Cara Kuba Bertahan dari Krisis dan Blokade Ekonomi

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali bersikap agresif terhadap Kuba. Di bawah kendalinya, Washington melanjutkan ambisi perubahan rezim dengan cara memblokade ekonomi dan sumber energi yang menyebabkan krisis kemanusiaan yang sangat parah.

Tindakan AS tersebut merupakan pola historis yang telah mengakar hampir tujuh dekade lalu. Ketika kelompok revolusioner Fidel Castro berhasil menjungkal rezim diktator sayap kanan tahun 1959, sejak itu Washington tak pernah berhenti mencekik negara Karibia itu.

Meski krisis yang terjadi sekarang lebih dalam, namun bukan mustahil Kuba mampu keluar dari ketidakstabilan. Masa lalunya telah memberikan banyak pengalaman. Tulisan ini ingin menunjukkan peristiwa historis spesifik pada awal 1990-an yang perlu mendapatkan sorotan tentang bagaimana Kuba beradaptasi dan bertahan dari blokade imperialisme AS yang memiliki pengaruh hingga sekarang.

Masa “periode khusus”

Ketika Uni Soviet runtuh tahun 1991, Kuba kehilangan 80 persen pasar impor dan ekspor, baik di bidang energi, pangan, dan mesin. Di satu sisi, blokade AS yang dimulai pada tahun 1961 semakin menguat, negeri itu memberlakukan Undang-Undang Torricelli 1992 dan Undang-Undang Helms-Burton 1996 yang memperketat blokade dan embargo hubungan ekonomi terhadap Kuba. Setiap kapal yang berlabuh di perairan Kuba dilarang masuk ke AS. Makanan dan perlengkapan medis untuk Kuba dihentikan. Bisnis asing yang beroperasi di Kuba dilarang masuk ke AS. Akses Kuba ke modal asing lumpuh. Tidak ada transaski keuangan antara AS-Kuba.

Akibatnya, Kuba terjerumus dalam krisis yang amat dalam. PDB anjlok 35 persen dalam kurun waktu tiga tahun, produksi pertanian Kuba turun sebesar 47 persen, konstruksi turun sebesar 74 persen. Kurangnya impor bahan bakar melumpuhkan industri, kapasitas manufaktur turun drastis hingga 90 persen. Terjadi pemadaman listrik yang panjang secara nasional. Transportasi rakyat dibatasi bergerak di jalanan. Untuk mendapatkan makanan, rakyat Kuba kadang perlu antrean panjang. Asupan kalori menurun, sementara kelaparan dan kekurangan gizi meningkat. Tahun-tahun yang buruk ini dikenal dengan “periode khusus” (Fidel Castro menyebutnya “periode khusus dalam masa damai”). Tapi Kuba tidak pernah tunduk pada keinginan Washington, sebaliknya mereka melakukan banyak inovasi.

Pertanian organik perkotaan

Kuba sebelumnya menggunakan cara revolusi hijau dalam menjalankan pertanian, sebuah sistem yang memanfaatkan bahan bakar fosil secara besar-besaran dalam bentuk pupuk berbasis gas alam, pestisida berbasis minyak, dan bahan bakar diesel untuk traktor dan mesin. Sistem ini pada dasarnya bermasalah karena membentuk ketergantungan pangan pada bahan impor dan tidak berorientasi pada pertanian lokal. Sehingga dalam kondisi normal sekali pun, sistem itu tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar pangan secara memadai dan tidak memuaskan rakyat Kuba. Masalah semakin nyata ketika bahan bakar dan suku cadang untuk traktor semakin tipis sejak “periode khusus”, sehingga pertanian tidak produktif dan terjadi kelangkaan pangan.

Pemerintah Kuba dan komunitas rakyat tani mencegah kelaparan melalui inovasi gerakan pertanian perkotaan. Rakyat Kuba secara kolektif membangun komunitas pertanian dalam masa krisis pangan ini. Setiap lahan kosong di kota dan setiap rumah warga yang memiliki lahan lebih diubah menjadi lahan buah-buahan dan kebutuhan pangan yang lain. Sistem itu berbiaya jauh lebih murah daripada sebelumnya karena berbasis lokal. Ini cara yang tampak konvensional karena dengan teknologi yang tidak begitu canggih. Tetapi karena keterikatan antarkomunitas warga dan dukungan negara, membuat cara itu mendapatkan hasil yang baik. Seluruh kota yang ada di Kuba akhirnya menggunakan cara yang sama, hingga menghasilkan produktivitas pangan lokal yang tinggi. Selain itu, sistem baru itu juga mendorong stimulasi ekonomi yang lain karena menciptakan lapangan kerja yang cukup besar.

Dalam beberapa tahun, pertanian organik perkotaan menjadi masa transisi secara nasional ke pendekatan pertanian yang tidak bergantung pada bahan bakar fosil. Sejak itu, 80 persen produksi pertanian Kuba adalah organik. Hubungan warga dengan tanah menjadi lebih ramah dan subur. Mereka menggunakan kompos organik yang tidak merusak tanah. Tahun 1980-an Kuba pernah menggunakan hingga 21 ribu ton pestisida kimia, tapi sejak pertanian organik, Kuba hanya menggunakan 1.000 ton, 20 kali lipat lebih sedikit. Pertanian beralih menggunakan biopestisida dan pupuk hayati yang lebih bernutrisi. Tentu saja itu lebih baik bukan hanya untuk tanah yang berkelanjutan, tapi untuk kesehatan warga Kuba sendiri.

Untuk meningkatkan produksi pangan, pemerintah Kuba bekerja sama dengan koperasi-koperasi tani yang dikelola secara mandiri. Sebanyak 40 persen lahan tani yang sebelumnya dikuasai oleh negara, dibagi-bagi untuk rakyat. Puluhan ribu hektare lahan disewakan dengan harga lebih murah, bahkan tidak berbiaya untuk petani miskin. Tanah yang diberikan oleh negara tersebut wajib dikerjakan dengan baik, jika tidak maka bisa ditarik kembali dan dibagi ke petani yang lain. Petani yang mengerjakan tanahnya mendapatkan akses kredit murah untuk membeli kebutuhan produksi pertanian. Pembagian tanah dengan rasa kepemilikan menyebabkan peningkatan produktivitas yang tinggi. Bahkan hingga mampu memasok makanan gratis untuk para lansia, lembaga penitipan anak, untuk sekolah, dan perempuan hamil.

Program pertanian organik ini masih berlangsung hingga sekarang sebagai pilar kedaulatan pangan, terutama dalam menghadapi keterbatasan bahan bakar dan krisis ekonomi yang terus terjadi karena isolasi.

Penghematan humanistik

Dalam masa krisis, umumnya negara-negara lain menggunakan pemangkasan anggaran untuk layanan sosial. Ketika anggaran negara mengering pada awal 1990-an, pemerintah Kuba melakukan “penghematan humanistik” dengan tetap mempertahankan pendidikan dan akses kesehatan gratis universal. Pengeluaran negara yang dipotong adalah untuk pertahanan, juga memangkas birokrasi dan kementerian yang tidak begitu penting. Tapi porsi anggaran untuk layanan sosial dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan transportasi justru meningkat.

Porsi PDB yang dialokasikan untuk pengeluaran kesejahteraan sosial meningkat 29 dan 13 persen dari tahun 1990 hingga 1994. Hingga pertengahan 1990-an, Kuba menghasilkan lulusan tenaga medis baru hingga 15 ribu, sehingga rasio dokter-pasien setara dengan 202 penduduk. Meski dalam kondisi sulit, yang terjadi justru angka kematian anak menurun, dan harapan hidup sedikit meningkat dari 75 tahun pada 1990 menjadi 75,6 tahun pada 1999. Kesehatan warga yang membaik terjadi karena selain tim medis yang bekerja dengan maksimal, didorong juga dengan gaya hidup rakyat Kuba yang telah berubah: peningkatan jalan kaki dan bersepeda onthel yang mengurangi penyakit tubuh, pola makan yang bernutrisi dengan sayuran lokal karena pertanian organik.

Di bidang transportasi, jalan raya umum dan jalan pedesaan hampir kosong dengan lalu-lalang transportasi karena kekurangan bahan bakar. Tapi pemerintah Kuba bertahan dengan menggunakan truk kanopi tua dan camel bus yang diubah menjadi transportasi umum massal. Di pusat kota seperti Havana, berbagi tumpangan kendaraan adalah hal yang lumrah, bahkan mobil pemerintah digunakan sebagai mobil penjemputan warga. Sementara di kota-kota kecil, khususnya di area pedesaan, warga Kuba beralih menggunakan kuda dan keledai untuk transportasi.

Energi alternatif

Pada awal “periode khusus”, 95 persen warga Kuba terhubung dan menggunakan jaringan listrik nasional yang sebagian besar adalah bergantung pada impor energi fosil yang kotor. Sementara kemampuan dalam negeri Kuba untuk menghasilkan energi hanya sedikit dan tak mampu produksi sesuai permintaan, sehingga masih mengalami pemadaman listrik yang berkepanjangan.

Pada tahun 2000-an awal, pemerintah Kuba mulai mengejar strategi pembangunan alternatif dengan investasi pada energi terbarukan. Mengembangkan jaringan energi seperti panel surya yang prioritas awalnya adalah untuk klinik/rumah sakit dan sekolah. Di beberapa desa, panel surya bahkan sudah mampu diberikan ke kelompok komunitas dan rumah-rumah warga. Selain menggunakan energi panel surya, Kuba juga menggunakan limbah tanaman untuk menghasilkan energi listrik. Cara ini dikenal dengan sumber energi terbarukan biomassa.

Dengan energi terbarukan tersebut, pemerintah Kuba mampu menghasilkan 30 persen tenaga listrik. Tentu saja itu sangat membantu di tengah kesulitan energi. Di satu sisi, energi terbarukan menjadi permulaan untuk memasuki industri bioteknologi sehingga memungkinkan Kuba untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Komitmen Kuba untuk beralih ke energi terbarukan bukan semata karena faktor blokade minyak, melainkan juga untuk menjaga kelangsungan hidup umat manusia dari eksploitasi energi kotor. Kuba telah menarget transisi energi terbarukan hingga tahun 2030.

Apa yang dilakukan Kuba pada masa “periode khusus” menunjukkan komitmen pembangunan yang memprioritaskan perkembangan dan kesejahteraan manusia. Karena itulah, Kuba mendapatkan banyak dukungan dan kesediaan partisipasi dari rakyatnya sendiri. Bahkan hingga sekarang, saat sedang berhadapan dengan Donald Trump.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Mo Salah dalam Catatan Sejarah Liverpool

Mo Salah dalam Catatan Sejarah Liverpool

Kabar itu datang tanpa aba-aba, seperti kilat yang membelah langit tenang

Next
Anne Hathaway: Dari Hollywood ke Arena Advokasi Sosial

Anne Hathaway: Dari Hollywood ke Arena Advokasi Sosial

Di antara banyak nama besar Hollywood yang menghiasi panggung aksi sosial, Anne

You May Also Like
Total
0
Share