Kabar itu datang tanpa aba-aba, seperti kilat yang membelah langit tenang. Pada 24 Maret 2026, Mohamed Salah mengumumkan melalui sebuah video singkat di akun media sosialnya.
Berdiri di depan koleksi trofinya selama mengenakan jersey Liverpool, ia menyampaikan akan meninggalkan Liverpool di akhir musim 2025/2026. Sembilan tahun, 255 gol, tujuh trofi besar. Dan kini, semuanya akan berakhir.
“Sayangnya, hari itu telah tiba,” ujar Salah dalam pesannya. “Ini adalah bagian pertama dari perpisahan saya. Saya akan meninggalkan Liverpool di akhir musim ini.”
Kepergiannya terasa lebih dramatis karena hanya setahun sebelumnya, ia baru saja menandatangani perpanjangan kontrak dua tahun. Namun musim 2025/2026 menjadi satu musim yang sarat turbulensi: konflik terbuka dengan pelatih Arne Slot, sempat dipinggirkan dari skuad utama, hingga pernyataan pedas bahwa klub “telah menjadikannya kambing hitam.” Meski demikian, semua gesekan itu tidak mampu menghapus apa yang telah dibangunnya selama hampir satu dekade bersama The Reds.
Liverpool melepasnya sebagai agen bebas (free agent), sebuah keputusan yang lebih menyerupai kehormatan ketimbang perpisahan biasa. Seperti kata Robertson, wakil kapten yang selama bertahun-tahun berlari di sisi kirinya: “Kamu layak mendapat perpisahan yang mencerminkan statusmu di LFC sebagai pemain terhebat. Tak ada yang menandinginya.”
Mo dan Liverpool
Ada nama-nama yang terpatri selamanya dalam sejarah sebuah klub sepak bola. Di Liverpool, ada Bill Shankly, Kenny Dalglish, Steven Gerrard. Dan kini, untuk selamanya, ada Mohamed Salah.
Sejak menginjakkan kaki di Anfield pada musim panas 2017, Salah bukan sekadar pemain baru yang datang dari AS Roma seharga 34 juta pound. Ia adalah fenomena yang mengubah wajah Liverpool secara fundamental.
Di bawah asuhan Jürgen Klopp, Salah menjadi mesin gol yang tak tertandingi di Eropa: pernah mencetak 32 gol dalam satu musim Premier League saja (2017/2018), memecahkan rekor yang bertahan hingga hari ini sebagai torehan terbanyak dalam satu musim 38 pertandingan.
Bersama Liverpool, Salah meraih semua yang bisa dimenangkan: Liga Champions (2019), dua gelar Premier League (2020 dan 2025), FA Cup (2022), dua League Cup, Piala Dunia Antarklub, dan UEFA Super Cup. Tujuh trofi besar, empat Golden Boot, dua penghargaan Pemain Terbaik Premier League. Ia juga menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Premier League bagi pemain asing, dan pencetak gol terbanyak sepanjang masa di Liga Champions untuk pemain Afrika.
Saat perpisahan tiba, Salah tercatat sebagai pencetak gol terbanyak ketiga dalam sejarah Liverpool, di belakang legenda abadi Ian Rush dan Roger Hunt. Nama-nama yang bahkan bagi penggemar fanatik sekalipun, butuh waktu puluhan tahun untuk disebut dalam napas yang sama. Salah melakukannya dalam sembilan tahun.
Anak desa bermimpi besar
Untuk memahami Mo Salah, kita harus kembali ke sebuah desa kecil bernama Nagrig di Basyoun, Governorat Gharbia, Mesir. Di sanalah, pada 15 Juni 1992, seorang anak laki-laki dari keluarga menengah lahir ke dunia, seorang anak yang menurut siapa pun yang melihatnya saat itu, tampak biasa-biasa saja. Kecuali ketika ia memegang bola.
Salah kecil bukan murid yang menonjol. Ia kesulitan menyeimbangkan buku pelajaran dengan bola di kakinya, dan bola selalu menang. Idolanya bukan bintang lokal, melainkan Zinedine Zidane dan Ronaldo, nama-nama besar yang ia tonton di layar televisi kecil rumahnya, lalu ia tirukan gerakannya di jalanan Nagrig bersama teman-teman dan saudaranya.
Pada usia 14 tahun, sebuah momen kecil mengubah segalanya. Seorang pencari bakat dari Al Mokawloon, klub papan atas di Kota Kairo, datang untuk mengamati anak lain bermain. Tapi matanya justru teralihkan ke seorang bocah lincah yang bergerak dengan kecepatan dan kecerdasan yang tak lazim untuk usianya. Salah pun diajak bergabung.
Dan di sinilah kisah dramatis itu dimulai.
Nagrig berjarak lebih dari 130 kilometer dari fasilitas latihan Al Mokawloon di Kairo. Bagi keluarga kelas menengah tanpa mobil pribadi, jarak itu berarti perjalanan melelahkan menggunakan tiga, empat, bahkan lima kali pergantian bus. Setiap hari, lima kali seminggu, selama bertahun-tahun.
Salah bangun sebelum fajar. Masuk sekolah dari pukul 07.00 hingga 09.00—hanya dua jam—lalu bergegas ke halte bus dengan bekal makan siang yang disiapkan ibunya. Ia tiba di lapangan sekitar pukul 14.00, berlatih hingga pukul 18.00, lalu pulang dan sampai di Nagrig menjelang tengah malam. Makan, tidur, dan besoknya diulang lagi.
“Itu adalah masa yang sulit,” kenangnya suatu hari. “Tapi aku muda dan aku ingin menjadi pesepak bola.”
Di lapangan latihan, ada momen kecil yang mengungkap siapa Salah sesungguhnya. Saat masih bermain sebagai bek kiri dalam sebuah laga uji coba, timnya menang telak 4-0. Tapi Salah tidak ikut bersukacita. Ia menangis di ruang ganti—bukan karena kalah, tapi karena ia tidak mencetak satu pun gol. Pelatihannya terkejut, lalu mengambil keputusan: bocah ini harus bermain di depan.
Keputusan itu kelak mengubah sejarah sepak bola dunia.
Dari bayangan Chelsea ke tahta Anfield
Perjalanan Salah menuju puncak bukanlah jalan lurus. Setelah mencuri perhatian di Al Mokawloon dan membawa Timnas U-23 Mesir mengalahkan FC Basel 4-3 dalam sebuah laga persahabatan, klubnya itu langsung merekrutnya. Di Swiss, Salah bersinar dengan memenangkan gelar liga dan mendapat pengakuan sebagai pemain terbaik Swiss Super League.
Penampilannya di Liga Champions melawan Chelsea, ia menggocek dan membobol gawang klub Inggris, memancing Chelsea untuk langsung menandatanganinya seharga 11 juta pound. Ini seharusnya jadi momen besar. Nyatanya, ini menjadi babak paling menyakitkan dalam kariernya.
José Mourinho hampir tidak pernah memainkannya. Salah duduk di bangku cadangan, tersenyum kecut menyaksikan orang lain berlari di lapangan yang seharusnya menjadi panggungnya. Dipinjamkan ke Fiorentina, kemudian ke Roma, ia perlahan menemukan kembali dirinya. Di bawah naungan serigala Italia, segalanya mekar.
Di Roma, Salah menjadi bintang. Ia mencetak 34 gol dan memberi 13 assist dalam satu musim, membawa Roma nyaris merebut gelar Serie A. Angka-angka itu cukup untuk memancing Jürgen Klopp, pelatih Liverpool yang sedang membangun dinasti baru di Anfield. Pada musim panas 2017, dengan harga 34 juta pound, Salah kembali ke Inggris: kali ini bukan sebagai pemain pinggiran, melainkan sebagai bintang utama.
Raja Anfield dan trio maut
Jika ada satu era yang akan dikenang selamanya dalam sejarah modern Liverpool, itu adalah era Klopp dengan trio penyerang Salah-Mané-Firmino. Trio ini mencetak 338 gol di semua kompetisi selama bermain bersama.
Sadio Mané dengan kegarangannya, Roberto Firmino dengan kepintaran tanpa golnya yang tetap esensial, dan Mohamed Salah dengan kecepatan serta ketajaman yang membuat kiper-kiper Premier League bermimpi buruk. Mereka adalah tiga dimensi serangan yang sempurna: saling melengkapi, saling mendorong, saling menemukan.
Musim 2017/2018 menjadi musim debut Salah yang tak akan terlupakan sepanjang masa. Ia mencetak 32 gol dalam satu musim Premier League. Ia menciptakan 44 gol di semua kompetisi. Rekor demi rekor tumbang. Liverpool melaju hingga final Liga Champions, meski akhirnya kalah dari Real Madrid di Kiev, sebuah momen pahit yang justru menjadi bahan bakar untuk kebangkitan musim berikutnya.
Tahun 2019 menjadi puncak dari segalanya. Liverpool memenangkan Liga Champions, mengalahkan Tottenham Hotspur 2-0 di Madrid. Salah mencetak gol pembuka lewat penalti di menit kedua. Di stadion yang mewah itu, ia berlutut dan bersujud, sementara para penonton di seluruh dunia menyaksikannya.
Setahun kemudian, Liverpool mengakhiri penantian 30 tahun untuk merebut gelar Premier League. Anfield menangis. Dan Salah, sang Raja Mesir, berdiri di tengah-tengahnya.
Menepis Islamophobia
Ada dimensi lain dari kisah Mohamed Salah yang melampaui lapangan hijau, yang bahkan lebih penting dari setiap gol yang pernah ia cetak.
Inggris, terutama pasca-serangan teroris 2017 dan Brexit, adalah negeri yang tengah bergulat dengan ketegangan identitas. Islamofobia meningkat tajam. Survei YouGov menemukan bahwa 60 persen masyarakat Inggris pada 2015-2017 percaya bahwa Islam “bertentangan dengan nilai-nilai Britania.” Di Merseyside sendiri, angka kejahatan berbasis kebencian cukup tinggi.
Lalu Salah datang. Ia bukan Muslim yang bersembunyi. Ia bukan pemain yang memilih netral demi popularitas. Setiap kali mencetak gol, ia berlutut dalam sujud—berdahi ke tanah, dalam doa syukur yang ia lakukan dengan tenang dan tulus di hadapan puluhan ribu penonton. Putrinya bernama Makka. Istrinya memakai kerudung di tribun. Ia berpuasa Ramadan di tengah jadwal pertandingan padat. Dan ia tetap menjadi pemain terbaik di dunia.
Sesuatu yang luar biasa kemudian terjadi.
Riset dari Stanford University, yang menganalisis data kejahatan di 25 departemen kepolisian Inggris serta 15 juta tweet dari penggemar sepak bola, menemukan bahwa setelah Salah bergabung dengan Liverpool, angka kejahatan berbasis kebencian di Merseyside turun hingga 16 persen. Lebih dari itu, tweet anti-Muslim dari penggemar Liverpool turun hingga separuhnya dibanding penggemar klub-klub lain.
Suporter Liverpool bahkan menciptakan nyanyian yang kini melegenda: “If he scores another few, then I’ll be Muslim too… sitting in the mosque, that’s where I wanna be!” Kalimat yang, beberapa tahun sebelumnya, tak terbayangkan akan terdengar dari tribun stadion sepak bola Inggris.
Para peneliti menyimpulkan bahwa Salah memperkenalkan Islam kepada jutaan orang yang sebelumnya tidak pernah memiliki pengalaman positif dengan agama itu. Mereka melihat seorang ayah yang gembira di pinggir lapangan, seorang teman yang bercanda dengan rekan setimnya, seorang pria yang berdoa dengan tulus. Dan semua stereotip tentang “Muslim yang mengancam” perlahan runtuh.
Ia tidak perlu berpidato. Ia tidak perlu menjadi aktivis. Ia cukup menjadi dirinya sendiri.
Lebih dari sekadar legenda
Mohamed Salah akan pergi. Itu sudah pasti. Ke mana, belum diketahui. Meskipun Saudi Arabia disebut-sebut, tapi agennya sendiri mengatakan belum ada keputusan. Yang pasti, ketika pintu Anfield tertutup untuk terakhir kalinya, ia meninggalkan warisan yang jarang dimiliki seorang pesepak bola.
Ia membuktikan bahwa seorang bocah dari desa kecil di Mesir, yang rela melewati perjalanan panjang dan melelahkan demi sebuah mimpi, bisa berdiri di puncak sepak bola dunia. Ia membuktikan bahwa kesempatan yang dibuang Chelsea bisa menjadi takdir besar di Anfield. Ia membuktikan bahwa identitas agama dan kebesaran sepak bola bukan hal yang bertentangan; keduanya bisa berdampingan, bahkan saling memperkuat.
“Liverpool bukan sekadar klub sepak bola,” kata Salah dalam pesannya yang mengharukan. “Ini adalah semangat, sejarah, jiwa yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata kepada mereka yang bukan bagian dari klub ini.”
Mo Salah mungkin pergi. Tapi The Egyptian King akan selamanya tinggal di Anfield, dalam setiap kenangan, setiap gol yang diputar ulang, setiap sujud yang tersimpan dalam ingatan jutaan orang yang pernah menyaksikannya berlari di bawah cahaya lampu sorot Anfield, dengan bola di kaki dan doa di hati.










