10 Comeback Terbaik dalam Sejarah Sepak Bola

Sepak bola lebih dari sekadar permainan. Olahraga paling digandrungi sejagat ini juga menjadi panggung drama yang intens. Momen-momen ketika sebuah tim bangkit dari jurang kekalahan, melawan segala probabilitas, adalah yang paling dicintai.

Kisah-kisah tentang ketahanan mental, keajaiban taktis, dan gairah yang tak terpadamkan ini terukir dalam sejarah sebagai bukti bahwa dalam sepak bola, skor berapa pun tidak pernah aman hingga peluit akhir berbunyi.

Berikut adalah 10 comeback terbaik dan paling dramatis yang pernah disaksikan dunia.

  • Keajaiban Istanbul: Liverpool 3-3 (penalti 3-2) AC Milan (2005)

Final Liga Champions di Istanbul ini dianggap oleh banyak orang sebagai comeback terhebat sepanjang masa. AC Milan, yang dipenuhi bintang seperti Paolo Maldini, Andrea Pirlo, Kaká, dan Andriy Shevchenko, memimpin 3-0 di babak pertama. Penampilan Liverpool di paruh pertama yang sangat buruk membuat para penggemar mereka di seluruh dunia merasa putus asa.

Namun, semua berubah dalam enam menit yang luar biasa di babak kedua. Kapten legendaris Steven Gerrard memulai kebangkitan dengan gol sundulan pada menit ke-54. Semangat tim langsung tersulut. Dua menit kemudian, Vladimír Šmicer mencetak gol kedua dari luar kotak penalti. Puncaknya, pada menit ke-60, Gerrard dijatuhkan di kotak terlarang, menghasilkan penalti. Xabi Alonso mengeksekusinya, sempat ditepis Dida, namun bola pantul berhasil disambar Alonso menjadi gol. Skor menjadi 3-3.

Xabi Alonso menjebol gawang AC Milan yang dijaga Dida. Kredit: Stadium Astro

Setelah sisa babak kedua dan perpanjangan waktu yang menegangkan (termasuk penyelamatan ganda luar biasa dari Jerzy Dudek), pertandingan berlanjut ke adu penalti. Kemenangan 3-2 di adu penalti mengamankan trofi Liga Champions bagi The Reds, mengubah kekalahan yang memalukan menjadi salah satu kisah paling heroik dalam sejarah olahraga.

  • La Remontada: Barcelona 6-1 Paris Saint-Germain (2017)

Setelah dihancurkan 4-0 oleh PSG di Parc des Princes pada leg pertama, tugas Barcelona di Camp Nou tampak mustahil. Tidak ada tim dalam sejarah kompetisi yang pernah bangkit dari defisit empat gol di leg pertama.

Misi dimulai dengan baik, Barcelona mencetak tiga gol melalui Luis Suárez, gol bunuh diri Layvin Kurzawa, dan penalti Lionel Messi. Namun, gol tandang dari Edinson Cavani pada menit ke-62 mengubah segalanya. Barcelona membutuhkan tiga gol lagi hanya untuk lolos. Dengan waktu hampir habis, drama pun mencapai klimaksnya.

Pemain Barcelona merayakan keunggulan setelah peluit tanda berakhirnya pertandingan. Kredit: The Independent

Pada menit ke-88, Neymar mencetak gol tendangan bebas yang indah. Dua menit kemudian, ia mencetak penalti lagi. Skor 5-5. Pada menit ke-90+5, Neymar mengirim umpan lambung yang menemukan pemain pengganti, Sergi Roberto, yang meluncur untuk mencetak gol kemenangan. Kemenangan 6-1 (agregat 6-5) ini diberi julukan “La Remontada” (Sang Kebangkitan), menjadikannya salah satu keajaiban terbesar di Camp Nou.

  • The Treble Triumph: Manchester United 2-1 Bayern Munich (1999)

Final di Camp Nou ini adalah puncak dari musim luar biasa Manchester United. Mereka tertinggal 1-0 sejak menit keenam melalui tendangan bebas Mario Basler. Meskipun mendominasi, United kesulitan menembus pertahanan Bayern Munich. Dengan tiga menit waktu tambahan yang ditunjukkan wasit, trofi tampak pasti akan menuju ke Jerman.

Pada menit ke-90+1, dari tendangan sudut David Beckham yang dikonversi menjadi gol oleh pemain pengganti, Teddy Sheringham, skor menjadi 1-1. Stadion meledak, namun drama belum berakhir. Hanya dua menit kemudian, dari tendangan sudut Beckham lainnya, Sheringham menyundul bola ke jalur pemain pengganti kedua, Ole Gunnar Solskjær, yang menyontek bola ke gawang dari jarak dekat.

Ole Gunnar Solskjær merayakan gol penentu kemenangan atas Bayer Munich di final Liga Champion, 1999. Kredit: Manchester United.

Gol pada menit ke-90+3 itu tidak hanya memenangkan Final Liga Champions, tetapi juga mengamankan Treble (Liga Primer, Piala FA, Liga Champions) bagi Manchester United. Para pemain Bayern Munich yang putus asa terlihat menangis di lapangan, menyadari betapa kejamnya takdir sepak bola.

  • Keajaiban Anfield: Liverpool 4-0 Barcelona (2019)

    Setelah kekalahan 3-0 di Camp Nou, termasuk dua gol brilian dari Lionel Messi, Liverpool berada dalam posisi yang sangat genting, diperburuk dengan absennya Mohamed Salah dan Roberto Firmino karena cedera.

    Di leg kedua, atmosfer Anfield yang terkenal mulai bekerja. Divock Origi mencetak gol awal pada menit ke-7, memberikan percikan harapan. Pemain pengganti di babak kedua, Georginio Wijnaldum, menjadi pahlawan tak terduga dengan mencetak dua gol cepat dalam waktu 122 detik, menyamakan agregat menjadi 3-3.

    Pemain Liverpool merayakan kemenangan setelah menyingkirkan Barcelona lewat comeback yang dramatis di Anfield, 2019. Kredit: This is Anfield

    Momen penentu datang pada menit ke-79. Bek muda Trent Alexander-Arnold melihat pertahanan Barcelona yang lengah dan mengambil tendangan sudut cepat, yang dengan sigap disambar Origi untuk gol keempat. Gol yang cerdik dan berani ini menyegel kemenangan 4-0 dan kelolosan ke final dengan agregat 4-3. Ini menjadi sebuah pencapaian yang oleh banyak penggemar dijuluki “keajaiban Anfield kedua”.

    • Super Dépor: Deportivo La Coruña 4-0 AC Milan (2004)

    AC Milan yang sedang dalam performa puncaknya, datang ke Estadio Riazor setelah menang 4-1 di San Siro. Mereka dianggap sudah mengamankan tiket semifinal.

    Namun, Deportivo, dijuluki Super Dépor, menampilkan babak pertama yang fenomenal. Gol dari Walter Pandiani (menit ke-5), Juan Carlos Valerón (menit ke-35), dan Albert Luque (menit ke-44) membuat skor 3-0 di babak pertama, menyamakan agregat 4-4 dengan keunggulan gol tandang.

    Laga Deportivo La Coruña vs AC Milan di Liga Champion, 2004. Kredit: X.com/bet365

    Kapten Fran González mencetak gol keempat pada menit ke-76, mengakhiri comeback yang luar biasa itu. Kemenangan agregat 5-4 atas juara bertahan Eropa adalah sebuah pencapaian yang mengejutkan, membuktikan bahwa bahkan tim yang paling mapan sekalipun bisa runtuh di bawah tekanan.

    • The Great Escape: Newcastle United 4-4 Arsenal (2011)

    Arsenal memimpin 4-0 di St James’ Park setelah hanya 26 menit bermain, melalui dua gol Robin van Persie dan dua gol dari Theo Walcott dan Johan Djourou. Banyak penggemar Newcastle yang meninggalkan stadion pada jeda.

    Titik baliknya datang ketika Abou Diaby diusir pada menit ke-50. Meskipun dengan 10 pemain, Arsenal tampak masih nyaman hingga Newcastle mencetak gol dari penalti Joey Barton pada menit ke-68. Gol cepat dari Leon Best dan penalti Barton lagi membuat skor menjadi 4-3 dengan 10 menit tersisa.

    Pada menit ke-87, gelandang Pantai Gading yang telah meninggal, Cheick Tioté, mencetak gol penyeimbang yang menakjubkan dengan tendangan voli roket dari luar kotak penalti. Hasil imbang 4-4 tersebut terasa seperti kemenangan monumental bagi The Magpies, dan menjadi salah satu momen paling berkesan dalam sejarah Liga Primer.

    • The Miracle of Bern: Jerman Barat 3-2 Hungaria (1954)

    Di final Piala Dunia ini, Hungaria adalah favorit kuat yang dikenal sebagai “Tim Emas”. Mereka tak terkalahkan selama empat tahun dan sudah mengalahkan Jerman Barat 8-3 di fase grup. Hungaria memimpin 2-0 dalam delapan menit pertama.

    Di tengah hujan lebat di Bern, Jerman Barat yang tidak diunggulkan, menyamakan kedudukan dengan cepat melalui gol dari Max Morlock dan Helmut Rahn. Drama berlangsung hingga akhir, ketika Helmut Rahn mencetak gol ketiganya pada menit ke-84, memastikan kemenangan 3-2 yang menakjubkan. Kemenangan ini, yang disebut “Keajaiban Bern”, lebih dari sekadar trofi; itu adalah momen pembentukan kembali identitas Jerman setelah Perang Dunia II.

    Timnas Jerman merayakan kemenangan sekaligus menjadi juara Piala Dunia 1954 setelah menyingkirkan tim unggulan, Hungaria. Kredit: The Guardian
    • The Impossible Dream: AS Roma 3-0 Barcelona (2018)

      Sama seperti Liverpool setahun kemudian, Roma menghadapi defisit 4-1 yang hampir tidak dapat diatasi setelah leg pertama. Mereka membutuhkan skor 3-0 di kandang melawan tim Barcelona yang dipimpin oleh Ernesto Valverde.

      Sejak peluit dibunyikan, Roma menyerang dengan penuh semangat. Gol awal dari Edin Džeko pada menit ke-6 membangkitkan Stadio Olimpico. Daniele De Rossi mencetak gol penalti di babak kedua. Ketegangan memuncak hingga menit ke-82, ketika bek Yunani, Kostas Manolas, menyundul masuk bola dari sepak pojok. Kemenangan 3-0 tersebut (agregat 4-4) memastikan Roma lolos berkat keunggulan gol tandang, mengirimkan gelombang kejut ke seluruh Eropa dan menjadi salah satu malam terhebat dalam sejarah klub.

      • Tottenham Hotspur 3-2 Ajax (2019)

      Tottenham Hotspur sudah tertinggal 1-0 di leg pertama di kandang, dan situasi memburuk di Amsterdam. Ajax memimpin 2-0 di babak pertama leg kedua, menjadikan agregat 3-0.

      Namun, di babak kedua, The Spurs bangkit berkat aksi heroik dari Lucas Moura. Penyerang Brasil itu mencetak dua gol cepat untuk menjadikan skor 2-2. Di sisa waktu yang hampir habis, Moura menjadi pahlawan absolut. Pada menit ke-90+6, dia mencetak gol ketiganya dari situasi kemelut, menyelesaikan hat-trick dan memastikan kemenangan 3-2 (agregat 3-3). Tottenham lolos ke final pertama mereka dengan aturan gol tandang dalam comeback yang sensasional.

      Tottenham Hotspur merayakan kemenangan atas Ajax pada leg ke-2 Semifinal Liga Champion di kandang Ajax, Amsterdam Arena, pada 2019. Kredit: Getty Images
      • Reading 5-7 Arsenal (2012)

      Meskipun bukan Liga Champions atau final Piala Dunia, pertandingan ini adalah sebuah kegilaan murni yang mencerminkan semangat comeback yang luar biasa. Klub Divisi Championship, Reading, memimpin Arsenal 4-0 di Madejski Stadium setelah hanya 37 menit.

      Arsenal mulai mengejar di babak kedua, namun Reading masih memimpin 4-2 hingga menit ke-89. Di sinilah drama tak masuk akal dimulai. Theo Walcott mencetak gol pada menit ke-89 dan kemudian mencetak gol lagi di menit ke-90+6 (meskipun hanya empat menit injury time yang ditunjukkan). Skor 4-4 memaksa perpanjangan waktu.

      Di masa perpanjangan waktu, Reading kembali unggul 5-4, tetapi Arsenal mencetak tiga gol lagi, dengan Marouane Chamakh mencetak gol penentu kemenangan 7-5. Comeback dari defisit empat gol ini adalah yang pertama dalam sejarah Arsenal dan menjadi pertandingan Piala Liga dengan skor tertinggi, sebuah anomali total dalam dunia sepak bola.

      Total
      0
      Shares
      Tinggalkan Balasan

      Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

      Prev
      Merindukan Partai Ideologis

      Merindukan Partai Ideologis

      Di meja kopi politik, obrolan tentang pemilu selalu seru

      Next
      FOMO Terbaik adalah Membaca Buku

      FOMO Terbaik adalah Membaca Buku

      Di tengah pusaran media sosial yang menuntut validasi instan, kita hidup dalam

      You May Also Like
      Total
      0
      Share