabeu, dan disebut-sebut punya pengaruh besar di RFEF. Meskipun Los Blancos menyangkal keras adanya intervensi Franco, kemungkinan bahwa sang diktator menggunakan kekuasaannya untuk membuat Madrid lebih sukses demi citranya sendiri tetap menjadi sebuah misteri yang belum terpecahkan.

Lebih dari sekadar klub

Jika Real Madrid secara historis adalah representasi Spanyol, maka Barcelona adalah kebalikannya. Barcelona adalah simbol identitas regional, dalam hal ini Catalonia.

Selama masa pemerintahan Franco, Catalonia dan nasionalisme Catalan menjadi target penindasan yang ekstrem dan kejam. Seperti yang disebut sebelumnya, Perang Saudara Spanyol membuat semua acara publik yang berbau Catalanisme dan politik kiri dilarang. Penggunaan bahasa Catalan dilarang, begitu pula institusi pemerintahan mandiri Catalan.

Simbol paling mengerikan dari upaya Franco untuk menaklukkan perlawanan republik di wilayah itu adalah pemboman Barcelona pada 1938. Dianggap sebagai salah satu contoh carpet bombing udara pertama dalam sejarah, serangan itu menghancurkan Barcelona, menewaskan lebih dari 1.000 jiwa dan melukai 2.000 lainnya.

Pengeboman Barcelona, 1938, oleh rezim Franco. Kredit: Wikipedia

Sejak saat itu, hingga era modern seperti referendum kemerdekaan Catalan pada 2017, wilayah ini sering terlibat bentrok dengan aparat keamanan. Dalam konteks inilah, FC Barcelona menjadi begitu penting sebagai kendaraan untuk menyuarakan identitas Catalan, di saat cara-cara lain dihadapi dengan kekerasan.

Sebagai respons atas bentrokan polisi pada 2017, Barcelona memainkan laga melawan Las Palmas di stadion kosong tanpa penonton. Ini adalah bentuk kecaman atas taktik kekerasan yang digunakan aparat. Pemandangan Camp Nou yang biasanya penuh sesak oleh hampir 100 ribu penonton, menjadi kosong melompong—sebuah simbol protes yang sangat kuat.
Di hari pertandingan biasa, Camp Nou dipenuhi oleh bendera Estelada (bendera kemerdekaan Catalan). Keinginan ini juga disuarakan oleh para Culés. Tepat pada menit ke-17 dan detik ke-14 di setiap laga kandang, para suporter akan serentak meneriakkan “In! In-de! In-de-pen-den-ci-a!” (Mer-de-ka!).

Kenapa aksinya dibuat pada menit ke-17 dan detik ke-14? Itu ada alasannya, merujuk tahun 1714 ketika Catalonia kehilangan hak otonominya oleh pemerintah Spanyol.

Stadion Barcelona bukan hanya panggung momen-momen hebat sepak bola, tapi juga platform politik bagi para pendukungnya. Itu adalah tempat di mana mereka dijamin bisa menyuarakan keyakinan separatisnya, sebuah surga yang aman dari sejarah panjang penindasan pemerintah anti-Catalan.

Bisnis, politik, dan presiden Martir

Klub Barcelona sendiri, sebagai institusi, mengambil posisi netral dalam isu kemerdekaan. Tentu ada alasan praktis. Mendukung kemerdekaan secara terbuka bisa dipandang buruk oleh La Liga dan RFEF. Risikonya, Barcelona bisa kehilangan tempat di La Liga, kehilangan pendapatan besar, dan terlempar dari meja elite Eropa. Mendukung kemerdekaan secara terbuka bisa jadi “gol bunuh diri” secara finansial.

Namun, ini adalah perkembangan yang sejalan dengan komersialisasi sepak bola. Dulu, ceritanya berbeda. Ini membawa kita pada kisah “presiden martir” klub, Josep Suñol.

Suñol adalah seorang politisi kiri yang vokal dan tanpa kompromi. Ia adalah anggota gerakan politik Catalan: Acció Catalana. Pada 1930, ia mendirikan majalah mingguan sayap kiri, La Ramba. Lima tahun kemudian, ia terpilih menjadi presiden FC Barcelona. Satu tahun setelahnya, ia dibunuh oleh pasukan Franco.

Presiden Barcelona, Josep Suñol, pada pertengahan 1930-an. Kredit: Elpais.

Hari itu, ia sedang mengunjungi pasukan Republik, mobil Suñol tanpa sadar memasuki zona yang dikuasai pasukan Franco. Mengira masih berada di wilayah Republik, ia menyapa para tentara dengan seruan “Hidup Republik!”. Suñol langsung diidentifikasi, ditangkap, dan dieksekusi tanpa pengadilan.

Kematian tragis Suñol, meski hampir seabad telah berlalu, namun tetap mewakili pertentangan ideologis yang berakar dalam di El Clásico.

Di satu sisi, Real Madrid, kaum monarki dan nasionalis Spanyol yang didukung oleh rezim Fasis Franco. Di sisi lain, La Blaugrana, sebuah klub yang sejarahnya ditentukan oleh perjuangan untuk kemerdekaan Catalan dan politik kiri.

Kini, kedua klub mungkin menjaga jarak dari politik yang menjadi fondasi mereka. Di lapangan, rivalitas mereka murni olahraga. Tapi di luar lapangan, di tribun, dan di jalanan—politik akan selalu meresap.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Bongkar Genosida Israel di Gaza, Pakar PBB Francesca Albanese Dijatuhi Sanksi

Bongkar Genosida Israel di Gaza, Pakar PBB Francesca Albanese Dijatuhi Sanksi

Pemicu sanksi itu adalah serangkaian laporan tajam dari Albanese, dengan

Next
Perlukah Negara Menulis Ulang Sejarah?
You May Also Like
Total
0
Share