5 Capaian Revolusi Bolivarian yang Tak Bisa Diabaikan

Invasi militer Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela, yang berhasil menculik Presiden Nicolas Maduro, dianggap sebagian orang sebagai penanda berakhirnya revolusi Bolivarian.

Penangkapan Maduro direspons dengan banyak sudut pandang. Ada yang merakayakan penangkapan Maduro sebagai berakhirnya rezim otoritarian yang menindas oposisi. Sementara, bagi sudut pandang yang lain, Maduro adalah korban imperialisme yang haus sumber daya.

Namun, terlepas dari perdebatan itu, ada beberapa fakta yang tak bisa dikesampingkan, bahwa revolusi Bolivarian, yang dimulai sejak Hugo Chavez menjabat sebagai presiden pada 1999, telah membawa kemajuan yang kurang disorot media-media arus utama.

Berikut lima kemajuan revolusi Bolivarian yang tak bisa diabaikan:

Pertama, berhasil membangun 5 juta rumah gratis dan subsidi untuk rakyat Venezuela

Pada 2011, Presiden Hugo Chavez meluncurkan sebuah program berskala besar: Misi Besar Perumahan Venezuela atau Gran Misión Vivienda Venezuela (GMVV). Mimpinya sangat mulia, memastikan seluruh rakyat Venezuela, terutama yang berpendapatan rendah, bisa memiliki tempat tinggal layak.

Awalnya, program ini tampak berjalan mulus karena didukung oleh dana dari keuntungan minyak. Namun, masalah mulai muncul ketika Chavez meninggal dunia pada 2013. Sejak itu intensitas tekanan ekonomi kepada revolusi Bolivarian meningkat.

Sabotase sayap kanan ditambah ratusan sanksi ekonomi AS membuat produksi minyak Venezuela anjlok. Venezuela terlilit krisis parah. PDB Venezuela menyusut 65 persen.

Namun yang membuat program ini sangat luar biasa, proyek GMVV tidak berhenti.

Kedua, dililit krisis, tapi rajin cetak buku gratis

Ada satu prestasi tak terabaikan dari Venezuela: literasi. Tahun 2003, Hugo Chavez meluncurkan program yang disebut “Mission Robinson” untuk memerangi buta huruf di kalangan orang dewasa hingga lansia.

Negara punya perhatian besar untuk memastikan lansia tidak buta huruf hingga akhir hidupnya. Dengan mengadopsi model literasi Kuba, Yo sí puedo (Ya, Aku Bisa), yang terinspirasi dari filsuf pendidikan Paulo Freire, Venezuela hanya butuh dua tahun untuk memastikan 1,5 juta orang dewasa bisa membaca dan menulis.

Dan sejak itu juga, tradisi membaca di Venezela meningkat pesat. Pada 2025, Venezuela dinobatkan oleh UNESCO sebagai negara yang terbebas dari buta huruf.

Bersamaan itu, Venezuela rajin mencetak buku untuk dibagikan gratis. Novel Don Quixote karya Miguel de Cervantes dan Les Miserables karya Victor Hugo termasuk yang paling banyak dicetak. Selain karya-karya penulis Amerika Latin dan Venezuela sendiri.

Bayangkan, Venezuela mencetak 1 juta eksemplar novel Don Quixote, lalu membagikannya secara gratis. Setiap tahunnya, Venezela mencetak minimal 30 juta buku dwi-bahasa untuk dibagikan gratis.

Dan, luar biasanya, ketika harga minyak terjun bebas hingga USD 40 per barrel, yang membuat penerimaan negara Venezuela menciut, ambisi mencetak banyak buku ini tidak menciut. Hasilnya, seperti diklaim oleh Menteri Wakil Menteri Pengembangan Ekonomi Budaya sekaligus Presiden Centro Nacional del Libro (Cenal), Raul Cazal, sejak era Chavez (1999) hingga 2025, revolusi Bolivarian berhasil mencetak 500 juta buku gratis.

Oiya, sejak 2005, Venezuela punya festival buku tahunan yang disebut Feria Internacional del Libro de Venezuela (FILVEN), yang diikuti 30 negara Amerika Latin, ribuan penerbit, dan 235 ribu pengunjung.

Ketiga, semarak revolusi dengan musik

Revolusi selalu melahirkan manusia luar biasa. Dan salah satu manusia luar biasa itu adalah José Antonio Abreu. Ia seorang konduktor orkestra dan musisi ternama Venezuela.

Abreau, yang meninggal pada 24 Maret 2018, adalah pendiri program pendidikan musik populer yang diberi nama Fundación del Estado para el Sistema Nacional de las Orquestas Juveniles e Infantiles de Venezuela (El Sistema). Ini program musik yang difokuskan untuk kaum miskin.

Meskipun El Sistema berdiri pada 1975, tetapi program musik ini berkembang pesat di bawah revolusi Bolivarian. Pada 2007, Presiden Hugo Chavez meluncurkan sebuah misi kebudayaan, Misión Música, untuk mendukung perjuangan El Sistema.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Venezuela, alat-alat musik yang identik dengan kelas menengah dan kaum kaya, seperti biola, akordeon, viola, piano, dan cello, bisa dimainkan oleh anak-anak kaum miskin. Nama-nama maestro, seperti Mozart, Beethoven, Chopin, juga Liszt, jadi tidak asing lagi bagi rakyat miskin Venezuela.

El Sitema ini yang melahirkan Orkestra Simfoni Simón Bolívar Venezuela (Simón Bolívar Symphony Orchestra). Gustavo Dudamel, salah satu konduktor terbaik di dunia, adalah produk dari El Sistema dan telah menjadi direktur artistik orkestra tersebut sejak 1999. Meski namanya menjulang, dan sering diundang konser di AS dan Eropa, Gustavo Dudamel sering tampil di barrio (kampung-kampung) di Venezuela.

Memang, sejak 2017, hubungan El Sistema dengan pemerintah Bolivarian sedikit beriak. Beberapa anggota El Sistema terlibat dalam protes anti-pemerintahan Nicolas Maduro yang dianggap mengarah ke otoritarian. Beberapa di antara mereka ditangkap, disiksa, dan terbunuh.

Ini juga yang membuat Gustavo Dudamel, yang sebelumnya pendukung setia revolusi Bolivarian di era Chavez, mulai memilih jarak dan kerap mengkritik pemerintahan Maduro.

Keempat, pemberdayaan dan penghormatan pada perempuan

Ini juga salah satu capaian terbesar revolusi Bolivarian yang jarang diumbar: pemberdayaan perempuan.

Pada tahun 1997, tahun pertama Venezuela mengadopsi sistem kuota minimal 30 persen perempuan untuk pencalonan legislatif, jumlah perempuan di parlemen hanya 6 persen. Namun, pada awal revolusi Bolivarian, angkanya langsung naik menjadi 15-20 persen.

Di Venezuela, kemiskinan itu berwajah perempuan. Maksudnya, mayoritas mereka yang miskin berjenis kelamin perempuan. Karena realitas itu, pada 2001, Venezuela meluncurkan program yang disebut Bank Pembangunan Perempuan atau Banco de Desarrollo de la Mujer (Banmujer).

Melalui program ini, perempuan berhimpun dalam kolektif atau koperasi beranggotakan 4-9 orang. Setelah itu, mereka akan mendapat bantuan keuangan dari pemerintah. Namun, sebelum menjalankan usaha, kolektif ini mendapat pelatihan keterampilan, manajemen, literasi keuangan, dan pemasaran.

Di Venezuela, sejak 2006, revolusi Bolivarian mengorganisasikan partisipasi rakyat dalam wadah yang disebut Dewan Komunal (Consejos Comunales), yang menjalankan pemerintahan mandiri di tingkat bawah (setingkat RT/RW atau komunitas).

Dewan yang mendapat dukungan pemerintah ini, merespons berbagai kebutuhan warga hingga melakukan pembangunan infrastruktur. Sebanyak 70 persen yang terlibat aktif adalah kaum perempuan.

Untuk diketahui, Venezuela adalah negara pertama di dunia yang konstitusinya mengakui pekerjaan mengurus rumah tangga sebagai pekerjaan produktif. Selain itu, pada 2006, ibu rumah tangga miskin menerima upah 80 persen dari upah minimum.

Kelima, demokrasi dari bawah bernama Dewan Komunal

Meskipun memiliki latar belakang tentara, tetapi Chavez percaya pada demokrasi dan kekuatan rakyat. Dia percaya bahwa demokrasi yang sejati harus menempatkan rakyat sebagai protagonis.

Karena itu, pada 2006, ia menyetujui pendirian Dewan Komunal, sebuah badan politik akar rumput yang mewadahi warga dalam menyelesaikan persoalan mereka dan menyelenggarakan pembangunan di komunitasnya (RT/RW).

Di kota, setiap Dewan Komunal terdiri dari 200-400 keluarga. Sementara di desa, karena populasinya lebih kecil, setiap Dewan Komunal beranggotakan 20-an rumah tangga. Setiap Dewan punya juru bicara, yang disebut voceros, bukan ketua atau koordinator, yang menjelaskan bahwa Dewan ini bersifat kolektif dan non-hirarkis.

Komune punya beberapa badan. Badan tertinggi disebut Asamblea de Ciudadanos (Majelis Warga), sebuah forum deliberatif yang melibatkan seluruh warga untuk menyusun agenda, menetapkan prioritas, dan mengambil keputusan.

Setiap Dewan Komunal punya komite-komite yang mengurus pendidikan, kesehatan, air, listrik, infrastruktur, dan lain-lain. Dewan Komunal memiliki tiga cabang terpisah yang masing-masing terdiri dari sedikitnya lima orang: cabang eksekutif (yang berfungsi mengoordinasikan), cabang keuangan (yang mengelola keuangan, baik bank komunal atau koperasi), serta cabang pengawas sosial (yang mengawasi penggunaan dana dan melakukan audit terhadap penyelenggaran proyek).

Hingga 2022, Venezuela punya sedikitnya 49.000 Dewan Komunal dan sekitar 3.000 komune (gabungan Dewan Komune). Dewan Komune ini yang menjadi tulang punggung revolusi Bolivarian. Ketika pandemi Covid-19, Dewan Komunal ini yang menjadi benteng pertahanan utama, selain tenaga kesehatan. Mereka membentuk Komite yang disebut Comités Locales de Abastecimiento y Producción (CLAP), yang memasok kebutuhan pangan ke rumah-rumah warga.

Saat ekonomi Venezuela dikepung blokade dan ratusan sanksi ekonomi, yang membuat kelangkaan kebutuhan pokok, Dewan Komunal ini juga yang menjadi tulang punggung yang bergerilya dari rumah ke rumah untuk memastikan kebutuhan pokok warga terpenuhi.

Sekarang, ketika AS menangkap Presiden Maduro, banyak yang beranggapan revolusi Bolivarian sudah selesai. Mereka jelas salah. Justru tulang punggung revolusi Bolivarian itu adalah rakyat yang terorganisir, terutama Dewan-Dewan Komunal.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Indonesia dalam Rantai Pasok Global: Peluang Pembangunan atau Perangkap Eksploitasi?

Indonesia dalam Rantai Pasok Global: Peluang Pembangunan atau Perangkap Eksploitasi?

“Semua negara akan mendapatkan keuntungan dari peningkatan perdagangan dan

Next
Penculikan di Caracas

Penculikan di Caracas

Dua dekade sebelum pasukan Amerika Serikat (AS) menculik Presiden Venezuela,

You May Also Like
Total
0
Share