Orang Kiri di Balik Penemuan Total Football

Di balik mitologi sepak bola modern, ada sosok yang jarang disebut namun jejaknya terasa hingga kini: Gusztáv Sebes, pelatih Hungaria yang melahirkan tim legendaris Magical Magyars.

Dialah arsitek, yang dengan tangan organisator buruh dan pikiran ideolog kiri, merancang sebuah revolusi taktik yang kelak dikenal dunia sebagai total football.

Anak tukang sepatu, menteri olahraga

Sebes lahir di Budapest pada 22 Januari 1906, sebagai putra seorang tukang sepatu. Masa mudanya dihabiskan sebagai aktivis serikat buruh, sebuah latar yang kelak membentuk pandangan politiknya. Di sela-sela aktivitasnya, ia juga bermain bola. Ia pernah bermain di Vasas SC. Saat bekerja sebagai montir di pabrik Renault di Billancourt, ia juga bermain untuk klub pabrik itu: Club Olympique Billancourt.

Sekembalinya ke Hongaria pada 1920-an, ia bermain untuk MTK Hungária FC. Di sana rekan setimnya antara lain Jenő Kálmár dan Pál Titkos, yang kelak menjadi asisten Sebes. Rekan lainnya termasuk Luliu Baratky dan Ferenc Sas. Selama berada di MTK, ia membantu klub itu menjuarai Liga Hongaria sebanyak tiga kali dan meraih satu gelar Piala Hongaria.

Setelah Perang Dunia II, ia dipercaya menjadi Deputy Minister for Sport di bawah rezim komunis Hungaria. Dari posisi itu, ia bukan sekadar pelatih, melainkan juga pejabat negara yang melihat sepak bola sebagai panggung ideologi.

Magical Magyars, julukan untuk Timnas Hungaria, pada 1950-an. Di depan/jongkok: Mihály Lantos, Ferenc Puskás, Gyula Grosics. Belakang/berdiri: Gyula Lóránt, Jenő Buzánszky, Nándor Hidegkuti, Sándor Kocsis, József Zakariás, Zoltán Czibor, József Bozsik, László Budai

Prestasi sepak bolanya mencengangkan. Di awal 1950-an, Hungaria tak terkalahkan dalam 24 pertandingan beruntun. Puncaknya terjadi pada 25 November 1953, ketika timnya menghancurkan Inggris 6-3 di Wembley, sebuah laga yang dijuluki Match of the Century. Nama-nama seperti Ferenc Puskás, Sándor Kocsis, dan Nándor Hidegkuti menjadi legenda, tetapi di balik mereka berdiri Sebes, sang dalang taktik.

Meski gagal di final Piala Dunia 1954 setelah kalah 2-3 dari Jerman Barat, warisan Sebes tetap monumental. Ia membuktikan bahwa sepak bola bisa menjadi laboratorium sosial, tempat ideologi diuji dalam gerakan kolektif di lapangan.

Sosialis di lapangan hijau

Sebes adalah sosialis yang taat. Baginya, sepak bola bukan sekadar hiburan, melainkan cerminan masyarakat yang ia cita-citakan: kolektif, egaliter, saling menutupi kekurangan. Ia menyebut gaya timnya sebagai sepak bola sosialis, di mana setiap pemain harus mampu menggantikan posisi lain, dan kemenangan lahir dari kerja sama, bukan individualisme.

”Pertarungan sengit antara kapitalisme dan komunisme bukan hanya terjadi di antara masyarakat kita, tetapi juga di atas lapangan,” kata Sebes.

Gusztáv Sebes sedang jongkok menyaksikan sebuah pertandingan. Kredit: Alchetron

Pandangan politik ini membuatnya cocok dengan otoritas komunis Hungaria. Ia dipercaya karena sepak bolanya selaras dengan ideologi negara: menekankan kolektivitas, disiplin, dan pengabdian pada tujuan bersama. Namun, Sebes bukan sekadar alat propaganda. Ia benar-benar percaya bahwa politik bisa diterjemahkan menjadi taktik.

Filosofi permainan: Cikal bakal total football

Di lapangan, Sebes menolak kekakuan formasi klasik WM yang dipakai Inggris. Ia merancang sistem 4-2-4 dengan posisi cair, di mana pemain bebas bertukar peran. Hidegkuti berperan sebagai penyerang bayangan yang turun ke lini tengah, Puskás menjadi playmaker, bek sayap maju menyerang, dan ada sweeper yang menjaga di depan lini belakang.

Filosofi ini menekankan bahwa setiap pemain harus serba bisa. Tidak ada batas tegas antara bek, gelandang, dan penyerang. Semua bergerak, saling menutup ruang, dan saling mengisi. Inilah prinsip yang kelak diadopsi Rinus Michels dan Johan Cruyff di Belanda sebagai total football.

Sebes, dengan bahasa politiknya, menyebutnya sebagai “kolektivitas di lapangan.” Michels kemudian menyempurnakan dan mempopulerkannya, tetapi benihnya jelas berasal dari Budapest. Bahkan, pengaruh Sebes terasa hingga kini dalam taktik modern: pressing tinggi, fluiditas posisi, dan penekanan pada kerja tim.

Ironisnya, meski timnya dianggap salah satu yang terhebat sepanjang masa, Sebes tidak pernah meraih trofi Piala Dunia. Kekalahan dari Jerman Barat di Bern 1954 menjadi luka sejarah. Namun, justru kegagalan itu membuatnya tetap berada di pinggiran mitologi sepak bola, sosok yang dihormati tetapi tidak pernah sepenuhnya diakui.

Sebuah mural di kota Budapest bergambar pertandingan dan skor di Wembley, ketika Hungaria menaklukkan Inggris dengan skor 6-3, pada 1953. Kredit:  N E O P A I N T W O R K S

Sebes kemudian jatuh dalam bayang-bayang politik. Setelah 1957, ia tersingkir dari panggung utama. Namun, bagi para pecinta taktik, ia tetap dikenang sebagai “godfather of hipster football”, seorang pelatih yang lebih dihargai karena ide-idenya ketimbang trofi.

Penutup

Gusztáv Sebes adalah bukti bahwa sepak bola tidak pernah netral. Ia menjahit ideologi ke dalam taktik, menjadikan lapangan hijau sebagai cermin masyarakat yang ia impikan. Dari tangan seorang aktivis buruh lahirlah sistem permainan yang mengubah dunia.

Ketika Belanda memperkenalkan total football pada 1970-an, dunia bersorak. Namun jauh sebelumnya, di Budapest yang bergejolak, seorang sosialis bernama Sebes sudah menuliskan blueprintnya. Ia mungkin kalah di Bern, tetapi dalam sejarah, ia menang: orang kiri yang menemukan total football.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Ibu dan Bayinya Meninggal Ditolak 4 RS, Tragedi Pilu di Tanah Kaya Papua

Ibu dan Bayinya Meninggal Ditolak 4 RS, Tragedi Pilu di Tanah Kaya Papua

Di tanah kaya emas, tembaga, gas alam, minyak bumi, dan keanekaragaman hayati

Next
Minat Baca Gen Z dan Harapan Indonesia Maju
You May Also Like
Total
0
Share