Jepang, negara yang dikenal dengan inovasi teknologi dan budaya disiplin, kini menjadi raksasa sepak bola di Asia. Dari yang dulunya tidak diperhitungkan, Timnas Jepang, yang dijuluki “Samurai Blue” telah empat kali menjuarai Piala Asia (1992, 2000, 2004, 2011) dan secara konsisten lolos ke Piala Dunia sejak 1998, bahkan mencapai babak 16 besar empat kali (2002, 2010, 2018, 2022).
Kemajuan ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari proyek ambisius: rencana 100 tahun untuk membangun budaya sepak bola dari nol, dengan fokus pada akar rumput, komunitas lokal, dan pengembangan talenta.
Video dokumenter “Japanese Football-Inside the J.League’s 100-Year Vision” oleh The Global Game mengungkap bagaimana Jepang merevolusi sepak bolanya, dari jalanan Tokyo hingga stadion di Nagasaki, sambil menyoroti perpaduan antara tradisi Jepang dan semangat global.
Sebelum 1990-an, sepak bola Jepang berada di pinggiran. Tim nasional belum pernah lolos ke Piala Dunia, dan liga domestik dikuasai oleh perusahaan-perusahaan dengan basis semi profesional. Fan culture hampir tidak ada, dan permainan lebih mirip hobi daripada olahraga kompetitif.
Semuanya berubah pada 1992 ketika Japan Football Association (JFA) membentuk J.League, liga profesional pertama yang resmi bergulir pada 1993. Ini adalah tonggak revolusi: dari 10 tim awal, kini J.League mencakup 60 tim di tiga divisi (J1, J2, J3), dengan J2 saja sudah dianggap salah satu liga terbaik di Asia.
Rencana 100 tahun JFA menargetkan Jepang menjadi juara Piala Dunia pada 2050, dengan strategi holistik yang mencakup pengembangan infrastruktur, pendidikan, dan integrasi komunitas.
Salah satu kunci utama adalah penanaman budaya sepak bola di tingkat lokal. Dalam video itu, storyteller sekaligus pendiri The Global Game, Markus Blumenfeld, menjelajahi Tokyo, kota terbesar di dunia dengan 40 juta penduduk, di mana sepak bola menjadi “taman bermain” bagi semua kalangan. Dalam video, Blumenfeld menekankan bagaimana proyek sepak bola Jepang menekankan akar komunitas ketimbang komersialisasi, seperti dalam pertarungan promosi, akademi pemuda, dan sepak bola jalanan.
Blumenfeld bersama kawannya, menjelajahi Kota Tokyo: juggling di gang sempit, trading pass di lapangan beton di belakang apartemen, dan bermain bola di lapangan dengan latar Gunung Fuji
Ia bersama kawannya, Kai, seorang penggemar yang menekankan bagaimana orang Jepang mencintai permainan ini karena perhatian terhadap detail. ”Di Jepang, mereka mencintai permainan ini, mereka suka menguasai teknik tertentu. Perhatian terhadap detail dalam gaya hidup Jepang berlaku untuk sepak bola. Mereka suka mempelajari yang terbaik dan mengambil teknik itu untuk diri mereka sendiri,” ujar Kai.
Blumenfeld juga mengunjungi Toko 4BFC di Tokyo, di mana Takashi Ogami, pendiri majalah Shukyu, membahas bagaimana sepak bola dan fashion bisa menyatu dan menjadi medium untuk mengekspresikan kultur Jepang. Masyarakat Jepang yang terorganisir, pekerja keras, dan disiplin tercermin dalam sepak bola. Semuanya terencana, terorganisir rapi, dan dijalankan dengan penuh dedikasi.
Di Nagasaki, Blumenfeld menyaksikan pertandingan V-Varen Nagasaki vs Mito HollyHock di J2, di mana sang pemenang mendapat promosi. Stadion sudah penuh sesak empat jam sebelum kick-off, dengan suporter dari segala usia, dari lansia hingga anak kecil, ikut bernyanyi dan melompat tanpa henti. Atmosfernya intens, tapi aman dan ramah bagi keluarga dan disabilitas, berbeda dengan ultras Eropa yang sering didominasi kelompok muda fanatik dan mudah tersulut konflik. Kemenangan 2-1 Nagasaki memicu ledakan emosi, menunjukkan bagaimana klub mewakili identitas kota. Ini sesuai visi J.League: klub harus berakar di komunitas, bukan sekadar bisnis. Hasilnya, sepak bola Jepang tumbuh organik, dengan dukungan massa yang loyal.
Pengembangan talenta muda menjadi fondasi kuat. Di Osaka, Blumenfeld mengunjungi akademi Cerezo Osaka, pabrik talenta yang melahirkan bintang seperti Shinji Kagawa dan Takumi Minamino. Direktur Olahraga Martin Williams menjelaskan bagaimana pemain Jepang dihargai di Eropa karena keterampilan teknis, kekuatan fisik, dan kemampuan mengikuti instruksi. “Mereka mekar seperti bunga sakura,” katanya, merujuk warna pink klub yang melambangkan pertumbuhan. Sistem pendidikan Jepang berperan besar: kejuaraan sepak bola SMA sangat kompetitif dan menjadi jalur utama bagi pemain pro. Banyak anggota Samurai Blue berasal dari sistem ini, di mana teknik diasah sejak dini.
Kombinasi akademi klub dan sekolah menghasilkan pemain seperti Takefusa Kubo, Kaoru Mitoma, Wataru Endo, dan Yukinari Sugawara yang kini bersinar di liga-liga top Eropa seperti Real Sociedad, Brighton, Liverpool, dan AZ Alkmaar.
Prestasi timnas mencerminkan kemajuan ini. Debut Piala Dunia 1998 di Prancis menjadi inspirasi, meski kalah di fase grup. Sejak itu, Jepang selalu lolos ke putaran final, dengan pencapaian terbaik mengalahkan Jerman dan Spanyol di Piala Dunia 2022.
Di level Asia, mereka dominan, dan J.League menarik pemain asing seperti Hulk dan Dunga, yang kemudian sukses di panggung global.
Rahasia sukses: perpaduan mental samurai—disiplin dan kerja tim—dengan teknik modern. JFA mengalokasikan sumber daya besar untuk akar rumput, termasuk kerjasama internasional untuk pengembangan wasit dan sepak bola wanita.
Kemajuan Jepang mengajarkan bahwa sepak bola bukan hanya soal bakat, tapi sistem. Dengan 33 tahun berlalu dari rencana 100 tahun, Jepang sudah menjadi “cahaya Asia” di sepak bola.
Masa depan cerah: lebih banyak pemain Jepang bermain di liga-liga Eropa, infrastruktur lebih baik, dan mimpi juara dunia semakin dekat. Ini bukan sekadar olahraga, tapi bagian dari identitas nasional yang membanggakan.










