Nestapa Sepak Bola Italia

Ada sebuah foto ikonik yang diabadikan dari malam 13 November 2017 di Stadion Giuseppe Meazza, Milan. Gianluigi Buffon, kapten sekaligus penjaga gawang terbaik yang pernah dilahirkan Italia, menangis tersedu-sedu di tepi lapangan.

Swedia baru saja memastikan tiket ke Piala Dunia 2018, dan Gli Azzurri, tim yang empat kali mengangkat trofi Jules Rimet, untuk pertama kalinya dalam 60 tahun harus absen dari turnamen terbesar di muka bumi. Kita berpikir, ini adalah titik terendah sepak bola Italia.

Delapan tahun kemudian, di Stadion Bilino Polje yang sempit di Zenica, Bosnia, nestapa itu bukan sekadar terulang. Ia berlipat ganda, dan kini menanggung beban sejarah yang jauh lebih berat.

Tiga kali gagal

Italia kini menjadi tim juara dunia pertama dalam sejarah sepak bola yang absen dari tiga edisi Piala Dunia secara beruntun: 2018, 2022, dan 2026.

Dalam catatan panjang kompetisi ini, Azzurri sebelumnya hanya pernah absen dua kali: tidak berpartisipasi pada 1930 dan gagal lolos pada 1958. Artinya, kegagalan tahun 1958, yang kala itu memicu krisis besar dan melahirkan pembenahan struktural sepak bola Italia, kini terlampaui. Rekor tergelap dalam sejarah Azzurri itu tidak lagi relevan sebagai pembanding, karena yang terjadi hari ini jauh lebih parah.

Untuk memahami betapa absurdnya situasi ini, kita perlu meletakkan data dalam konteks yang tepat. Pada kualifikasi Piala Dunia 2026, UEFA mendapat jatah 16 tiket, lebih banyak dua slot dibanding 2018 dan lebih banyak tiga jatah dibanding 2022. Turnamen ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah, diikuti 48 negara. Eropa mendapatkan kuota terbesar yang pernah ada. Dan Italia dengan seluruh infrastruktur sepak bolanya, dengan Serie A sebagai salah satu liga paling bergengsi di dunia, tetap tidak mampu merebut satu dari 16 kursi yang tersedia.

Ini bukan lagi sekadar kesialan. Ini adalah diagnosis.

Peringatan yang diabaikan

Benih-benih bencana Zenica sebenarnya sudah disemai jauh lebih awal di San Siro, pada 17 November 2025. Norwegia menang 4-1 di Giuseppe Meazza dan menutup fase grup dengan 24 poin sempurna dari delapan laga, unggul enam poin di atas Italia yang harus melangkah ke playoff. Italia finis kedua dengan 18 poin.

Angka 18 poin itu menyimpan ironi yang menyakitkan. Di Grup I, lawan Italia adalah Norwegia, Israel, Estonia, dan Moldova. Bukan grup neraka. Italia seharusnya melaju sebagai juara grup dengan nyaman. Namun mereka justru kewalahan oleh Erling Haaland dan kawan-kawan, tim yang baru saja mengakhiri puasa Piala Dunia selama 28 tahun. Kemenangan Norwegia itu sekaligus mengakhiri penantian 28 tahun untuk kembali tampil di Piala Dunia. Sementara Italia, juara dunia 1934, 1938, 1982, dan 2006, terus nelangsa.

Yang lebih meresahkan bagi seorang analis, setelah kekalahan 1-4 itu, Gattuso mengakui bahwa timnya kehilangan bentuk, terlalu mudah kehilangan bola, dan memberi Norwegia ruang. “Kami menekan dengan benar di awal, tapi kemudian salah umpan, kehilangan penguasaan, dan terdesak. Itu yang terjadi,” ujarnya.

Itulah pola berulang yang tidak pernah berhasil dipecahkan Italia dalam satu dekade terakhir. Kuat di 45 menit pertama, kolaps ketika tekanan meningkat.

Malam Zenica

Pada 1 April 2026, Italia takluk dari Bosnia-Herzegovina, tim peringkat ke-71 di dunia dan negara yang baru saja keluar dari puing-puing perang, lewat adu penalti 1-4 setelah bermain imbang 1-1 pada final playoff di Stadion Bilino Polje. Skenarionya hampir identik dengan mimpi buruk sebelumnya. Italia unggul lebih dulu, lalu kehilangan kendali.

Italia mampu unggul lebih dulu melalui Moise Kean di menit ke-15. Kean mencetak gol dalam enam penampilan beruntun bersama Italia, menempatkannya sejajar dengan hanya tiga legenda sepanjang sejarah Tim Nasional (Timnas): Adolfo Baloncieri (1928), Luigi Riva (1969), dan Roberto Bettega (1977). Di atas kertas, Italia seperti sedang dalam jalur yang benar.

Kemudian datanglah momen yang mengubah segalanya. Alessandro Bastoni, bek Inter Milan dan salah satu bek tengah terbaik di Serie A, diganjar kartu merah. Ia menjadi pemain Italia pertama yang diusir di laga kualifikasi Piala Dunia sejak Giorgio Chiellini pada 5 September 2016 melawan Israel, hampir satu dekade silam. Bermain dengan 10 orang, struktur pertahanan Italia ambruk, dan Bosnia menyamakan kedudukan lewat Haris Tabakovic pada menit ke-79, memaksa laga berlanjut hingga perpanjangan waktu sebelum ditentukan lewat adu penalti.

Di sinilah tragedi mencapai puncaknya. Italia, negara yang dianggap paling hebat dalam soal adu penalti, tumbang. Bosnia tampil sempurna di adu penalti, sementara Italia gagal dua kali. Pio Esposito dan Bryan Cristante menjadi eksekutor yang gagal. Sementara kiper Gianluigi Donnarumma, kiper Manchester City dan dianggap salah satu kiper terbaik dunia, tak mampu menggagalkan satu pun tendangan lawan. Inilah kutukan yang sesungguhnya.

Dan pahitnya, Italia tiga kali berturut-turut digagalkan ke pentas Piala Dunia oleh negara-negara yang kurang diperhitungkan dalam kancah sepak bola. Pada 2017, Swedia, tim yang saat itu tidak memiliki pemain bintang kelas dunia, mematahkan Italia agregat 1-0. Pada 2022, Makedonia Utara, negara kecil dengan peringkat FIFA rendah, mengirim Italia pulang lewat gol pada menit ke-90. Dan kini Bosnia-Herzegovina, peringkat ke-71 dunia, mengeksekusi mereka lewat adu penalti.

Warisan patron dan kolapsnya model bisnis klub

Untuk memahami krisis Italia hari ini, kita perlu kembali ke era 1990-an hingga 2000-an, ketika Serie A adalah liga paling bergengsi, paling kaya, dan paling ditonton di dunia. Trio besar, AC Milan, Inter Milan, dan Juventus, mendominasi panggung Eropa. Liga Champions hampir selalu memiliki wakil Italia di babak akhir. Nama-nama seperti Del Piero, Maldini, Baggio, Totti, dan Buffon menjadi simbol supremasi sepak bola Italia.

Namun di balik kilauan itu tersimpan fondasi yang rapuh. Selama puluhan tahun, sepak bola Italia bergantung pada patronase keluarga atau taipan lokal yang mengelola klub sebagai hobi atau alat politik: Silvio Berlusconi di AC Milan, Massimo Moratti di Inter Milan, keluarga Agnelli di Juventus, Vittorio Cecchi Gori di Fiorentina. Ketika krisis ekonomi menghantam bisnis utama sang patron, klub pun kehilangan oksigen finansial.

Ketika Premier League mengubah model bisnis sepak bola secara fundamental pasca-reformasi 1992, dengan mendatangkan investor institusional global, membangun stadion modern, dan menjual hak siar dengan nilai astronomis, Serie A terlambat beradaptasi. Tingkat investasi klub Italia rendah sementara liga lain berkembang jauh lebih besar. Banyak klub Italia juga gagal memodernisasi stadion mereka, hal yang berdampak pada pendapatan komersial.

Akibatnya, daya saing finansial Serie A ambruk secara perlahan tapi pasti. Eksodus talenta memperparah situasi, di mana liga kehilangan pemain terbaiknya ke klub-klub yang lebih kaya di Inggris, Spanyol, bahkan Arab Saudi. Yang lebih ironis, klub-klub besar Serie A bahkan terjebak dalam kebiasaan saling bertukar pemain satu sama lain, misalnya Inter-Juve, Milan-Inter, Fiorentina-Juve, Inter-Napoli, sebuah fenomena yang tidak terjadi di liga lain manapun, dan yang pada akhirnya menciptakan ekosistem stagnan tanpa kompetisi ide taktik yang sesungguhnya.

Krisis di Liga Champions

Kemunduran klub Italia di Eropa bukan hanya konteks latar belakang, tetapi bukti langsung dari sistem yang kolaps. Klub terakhir Italia yang berhasil menjuarai Liga Champions UEFA adalah Inter Milan pada 2010. Pada musim kompetisi Eropa tahun ini, empat wakil Italia harus tersingkir sebelum mencapai babak perempat final.

Yang paling memalukan adalah tersingkirnya Inter Milan dari tangan Bodø/Glimt, klub asal kota dengan populasi 52 ribu jiwa di lingkaran Arktik Norwegia. Intensitas permainan di Serie A dinilai terlalu lambat dibandingkan liga-liga besar lainnya, yang membuat klub-klub Italia menderita saat harus menghadapi tempo tinggi di kompetisi Eropa.

Claudio Ranieri pernah berkata: “Saat saya di Inggris bersama Leicester… orang-orang tidak berlatih lebih banyak daripada di Italia. Mereka hanya melakukannya dengan intensitas lain, dan kemudian menjaga intensitas itu selama pertandingan. Kita bermain lambat, dan di Eropa Anda akan menderita.”

Tempo yang lambat di level klub ini secara langsung meracuni persiapan Timnas. Pemain-pemain Gli Azzurri terbiasa bermain dengan ritme tertentu di Serie A, lalu tiba-tiba dihadapkan dengan intensitas tinggi Bosnia dalam laga hidup-mati. Tubuh dan pikiran mereka tidak terprogram untuk itu.

Akademi yang gagal

Inilah inti dari seluruh krisis: Italia berhenti memproduksi pemain kelas dunia secara sistematis.

Pada era keemasan 1980-an hingga 2000-an, Italia memiliki jalur yang hampir otomatis dari akademi ke Timnas. Sistem settore giovanile di klub-klub besar menjadi mesin pencetak bakat. Dari sana lahir Buffon, Del Piero, Maldini, Nesta, Pirlo, dan puluhan nama lainnya. Akademi Italia saat itu adalah yang paling dihormati di Eropa, bahkan di dunia.

Namun sejak masifnya impor pemain asing pasca-era Bosman (1995), prioritas bergeser. Klub lebih mudah dan lebih murah membeli pemain jadi dari luar negeri daripada bersabar mengembangkan bakat lokal. Hanya di Italia, mentalitas bahwa pemain terlalu muda dan pengalamanlah yang memenangkan pertandingan masih dipegang erat. Ini adalah pilihan budaya yang membuat sepak bola Italia kesulitan mengikuti tempo gaya permainan lain.

Konsekuensinya fatal bagi Timnas. Pakar sepak bola Eropa Julien Laurens menegaskan, “Akademi-akademi di Italia tidak menghasilkan cukup pemain, atau pemain yang layak bermain di tim utama mereka.”

Hal ini juga berdampak pada Timnas Italia yang kini kesulitan mencari pemain muda berkualitas, dan mustahil menurunkan usia rata-rata skuad jika pemain muda tidak mendapat kesempatan bermain di klub.

Perbandingan dengan Prancis dan Spanyol sangat menyakitkan. Prancis membangun Centre National de Football di Clairefontaine sejak 1988, dan hasilnya adalah generasi demi generasi pemain kelas dunia yang lahir dari sistem yang terencana. Spanyol merombak total filosofi sepak bolanya pasca-Euro 2000 dengan model La Masia yang mendunia. Sementara Italia tidak pernah melakukan apa yang disebut “Das Reboot” bagi sepak bola Jerman, proyek perombakan total struktur setelah kegagalan memalukan di Euro 2000. Italia tidak hanya kehilangan arah setelah era catenaccio berakhir, tetapi juga gagal melahirkan generasi fantasista baru yang dulu menjadi simbol kecerdasan sepak bola mereka.

Warisan pelatih dan ketidakstabilan visi

Sejak Piala Dunia 2006 di Jerman, trofi terakhir Italia, kursi pelatih Gli Azzurri telah berganti tangan dengan frekuensi yang merisaukan: Marcello Lippi, Cesare Prandelli, Antonio Conte, Giampiero Ventura, Roberto Mancini, Luciano Spalletti, dan kini Gennaro Gattuso. Masing-masing membawa filosofi yang berbeda, dan tidak satu pun yang diberi waktu dan otoritas penuh untuk membangun sesuatu yang benar-benar baru dari fondasi.

Gattuso, seorang pemain keras bermental baja yang pernah mengangkat trofi Liga Champions bersama Milan, mencoba menerapkan intensitas pressing yang ia kagumi dari sepak bola modern. Namun ia mewarisi skuad yang terbentuk dari sistem yang salah, dan menghadapi lawan institusional yang lebih besar dari dirinya sendiri: birokrasi FIGC, egoisme klub, dan beban psikologis sejarah yang terlalu berat.

Setelah malam Zenica, Gattuso mengakui bahwa kegagalan ini tidak dapat diterima oleh semua pihak, terlebih Italia merupakan negara sepak bola terbesar di dunia dengan status sebagai empat kali jawara dunia. Secara pribadi, ia meminta maaf. “Ini adalah kemunduran besar; saya rasa tidak adil bagi kami untuk pergi keluar hari ini. Secara pribadi, saya minta maaf karena saya tidak berhasil menyelesaikannya,” ujarnya.

Permintaan maaf itu tulus. Namun permintaan maaf seorang pelatih tidak bisa menggantikan kebutuhan akan reformasi struktural yang sudah tertunda selama dua dekade.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Strategi Perang Sukarno

Strategi Perang Sukarno

Sukarno bukan seorang jenderal

Next
Sejarah Larangan Militer Memasuki Urusan Sipil

Sejarah Larangan Militer Memasuki Urusan Sipil

Di Italia utara, mengalir sebuah sungai kecil yang nyaris luput dari perhatian

You May Also Like
Total
0
Share