Ramang, Kisah Legenda Sepak Bola Indonesia

Sepak bola Indonesia punya cerita yang merentang panjang. Jauh sebelum era Liga 1 yang hiruk-pikuk dan drama naturalisasi yang selalu menjadi trending topic, ada satu periode emas yang mungkin terlewat oleh generasi sekarang.

Di era 1950-an sampai awal 1970-an, Tim Nasional (Timnas) kita sempat bikin ciut nyali tim-tim Asia! Kita pernah merebut medali perunggu Asian Games, bahkan selalu menembus perempat final di 1966 dan 1970.

Di balik kejayaan singkat itu, ada satu nama yang jadi mitos dan legenda sejati: Ramang (1924-1987). Kalau Brasil punya Pelé dan Argentina harum namanya berkat Diego Maradona, Indonesia punya Ramang. Dia merupakan satu-satunya pemain sepak bola Indonesia yang masuk FIFA legends.

Duel paling epik: Menahan raksasa Uni Soviet

Ramang memang tak pernah menyumbang gelar juara buat Timnas Garuda. Tapi dia adalah pemain paling krusial dalam laga terbesar sepanjang sejarah Garuda! Momen itu terjadi di perempat final Olimpiade Melbourne 1956.

Indonesia yang saat itu dilatih tactician Yugoslavia, Antun “Tony” Pogacnik, bertemu Uni Soviet, raksasa Eropa yang akhirnya membawa pulang medali emas. Apa yang terjadi? Uni Soviet yang diisi pemain-pemain kelas dunia, termasuk kiper legendaris Lev Yashin, dipaksa bermain imbang 0-0 oleh Indonesia! Itu duel tersulit mereka.

Tim nasional Indonesia pada tahun 1954 asuhan Tony Pogacnik . Berdiri, dari kiri: Kwee Kiat Sek, Ramlan Yatim, M Sidhi, Mursanjoto, Tan Liong Houw, Chaeruddin Siregar. Jongkok, dari kiri: Kho Thiam Gwan, Ramang, M Rasyid, Jusuf Siregar, Soegiono. Kredit: Kenang-Kenangan 50 Tahun PSSI

Selain kiper kita, Maulwi Saelan, yang tampil kesetanan dengan 20 penyelamatan, Ramang adalah kuncinya. Pogacnik mengandalkan Ramang dalam taktik transisi serangan balik cepat. Meskipun cuma sempat mencatatkan dua tembakan ke gawang, dua tembakan itu memaksa Yashin, kiper terbaik dunia saat itu, berjibaku melakukan penyelamatan. Sungguh gila!

Bermula dari sepak raga

Ramang lahir di Barru, kota yang berjarak sekitar 102 km dari kota Makassar, pada 24 April 1924. Bapaknya, Nyo’lo, dikenal sebagai pemain sepak raga yang andal.

Keahlian itulah yang menurun pada Ramang. Waktu masih kecil, ia kerap bermain sepak raga dengan rotan, kain yang digulung, atau kulit jeruk. Karena keahlian bermain sepak raga itu, ia dipanggil untuk bermain sepak bola di klub lokal.

Hingga, pada 1944, setelah kematian anaknya, ia dan keluarganya pindah ke Ujung Pandang (sekarang Makassar). Di sana, demi menyabung hidup, ia kadang menjadi tukang becak, kernek truk, hingga buruh angkut di pelabuhan.

Di sela-sela waktu senggangnya, ia bermain bola. Karena skill bermain bolanya di atas rata-rata, Ramang dipanggil untuk bermain bersama Persatuan Sepak Bola Induk Sulawesi Selatan (Persis). Bersama Persis, nama Ramang menjadi buah bibir dan berkibar.

Suatu hari, dalam pertandingan Persis versus Nan Hwa Makassar, Ramang menjadi bintang lapangan. Ia menyumbang tiga gol (hattrick) dalam kemengangan 9-0 Persis atas Nan Hwa Makassar.

Pertandingan inilah yang mengubah jalan hidupnya. Dari situ, Ramang direkrut PSM dan membawa klub “Juku Eja” itu masuk ke periode emas pertamanya. Ia mempersembahkan empat gelar Kejurnas PSSI (cikal bakal Liga Perserikatan) antara 1957 hingga 1966. PSM jadi klub paling sukses di Indonesia saat itu, berkat trisula maut yang diisi Ramang bersama Suardi Arlan dan Noorsalam. Trio penyerang ini, hingga kini, masih dianggap sebagai yang terbaik yang pernah dimiliki PSM.

Bermain di Timnas

Tampil menakjubkan bersama PSM Makassar, Ramang dipanggil PSSI pada 1953 untuk memperkuat Timnas. Di bawah kendali pelatih Indonesia asal Singapura, Choo Seng Quee, Ramang mulai membawa nama Indonesia harum di persaingan sepak bola Asia.

Kecepatan dan keahlian melakukan tendangan salto membuat Ramang dicatat sebagai pemain ikonik. Ini bukan klaim lokal. FIFA sendiri mencatat dan mengakui ciri khas Ramang ini.

Tur perdana Ramang bersama Garuda adalah Tur Hong Kong 1953. Ia langsung menggila. Bersama Djamiat dan Tee San Liong, mereka membentuk trisula Garuda terbaik yang pernah ada. Bayangkan, dalam tur Asia (Filipina, Hong Kong, Thailand), Ramang menyumbang 16 gol dari total 30 gol Timnas! Ia langsung dijuluki “Macan Bola”.

Menolak tawaran kontrak “milaran” di luar negeri

Kecemerlangan Ramang di PSM membawanya masuk Timnas pada 1953. Di bawah pelatih asal Singapura, Choo Seng Quee, Ramang dipatenkan sebagai deep-lying forward, tugasnya bebas berkeliaran mencari bola di pertahanan lawan.

Nah, di sini letak kesetiaan Ramang yang luar biasa. Berkat performa itu, ia dilirik tokoh sepak bola Hong Kong yang juga Sekjen AFC, Lee Wai Tong. Ramang ditawari kontrak untuk membela tim All Hong Kong dengan gaji 400 dollar Hong Kong dan fasilitas dua stel pakaian per tahun. Tawaran ini, termasuk tawaran lain dari Singapura pada 1955, ditolak mentah-mentah oleh Ramang.

Ramang merasa jerih payahnya di lapangan hijau telah terbayar lunas. Ia merasa lebih bersyukur dengan sambutan meriah dari masyarakat Indonesia yang memadati jalanan dari Bandara Kemayoran menuju Istana Merdeka setelah kepulangannya bersama kawan-kawan dari Tur Hong Kong. Sebuah gestur yang menunjukkan bahwa kehormatan bangsa lebih berharga daripada kontrak profesional. Ramang pun urung mencetak sejarah sebagai pemain profesional Indonesia pertama yang berkarier di luar negeri

Ramang, legenda PSM Makassar dan Timnas Indonesia. Kredit: Butol Post

Rekor gol dunia

Setelah Olimpiade 1956, Ramang menjadi bintang utama di kualifikasi Piala Dunia Swedia 1958. Ia mencetak empat gol dan menjadi top scorer di zona Asia. Sebelumnya belum ada pemain Indonesia lain yang mampu menyamai prestasi sang “Macan Bola” itu hingga saat ini.

Sayang seribu sayang, karier Ramang di Timnas harus tamat secara mendadak dan mengecewakan pada pertengahan 1958. Ia tersingkir dari skuad Asian Games 1958, sebuah keputusan yang membuatnya sangat kecewa dan menolak kembali membela Garuda.

Ketika ditanya wartawan Kompas pada 1973 berapa gol yang ia cetak untuk Timnas, Ramang menjawab: “Lebih kurang 100 gol.” Meskipun di eranya belum ada pencatatan statistik yang rapi, angka ini sudah cukup menjelaskan betapa tajamnya ia.

Kontroversi dan warisan abadi

Ramang tak luput dari kontroversi. Ia pernah dua kali dituduh menerima suap (1954 dan 1961), yang membuatnya diskors dari aktivitas sepak bola. Namun, kedua hukuman itu dicabut karena ia tak terbukti bersalah.

Di sela masa skors kedua, Ramang mulai melatih anak-anak muda di Makassar. Murid-muridnya kelak menjadi bintang Timnas era 1970-an, seperti Ronny Pattinasarany dan Suaib Rizal.

Setelah gantung sepatu pada 1968, Ramang melanjutkan karier sebagai pelatih-pembina. Meskipun tidak pernah mau ikut pelatihan pelatih profesional (ia bilang pengetahuannya hanya dari pengalaman di lapangan), tangan dinginnya terbukti sukses. Ia pernah membawa PSBI Blitar Putra menembus putaran nasional Kejurnas PSSI 1973, dan Persipal Palu ke babak delapan besar Kejuaraan Nasional PSSI 1975.

Ramang wafat pada 26 September 1987. Ia adalah pesepak bola pertama yang prestasinya diakui negara dengan dianugerahi “Bintang Emas”. Namanya adalah warisan terbesar sepak bola kita.

Ramang bukan cuma tentang statistik atau gelar. Ia adalah kisah tentang seorang yang berangkat dari bawah, pernah berjibaku sebagai tukang becak, kernet truk, bahkan kuli angkut demi menyambung hidup, menjelma menjadi pemain sepak bola yang bersinar di Asia dan dunia. Dia adalah legenda abadi sepak bola Indonesia.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Gelombang Solidaritas Palestina di Berbagai Belahan Dunia

Gelombang Solidaritas Palestina di Berbagai Belahan Dunia

“Tragedi terbesar bukanlah penindasan dan kekejaman oleh orang-orang

Next
Konsep Tentara Rakyat ala Amir Sjarifuddin

Konsep Tentara Rakyat ala Amir Sjarifuddin

Bicara soal konsep pertahanan, ada satu tokoh yang tak boleh dilupakan

You May Also Like
Total
0
Share