Kamis malam, 29 Januari 2026, sehari setelah memimpin Manchester City meraih kemenangan 2-0 atas Galatasaray di Liga Champions, Pep Guardiola muncul di panggung acara amal “Act x Palestine” di Palau Sant Jordi, Barcelona.
Menggunakan keffiyeh hitam-putih sebagai simbol solidaritas, pelatih asal Catalonia ini memberikan pidato emosional yang mengecam bungkamnya dunia atas penderitaan anak-anak Palestina di Gaza.
“Kami berada di pihak yang tertindas. Hari ini kami berdiri bersama Palestina. Tapi bukan hanya Palestina, melainkan semua perjuangan (untuk kemanusiaan). Ini adalah pernyataan untuk Palestina dan untuk kemanusiaan,” kata pelatih Manchester City ini.
Menurut Pep, tidak sulit bagi warga Barcelona untuk merasakan dan berempati terhadap penderitaan rakyat Gaza. Dia merujuk pada kisah kota Barcelona pada 1938, ketika kota itu dibombardir oleh aliansi fasis Jenderal Franco bersama Italia dan Jerman. Sekitar 1.300 warga Barcelona tewas dan ribuan lainnya terluka.
“Kita telah meninggalkan mereka sendirian, ditinggalkan,” katanya sambil membayangkan anak-anak yang merekam diri mereka sendiri di antara puing-puing, sambil mencari ibunya yang hilang, sebuah momen yang menyesakkan dada mereka yang masih punya nurani kemanusiaan.
Acara ini, yang menggabungkan musik, seni, dan advokasi sipil, bertujuan mengumpulkan dana untuk rekonstruksi Gaza dan Tepi Barat, serta menyuarakan dukungan bagi rakyat Palestina. Kehadiran Guardiola tidak hanya menarik perhatian media internasional, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai figur olahraga yang vokal dalam isu kemanusiaan.
Pep Guardiola, lahir sebagai Josep Guardiola Sala pada 18 Januari 1971 di Santpedor, Catalonia, Spanyol, adalah salah satu pelatih sepak bola paling sukses di era modern. Kariernya dimulai sebagai pemain di Barcelona, di mana ia menjadi bagian dari “Dream Team” Johan Cruyff, memenangkan enam gelar La Liga dan satu Piala Eropa (sekarang Liga Champions) pada 1992.
Setelah pensiun sebagai pemain, Guardiola beralih ke pelatihan. Debutnya sebagai pelatih kepala Barcelona pada 2008 langsung membawa revolusi dengan menciptakan gaya tiki-taka yang ikonik, memenangkan treble (La Liga, Copa del Rey, dan Liga Champions) pada musim pertamanya. Secara keseluruhan, selama empat tahun di Barcelona, ia meraih 14 trofi, termasuk dua Liga Champions.
Setelah itu, Guardiola melatih Bayern Munich (2013-2016), di mana ia mendominasi Bundesliga dengan tiga gelar beruntun dan dua Piala Jerman. Pada 2016, ia bergabung dengan Manchester City di Liga Primer Inggris. Di sini, prestasinya semakin gemilang: enam gelar Liga Primer, satu Liga Champions (2023), empat Piala Liga, dan dua Piala FA hingga 2026.
Guardiola dikenal sebagai inovator taktik, dengan filosofi penguasaan bola dan pressing tinggi yang menginspirasi banyak pelatih. Ia telah memenangkan total lebih dari 30 trofi utama sebagai pelatih, menjadikannya salah satu yang terbaik sepanjang masa, sering dibandingkan dengan legenda seperti Alex Ferguson atau Carlo Ancelotti. Di luar lapangan, Guardiola adalah ayah dari tiga anak dan dikenal sebagai pembaca buku aktif, terutama tentang sejarah dan politik.
Keterlibatan Guardiola dalam isu Palestina bukanlah hal baru, meskipun acara amal di Barcelona menjadi sorotan terbaru. Pada November tahun lalu, dalam wawancara di stasiun radio Catalan RAC1, ia secara tegas menyatakan, “Saya sepenuhnya mendukung Palestina.”
Ia mengkritik apa yang disebutnya sebagai “genosida” oleh Israel dan menyesalkan ketidakberdayaan dunia internasional. Dukungannya meliputi partisipasi dalam kampanye amal, seperti konser “For Palestine” yang ia dukung secara publik.
Guardiola juga pernah mendukung pertandingan amal untuk Palestina dan secara konsisten menggunakan platformnya untuk menyoroti penderitaan sipil, khususnya anak-anak. Pidatonya di acara tersebut menekankan rasa sakit melihat gambar anak-anak yatim piatu di media sosial, dan ia menyerukan “langkah maju” untuk kemanusiaan.
Meskipun sebagai pelatih, ia jarang membahas politik di konferensi pers klub, Guardiola tidak ragu menyuarakan dukungan ini di luar konteks sepak bola, seperti di acara budaya atau media Catalan. Keterlibatannya ini sering dikaitkan dengan latar belakangnya di Catalonia, di mana isu kemerdekaan dan hak asasi manusia sangat sensitif.
Pendirian politik Guardiola secara keseluruhan mencerminkan pandangan yang progresif dan anti kolonialisme. Ia adalah pendukung vokal kemerdekaan Catalonia, sering memakai pita kuning sebagai simbol protes terhadap pemenjaraan pemimpin separatis Spanyol. Pada 2018, ia didenda oleh FA Inggris karena memakainya selama pertandingan, tapi ia tetap teguh.
Guardiola juga mendukung isu-isu global seperti isu kesetaraan, lingkungan, dan anti-rasisme. Ia pernah mengkritik Brexit dan mendukung Uni Eropa, serta menyerukan reformasi imigrasi yang lebih manusiawi. Dalam konteks Palestina, stance-nya selaras dengan gerakan kiri Eropa yang melihat konflik Israel-Palestina sebagai isu kolonialisme dan hak asasi manusia. Ia menolak label “netral” dan percaya olahraga harus menjadi alat untuk perubahan sosial, seperti saat mendukung Black Lives Matter.
Dukungan Guardiola terhadap Palestina menunjukkan bagaimana figur olahraga dapat melampaui lapangan hijau. Di tengah konflik yang berkepanjangan, suaranya menambah bobot pada panggilan kemanusiaan secara global. Meskipun sibuk dengan Manchester City, yang sedang mengejar gelar ketujuh Liga Primer, Guardiola tetap setia pada akar Catalan-nya dan komitmen terhadap keadilan. Acara amal itu bukan akhir, tapi pengingat bahwa olahraga dan politik sering saling terkait. Dan, Guardiola adalah contoh nyata bagaimana satu suara dapat menggema jauh di seantero dunia.










