Saya lelah bukan karena tidak mengerti bahwa perubahan membutuhkan waktu, tetapi karena sebagai warga negara saya terus-menerus diminta sabar tanpa pernah dilibatkan secara adil. Sabar menghadapi kebijakan yang lahir tanpa penjelasan, sabar menerima kenaikan beban hidup yang disebut “konsekuensi”, sabar melihat hukum bekerja keras ke bawah namun begitu lunak ke atas.
Kesabaran diproduksi sebagai kebajikan publik, padahal sering kali ia hanya menjadi bahasa sopan untuk menunda tanggung jawab kekuasaan.
Dalam demokrasi, kesabaran seharusnya beriringan dengan akuntabilitas, namun yang terjadi justru sebaliknya. Kesabaran dipisahkan dari hak untuk bertanya, mengkritik, bahkan marah. Ketika warga bersuara, mereka dicap tidak dewasa, tidak nasionalis, atau tidak memahami situasi. Negara meminta kepercayaan, tetapi enggan membuka proses, meminta pengertian tetapi menutup akses partisipasi. Di titik ini, sabar bukan lagi pilihan moral, melainkan tuntutan politik yang timpang.
Kelelahan ini bersifat struktural. Ia lahir dari pola yang berulang: janji perubahan setiap siklus kekuasaan, krisis yang selalu dibebankan ke warga, dan narasi stabilitas yang terus mengorbankan keadilan. Maka menolak untuk terus sabar bukanlah tindakan subversif, melainkan upaya mempertahankan martabat kewargaan. Sebab warga negara bukan objek yang ditenangkan, melainkan subjek yang berhak menuntut negara bekerja dengan jujur, terbuka, dan bertanggung jawab.
Kenaikan harga kebutuhan pokok hampir selalu datang tanpa jeda empati. Ia diumumkan lewat angka, tabel, dan istilah teknokratis yang dingin, seolah beban hidup warga hanyalah variabel statistik. Ketika protes muncul, jawabannya seragam: ini dampak situasi global, ini konsekuensi pasar, ini demi menjaga stabilitas. Tidak pernah ada penjelasan jujur tentang pilihan kebijakan apa yang diambil, siapa yang dilindungi, dan siapa yang sengaja dibiarkan menanggung risiko paling berat. Warga diminta memahami, tanpa pernah diajak ikut menentukan.
Dalam pelayanan publik, kesabaran kembali dijadikan prasyarat tak tertulis. Sabar menghadapi antrean panjang, sistem yang sering bermasalah, dan aparatur yang berlindung di balik prosedur. Keluhan dianggap gangguan, bukan masukan. Ketika pelayanan gagal, selalu ada kalimat penutup yang sama: masih dalam proses, masih dikaji, mohon dimaklumi. Bahasa ini terdengar netral, padahal ia bekerja efektif untuk menunda perbaikan dan menghapus rasa bersalah institusi. Warga diposisikan sebagai pihak yang harus menyesuaikan diri, bukan yang berhak dilayani dengan layak.
Hukum pun tak luput dari pola yang sama. Ketimpangan penegakan hukum dibungkus dengan narasi kehati-hatian dan profesionalisme, tetapi hasilnya mudah ditebak. Kasus kecil ditangani cepat dan keras, sementara pelanggaran besar berjalan lambat atau menguap. Ketika publik bertanya, jawaban yang muncul adalah proses hukum harus dihormati. Kalimat ini benar secara normatif, tetapi menjadi problematis ketika proses itu sendiri tertutup, selektif, dan tidak pernah benar-benar akuntabel.
Anggaran negara yang seharusnya menjadi cermin keberpihakan, sering kali disajikan sebagai dokumen teknis yang sulit diakses dan sengaja dijauhkan dari percakapan warga. Program dipoles dengan istilah efisiensi dan prioritas nasional, sementara pemotongan atau pemborosan jarang dijelaskan secara terbuka. Lagi-lagi, warga diminta sabar menunggu dampak, sabar percaya bahwa semua akan terasa manfaatnya nanti. Seolah-olah keterbukaan adalah bonus, bukan kewajiban.
Berhenti menerima bahasa kekuasaan apa adanya adalah sebuah sikap sunyi yang penting namun tegas. Bukan dengan teriakan, bukan dengan mobilisasi emosional, melainkan dengan kesadaran kolektif bahwa kata-kata seperti “demi stabilitas”, “situasi global”, dan “masih dikaji” harus selalu diikuti pertanyaan: stabilitas untuk siapa, globalitas yang mana, dan dikaji oleh siapa. Menolak untuk terus sabar tanpa penjelasan adalah bentuk kewargaan yang paling mendasar. Ia tidak spektakuler, tetapi ia menjaga martabat. Dan, dari kesadaran sunyi, tuntutan yang lebih adil bisa perlahan menemukan suaranya.










