Musik Horeg dan Konflik Selera

Suara itu tidak sekadar memekik di telinga, tapi juga menggetarkan pintu rumah.

Ketika saya sedang menikmati sore di rumah, tiba-tiba terdengar suara dentuman musik dari luar. Bukan dari suara panggung hajatan tetangga, tapi dari lengkingan musik pengiring ondel-ondel keliling yang disetel dengan suara keras. Jedag-jedug, terdengar lebih “horeg.” Istilah horeg, yang kini sedang banyak dibicarakan, berasal dari bahasa Jawa, yang memiliki arti gempa atau berguncang.

Suara yang terdengar itu tidak sekadar memekik di telinga, tapi turut menggetarkan pintu rumah.

Pikiran saya berkecamuk, musik rakyat yang memiliki nilai budaya, tapi kenapa membuat saya jadi risih. Bukan karena ia musik ondel-ondel, tapi fenomena “horeg” membuat pandangan saya tentang musik ini jadi berkembang.

Sound horeg, kependekan dari “Sound Hore Gegap Gempita”, lahir dari Malang, Jawa Timur sejak 2014. Pionir awal dari pergerakan musik ini adalah komunitas, seperti Faskho Sengox dan BJ Hunter. Ia lahir dari tradisi panggung hajatan, orkes keliling, dan hiburan kampung dengan konsep karnaval dengan ukuran sound yang cukup besar.

Meski bukan sebuah genre resmi, ia muncul dari fenomena kultural yang memiliki unsur irama jedag-jedug remix dangdut, disko koplo, bahkan berisi efek suara-suara lain dengan tujuan menarik perhatian pendengarnya. Tren ini kemudian menyebar di beberapa wilayah, dan kemudian mengguncang ruang digital melalui konten-konten yang beredar di berbagai platform, salah satunya, TikTok.

Dalam dua tahun terakhir, musik horeg makin digemari, namun juga menuai banyak kritikan. Satu sisi, ini menjadi simbol “selera rakyat bawah” (akar rumput), yang justru unik dan memiliki daya tarik sendiri, namun di sisi lain dianggap “norak” dan mengganggu.

Musik horeg, dengan segala keluguan dan keunikan nadanya, kini menembus batas-batas budaya, dari jalanan desa ke linimasa TikTok, dari panggung orkes jadi pusat pemberitaan media. Tapi, benarkah kita mengerti musik ini? Atau justru kita sedang mengonsumsinya tanpa memahami budaya yang melahirkannya?

Di media sosial, terutama TikTok, sound horeg kerap menjadi bahan lelucon. Klip-klip yang menampilkan perayaan pernikahan yang menampilan pelaminan dan pengantinnya, dibingkai dalam konten yang membuat tertawa bagi yang menikmatinya. Padahal, di kalangan akar rumput, boleh jadi musik ini merupakan perayaan, tanda syukur, simbol eksistensi, dan eskspresi budaya.

Namun, ketika musik itu hadir di kota besar, justru dianggap menganggu. Masyarakat urban pada umumnya lebih menerima musik dengan lantunan lembut dan estetik sebagai bentuk selera yang lebih tinggi. Sementara penikmat sound horeg dikategorikan sebagai “selera rendah”. Kita lupa, bahwa selera musik tidak terikat pada unsur dominan masyarakat tertentu, seperti ruang budaya kota, media, pendidikan, juga selera kelas dominan. Hal ini mempertegas hegemoni budaya, seolah memperlihatkan, mana yang layak, dan mana yang tidak layak untuk diterima.

Ketika volume menjadi bahasa

Tidak semua orang bisa menyampaikan suaranya. Apalagi terikat oleh sekat dan hiruk pikuk modernisasi serta birokrasi. Maka ketika musik hadir sebagai bentuk komunikasi, ia menjadi alternatif bahasa. Musik horeg yang memiliki suara dan dentuman keras, merepresentasikan bahasa yang disampaikan. Meski terdengar bising, faktanya ia bisa mengguncang media sosial hingga viral, membuktikan kalangan ini ada dan suaranya patut didengar. Namun, musik yang menjadi bentuk ekspresi dari akar rumput ini, dimaknai sebagai bentuk gangguan oleh masyarakat kota yang terbiasa dengan musik yang tenang.

Menurut Stuart Hall dalam teori komunikasi encoding dan decoding, sebuah pesan akan dimaknai berbeda oleh si penerima pesan. Termasuk pesan dan bahasa dalam musik horeg. Perbedaan makna ini bukan tentang benar atau salah, tapi tentang bagaimana budaya, ruang hidup, dan kelas sosial membentuk cara kita mendengar dan menilai.

Musik horeg bukanlah satu-satunya contoh. Tradisi ondel-ondel yang disulap menjadi pengamen keliling, maraknya truk sound system di desa, hingga viralnya remix hajatan di TikTok, semuanya bicara dalam bahasa yang sama: bahasa volume, bahasa keras, bahasa yang mencoba menembus tembok ketidakpedulian.

Barangkali, yang mengganggu bukan dentumannya, tetapi kenyataan bahwa suara itu berhasil masuk ke ruang yang selama ini menolak mendengarkan.

Transformasi budaya di era digital

Sebelum musik horeg makin ramai dan viral di media sosial, budaya ini hidup di desa-desa, bahkan di jalanan sempit. Tanpa eksposur, tanpa polesan estetik dan kurasi, namun menyatukan energi kegembiraan serta kedekatan.

Namun, sejak era media sosial, ia menelisik masuk secara perlahan, menemukan panggung besar dan menjadi fenomena yang kian diminati. Beat-nya cocok untuk transisi video. Suaranya unik untuk konten komedi. Visualnya mencolok untuk klik dan komentar. Dari konten pesta rakyat, ia berubah jadi template untuk tren TikTok. Dari budaya hidup, ia jadi konten konsumsi cepat.

Inilah titik di mana budaya lokal bertemu dengan algoritma global, dan sering kali, makna aslinya tak ikut terbawa. Media sosial memang punya daya angkat luar biasa, namun juga memiliki dampak. Dalam hal ini, budaya bisa dikemas ulang, disalahpahami, bahkan direduksi hanya jadi bahan lelucon.

Musik horeg, yang semula adalah simbol eksistensi kelas bawah, kadang tampil di TikTok sebagai “bahan ketawa” tanpa konteks, tanpa empati.

Selera masyarakat kota vs musik akar rumput

Setiap orang berhak memiliki selera dan inspirasi yang berbeda, termasuk soal musik. Bagi sebagian orang, musik horeg mungkin terdengar bising dan mengganggu. Tapi faktanya, musik ini justru punya tempat tersendiri di hati banyak orang.

Dalam negara sebesar dan seberagam Indonesia, mustahil rasanya memaksa satu standar untuk semua. Budaya kita berbeda-beda. Latar belakang sosial, ekonomi, hingga akses terhadap hiburan pun tak sama.

Maka pertanyaannya bukan lagi: mengapa kamu suka musik itu? Tapi, apa yang bisa kita pahami dari selera yang tak sama?

Perbedaan ini tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling merendahkan. Sebaliknya, ini bisa menjadi ruang dialog: bagaimana agar setiap bentuk budaya, termasuk yang tumbuh dari pinggiran, bisa mendapatkan tempat dan fasilitas di ruang publik lewat komunitasnya masing-masing.

Mendengar dentuman, membaca makna

Agar budaya-budaya akar rumput seperti musik horeg tidak hanya hadir sebagai “suara keras” yang viral tapi tetap dipinggirkan, lebih bijak jika kita saling memahami, mengukur berbagai langkah strategis yang bisa diupayakan bersama dengan melibatkan semua pihak, terutama dalam konteks komunikasi antar budaya di era digital.

Berikut beberapa catatan pemahaman yang bisa menjadi refleksi bersama:

Pertama, menggeser perspektif: dari gangguan ke ekspresi. Jangan buru-buru menilai suara dari budaya lain sebagai gangguan. Mulailah dengan bertanya, apa konteks di balik suara itu? Apa makna dan siapa yang sedang mencoba didengar? Upaya yang bisa dilakukan adalah pendidikan literasi budaya di ruang publik (kampus, media, komunitas), agar masyarakat mengenali ekspresi budaya tanpa langsung memvonis, dan juga memberikan ruang bagi komunitas dalam berekspresi

Kedua, memberi ruang aman bagi budaya lokal. Budaya seperti musik horeg perlu tempat yang layak untuk tumbuh, bukan hanya viral di TikTok, lalu dibungkam di dunia nyata. Pemerintah daerah dan komunitas dapat menginisiasi event, ruang ekspresi, atau zona khusus budaya jalanan tanpa harus mengusir atau menertibkan secara represif.

Ketiga, menegosiasikan ruang komunikasi antarbudaya. Komunikasi antarbudaya tidak berarti semua harus “sepakat”, tapi bagaimana budaya-budaya itu bisa hidup berdampingan dengan saling menghargai. Maka, beberapa pihak dapat membuat panduan kebijakan ruang publik berbasis dialog, bukan sekadar pembatasan. Jadikan perbedaan selera dan ekspresi sebagai kekayaan, bukan ancaman.

Keempat, menguatkan komunitas budaya pinggiran. Banyak komunitas, seperti Faskho Sengox atau Sound Malang Bersatu, adalah produsen budaya yang kuat, tapi belum diakui secara setara. Libatkan mereka dalam kebijakan kebudayaan, pelatihan produksi digital, hingga monetisasi konten agar bisa mandiri tanpa harus tunduk pada selera dominan.

Kelima, membangun empati budaya di era digital. Algoritma media sosial sering menjadikan budaya lokal sebagai bahan lelucon. Padahal yang dibutuhkan adalah empati, bukan eksotisasi. Maka, dorong platform media digital untuk mengangkat narasi kontekstual lewat fitur edukatif dan kolaborasi lintas komunitas.

Penutup

Di tengah masyarakat multikultur seperti Indonesia, setiap ekspresi budaya seharusnya punya ruang untuk tumbuh, meskipun ia tidak berasal dari pusat kota, tidak berbalut estetika mainstream, atau tidak masuk ke dalam kategori “layak tampil” menurut selera dominan.

Musik horeg, dalam bentuknya yang bising, berulang, dan kadang dianggap “kampungan”, justru menyimpan pesan penting, bahwa ada kelompok masyarakat yang selama ini bicara dengan caranya sendiri. Mungkin karena tak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk berbicara dalam cara yang dianggap sah oleh sistem.

Komunikasi antarbudaya bukan soal menyamakan suara, tapi soal kesediaan untuk menerima bahwa suara yang berbeda pun valid. Ketika masyarakat lebih sibuk menertibkan daripada memahami, maka kita sedang mengabaikan peluang membangun ruang dengar yang lebih adil, ruang hidup yang lebih terbuka, dan dialog yang lebih manusiawi.

Budaya tidak minta disamakan. Ia hanya minta dimengerti.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Nasionalisme di Persimpangan Jalan Sejarah

Nasionalisme di Persimpangan Jalan Sejarah

Di tengah hiruk pikuk politik global yang kian memanas, sebuah ideologi yang

Next
Zhou Enlai, Master Taktik di Balik Layar Tiongkok Modern

Zhou Enlai, Master Taktik di Balik Layar Tiongkok Modern

Pernah dengar nama Zhou Enlai?

You May Also Like
Total
0
Share