Di tengah riuh dunia digital, ketika layar gawai seolah menjadi jendela utama kehidupan, ada kabar baik yang datang dari ruang sunyi: minat baca orang Indonesia meningkat, dan penggeraknya adalah generasi Z. Mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012, tumbuh bersama internet, media sosial, dan banjir konten visual, justru menemukan kembali pesona kata-kata.
Gen Z: Dari Booktok ke perpustakaan
Fenomena ini tampak jelas di ruang maya. Booktok, Bookgram, hingga Book Review menjelma tren viral. Video singkat yang membicarakan buku, dengan bahasa lugas dan kreatif, menyebar cepat di TikTok dan Instagram. Buku kembali hadir dalam percakapan publik, bukan sekadar benda usang di rak perpustakaan.
Namun, gairah itu tidak berhenti di layar. Pameran Indonesia International Book Fair (IIBF) 2025 di Jakarta menjadi saksi. Ribuan anak muda berdesakan di stan buku filsafat, fiksi, sejarah, hingga bacaan anak. Novel-novel ludes terjual, bahkan yang berharga tinggi. Novel Katabasis karya R.F. Kuang ludes terjual ratusan eksemplar meski harganya cukup tinggi. Kerumunan juga tampak di stan-stan buku filsafat, fiksi, sejarah, agama, hingga bacaan anak-anak.
Buku Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern, karya David Van Reybrouck yang sangat relevan untuk melihat sejarah Indonesia, juga menjadi salah satu buku paling populer dan paling laris di pengujung 2025 ini.
Perpustakaan H.B. Jassin, Perpusnas, hingga ruang baca independen kembali ramai. Gen Z hadir sebagai generasi baru kutu buku. Ditambah lagi hadirnya tempat estetik dan nyaman seperti Gramedia Jalma di Blok M, Jakarta Selatan. Di tempat ini, setiap pengunjung diajak untuk merasakan pengalaman yang lebih dari sekadar membeli buku.
Data yang menguatkan harapan
Angka-angka mendukung cerita ini. Indeks Tingkat Gemar Membaca (TGM) Indonesia naik dari 66,77 poin pada 2023 menjadi 72,44 poin pada 2024, melampaui target nasional. Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat skor tertinggi, 79,99 poin, sementara Papua Pegunungan masih tertinggal di angka 38,83.
Sementara itu, Perpusnas RI melaporkan bahwa Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) nasional tahun 2024 mencatat pencapaian yang baik. Angka IPLM nasional tercatat mencapai skor 73,52 poin dari target 71,4 poin, sedangkan pada tahun sebelumnya Indonesia hanya memperoleh skor 69,42 poin.
Lebih spesifik, survei IDN Research Institute menunjukkan bahwa hanya 1 persen gen Z yang tidak suka membaca. Mayoritas mereka membaca berita daring, artikel, atau buku cetak. Meski e-book dan audiobook tersedia, buku fisik tetap menjadi pilihan utama: 24 persen responden masih setia pada kertas, sementara e-book dipilih 19 persen, dan audiobook hanya 2 persen.
Data ini menegaskan bahwa membaca tidak mati. Ia hanya bergeser bentuk. Bacaan kini meliputi artikel daring, berita digital, hingga novel cetak yang tetap dicari.
Meskipun peningkatan minat baca ini kadang ditanggapi dengan sinis dengan menyebutnya sebagai fear of missing out atau perasaan cemas atau takut ketinggalan momen atau tren (FOMO), tetapi ini harus diakui dengan bangga bahwa membaca buku adalah FOMO terbaik, termulia, dan paling maju.
Revolusi membaca, yang dimulai sejak penemuan mesin cetak pada abad ke-15, merupakan revolusi terbesar dalam sejarah umat manusia, yang melahirkan ledakan inovasi, revolusi industri, melahirkan pencerahan, melahirkan nilai-nilai baru seperti hak asasi manusia dan demokrasi.
Membaca sebagai gerakan sosial
Membaca bagi gen Z bukan sekadar aktivitas individual. Ia menjelma menjadi gerakan sosial. Penyitaan buku-buku tertentu oleh aparat justru memicu rasa ingin tahu.
Nama-nama besar seperti Karl Marx atau Che Guevara kembali dibicarakan. Di Indonesia, sosok Tan Malaka menjadi idola baru, di samping nama-nama seperti Sukarno, Mohammad Hatta, dan Sjahrir. Anak muda juga sangat update dengan buku-buku populer dan pemikiran baru yang datang dari segala penjuru dunia, dari buku sains, ekonomi, politik, hingga sastra. Dari Babel karya R.F. Kuang hingga Nexus karya Yuval Noah Harari. Dalam hal ini, Goodreads, TikTok, dan Instagram menjadi ruang rekomendasi lintas batas.
Di sini, membaca bukan hanya soal literasi, tetapi juga soal identitas dan perlawanan. Gen Z menjadikan buku sebagai medium untuk memahami dunia, mengkritisi kekuasaan, dan membangun solidaritas.
Harapan Indonesia maju
Namun, di balik kabar baik ini, tantangan besar tetap ada. Peran negara dalam mendukung industri penerbitan masih sangat minim. Tidak hanya itu, wajah masa lalu Orde Baru, yang suka merazia buku dan membungkam kemerdekaan berpikir, merupakan ancaman laten terhadap literasi.
Padahal, tak ada bangsa yang maju tanpa keunggulan dalam dunia buku. Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Eropa membuktikan bahwa literasi adalah fondasi inovasi. Visi Indonesia Emas 2045 hanya bisa tercapai bila budaya baca menjadi bagian dari strategi nasional.
Generasi Z sudah menunjukkan jalannya. Mereka menjadikan membaca sebagai gaya hidup, sebagai komunitas, bahkan sebagai gerakan politik. Kini, tugas negara adalah menyediakan ekosistem: perpustakaan yang ramah, kebijakan penerbitan yang mendukung, akses buku murah, dan teladan dari pemimpin yang mencintai bacaan.
Lebih jauh, membaca adalah jalan menuju demokrasi yang matang. Buku membuka ruang refleksi, memperluas imajinasi, dan mengasah daya kritis. Tanpa budaya baca, demokrasi mudah tergelincir menjadi sekadar ritual elektoral. Dengan budaya baca, demokrasi bisa tumbuh sebagai percakapan publik yang cerdas.
Gen Z, dengan semangatnya, telah menyalakan api. Mereka membuktikan bahwa di tengah banjir konten visual, kata-kata tetap punya daya. Bahwa di balik layar gawai, buku masih bisa menjadi sahabat.
Harapan Indonesia maju ada di pundak mereka. Bila api ini dijaga, ekosistem literasi diperkuat, maka membaca bukan sekadar aktivitas, melainkan jalan menuju bangsa yang cerdas, kritis, inovatif, demokratis, dan beradab.










