Pada 14 Mei 2026, pesawat jet Boeing C-40B Clipper bertuliskan “United States of America” mendarat di Bandar Udara Internasional José Martí di Kota Havana, Kuba.
Pesawat milik Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) itu membawa petinggi CIA yang dipimpin langsung oleh direkturnya, John Ratcliffe. Di Havana, Ratcliffe bertemu pejabat intelijen Kuba dan sejumlah pejabat penting, salah satunya Raúl Guillermo Rodríguez Castro.
Rodríguez Castro, cucu mantan pemimpin Kuba, Raul Castro, adalah pejabat penting di Kuba saat ini. Dia juga yang saat ini rutin melakukan rapat tertutup dengan pejabat AS, termasuk Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. Pada Februari 2026 lalu, Rodríguez Castro bertemu dengan Rubio di St Kitts dan Nevis.
Pertemuan ini memang terbuka. CIA langsung mengunggah foto-foto tersebut di akun X-nya. Sementara pejabat Kuba juga langsung menyampaikan klarifikasi terkait pertemuan itu. Menurut pihak Kuba, AS yang pertama kali meminta pertemuan itu.
Dalam pertemuan itu, pihak Kuba mengklaim menunjukkan bukti bahwa Kuba bukanlah ancaman bagi keamanan nasional AS. Sebaliknya, pihak Kuba bersedia terlibat dalam dialog yang konstruktif untuk mengatasi situasi yang kompleks.
Sementara itu, menurut pihak CIA, Direktur CIA John Ratcliffe membawa pesan langsung dari Presiden AS Donald Trump untuk pemerintah Kuba. Intinya, AS bersedia membuka komunikasi dengan Havana terkait ekonomi dan keamanan, asalkan Kuba bersedia melakukan perubahan fundamental.
Beberapa sumber tertutup menyebut, dalam pertemuan itu, Ratcliffe seperti memberi ultimatum terakhir kepada Havana: patuh atau di-Venezuela-kan. Konon, Ratcliffe mengingatkan pejabat Kuba dengan peristiwa 3 Januari 2026, ketika operasi tertutup AS berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro dan istrinya, dan menewaskan 30-an pasukan penjaga Kuba.
Pukulan terakhir
Kunjungan CIA ke Havana hanya berselang sehari usai Menteri Energi Kuba, Vicente de la O Levy, mengumumkan bahwa stok bahan bakar di negerinya sudah habis sama sekali.
Memang, pada akhir Januari 2029, Presiden Trump mengumumkan kebijakan pengenaan tarif impor dan sanksi kepada negara mana pun yang memasok minyak ke Kuba. Sebelumnya, setelah penculikan Maduro pada 3 Januari 2026, Venezuela mulai menyetop pengiriman minyak ke Kuba. Meksiko juga terpaksa melakukan hal serupa pada akhir Januari. Moskow sami mawon, tak berani melangkahi perintah eksekutif Trump tersebut.
Sejak itu, tak setetes pun minyak masuk ke Kuba. Negeri berpenduduk 11 juta jiwa itu langsung mengalami krisis energi. Listrik nyaris padam sepanjang hari. Hampir semua sudut Kuba, termasuk Havana, menjadi gelap gulita pada malam hari. Tak hanya itu, tak banyak kendaraan yang beredar karena ketiadaan BBM.
Ekonomi Kuba nyaris lumpuh total. Bahkan, beberapa kegiatan perkuliahan dan pelayanan publik terganggu karena listrik tak bisa menyala secara normal.
Pada 1 Mei 2026, Trump menaikkan skala sanksi itu. Semua perusahaan atau entitas ekonomi akan dikenai sanksi jika memasok barang atau bekerjasama dengan Kuba. Akibatnya, dua perusahaan peti kemas terbesar di dunia, CMA CGM dan Hapag-lloyd, yang mengendalikan 60 persen pengiriman barang keluar dan masuk Kuba, akhirnya menghentikan operasinya di Kuba.
Tak hanya itu, MOA Nickel SA, perusahaan patungan antara pemerintah Kuba dengan raksasa pertambangan Kanada Sherritt International yang selama beberapa dekade mengelola operasi pertambangan nikel dan kobalt Kuba, juga menghentikan operasinya. Sherritt bahkan meminta pemerintah Kuba membeli kembali sahamnya seharga 277 juta dolar.
Selain itu, pada 7 Mei 2026, Menlu Rubio juga membekukan aset GAESA, konglomerasi raksasa yang dikendalikan oleh angkatan bersenjata Kuba. Perusahaan-perusahaan yang mengelola sejumlah hotel di Havana dan beberapa tempat di Kuba juga berencana berhenti beroperasi.
Singkat cerita, sebelum kedatangan Direktur CIA, Kuba benar-benar sudah dilumpuhkan. William LeoGrande, professor di American University School of Public Affairs, menggambarkan perbedaan kebijakan pemerintahan AS di bawah Trump dengan sebelumnya.
“Strategi sebelumnya menawarkan wortel ke Havana, sementara strategi Trump adalah memukuli orang-orang Kuba dengan tongkat hingga mereka menangis dan menyerah,” jelasnya.
Ancaman agresi militer
Sembari meningkatkan sanksi ekonomi untuk mencekik rakyat Kuba, sehingga memicu ketidakpuasan dan destablisasi, AS di bawah Trump juga diyakini sedang menyiapkan invasi militer.
Pada awal Mei 2026, seperti dilaporkan CNN, ada peningkatan penerbangan pesawat pengintai AS di sekitar udara internasional di dekat Kuba. Konon, pengintaian ini untuk memetakan sistem radar pertahanan udara Kuba, posisi pangkalan militer, dan memantau pergerakan logistik domestik pulau tersebut di tengah kelangkaan energi.
Sebelumnya, pada Maret 2026, AS menggelar latihan militer di perairan yang mendekati Kuba, yakni Key West, Florida. Bahkan, ada rumor kapal induk USS Abraham Lincoln akan digeser dari perairan teluk Persia menuju Karibia. Kabarnya, kehadiran USS Abraham Lincoln akan menjadi peringatan terakhir bagi pemerintahan komunis di Kuba untuk menyerah.
Lalu, sebagai dalilnya, AS juga sudah meniupkan tudingan yang disebut berbasis laporan intelijen: Kuba menjadi tempat singgah lebih dari 300 drone militer dari Iran dan Rusia yang bersiap-siap melancarkan serangan ke AS. Tentu saja, cerita palsu ini sudah dibantah habis-habisan oleh Kuba.
Kemudian, hanya beberapa jam setelah Direktur CIA meninggalkan Havana, sumber-sumber Departemen Kehakiman membocorkan informasi bahwa Raúl Castro akan didakwa pada 20 Mei 2026 atas perannya sebagai menteri pertahanan dalam penembakan dua pesawat Cessna pada 24 Februari 1996. Jika itu terjadi, maka Raul Castro, adik Fidel Castro dan mantan Presiden Kuba yang juga salah satu legenda revolusi Kuba 1959, akan diperlakukan seperti Saddam Husein dan Nicolas Maduro. Tentu saja, Kuba tak akan membiarkan hal tersebut terjadi.
Kenapa 20 Mei? Sebab, hari itu Kuba akan memperingati hari pembebasan dari Amerika Serikat dan berdirinya Republik Kuba. Tentu saja, Trump hendak melakukan tindakan simbolik untuk menghina Kuba di hari kemerdekaannya.
Sebelumnya, pada akhir April 2026, resolusi Kewenangan Perang, yang diusulkan oleh Partai Demokrat, berhasil diblokir oleh pendukung Trump di Kongres. Padahal, resolusi itu berusaha untuk membatasi hak Presiden Trump agar tidak bisa sembarangan menyerang atau memulai perang dengan Kuba secara sepihak.
Kini, rakyat Kuba dipaksa berjuang sendirian untuk menghadapi ancaman nyata dari AS. Memang ada solidaritas internasional, seperti “Nuestra America”, yaitu konvoi kapal dari para aktivis yang membawa 30 ton bantuan berupa bahan makanan pokok, obat-obatan esensial, sepeda, serta pasokan panel surya, pada Februari lalu. Namun, dukungan internasional itu masih jauh dari cukup.
Bukan hal baru
Embargo hingga blokade ekonomi memang bukan baru bagi rakyat Kuba. Sejak 1962, AS di bawah Presiden John F. Kennedy memberlakukan embargo ekonomi total terhadap Kuba. Akibat sanksi itu, Kuba diperkirakan menderita kerugian sebesar USD 1,4 triliun atau Rp 24,805 kuadriliun.
Ancaman militer juga bukan cerita baru. Pada April 1961, AS mempersenjatai 1.400 eksil Kuba untuk melakukan penyerbuan ke Playa Girón. Serangan itu diawali dengan serangan udara (operasi Puma) untuk melumpuhkan armada udara Kuba. Namun, hanya dalam 72 jam, Kuba di bawah Fidel Castro berhasil menggagalkan serangan yang kelak dinamai “Invasi Teluk Babi” itu.
Hanya berselang beberapa bulan, AS kembali melancarkan serangan yang disebut “Operasi Mongoose”, yang menyabotase jalur kereta api dan industri Kuba, mendorong pemberontakan bersenjata, dan berusaha membunuh Fidel Castro. Namun, operasi ini juga gagal.
AS juga melancarkan ratusan operasi rahasia untuk membunuh pemimpin Kuba, Fidel Castro. Sejak 1959 hingga akhir hayatnya, Fidel mendapat 638 upaya pembunuhan oleh CIA/AS. Mulai dari bom cerutu, jamur mematikan di pakaian selam, kulit kerang berisi bahan peledak, susu kocok beracun, hingga menggunakan jebakan perempuan.
Memang, dari segi intensitas dan skalanya, situasi hari-hari ini memang lebih mengerikan. Ekonomi Kuba yang lumpuh total, tanpa pasokan listrik dan energi sama sekali, benar-benar menggiring banyak rakyat Kuba dalam frustrasi.
Patria o Muerte (tanah air atau mati), begitu pesan Fidel Castro pada 1960, mungkin satu-satunya pengingat bagi rakyat Kuba saat ini. Mereka hanya dihadapkan pada pilihan: punya tanah air yang merdeka dan berdaulat atau kembali menjadi koloni AS.










