Piala Dunia dalam Bayang-bayang Negara Teror

Piala Dunia 2026 akan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 di 16 kota yang tersebar di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko. Dari jumlah tersebut, 11 kota tuan rumah berada di AS.

AS sendiri akan menyelenggarakan 78 pertandingan dari 104 pertandingan di Piala Dunia 2026, termasuk empat pertandingan perempat final, semua pertandingan semi-final, pertandingan perembutan tempat ketiga, dan pertandingan final.

Mari membayangkan, sebuah turnamen olaharaga internasional paling populer, yang melibatkan 48 negara peserta, akan berlangsung di sebuah negara yang sedang mengobarkan kebencian dan perang terhadap kaum imigran.

Negara teror

Untuk memahami situasi ini, kita perlu mengenal satu konsep negara teror, yang merujuk pada tindakan kekerasan, penindasan, atau ancaman yang dilakukan secara sistematis oleh suatu pemerintah negara untuk mencapai tujuan politik. Fokus utamanya adalah menyebarkan rasa takut yang meluas guna mengendalikan masyarakat atau melemahkan musuh.

Dalam setahun lebih terakhir, pemerintahan Trump telah menjadikan ICE, lembaga penegakan imigrasi Amerika, sebagai instrumen teror negara. Tindakan ICE mengingatkan atas polisi negara rahasia (Gestapo) di zaman Nazi Jerman.

Di Los Angeles, Chicago, Minneapolis, dan kota-kota lainnya, agen-agen ICE melakukan penghentian kendaraan secara sewenang-wenang, melakukan pemrofilan rasial, menggerebek rumah-rumah tanpa surat perintah, serta memakai kekerasan berlebihan terhadap para demonstran dan warga biasa yang tidak terlibat apa pun.

Ada banyak kemiripan antara ICE dan Gestapo: penangkapan mendadak dan sewenang-wenang, pemisahan keluarga (anak-anak dan keluarganya), pengabaian terhadap hukum dan peradilan, dan penciptaan ketakutan massal.

Pusat-pusat penahanan yang dikelola ICE pun tak kalah mengerikan: penuh kekejaman, kekerasan, dan kondisi yang merendahkan martabat manusia. Setidaknya 46 orang telah meninggal dalam tahanan ICE sejak Trump kembali menjabat tahun lalu.

Piala Dunia masuk jebakan

Markwayne Mullin, Sekretaris Departemen Keamanan Dalam Negeri, secara terang-terangan menyatakan bahwa ICE akan hadir di venue-venue Piala Dunia, termasuk SoFi Stadium di Los Angeles. Mullin memang menampik kemungkinan operasi penyapuan massal, tetapi tidak menutup pintu bagi penangkapan perorangan.

Direktur ICE, Todd Lyons, secara terbuka menolak berkomitmen untuk menjamin jeda (pause) operasi imigrasi di sekitar lokasi pertandingan. Hal ini memicu kecurigaan bahwa agen lapangan tetap bisa melakukan penangkapan di area luar stadion.

Gubernur Texas, Greg Abbott, justru mengancam akan menarik dana hibah keamanan Piala Dunia jika pejabat Kota Houston tidak kooperatif membantu agen ICE.

Di saat yang sama, FIFA mewajibkan para pekerja stadion untuk menyerahkan informasi sensitif: nomor jaminan sosial, alamat rumah, kewarganegaraan, dan negara kelahiran. Lebih jauh lagi, FIFA mengizinkan informasi tersebut dibagikan kepada otoritas federal Amerika.

“Asal legal, tak perlu takut”, benarkah?

Ada yang berargumen, selama seseorang berada di Amerika secara legal, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Argumen ini terdengar masuk akal, tetapi sejatinya menipu.

Argumen itu mengabaikan fakta bahwa banyak imigran berdokumen, seperti pemegang Green Card, visa kerja, atau status asilum, namun tetap rentan menjadi sasaran kesalahan dan penegakan hukum agresif oleh ICE. Faktanya, agen ICE sering melakukan penahanan berdasarkan profil rasial atau lokasi tanpa memeriksa dokumen secara detail di tempat. Prinsipnya, tangkap dulu, tanya nanti.

Masalahnya, dalam berbagai penangkapan sewenang-wenang itu, korban terkadang tak diberi kesempatan untuk berbicara dan menunjukan dokumen. Mereka langsung diserang, dijatuhkan, diborgol, dan diseret ke mobil untuk ditahan. Bayangkan itu terjadi pada suporter sepak bola dari negara-negara non-kulit putih, seperti latino, Asia, dan Afrika.

Kasus salah tangkap oleh ICE bahkan sering menimpa warga negara AS asli (U.S. Citizens). Studi hukum di AS menunjukkan bahwa ribuan warga negara dan imigran legal telah ditahan secara keliru oleh ICE selama bertahun-tahun akibat salah identifikasi atau catatan administrasi yang berantakan.

Selain itu, argumen itu mengabaikan racun yang telah lama disebar oleh Donald Trump melalui kambing hitam berbasis ras, yang ia racik selama lebih dari satu dekade. Sejak mengumumkan pencalonannya pertama kali pada 2015, dengan menyebut Meksiko sebagai pengirim pemerkosa, narkoba, dan kejahatan ke Amerika, Trump terus menerus melontarkan pernyataan-pernyataan yang memfitnah dan menyudutkan para imigran.

Ia menghina negara-negara Haiti dan Afrika sebagai “negara tai ayam”. Ia menyebut imigran tanpa dokumen sebagai peracun darah bangsa Amerika. Ia bahkan menyebarkan kebohongan bahwa imigran Haiti mencuri dan memakan hewan peliharaan warga setempat.

Kebohongan-kebohongan semacam itu, yang tak punya dasar fakta sedikit pun, telah membuat banyak warga Amerika memandang imigran dengan kecurigaan dan ketakutan. Akibatnya, banyak imigran yang terpaksa bersembunyi di sudut-sudut gelap kehidupan atau terpaksa hengkang.

Kekhawatiran negara teror akan mengganggu kemeriahan Piala Dunia 2026 cukup kuat. Ketakutan akan razia membuat banyak suporter dari komunitas minoritas (terutama komunitas Hispanik dan Haiti di AS) berpikir dua kali untuk menghadiri laga langsung.

American Hotel & Lodging Association (AHLA) melaporkan bahwa kekhawatiran atas tindakan petugas imigrasi telah berkontribusi pada melemahnya pemesanan hotel di beberapa kota tuan rumah. Sebagai contoh, prediksi kunjungan turis internasional di Seattle merosot dari estimasi awal 76 ribu menjadi hanya sekitar 60 ribu.

Perlawanan

Di Los Angeles, persatuan pekerja UNITE HERE Local 11 di SoFi Stadium sempat mengancam akan melakukan aksi mogok kerja menjelang turnamen. Krisis ini dipicu oleh kekhawatiran staf (seperti petugas konsesi makanan dan kebersihan yang didominasi imigran) terhadap proses akreditasi wajib FIFA. Mereka mendesak agar data pribadi mereka tidak dibagikan atau diakses oleh badan keimigrasian federal seperti ICE

Mereka mengajukan pengaduan kepada Jaksa Agung California, dengan alasan pelanggaran privasi dan hak-hak mereka berdasarkan Undang-Undang Privasi Konsumen California. Mereka juga mengancam akan mogok kerja jika sejumlah tuntutan tidak dipenuhi, termasuk jaminan bahwa ICE tidak akan punya tempat di arena pertandingan.

Lembaga hak asasi manusia internasional seperti Human Rights Watch (HRW) mendesak FIFA untuk menekan pemerintah AS agar memberlakukan “Gencatan senjata ICE” (ICE Truce). Mereka meminta jaminan resmi agar tidak ada penegakan hukum imigrasi di area Fan Fest dan stadion selama turnamen berlangsung.

Lebih dari 120 organisasi sipil juga telah merilis travel advisory (peringatan perjalanan) bagi jurnalis, pemain, dan suporter global mengenai risiko diskriminasi rasial (racial profiling) serta pemeriksaan gawai elektronik di perbatasan AS.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Sukarno dan Teori Massa Aksi

Sukarno dan Teori Massa Aksi

Kosakata ini bukan sekadar frasa retoris yang menghias pidato-pidato,

Next
Iduladha dan Krisis Pengorbanan Para Pejabat

Iduladha dan Krisis Pengorbanan Para Pejabat

Akan tetapi, hari raya suci penuh makna ini seringkali berulang hanya sebagai

You May Also Like
Total
0
Share