Sejarah baru tercipta dalam politik Irlandia. Seorang kandidat berpaham kiri, yang didukung oleh koalisi partai kecil dan gerakan sosial, berhasil memenangkan pemilu presiden Irlandia.
Catherine Connolly, aktivis kiri berusia 68 tahun yang maju sebagai calon independen, berhasil menang telak dalam pemilu presiden Irlandia pada Jumat, 24 Oktober 2025. Ia berhasil meraih suara mayoritas dengan 63,4 persen.
Saingannya, Heather Humphreys, yang diusung oleh partai terbesar ketiga di Irlandia, Fine Gael, hanya mendapat 29,5 persen suara. Sementara posisi ketiga ditempati kandidat Republikan konservatif (Fianna Fáil), Jim Gavin, yang mendapat 7,2 persen. Jim Gavin mengundurkan diri dari pencalonan jelang pemilihan.
Banyak media yang menggambarkan kemenangan Connolly sebagai kemenangan rakyat biasa terhadap elite politik mapan yang disokong oleh pebisnis dan kaum kaya.
”Saya akan menjadi suara perdamaian, suara yang memperkuat kebijakan netralitas kita, suara yang tegas menyuarakan ancaman eksistensial akibat perubahan iklim,” ujar Connolly di Kastil Dublin, Sabtu (25/10) malam, tak lama setelah dirinya diumumkan sebagai pemenang pilpres.

Anti-kemapanan
Connolly, yang sudah berusia 68 tahun, merupakan figur lama dalam gerakan kiri di Irlandia. Ia pernah menjadi anggota Partai Buruh Irlandia, tetapi kemudian keluar pada 2006. Sejak itu ia berpolitik lewat jalur independen.
Pada 2016, ia terpilih sebagai anggota Teachta Dála (TD), sebutan parlemen di Irlandia, untuk daerah pemilihan Galway West. Semasa menjadi anggota TD, Connolly tidak pernah berkompromi dengan sikap politiknya. Ia salah satu anggota parlemen yang vokal mengkritik agresi barat di Suriah.
Pada pemilu 2025, ia maju sebagai calon independen. Ia berhasil mengumpulkan dukungan 20 anggota parlemen sebagai persyaratan untuk maju sebagai calon presiden. Namun, ia mendapat dukungan dari aliansi partai-partai kiri kecil dan gerakan sosial, seperti Sosial-Demokrat, People Before Profit, 100% Redres, dan lain-lain. Belakangan, Partai Buruh turut memberi dukungan. Partai kiri terbesar di Irlandia, Sinn Féin, bahkan tak memberi dukungan resmi kepada pencalonan Connoly.
Namun, berbekal dukungan gerakan kiri dan gerakan sosial, Connolly berhasil membangun blok politik anti-kemapanan, yang menarik bagi pemilih muda dan pemula. Anak-anak muda Irlandia, seperti juga fenomena di banyak negara, tak begitu menyukai politik dan politisi mapan.
Gaya berdebat Connolly yang tenang dan cerdas menuai pujian di media sosial. Meskipun sudah tua, bahkan terbilang lansia, tapi gaya kampanye Connolly justru aktraktif di media sosial. Videonya sedang melakukan keepie uppies atau juggling (menendang bola ke atas berulangkali sampai tak menyentuh tanah) viral di media sosial. Ia juga bermain basket dengan anak-anak.
Meski sudah tua, Connolly sangat piawai memanfaatkan media sosial, terutama podcast, Instagram, dan TikTok, untuk menyebarkan pesan-pesan politiknya yang cerdas, subtantif, dan menyentuh persoalan pokok warga Irlandia.
Gerakan akar rumputnya juga jalan. Partai kiri dan gerakan sosial pendukungnya berhasil membentuk jejaring relawan di akar rumput, yang menyeret puluhan ribu orang untuk mendaftar sebagai tim pemenangan. Mereka bergerak dari pintu ke pintu warga (canvassing) hingga mengedarkan leaflet di ruang publik.
Sebaliknya, kandidat dari Fine Gael, Heather Humphreys, sibuk menyerang Connolly, sehingga tampak memamerkan ”politik kemarahan dan caci-maki”. Selain itu, Humpreys yang terang-terangan menyatakan diri sebagai representasi kepentingan bisnis punya berderet-deret kontrovesi, seperti punya hubungan dengan kelompok oranye (kelompok Protestan di Irlandia Utara yang pro-Inggris), mendukung perburuan rubah, dan kebijakan diskriminatifnya terhadap disabilitas.
Solidaritas Palestina
Salah satu faktor kunci yang turut membalikkan arah politik Irlandia adalah pasang gerakan solidaritas Palestina di negara itu. Irlandia merupakan salah satu panggung solidaritas Palestina di Eropa.
Sejarah masa lalu Irlandia, yang pernah menjadi koloni Inggris dan merasakan pahitnya politik pembagian wilayah (partition) kolonialis yang sangat rasistik. Ingatan sejarah itu sangat dekat dengan kondisi Palestina yang menjadi korban partisi kolonialis dan hari ini dianeksasi oleh Israel.

Selain itu, ada cerita tentang Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) yang memberi bantuan kepada Irlandia saat mengalami kelaparan besar (Great Famine) pada tahun 1845–1849. Dan masa itu, Palestina menjadi bagian dari Ottoman.
Saking kuatnya ikatan tersebut, Irlandia menjadi negara Eropa pertama pertama yang secara resmi menyerukan pembentukan negara Palestina dan mengakui Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pada 1980.
Bahkan, di ajang mixed martial arts (MMA), atlet-atlet Irlandia terang-terangan menunjukkan dukungan pada Palestina.
Dalam konteks itu, Connolly merupakan politisi yang getol membela Palestina dan mengutuk genosida Israel di Gaza. Ia bahkan mendukung hak bangsa Palestina untuk menentukan nasib sendiri.
Posisi politik itu kontras dari kandidat dari sayap kanan, seperti Heather Humphreys dan Jim Gavin, yang seolah-olah bungkam dengan persoalan di Palestina dan cenderung membeo pada sikap Uni Eropa terhadap persoalan Palestina.
Dan bodohnya, Heather Humphreys beberapa kali menyerang Connolly terkait sikapnya terhadap Palestina, yang justru menggeser suara solidaritas Palestina di jalan-jalan Irlandia untuk memberi dukungan penuh pada Connolly.
Masa depan
Selama kampanye, Connolly berjanji akan mengembalikan sebagian besar gajinya sebagai presiden, yang nilai totalnya sekitar €350.000 per tahun (sekitar Rp 6,1 miliar) atau sekitar €20,751 (sekitar Rp 336 juta per bulan), untuk proyek-proyek strategis negerinya.
Selain itu, ia juga berjanji akan menjadi presiden untuk semua orang Irlandia, sebuah negara berbentuk republik yang inklusif dan demokratis. Ia berjanji akan mendengar suara semua warga Irlandia tanpa kecuali.
Selain itu, Connolly berjanji akan berjibaku untuk mengatasi krisis perumahan, layanan kesehatan, dan biaya hidup yang sekarang mencekik kehidupan banyak warga Irlandia.
Namun, tantangannya Irlandia merupakan republik parlementer, mirip dengan Indonesia ketika baru merdeka. Meskipun presiden merupakan kepala negara, tetapi kekuasaan eksekutif sehari-hari dipegang oleh seorang perdana menteri (Taoiseach).










