Cara Platform Digital Mendorong Minat Baca Gen Z

Selama bertahun-tahun, generasi (gen) Z kerap diposisikan jauh dari tradisi literasi. Muncul berbagai pesimisme terhadap dunia buku: revolusi digital dianggap menandai berakhirnya era buku cetak, sementara platform digital dituding sebagai penyebab merosotnya budaya membaca. Namun faktanya, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Data terbaru dari berbagai lembaga riset menunjukkan sesuatu yang mengejutkan. Gen Z justru membaca lebih banyak dari yang pernah diasumsikan, dan di balik kebangkitan ini ada satu kekuatan yang tidak terduga: platform digital.

Fakta-fakta positif

Survei Portland State University untuk American Library Association menemukan bahwa 61 persen dari gen Z dan milenial membaca setidaknya satu buku dalam setahun terakhir, baik membaca buku cetak, digital, maupun audiobook. Lebih jauh, 57 persen di antara mereka menyebut diri mereka sebagai “pembaca.”

Survei Wattpad yang dirilis akhir 2024 memperkuat gambaran ini: 55 persen responden gen Z mengaku membaca sekali seminggu atau lebih, dan 40 persen membaca setiap hari. Bahkan 35 persen melaporkan bahwa intensitas membaca mereka meningkat dibandingkan dua tahun sebelumnya.

Di Indonesia, data BPS menunjukkan indeks minat baca nasional naik dari 66,77 persen pada 2023 menjadi 72,44 persen pada 2024. Lonjakan ini tidak terjadi di ruang hampa, tetapi berkorelasi langsung dengan meledaknya komunitas literasi digital di platform seperti TikTok dan Instagram.

BookTok: Ketika algoritma mempromosikan buku

Tidak ada fenomena yang menjelaskan kebangkitan membaca gen Z lebih baik dari BookTok, komunitas di TikTok di mana para pengguna membuat video ulasan, rekomendasi, dan respons emosional terhadap buku yang mereka baca.

Angkanya luar biasa. Per 2024, tagar #booktok telah menembus 226 miliar tayangan global. Ini bukan sekadar komunitas kecil penggemar buku, melainkan sudah menjadi fenomena budaya berskala massal. Di Inggris, dampaknya langsung terasa di rak toko buku: setengah dari 10 buku terlaris Dymocks Australia setiap minggunya adalah judul-judul yang sedang viral di TikTok. Total penjualan industri penerbitan Inggris mencapai 6,9 miliar poundsterling, dengan 669 juta buku terjual, rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Di Indonesia, penelitian yang diterbitkan dalam The Eastasouth Journal of Social Science and Humanities (2025) mengonfirmasi bahwa fenomena BookTok memiliki dampak nyata terhadap transformasi kebiasaan membaca gen Z Indonesia. Sub-komunitas BookTok dan Bookstagram (di Instagram) bersama-sama mengubah wajah literasi dari aktivitas akademik menjadi tren sosial yang sangat interaktif.

Paradoks buku fisik di era digital

Satu temuan yang paling membingungkan para analis, meski gen Z hidup di era layar, mereka justru mencintai buku fisik. Survei Book Riot menemukan bahwa hanya 14 persen penjualan buku di kalangan gen Z merupakan e-book. Sisanya, buku cetak.

Mengapa? BookTok sendiri punya andil besar. Estetika buku, mulai dari sampul yang cantik, susunan rak, “book haul” atau pamer tumpukan buku baru, menjadi konten visual yang sangat menarik di TikTok dan Instagram. Memiliki buku fisik bukan lagi sekadar soal membaca; ia telah menjadi bagian dari identitas dan ekspresi diri.

Fenomena ini juga mendorong kebangkitan toko buku independen dan perpustakaan. Di berbagai negara, perpustakaan publik kini ramai kembali. Bukan hanya sebagai tempat meminjam buku, tapi sebagai ruang sosial yang aman dan tenang. Data menunjukkan 54 persen gen Z mengunjungi perpustakaan fisik dalam 12 bulan terakhir, angka yang sama dengan populasi dewasa umum.

Di Indonesia, berdasarkan data Perpustakaan Nasional (Perpusnas), pengunjung Perpusnas tahun 2025 dibandingkan dengan 2024 mengalami peningkatan, dari 11.516 pengunjung di 2024 meningkat menjadi 13.835 pengunjung di 2025.

Mengapa itu terjadi?

Yang membuat BookTok berbeda dari kampanye literasi konvensional adalah sifatnya yang organik dan emosional. Para kreator tidak mempromosikan buku dengan cara yang kering dan instruktif.

Mereka menangis karena ending yang tragis, membuat thread analisis karakter yang panjang, dan menciptakan tren seperti “buku yang bikin saya tidak bisa tidur” atau “buku yang mengubah cara saya melihat dunia.”

Pendekatan ini menyentuh sesuatu yang mendasar dalam psikologi gen Z: kebutuhan akan validasi sosial dan identitas komunitas. Riset dari Portland State University menekankan bahwa identitas sebagai “pembaca” pada gen Z terbentuk bukan hanya dari aktivitas membaca itu sendiri, melainkan dari partisipasi dalam komunitas—book club, BookTok, Bookstagram. Membaca menjadi sesuatu yang dilakukan bersama-sama, bukan sendirian dalam sunyi.

Selain itu, algoritma TikTok yang sangat personal memungkinkan rekomendasi buku menjangkau pengguna yang tepat pada waktu yang tepat. Seseorang yang baru saja menonton video tentang romansa fantasi akan segera mendapat rekomendasi lima buku berikutnya yang perlu dibaca—jauh lebih efisien dari sistem rekomendasi perpustakaan mana pun.

Gen Z Indonesia: Tren yang sedang tumbuh

Di Indonesia, Jakpat dalam laporannya awal 2025 mencatat bahwa gen Z kini memimpin tren hiburan digital berbasis bacaan. Analis Jakpat menyimpulkan: “Peningkatan minat baca di kalangan gen Z tidak terjadi secara organik karena mereka meninggalkan gawai, melainkan karena algoritma media sosial, terutama TikTok dan Instagram, berhasil ‘menjual’ aktivitas membaca sebagai sesuatu yang keren, eksklusif, dan emosional.”

Buku kini diperlakukan oleh gen Z Indonesia bukan sebagai tugas akademik, melainkan sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan pencarian identitas. Ini adalah pergeseran yang signifikan dalam budaya literasi Indonesia yang selama ini menghadapi tantangan besar.

Awal yang bagus

Setiap generasi baru teknologi selalu diiringi kepanikan moral tentang akhir budaya. Mesin cetak dianggap merusak tradisi lisan. Televisi dituding membunuh buku. Kini internet dituduh meruntuhkan literasi. Sejarah selalu membuktikan bahwa yang terjadi adalah transformasi, bukan kematian.

Gen Z sedang mengubah cara membaca, dari aktivitas soliter menjadi pengalaman sosial, dari teks datar menjadi konten visual yang emosional, dari rekomendasi guru menjadi rekomendasi teman virtual di seluruh dunia. Platform digital bukan musuh buku. Di tangan gen Z, teknologi itu justru menjadi mesin promosi literasi yang paling efektif yang pernah ada.

Ketika minat baca buku di kalangan gen Z meningkat, yang tumbuh bukan hanya pembacanya, melainkan juga ekosistem literasi di sekitarnya. Sebab, buku bukanlah produk tunggal, ia hadir bersama ruang lingkupnya, yakni komunitas baca, diskusi rutin mingguan atau bulanan, kegiatan literasi, perpustakaan sebagai ruang nyaman untuk membaca, dan beragam aktivitas sosial berbasis buku, seperti berbagi buku.

Ini memberi kita harapan akan masa depan. Sebab, bangsa yang rakyatnya rajin membaca, yang kaya pengetahuan, tidak akan mudah ditundukkan oleh politik yang korup, militeristik, dan feodalistik.

Total
0
Shares
Comments 2
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Ketika CIA Menginjakkan Kaki di Kuba

Ketika CIA Menginjakkan Kaki di Kuba

Pesawat milik Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) itu membawa petinggi CIA yang

Next
Jejak Pemikiran Kiri di Masa Muda Kartosoewirjo

Jejak Pemikiran Kiri di Masa Muda Kartosoewirjo

Dalam pengelompokan ideologi, Kartosoewirjo ditempatkan di kubu kanan ekstrem

You May Also Like
Total
0
Share