Banyak klub sepak bola yang tumbuh di akhir abad ke-19 beririsan langsung dengan era industrialisasi dan kebangkitan gerakan kelas pekerja.
Ketika industrialisasi memadatkan jutaan buruh ke kota-kota baru, seperti Manchester, Birmingham, Liverpool, Glasgow, Turin, Hamburg, dan lain-lain, sepak bola menjadi hiburan murah dan olahraga komunal yang bisa diakses semua orang. Hampir setiap klub besar Eropa hari ini memiliki akar yang sama: didirikan oleh atau untuk komunitas pekerja di lingkungan industri.
Arsenal didirikan pada 1886 oleh para buruh pabrik senjata Royal Arsenal di Woolwich, London Tenggara. West Ham United lahir pada 1895 dari Thames Ironworks, galangan kapal di tepi Sungai Thames. Manchester United berawal dari Newton Heath LYR Football Club pada 1878, tim para pekerja kereta api Lancashire and Yorkshire Railway. Everton tumbuh dari komunitas gereja di Liverpool yang sebagian besar jemaatnya adalah buruh pelabuhan. Contoh serupa bisa ditemukan nyaris di setiap kota industri Eropa.
Namun dalam perkembangan satu abad berikutnya, terutama sejak era televisi satelit pada 1990-an dan masuknya kapital besar ke sepak bola, sebagian besar klub itu berubah. Arsenal kini bermain di Emirates Stadium dengan harga tiket tertinggi di Eropa dan basis suporter yang demografinya telah jauh bergeser dari Woolwich. West Ham meninggalkan Upton Park yang bersejarah untuk pindah ke stadion olimpiade yang steril. Identitas kelas pekerja mereka kini lebih banyak hidup dalam nostalgia dan merchandise daripada dalam realitas tribun.
Namun, tidak semua bernasib sama. Tak sedikit klub yang berusaha menjaga basis pendukungnya yang berakar dari kelas pekerja dan kelompok marjinal.
Inilah 15 klub sepak bola yang masih bisa dilihat keterkaitannya dengan basis kelas pekerja.
1. Rayo Vallecano
Rayo Vallecano didirikan pada 1924 di distrik Vallecas, pinggiran selatan Madrid yang sejak awal dihuni oleh pekerja migran dari Andalusia dan Extremadura yang datang mencari kerja di ibu kota.
Vallecas adalah distrik kelas pekerja yang autentik di tenggara Madrid, yang penuh sesak dengan pemukiman dan komunitas kelas pekerja kota Madrid.
Klub ini tumbuh sebagai ekspresi langsung dari komunitas itu. Pada era Franco, ketika ekspresi politik kiri ditekan, Rayo menjadi salah satu ruang di mana identitas kelas bawah Madrid bisa berkumpul tanpa harus menyembunyikan diri sepenuhnya. Setelah transisi demokrasi, klub ini semakin terang-terangan berafiliasi dengan gerakan kiri dan anti-fasis. Karena kedekatannya dengan kelas pekerja, Rayo sering juga dijuluki ”Orgullo de la clase obrera” (kebanggan kaum kelas pekerja).

Suporter garis keras Rayo Vallecano, yang dikenal sebagai Bukaneros, secara terbuka menganut ideologi sayap kiri, anti-fasis, dan anti-rasis.
Mereka menentang keras segala bentuk fasisme dan nasionalisme ekstrem. Hal ini membuat mereka sering bentrok secara ideologis dengan kelompok ultras klub lain di Madrid, seperti Real Madrid dan Atlético Madrid, yang memiliki basis penggemar yang cenderung berhaluan kanan.
Di tribun stadion, Bukaneros sering menampilkan spanduk dan ikonografi yang terkait dengan gerakan kiri, seperti gambar Che Guevara, bendera Republikan Spanyol (merah-kuning-ungu), serta simbol-simbol anarkis dan komunis.
2. FC St. Pauli
FC St. Pauli didirikan pada 1910 di distrik pelabuhan Hamburg yang sama namanya, kawasan yang sejak awal dihuni oleh buruh dermaga, pelaut, dan pekerja bangunan. Selama beberapa dekade pertama eksistensinya, klub ini tidak berbeda jauh dari ratusan klub kelas pekerja lain di Jerman.
Saat itu, kawasan di sekitar stadion mereka, Millerntor-Stadion (terutama di area Hafenstraße) menjadi pusat gerakan kaum kiri, squatter (penghuni liar), aktivis, dan seniman punk.

Situasi berubah pada 1980-an, ketika musik dan ideologi bertebaran di St. Pauli. Fans klub ini mulai terpapar ide-ide kiri, terutama anarkisme dan sosialisme. Kebetulan, pada saat bersamaan, ideologi fasis sedang pasang.
Suatu hari, fans-fans sayap kanan fasistik dari klub dari Hamburger SV dan Borussia Dortmund menyerang pemukiman di kawasan St. Pauli. Sebagai pertahanan, fans St. Pauli mulai mengorganisir diri. Mereka muncul dengan bendera hitam bergambar tengkorak dan tulang bersilang.
3. Athletic Club Bilbao
Athletic Club didirikan pada 1898 di Bilbao, kota industri terbesar di kawasan Basque yang pada akhir abad ke-19 adalah pusat galangan kapal dan pertambangan besi terpenting di Spanyol.
Para pekerjanya, buruh galangan kapal di tepi Nervión, penambang di Vizcaya, adalah komunitas yang membentuk klub ini dari awal. Beberapa sumber mencatat keterlibatan pekerja asal Inggris yang bekerja di industri Basque sebagai pembawa serta tradisi sepak bola terorganisir ke kawasan itu.

Kebijakan paling khas Athletic adalah “Cantera”, yang hanya merekrut pemain yang lahir atau dibesarkan di wilayah Basque. Kebijakan ini bukan sekadar nasionalisme, tetapi juga keberpihakan klub pada talenta-talenta di komunitasnya.
Selama lebih dari 120 tahun, Athletic tidak pernah terdegradasi dari divisi teratas sepak bola Spanyol, meskipun tak disokong kapital besar dan tanpa rekrutan bintang besar.
4. Celtic FC
Celtic didirikan pada 1888 oleh Bruder Walfrid, seorang biarawan Marianist, dengan tujuan eksplisit: mengumpulkan dana untuk dapur umum yang memberi makan komunitas imigran Irlandia miskin yang terlunta-lunta di East End Glasgow. Sepak bola dipilih sebagai instrumen penggalangan dana karena murah dan bisa menarik massa. Dari awal, Celtic bukan proyek olahraga, tetapi proyek kemanusiaan berbalut olahraga.
Karena keberpihakannya pada kaum marjinal, Celtic FC sangat dekat dengan kelas pekerja. Kelompok suporter mereka yang paling besar dan militan, Brigade Hijau (Green Brigade), banyak beranggotakan kelas pekerja. Kelompok suporter ini mengklaim diri sebagai front luas bagi semua suporter yang menentang fasisme, rasisme, sektarianisme dan imperialisme.

Celtic adalah salah satu klub sepak bola di daratan Eropa yang konsisten bersolidaritas untuk Palestina. Pada 2016, saat laga kualifikasi Liga Champions UEFA antara Celtic FC vs Hapoel Be’er Sheva dari Israel, suporter Green Brigade mengibarkan bendera Palestina. Gara-gara itu, Celtic didenda €16 ribu.
6. Beşiktaş JK
Beşiktaş didirikan pada 1903 di kawasan pelabuhan Istanbul yang sama namanya. Pada awal abad ke-20, kawasan ini dihuni oleh nelayan, buruh dermaga, dan pedagang kecil yang menggunakan feri sebagai transportasi harian melintasi Bosphorus.
Dari tiga raksasa kota Istanbul, Beşiktaş selalu menjadi yang paling diidentifikasi dengan kelas menengah-bawah kota. Makanya Beşiktaş sering dijuluki “Tim Rakyat”.
Juara 16 kali Süper Lig ini punya tradisi politik yang progresif. Beşiktaş selalu menjadi pusat dari perlawanan terhadap konservatisme maupun otoritarianisme.

Pada tahun 1980-an, setelah kudeta militer yang menggiring Turki meringkuk dalam kediktatoran Kenan Evren, muncul kelompok suporter yang mengusung ide-ide kiri: Çarşı.
Çarşı, yang berarti pasar, menjadi kelompok suporter Beşiktaş yang paling militan. Mereka anti-kapitalis, anti-rasisme, dan anti-fasisme. Dalam tulisan logo mereka ada simbol “A”, yang dekat dengan anarkisme.
Tahun 2013, ketika rezim Recep Tayyip Erdoğan hendak mengubah Taman Gezi (Gezi Park) menjadi pusat perbelanjaan, sekelompok aktivis lingkungan menolak. Bukannya didengar, mereka justru direpresi. Mendengar kabar itu, Çarşı turun ke jalan untuk bersolidaritas. Dalam sekejap, protes terhadap rencana mengubah taman bersejarah itu meledak menjadi protes sosial menentang rezim Erdogan. Dan Çarşı menjadi salah satu tulang punggung di balik aksi protes tersebut.
6. Livorno Calcio
Livorno Calcio didirikan pada 1915 di kota pelabuhan Livorno, Toscana. Pada awal abad ke-20, kota Toscacana adalah salah satu pusat gerakan buruh paling militan di Italia.
Komunitas pelaut, buruh pelabuhan, dan pekerja industri yang mendominasi populasinya membentuk basis politik kota yang secara konsisten memilih kiri jauh sepanjang abad ke-20. Di kota inilah, pada 1921, Partai Komunis Italia (PCI) resmi didirikan dalam kongres yang memecah gerakan sosialis.
Klub sepak bola kota mewarisi karakter politik itu secara langsung. Suporter Livorno dikenal sebagai salah satu kelompok ultras paling terbuka berafiliasi kiri di Italia. Bendera merah, simbol palu-arit, dan nyanyian-nyanyian yang merujuk pada tradisi komunis tampil secara terbuka di setiap pertandingan kandang.

Cristiano Lucarelli, pemain paling ikonik dalam sejarah klub, adalah simbol dari identitas itu. Putra Livorno yang menolak tawaran klub-klub Serie A kaya untuk kembali bermain bagi kota asalnya dengan gaji lebih rendah, ia merayakan setiap gol dengan kepal tangan kiri dan memamerkan kaos Che Guevara.
Livorno kini terdegradasi jauh ke divisi bawah Liga Italia akibat kesulitan finansial. Namun identitas politik klub tidak ikut terdegradasi.
7. Liverpool FC
Liverpool FC didirikan pada 1892 di kota yang dibangun oleh perdagangan laut dan industri pelabuhan.
Liverpool, kota pelabuhan di bagian barat daya Inggris, punya tradisi kiri yang panjang. Pada 1980-an, kota inilah yang menjadi pusat perlawanan kaum buruh melawan thatcherisme. Di kota ini pula John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr membentuk grup band legendaris The Beatles.
Sejak 1980, kota ini selalu “merah”, karena Partai Buruh selalu menang mutlak. Tidak salah jika Trinity Mirror Data Unit menempatkan Liverpool sebagai kota paling kiri nomor dua di Britania Raya setelah Glasgow di Skotlandia.

Itu juga yang membuat identitas kiri sangat lekat dengan Liverpool. Selain warna merah dan julukan “The Reds”, Liverpool dibesarkan dalam tradisi sosialisme. Peletak dasarnya adalah Bill Shankly, orang Skotlandia yang menjadi pelatih Liverpool dari 1959 hingga 1974.
Bill Shankly, yang dijuluki “founding father” Liverpool karena jasanya mengangkat klub ini dari Divisi Dua menjadi klub terhormat di Eropa sekaligus peletak nilai-nilai Liverpool, lahir keluarga kelas pekerja di Glenbuck, Skotlandia.
Tahun 1995-1998, ketika buruh-buruh pelabuhan melakukan pemogokan panjang, bintang Liverpool Robbie Fowler menunjukkan solidaritasnya. Tak hanya mendukung aksi mogok buruh, tetapi juga memberi dukungan finansial.
8. FC Union Berlin
Klub ini berakar dari SC Union 06 Oberschöneweide, sebuah klub yang didirikan pada tahun 1906 di kawasan industri Berlin Timur. Pada masa itu, wilayah Oberschöneweide dipenuhi dengan pabrik-pabrik kabel dan transformator (seperti pabrik AEG).
Selama era Perang Dingin, sepak bola di Jerman Timur (RDA) sangat dipengaruhi oleh negara. Union Berlin dikelola di bawah naungan serikat pekerja FDGB, sementara rival mereka, Dynamo Berlin, didukung oleh Stasi (polisi rahasia).

Setelah reunifikasi Jerman, Union Berlin menghadapi krisis finansial parah yang hampir membunuh klub. Respons suporter menjadi bagian dari sejarah klub yang paling sering diceritakan: ribuan orang datang secara sukarela untuk merenovasi Stadion An der Alten Försterei, dari mengelas besi, mengecat tribun, hingga memperbaiki sistem drainase, secara gotong-royong. Inilah tradisi kelas pekerja sesungguhnya.
9. Hapoel Tel Aviv
Hapoel Tel Aviv didirikan pada 1927 oleh Histadrut, federasi serikat buruh utama dalam gerakan zionis sosialis yang sedang membangun komunitas Yahudi di Palestina era mandat Inggris. Kata “Hapoel” dalam bahasa Ibrani berarti “buruh” atau “pekerja”. Logo klub sangat lekat dengan identitas kelas pekerja: palu dan arit.
Klub ini terang-terangan mengusung ide-ide sosialisme dan berpegang pada ajaran marxisme. Klub ini terkait erat dengan serikat buruh dan partai-partai kiri.
Suporter Hapoel, Ultras Hapoel, kerap membentangkan spanduk bergambar Che Guevara bersanding dengan Karl Marx. Seruan manifesto komunis, “kaum buruh sedunia, bersatulah!” juga kerap dibentangkan.

10. Boca Juniors
Boca Juniors didirikan pada tahun 1905 oleh sekelompok remaja imigran asal Genoa, Italia, di lingkungan La Boca, Buenos Aires. Pada masa itu, La Boca adalah kawasan pelabuhan yang kumuh, bising, dan padat penduduk.
Nama julukan Xeneizes berasal dari dialek Genoa “Zeneize” yang berarti orang Genoa. Ini menegaskan bahwa klub ini lahir dari tangan para perantau yang bekerja sebagai buruh pelabuhan, pelaut, dan pekerja kasar.
Persaingan abadi (Superclásico) Boca Juniors dengan River Plate sebenarnya berakar dari perpecahan kelas. Awalnya, kedua klub lahir di lingkungan La Boca yang sama. Pada tahun 1920-an, River Plate pindah ke lingkungan Nuñez yang lebih makmur di utara kota. Sejak saat itu, River dijuluki Los Millonarios (Si Jutawan). Sementara itu, Boca tetap bertahan di pelabuhan. Hal ini mempertegas posisi Boca sebagai “Klub Rakyat” (El Club del Pueblo).
11. Olympique de Marseille
Olympique de Marseille (OM) didirikan pada 1899 di Marseille, kota pelabuhan terbesar di Prancis. Marseille juga kota pelabuhan tertua di Prancis yang secara historis menjadi pintu masuk bagi gelombang imigran dari Italia, Spanyol, Afrika Utara (Maghreb), hingga Afrika Sub-Sahara.
Basis pendukung OM berakar dari para buruh pelabuhan (dockers) dan pekerja industri yang membangun ekonomi kota ini. Lagu La Marseillaise, lagu kebangsaan Prancis, dibuat setelah barisan sukarelawan buruh dari Marseille yang bergabung dengan kaum revolusioner Prancis.

Kelompok suporter garis keras (ultras) Marseille seperti Commando Ultra 84 dan South Winners dikenal sangat politis dan berhaluan kiri/anti-fasis. Mereka sering mengibarkan bendera Palestina, Aljazair, hingga bendera bajak laut sebagai simbol pemberontakan terhadap kemapanan.
12. AEK Athens FC
AEK didirikan pada tahun 1924 oleh para pengungsi Yunani yang terusir dari Konstantinopel (sekarang Istanbul) setelah Perang Yunani-Turki.
Para pendiri AEK adalah buruh pelabuhan, pekerja konstruksi, dan buruh pabrik di Athena Utara. Karena statusnya sebagai pendatang, mereka sering kali menjadi kelompok yang paling aktif dalam serikat buruh untuk memperjuangkan upah layak dan hak-hak dasar.
Selama masa Rezim Kolonel (Junta Militer Yunani 1967–1974), banyak pendukung AEK yang terlibat dalam gerakan perlawanan bawah tanah bersama para aktivis serikat buruh dan mahasiswa.
Kelompok suporter garis keras AEK, Original 21, dikenal secara internasional karena sikap anti-fasis dan anti-rasis yang sangat kuat. Hal ini sejalan dengan platform banyak partai buruh dan organisasi sosialis di Yunani.
13. AC Omonia Nicosia
AC Omonia lahir dari peristiwa politik besar pada tahun 1948, saat terjadi Perang Saudara Yunani. Klub utama di Nicosia saat itu, APOEL FC, mengirimkan telegram ke Asosiasi Atletik Amatir Yunani yang menyatakan kesetiaan mereka pada nilai-nilai nasionalis sayap kanan.
Sejumlah pemain dan pengurus APOEL yang berhaluan kiri menolak menandatangani pernyataan politik tersebut. Mereka akhirnya keluar dan mendirikan AC Omonia pada 4 Juni 1948.
Sejak pendiriannya, Omonia telah menjadi “saudara kandung” dari AKEL (Partai Rakyat Pekerja Progresif), partai komunis/sosialis terbesar di Siprus. Selain itu, Omonia memiliki keterkaitan langsung dengan Pancyprian Federation of Labour (PEO), federasi serikat buruh terbesar di Siprus.

14. Club Atlético Independiente
Independiente didirikan pada 1905 di Avellaneda, kota industri di selatan Buenos Aires yang pada awal abad ke-20 dipenuhi oleh pabrik tekstil, metalurgi, dan pengolahan daging.
Klub ini didirikan oleh sekelompok karyawan muda dari toko ritel besar bernama A la Ciudad de Londres di Buenos Aires. Para pekerja muda ini dilarang bergabung dengan tim sepak bola perusahaan yang sudah ada karena usia mereka yang masih muda.
Independiente pindah ke Avellaneda, sebuah distrik di pinggiran Buenos Aires yang pada awal abad ke-20 merupakan jantung industri Argentina. Stadion mereka, La Doble Visera (kini Estadio Libertadores de América), dibangun di tengah pemukiman padat pekerja.
15. Genoa
Genoa (Genova) secara historis adalah jantung industri “Segitiga Emas” Italia (bersama Milan dan Turin). Sebagai kota pelabuhan, identitasnya dibentuk oleh para buruh dermaga (camalli), pekerja galangan kapal, dan buruh metalurgi.
Meskipun didirikan oleh orang Inggris pada tahun 1893, Genoa dengan cepat diadopsi oleh masyarakat lokal. Para pekerja di pelabuhan melihat klub ini sebagai simbol kelas pekerja dengan etos kerja mereka yang keras.

Salah satu pilar utama pendukung Genoa adalah CULMV (Compagnia Unica Lavoratori Merci Varie), serikat buruh pelabuhan Genoa yang sangat legendaris dan kuat.
Serikat buruh pelabuhan ini bukan sekadar organisasi pekerja, melainkan kekuatan sosial dan politik. Tribun stadion Luigi Ferraris (khususnya sisi Gradinata Nord) secara historis diisi oleh anggota serikat ini.
Secara historis, Genoa adalah basis kuat Partito Comunista Italiano (PCI). Banyak pendukung setia Genoa yang juga merupakan kader partai atau simpatisan gerakan kiri.
Selama era Mussolini, banyak pendukung Genoa yang terlibat dalam gerakan perlawanan (partisipan). Identitas anti-fasis ini tetap terjaga hingga era modern, di mana kelompok Ultras Genoa sering menyuarakan pesan-pesan keadilan sosial dan perlawanan terhadap diskriminasi.










