Mengapa 25 Persen dari Populasi Bisa Membuat Perubahan?

Tahun 1990-an, siulan atau komentar terhadap lawan jenis di tempat umum atau catcalling dianggap lumrah, tetapi sekarang dianggap sebagai pelecehan seksual dan bisa dihukum. Tiga dekade lalu, Hari Buruh masih dianggap perayaan komunis dan dilarang, tetapi sekarang sudah menjadi hari libur resmi negara dan dirayakan semua kalangan. Dulu rasisme dianggap lumrah, sekarang ditolak di mana-mana.

Ada banyak hal yang berubah, terkadang tidak begitu kita sadari. Apa yang dulu dianggap tabu, dilarang keras, tiba-tiba sekarang diterima dan dirayakan. Sesuatu yang dulunya hanya disuarakan minoritas orang, yang perjuangannya kadang dianggap mustahil, tiba-tiba menjadi nyata sekarang. Dan kita tiba-tiba bertanya, “kok bisa ya sampai ke titik ini?”

Sebuah studi baru memberikan jawaban yang cukup mengejutkan soal bagaimana minoritas yang gigih bisa mengubah cara pandang mayoritas. Studi ini dipublikasikan di jurnal Science dan menjelaskan eksperimen online yang ingin mengukur berapa persentase minimum dari populasi yang dibutuhkan oleh kelompok minoritas agar bisa “menggoyang” opini mayoritas. Jawabannya, cukup 25 persen saja.

Reformasi 1998 digerakkan oleh kelompok kecil gerakan mahasiswa dan kaum muda yang militan dan berpikiran radikal. Kredit: Kompas.com/Repro foto karya Firman Hidayatullah

Ketika kelompok minoritas mencapai atau sedikit melampaui angka itu, mereka bisa “mengonversi” antara 72 persen sampai 100 persen dari anggota kelompok lain untuk mengikuti pandangan mereka. Padahal sebelumnya, semua anggota kelompok itu sepakat 100 persen pada pandangan awal.

“Ini bukan soal elite kecil yang punya sumber daya besar,” kata Arnout van de Rijt, seorang sosiolog dari Universitas Utrecht, Belanda yang meneliti jaringan sosial dan aksi kolektif, tapi tidak terlibat dalam riset ini. “Ini tentang minoritas yang berusaha mengubah status quo—dan berhasil karena mereka konsisten. Mereka terus-menerus menunjukkan perilaku baru itu sampai orang lain mulai ikut-ikutan.”

Temuan ini bisa jadi relevan banget buat konteks Indonesia hari ini—dari gerakan anti-oligarki, kampanye kesetaraan gender, sampai tuntutan lingkungan hidup yang sering dianggap “enggak populer” atau “terlalu minor”. Selama ini kita sering berpikir, “Gerakan ini terlalu kecil untuk bikin perubahan.” Tapi ternyata, kalau kelompok kecil itu gigih, konsisten, dan terorganisasi, mereka bisa jadi motor perubahan sosial yang besar.

Eksperimen ini dipimpin oleh Damon Centola, profesor dari Annenberg School of Communications di Universitas Pennsylvania. Mereka melibatkan 194 partisipan yang dibagi secara acak ke dalam 10 kelompok-kelompok kecil, masing-masing berisi 20–30 orang. Di langkah pertama, tiap anggota kelompok ditunjukkan gambar wajah dan diminta memberikan nama untuk wajah itu. Mereka kemudian berinteraksi satu sama lain secara bergiliran sampai semua sepakat pada satu nama.

Langkah kedua, Centola dan timnya mulai memasukkan “beberapa orang dalam kelompok yang sengaja ditugaskan untuk menantang kesepakatan itu dengan mengusulkan nama baru yang berbeda.” Awalnya mereka coba dengan model 15 persen minoritas, lalu naik perlahan sampai 35 persen. Hasilnya? Di angka 15 persen, tidak ada perubahan. Norma yang disepakati tetap bertahan bahkan sampai minoritas mencapai 24 persen.

Tapi begitu mencapai angka 25 persen, semuanya berubah. Kelompok minoritas yang hanya berjumlah seperempat dari populasi bisa membuat seluruh kelompok berganti pandangan. Jika kurang dari 25 persen, rata-rata mereka hanya bisa mengubah 6 persen orang. Dan ini, kata Centola, membantah teori ekonomi klasik yang sudah dipercaya selama 100 tahun. “Model ekonomi klasik bilang bahwa kalau mau mengubah sebuah kesepakatan sosial, kamu butuh dukungan 51 persen. Tapi hasil ini menunjukkan bahwa minoritas kecil bisa sangat efektif, bahkan ketika mayoritas awalnya menolak pandangan mereka.”

Model komputer yang mereka buat juga menunjukkan bahwa efek 25 persen ini masih berlaku bahkan untuk populasi yang lebih besar dari 100 ribu orang.

Tapi syaratnya tetap: interaksi antaranggota harus cukup intens. Kalau kelompoknya terisolasi satu sama lain, atau ada “minoritas tandingan” yang juga aktif, maka efeknya bisa berkurang. Apalagi kalau ada perlawanan aktif—seperti troll di media sosial, buzzer, atau kelompok konservatif yang langsung menyerang gagasan baru dengan kata-kata seperti “melawan adat” atau “berbahaya bagi stabilitas”.

Aksi gerakan perempuan menuntut pengesahan RUU penghapusan kekerasan seksual. Kredit: Robby Fathan/Jurnalposmedia

“Ini pelajaran penting,” tambah Centola, yang bulan ini juga merilis buku How Behavior Spreads: The Science of Complex Contagions. “Di angka 24 persen—sedikit di bawah ambang batas—efeknya hampir enggak terasa. Dan buat kelompok minoritas yang sedang berjuang menciptakan perubahan, hal ini bisa terasa sangat bikin putus asa.” Saat semangat mulai menurun, biasanya muncul kecenderungan untuk menyerah, kata Centola. Padahal mereka mungkin cuma tinggal sedikit lagi mencapai massa kritis, dan tidak tahu saja.

Meski ada hambatan, model Centola tetap menunjukkan bahwa tipping point-nya masih jauh di bawah 50 persen.

Ada beberapa konteks yang cocok banget buat dinamika kelompok seperti ini, salah satunya adalah tempat kerja. “Lingkungan kerja itu pas banget buat eksperimen semacam ini,” kata Centola. “Soalnya di kantor, orang menghabiskan banyak waktu untuk berkoordinasi dengan orang lain, dan mereka cenderung meniru kebiasaan atau norma yang berlaku karena ingin terlihat sebagai pekerja yang baik. Di situ efek minoritas bisa sangat kuat kalau mereka konsisten ingin mengubah budaya perusahaan.”

Satu lagi tempat yang sangat subur untuk efek 25 persen ini, yakni dunia online. Di internet, orang punya interaksi besar-besaran dengan banyak orang—termasuk yang tak dikenal. Ini memunculkan pertanyaan baru yang agak rumit: Apakah bot bisa berperan sebagai bagian dari kelompok minoritas yang gigih? Atau, bisakah kelompok minoritas itu campuran antara bot dan orang sungguhan yang dipengaruhi bot, sehingga sebenarnya perubahan sosialnya digerakkan oleh bot?

Menurut Centola, jawabannya: “Kalau kamu ada di ruang di mana orang tak bisa membedakan mana manusia mana bot, ya bisa saja. Kalau ada upaya serius dan terkoordinasi dari sekelompok agen yang memperjuangkan pandangan minoritas, mereka bisa sangat efektif.”

Greta Thunberg memulai aksi Skolstrejk för klimatet (mogok sekolah untuk iklim) pada 2018. Kelak, aksi ini menginspirasi aksi internasional bernama Fridays for Future yang melibatkan 2-3 juta orang di seluruh dunia. Kredit: Wikipedia

Emily Erikson, sosiolog dari Yale yang juga meneliti jaringan sosial (tapi tidak terlibat dalam studi ini), melihat riset ini juga sebagai semacam peringatan. “Dalam arti tertentu, studi ini menunjukkan bahwa suara-suara ekstrem bisa dengan cepat mendominasi wacana publik,” katanya. “Mungkin justru karena kita tahu hal itu bisa terjadi, kita bisa lebih waspada.”

Buat konteks Indonesia, ini pelajaran penting. Apakah itu gerakan petani dan masyarakat adat yang mempertahankan hak-haknya, aksi menolak tambang yang merusak lingkungan, gerakan anak muda yang peduli iklim, gerakan anti-korupsi, atau gerakan yang menentang dominasi oligarki, atau gerakan perempuan yang memperjuangkan kesetaraan gender. Jangan pernah meremehkan minoritas kecil yang militan, terorganisir, dan ideologis, bisa jadi mereka sedang mendekati titik kritis. Dan kalau angka 25 persen itu tercapai, sejarah baru bisa tercipta dan dunia bakal berganti rupa.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Greta Thunberg dan Misi Kemanusiaan Menembus Blokade Gaza

Greta Thunberg dan Misi Kemanusiaan Menembus Blokade Gaza

Greta naik kapal layar Madleen yang dioperasikan oleh koalisi aktivis Freedom

Next
Sukarno dan Perjuangan Kelas

Sukarno dan Perjuangan Kelas

Tapi benarkah begitu?

You May Also Like
Total
0
Share