FOMO Terbaik adalah Membaca Buku

Di tengah pusaran media sosial yang menuntut validasi instan, kita hidup dalam lingkaran Fear of Missing Out (FOMO). Kita cemas jika ketinggalan tren atau event terbaru. Tak heran, tren memposting buku pun dicap sebagai FOMO dangkal.

Belakangan, tren memposting buku, kutipan, atau momen sedang membaca, tak luput dari cap ini. Seolah-olah, kegiatan membaca menjadi sekadar komoditas untuk dipertontonkan, dicurigai sebagai FOMO belaka. Namun, anggapan ini perlu diluruskan. Jika ada FOMO yang patut dirayakan dan dianut, maka FOMO terbaik adalah membaca buku. Karena membaca adalah investasi fundamental bagi kemajuan individu, masyarakat, dan sebuah bangsa.

Mengapa membaca buku baik?

Membaca adalah gerbang menuju pengetahuan, empati, dan pemikiran kritis. Kekuatan membaca melampaui sekadar hiburan atau pengisi waktu luang. Ini adalah bagian dari aktivitas literasi.

UNESCO menegaskan bahwa literasi adalah seperangkat keterampilan untuk memahami, menginterpretasikan, dan menciptakan informasi—sebuah kemampuan untuk “membaca dunia” secara kritis.

Membaca itu membawa banyak sekali manfaat. Pertama, studi dari Yale University menunjukkan bahwa orang yang rutin membaca buku hidup rata-rata dua tahun lebih lama daripada yang tidak. Manfaat ini didapat, salah satunya, karena “membaca mendalam” (deep reading) mempromosikan empati dan kecerdasan emosional, proses kognitif yang terkait dengan kualitas hidup dan kelangsungan hidup yang lebih besar.

Kedua, beberapa kajian, termasuk yang dirujuk World Economic Forum (WEF), menyarankan bahwa siswa yang membaca materi dalam bentuk cetak (print) cenderung mencerna dan memahami materi kompleks lebih baik dibandingkan mereka yang membaca digital. Ini menekankan pentingnya buku fisik dalam proses pembelajaran.

Ketiga, selain meningkatkan kecerdasan emosional dan kognitif, membaca secara konsisten terbukti meningkatkan laju pertumbuhan kosakata, menutup kesenjangan kata (word gap) yang dapat menghambat kemajuan pendidikan. Ini seperti yang disampaikan influencer dr. Tirta, membaca buku membuat bahan omonganmu lebih berkualitas, lebih berbobot.

Keempat, organisasi Alzheimer’s Society menganjurkan pembacaan “buku yang menantang” secara teratur. Melatih otak secara mental dapat mengurangi risiko demensia dan membangun kemampuan otak untuk mengatasi penyakit. Prinsipnya sederhana: use it or lose it (gunakan atau Anda akan kehilangannya).

Kelima, ini yang lebih strategis: mereka yang tumbuh dalam lingkungan yang berorientasi buku terbukti meningkatkan literasi dewasa, numerasi, dan pemecahan masalah teknologi. Keterampilan lunak (soft skills) ini sangat krusial untuk menavigasi revolusi industri keempat. Mereka lebih kuat daya imajinasi, punya kemampuan memahami esensi, membaca peluang, sehingga sering menjadi pencipta atau inovator.

Mortimer J. Adler, dalam How to Read a Book (1940), menekankan bahwa membaca secara aktif (active reading) adalah seni bertanya, menganalisis, dan mensintesis. Kemampuan ini menjadi bekal penting untuk kemampuan analitik, pemikiran kritis dan kecerdasan emosional. Itu semua pangkal dari semuah inovasi dan kemajuan dalam sejarah umat manusia.

Terakhir, membaca juga membuatmu memiliki apa yang disebut oleh ahli linguistik Noam Chomsky sebagai ”unit pertahan intelektual”, sehingga tak mudah digiring layaknya kerbau oleh berbagai informasi dan pemikiran yang hegemonik.

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, tradisi membaca melahirkan masyarakat literer yang kritis, sehingga memperkuat sistem politik dan demokrasi. Mereka yang rajin membaca dan kritis tidak akan gampang digiring memilih politisi yang tanpa visi, hanya bisa joget-joget atau memamerkan wajah/tampan, tetapi akan menganalisis visi-misi kandidat: soal rasional dan mungkin diterapkan (aplikatif).

Masyarakat yang rajin membaca akan menempatkan negara ini pada relnya: kemajuan. Masyarakat yang rajin membaca akan mencintai ilmu pengetahuan, selalu berusaha menghadirkan inovasi, menciptakan SDM berkualitas, sehingga melahirkan kemajuan yang berkelanjutan.

Ditampar ironi

Pada 2024, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), angka buta huruf untuk usia 10 tahun ke atas masih mencapai 3,05 persen. Bahkan, di Papua Pegunungan, angkanya mencapai 27,47 persen.

Meskipun angka melek huruf Indonesia melampaui rata-rata global, namun bukan berarti manusia Indonesia sudah cekatan berliterasi. Bank Dunia pada 2018 merilis data yang menampar: 55,4 persen populasi Indonesia berusia di atas 15 tahun tergolong buta huruf fungsional. Artinya, lebih dari separuh bangsa ini bisa membaca tulisan di layar ponselnya, tetapi tak mampu mencerna dan memahami makna atau substansi teks itu secara kritis. Mereka bisa membaca judul berita, tapi mudah terpapar hoaks. Mereka bisa melihat angka-angka dalam kontrak, tapi tak mampu memahami implikasinya.

Data Asesmen Nasional (AN) 2021 dari Kemendikbudristek sendiri menunjukkan gambaran yang muram: satu dari dua siswa di Indonesia belum mencapai kompetensi minimum literasi. Pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), jumlah siswa yang belum mencapai kompetensi dasar sebesar 45 persen. Sedangkan di tingkat SMA, jumlahnya 42 persen. Miris.

Kondisi ini bergaung nyaring di panggung global. Laporan PISA 2022 menempatkan Indonesia di peringkat 10 besar dari bawah dari 81 negara untuk kemampuan literasi membaca: Indonesia menempati peringkat ke-70 dari 80 negara. Skor kita anjlok 12 poin dibandingkan PISA 2018, menunjukkan adanya kemunduran belajar (learning loss) yang signifikan.

Mirisnya lagi, krisis ini diperparah oleh iklim politik yang masih memuliakan abad pertengahan: razia dan kriminalisasi buku. Pasca reformasi, meski ada kebebasan politik, tetapi razia buku tidak pernah berhenti total.

Malahan, dalam satu dekade terakhir, intensitas razia buku semakin meningkat. Puncaknya, hari-hari ini kita menyaksikan polisi sedang aktif-aktifnya berburu aktivis yang dituduh dalang kerusuhan pada akhir Agustus lalu dan barang buktinya: buku. Hanya rezim tirani dan anti-peradaban yang menjadikan buku sebagai barang bukti.

Menengok negara tetangga

Malaysia, negara tetangga yang mulai melampaui kita dalam berbagai hal, patut dijadikan contoh dalam membangun budaya membaca bagi rakyatnya.

Sadar masih tertatih-tatih urusan literasi, pemerintah Malaysia bergegas membuat kebijakan konkret. Program Literacy and Numeracy Screening (LINUS) untuk memastikan setiap anak didik dari kelas satu sampai tiga punya ketrampilan dasar: dasar membaca, menulis, dan berhitung (3M).

@js_khairen

Di Malaysia: dikasih subsidi sama negara RM100-RM250 ringgit per pelajar, per tahun. Di Negara Kesatuan Adat Lawaknesia (NAKAL, negara fiktif dalam novel Bungkam Suara): Penulis dan penulis yang kasih subsidi. Satu saat, boleh jadi subsidi ini akan ditarik. Atau terus berkurang jumlah subsidinya. Harga banyak hal, naik di seluruh dunia. Novel2 J.S. Khairen, di situ2 aja harganya dari dulu. Stok novel edisi tanda tangan + paket gratis 1 novel: Mau sold out: 1 – Dompet Ayah Sepatu Ibu 2 – Bungkam Suara 3 – Kami (Bukan) Sarjana Kertas 4 – Kami (Bukan) Fakir Asmara 5 – Rinduku Sederas Hujan Sore Itu Menipis: 1 – Kado Terbaik 2 – Kami (Bukan) Jongos Berdasi 3 – Kami (Bukan) Generasi Bac*t 4 – Hal yang Tak Kau Bawa Pergi Saat Meninggalkanku 5 – novel action fantasy ‘MELANGKAH.’ Gas klik link di bio. Pilih paket gratis 1 novel!

♬ original sound – js_khairen – js_khairen

Selain itu, untuk menaikkan minat baca, pemerintah Malaysia memberikan insentif berbentuk uang senilai RM 100 hingga RM 250 (Rp 382.445-Rp 956.112) kepada semua pelajar seantero negeri untuk dipakai membeli buku. Tidak cukup, Malaysia juga melakukan pemotongan pajak atas transaksi pembelian buku.

Selain itu, Malaysia sedang gencar-gencarnya menggelar karnaval dan festival buku, yang tak hanya meningkatkan daya literasi warganya, tetapi juga mengungkit industri percetakan dan perbukuan. Malaysia punya Pesta Buku Antarabangsa Kuala Lumpur (PBAKL), Big Bad Wolf Book Sale (BBW), BookFest @ Malaysia, dan lain-lain.

Di TikTok, netizen Malaysia cukup aktif dalam komunitas BookTok, yang mempromosikan buku dan sastra. Apa kabar dengan tiktok warga +62?

Kesimpulan

Jika FOMO adalah hasrat yang tak terhindarkan untuk mengikuti apa yang dilakukan orang lain, biarkan dorongan itu mengarahkan kita pada kegiatan paling konstruktif, yakni membaca. Tidak perlu malu memposting buku; anggaplah itu sebagai pembuktian sosial bahwa kita berjuang melawan krisis literasi.

Membaca adalah tindakan revolusioner yang tenang. Ia adalah bentuk perlawanan terhadap kebodohan massal dan penyempitan pandangan, serta investasi terbaik untuk masa depan kognitif Anda.

Mari kita ubah Fear of Missing Out menjadi Fulfillment of Missing Opportunity dalam literasi. Ambil buku Anda, buka halaman pertama, dan jadilah bagian dari revolusi intelektual ini. FOMO terbaik adalah membaca buku.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
10 Comeback Terbaik dalam Sejarah Sepak Bola

10 Comeback Terbaik dalam Sejarah Sepak Bola

Sepak bola lebih dari sekadar permainan

Next
Gelombang Solidaritas Palestina di Berbagai Belahan Dunia

Gelombang Solidaritas Palestina di Berbagai Belahan Dunia

“Tragedi terbesar bukanlah penindasan dan kekejaman oleh orang-orang

You May Also Like
Total
0
Share