Lumumba dan Piala Afrika 2025

Piala Afrika 2025 di Maroko tidak hanya menyajikan aksi seru di lapangan, tetapi juga menjadi kisah ikonik dari tribun penonton. Nama Michel Nkuka Mboladinga, seorang suporter Republik Demokratik Kongo, mendadak menjadi sorotan dunia. Dijuluki “Lumumba Vea”, ia berdiri tegak, mematung, dengan tangan kanan terangkat sepanjang pertandingan Tim Nasional Kongo.

Mboladinga mengenakan jas berwarna cerah, berdiri di atas pedestal kecil, meniru patung Patrice Lumumba. Gestur itu bukan sekadar gaya teatrikal, melainkan sebuah penghormatan kepada perdana menteri pertama Kongo yang dibunuh secara keji pada 1961. Selama turnamen, ia menjadi simbol kebanggaan, memori, dan identitas. Meski Kongo tersingkir dramatis oleh Aljazair lewat gol menit ke-119, sosok Mboladinga tetap dikenang sebagai pahlawan tribun.

Mengapa ikonik?

Keberanian Mboladinga untuk berdiri mematung sepanjang pertandingan menjadikannya ikon Piala Afrika 2025. Di era media sosial, gambarnya viral, melintasi batas negara. Banyak yang melihatnya sebagai pengingat bahwa sepak bola Afrika bukan hanya pertandingan, bukan sekadar perebutan trofi, tetapi juga soal identitas dan sejarah.

Nkuka Mboladinga, yang juga dikenal sebagai Lumumba Vea, berbicara kepada Associated Press di Casablanca, Maroko, Sabtu (3/1/2026). Kredit: AP PHOTO/SAMY NTUMBA SHAMBUYI

Ketika seorang pemain Aljazair, Mohamed Amoura, sempat mengejek dengan meniru posenya, publik mengecam keras. Gestur Mboladinga bukanlah lelucon, melainkan simbol perjuangan. Bahkan, Federasi Sepak Bola Aljazair akhirnya mengundangnya ke hotel tim, dan memberikan jersey bertuliskan “Lumumba” sebagai bentuk penghormatan.

Mboladinga berhasil menghidupkan kembali memori kolektif tentang Lumumba, menjadikan sepak bola sebagai panggung politik simbolik. Ia menunjukkan bahwa dukungan suporter bisa melampaui hiburan, menjadi pernyataan sejarah dan moral.

Patrice Lumumba: Sosok yang patut dikenang

Untuk memahami mengapa aksi Mboladinga begitu kuat, kita harus kembali ke sosok Patrice Lumumba. Lahir pada 1925 di Kasai, Lumumba tumbuh di bawah kolonialisme Belgia yang brutal. Bersama Gerakan Nasional Congolais (MNC), ia menjadi simbol pergerakan kemerdekaan.

Seperti Sukarno, Lumumba adalah bapak bangsa Kongo. Dia yang membacakan proklamasi kemerdekaan Republik Demokratik Kongo pada 30 Juni 1960. Kemerdekaan itu disambut dengan sukacita oleh rakyat Kongo, tetapi tak disukai oleh negara penjajah.

Untuk membunuh benih kemerdekaan itu, Belgia, yang disokong oleh Amerika Serikat, melancarkan politik pecah belah. Mirip dengan taktik Van Mook dulu, pemerintah Belgia juga memprovokasi berdirinya provinsi-provinsi otonom dan tak mau didikte pemerintahan nasional.

Pada September 1960, hanya dua bulan pasca kemerdekaan, Lumumba tiba-tiba dimakzulkan oleh parlemen. Tidak hanya itu, ia juga dikenai tahanan rumah dan tak boleh berpolitik. Ia sempat menyelinap dan berhasil lolos. Namun, pada 1 Desember 1960, ia ditangkap.

Lumumba dibunuh sangat keji. Untuk menghilangkan jejak atas pembunuhannya, Lumumba tak hanya ditembak mati, tetapi mayatnya juga dipotong-potong dan dibakar.

Pembunuhan Lumumba memicu kemarahan global. Indonesia di bawah Sukarno termasuk pengecam yang keras. Untuk menghormati Lumumba, sebuah jalan di Jakarta diberi nama Jalan Patrice Lumumba.

Lumumba dikenang sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme. Ia menegaskan bahwa tanpa martabat tidak ada kebebasan, tanpa keadilan tidak ada martabat, dan tanpa kemerdekaan tidak ada manusia bebas. Warisannya hidup dalam gerakan anti-kolonial di seluruh dunia, termasuk di Indonesia yang menamai jalan dengan namanya sebagai bentuk solidaritas.

Sepak bola Afrika dan gerakan anti-imperialisme

Michel Nkuka Mboladinga, suporter Kongo, berpose meniru mendiang pemimpin Kongo Patrice Lumumba, menjelang laga Piala Afrika antara Botswana dan Kongo di Rabat, Maroko, 30 Desember 2025.Kredit: Hespress.

Sepak bola di Afrika lebih dari sekadar olahraga. Ia adalah arena politik dan identitas. Piala Afrika, sejak awal menjadi wadah bagi bangsa-bangsa yang baru merdeka untuk menegaskan eksistensi mereka. Stadion menjadi ruang di mana rakyat mengekspresikan kebanggaan nasional, sekaligus melawan warisan kolonial.

Aksi Mboladinga di Piala Afrika 2025 adalah kelanjutan tradisi itu. Dengan berdiri mematung sebagai Lumumba, ia mengingatkan dunia bahwa sepak bola Afrika tak bisa dipisahkan dari sejarah perjuangan. Kongo, Aljazair, Ghana, Nigeria—semua memiliki kisah panjang melawan kolonialisme. Bahkan, solidaritas antarbangsa Afrika sering tercermin di lapangan hijau.

Sepak bola menjadi bahasa universal yang menyatukan rakyat, tetapi juga menjadi panggung untuk menegaskan pesan politik: Afrika tidak lagi tunduk pada imperialisme.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Penculikan di Caracas

Penculikan di Caracas

Dua dekade sebelum pasukan Amerika Serikat (AS) menculik Presiden Venezuela,

Next
MA Perintahkan CNN Indonesia Bayar Hak Pekerja Rp 494,685 Juta

MA Perintahkan CNN Indonesia Bayar Hak Pekerja Rp 494,685 Juta

Mahkamah Agung (MA) menutup upaya hukum CNN Indonesia dalam perkara pemotongan

You May Also Like
Total
0
Share