Perang meninggalkan dua macam warisan: reruntuhan dan lagu. Ketika senjata menggemuruh, ada kalanya yang paling keras berteriak justru bukan tentara di medan tempur, melainkan musisi di balik mikrofon.
Sepanjang sejarah modern, musik telah menjadi salah satu bentuk perlawanan paling ampuh terhadap kekerasan dan perang. Musik mampu menembus sensor, melampaui batas negara, dan menyentuh hati jutaan orang yang tidak sanggup lagi menonton dunia hancur akibat perang.
Berikut adalah 10 musisi yang bukan hanya menciptakan lagu indah, tetapi dengan berani menggunakan suaranya untuk menolak perang, menggugat kekuasaan, dan mengubah kesadaran kolektif manusia.
- Pete Seeger (1919–2014)
Pete Seeger adalah arsitektur dasar dari seluruh tradisi musik protes Amerika Serikat (AS). Anggota serikat pekerja, aktivis hak sipil, dan penyintas era perburuan penyihir McCarthyisme, Seeger membuktikan bahwa sebuah banjo tua bisa lebih menakutkan bagi penguasa ketimbang batalion bersenjata. Pada era Perang Vietnam, lagu-lagunya menggelegar di jalan-jalan Washington dan kampus-kampus yang bergolak.

Lagu “Where Have All the Flowers Gone” (1955) menjadi himne kehilangan yang melampaui generasi. Dengan lirik berputar yang menanyakan ke mana perginya para pemuda—dari ladang ke tentara, dari tentara ke kuburan, dari kuburan kembali ke bunga—Seeger menciptakan pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh jenderal mana pun. Ia sempat masuk daftar hitam dan dipanggil Komite Anti-Amerika, namun menolak bersaksi. Pengaruhnya terasa pada Bob Dylan, Joan Baez, hingga Bruce Springsteen—nyaris semua musisi protes generasi sesudahnya berhutang budi padanya.
- Billie Holiday (1915–1959)
“Strange Fruit” (1939) bukanlah lagu anti-perang dalam pengertian konvensional. Tidak ada parit lumpur, tidak ada senapan mesin di sana. Namun ia adalah lagu paling berani yang pernah dinyanyikan di AS abad ke-20. Billie Holiday menyanyikan tentang lynching—tubuh orang kulit hitam yang tergantung di pohon-pohon di selatan Amerika—dengan suara selembut sutra dan sedingin es.

Manajernya melarang ia membawakan lagu itu. Label rekaman Columbia menolak merekamnya. Holiday tetap menyanyikannya—dan merekamnya dengan label kecil Commodore. FBI mulai memantaunya. Koneksi antara rasisme, kekerasan negara, dan “perang” terhadap tubuh manusia yang tidak bersalah sangat jelas dalam lagu itu. Holiday membayar mahal: kariernya dirusak, hidupnya dikejar aparat. Tapi “Strange Fruit” tidak bisa dihapus dari sejarah—ia menjadi batu fondasi bagi gerakan hak sipil tiga dekade kemudian.
- Bob Dylan (1941–sekarang)
Saat Bob Dylan naik ke panggung Newport Folk Festival 1963 dan menyanyikan “Blowin’ in the Wind,” dunia merasakan sesuatu bergeser. Ia bukan hanya anak muda berbakat dengan harmonika—ia adalah juru bicara sebuah generasi yang muak dengan kebohongan perang. “Masters of War” (1963) adalah serangan frontal kepada kompleks industri-militer. Lagu ini menggambarkan mereka yang membangun senjata perang sebagai pengecut yang bersembunyi di balik meja sementara orang lain mati.

Dylan menjadi suara Vietnam jauh sebelum Vietnam menjadi bencana terbuka. “A Hard Rain’s A-Gonna Fall” (1963) meramalkan kehancuran nuklir dengan imaji apokaliptik yang menakutkan. Ketika pemerintah AS memperluas keterlibatannya di Asia Tenggara, lagu-lagu Dylan sudah beredar di kampus, di gereja, di jalan-jalan—menciptakan bahasa bersama bagi perlawanan. Ia kemudian memenangkan Nobel Sastra 2016, pengakuan bahwa liriknya adalah sastra, bukan sekadar musik populer.
- Joan Baez (1941–sekarang)

Joan Baez tidak hanya menyanyikan lagu anti-perang—ia hidup di dalam prinsip-prinsipnya. Ia menolak membayar pajak yang ia percaya digunakan untuk membiayai Perang Vietnam. Ia ditangkap berkali-kali dalam aksi protes damai. Ia terbang ke Hanoi pada 1972, di tengah pengeboman besar-besaran AS, untuk memberikan solidaritas kepada korban sipil—sebuah keputusan yang membuatnya dicerca sebagai pengkhianat oleh sebagian orang Amerika.
Suaranya yang bening dan tajam membawakan “We Shall Overcome” di March on Washington 1963, berdiri bahu-membahu dengan Martin Luther King Jr. Lagu-lagunya tentang Vietnam—”Where Are You Now, My Son?” (1973), yang merekam suara nyata pengeboman Hanoi—merupakan kesaksian langsung yang tak tertandingi. Baez membuktikan bahwa konsistensi antara kata dan perbuatan adalah satu-satunya bentuk kejujuran yang benar-benar bermakna.
- John Lennon (1940–1980)
“Imagine” (1971) adalah lagu yang sudah terlalu sering diputar hingga orang lupa betapa radikal ia sesungguhnya. John Lennon mengundang dunia membayangkan tidak ada negara, tidak ada agama, tidak ada kepemilikan—sebuah visi yang membuat pemerintah Nixon begitu ketakutan hingga memerintahkan FBI untuk memantau Lennon selama bertahun-tahun dengan tujuan mendeportasinya dari AS.

Lennon dan Yoko Ono melancarkan “Bed-In for Peace”—tinggal di kamar hotel selama berminggu-minggu sebagai protes teatrikal terhadap Vietnam. “Give Peace a Chance” (1969) direkam di kamar Hotel Montreal, menjadi lagu yang dinyanyikan setengah juta pengunjuk rasa di Washington. Lennon memahami bahwa di era televisi, perdamaian harus bersaing dengan perang untuk mendapatkan perhatian—dan ia bertekad memenangkan pertarungan itu. Peluru yang merenggut nyawanya pada 1980 tidak bisa membungkam nadanya.
- Nina Simone (1933–2003)
Nina Simone tidak pernah memisahkan musik dari politik. Baginya, keduanya adalah nafas yang sama. Setelah pemboman gereja di Birmingham, Alabama pada 1963 yang menewaskan empat gadis kulit hitam, Simone duduk di depan piano dan dalam 20 menit menciptakan “Mississippi Goddam”—ledakan kemarahan yang diperkuat oleh melodi jazz yang menari-nari secara sarkastis di atas lirik yang membakar.

Perang bagi Simone bukan hanya di Vietnam—perang ada di jalan-jalan Amerika, di dalam kepala orang-orang yang membiarkan rasisme bersemi menjadi pembunuhan. “To Be Young, Gifted and Black” (1969) adalah deklarasi martabat. “Feeling Good” menjadi lagu kebangkitan. Simone berhadapan langsung dengan FBI, mendapat tekanan untuk meninggalkan aktivisme, dan akhirnya mengasingkan diri ke Eropa dan Afrika. Ia tidak pernah menyesal. Sebab baginya, diam di hadapan ketidakadilan adalah pengkhianatan yang jauh lebih besar.
- Victor Jara (1932–1973)
Tidak ada kisah yang lebih tragis sekaligus lebih kuat dalam sejarah musik anti-perang daripada Victor Jara. Musisi dan aktivis Chili ini adalah suara dari kaum miskin dan tertindas di bawah pemerintahan Salvador Allende. Ketika kudeta militer Pinochet menghancurkan demokrasi Chili pada 11 September 1973, Jara ditangkap dan dipenjarakan di Estadio Chile bersama ribuan tahanan politik.

Di dalam stadion itu, para penyiksa mematahkan tangan-tangannya—yang telah memainkan ribuan melodi tentang keadilan dan harapan. Menurut kesaksian sesama tahanan, bahkan dengan tangan yang hancur, Jara masih mencoba menyanyikan lagu untuk para tahanan. Ia kemudian dieksekusi. Tapi lagunya tidak mati. “Te Recuerdo Amanda” dan “Plegaria a un Labrador” terus dinyanyikan di seluruh dunia sebagai simbol perlawanan terhadap tirani. Jara membuktikan bahwa kekuasaan yang paling takut adalah yang paling bersemangat membungkam penyanyi.
- Miriam Makeba (1932–2008)
Miriam Makeba meninggalkan Afrika Selatan pada 1960 setelah pembantaian Sharpeville dan tidak diizinkan kembali ke negaranya selama tiga dekade. Dari pengasingannya, ia mengubah panggung internasional menjadi podium diplomasi moral. Di hadapan Komite PBB pada 1963 dan 1964, ia bersaksi tentang kekejaman apartheid. Ia membuktikan bahwa suara seorang penyanyi lebih tajam dari nota diplomatik manapun.

Lagunya “Pata Pata” mendunia, tapi di balik kegembiraan ritmenya tersimpan kebanggaan Afrika yang membara. Pernikahannya dengan aktivis Black Power Stokely Carmichael membuat AS mencabut kontrak rekaman dan visanya. Makeba pindah ke Guinea. Ia terus bernyanyi, terus bersaksi, terus menjadi wajah perlawanan terhadap rezim yang memisahkan manusia berdasarkan warna kulit. Ketika apartheid runtuh, Nelson Mandela yang pertama mengundangnya pulang. Ia adalah bukti bahwa eksil bisa menjadi senjata yang lebih kuat dari penjara.
- Buffy Sainte-Marie (1941–sekarang)
Pada 1964, penyanyi Kanada keturunan Cree, Buffy Sainte-Marie, menciptakan “Universal Soldier”—lagu yang mempertanyakan bukan hanya pemimpin yang memerintahkan perang, tapi setiap individu yang memilih menjadi roda mesin pembunuhan. Liriknya yang tajam mengundang pendengar untuk bertanya kepada diri sendiri: siapa yang sesungguhnya bertanggung jawab atas perang?

Yang membuat kisah Sainte-Marie lebih mencengangkan, ia baru mengetahui puluhan tahun kemudian bahwa pemerintahan Lyndon B. Johnson secara aktif menekan stasiun-stasiun radio agar tidak memutar lagu-lagunya. Surat-surat dari Gedung Putih dikirim kepada pemilik stasiun, meminta mereka untuk membatasi siaran Sainte-Marie. Ini bukan teori konspirasi, tapi sejarah yang terdokumentasi. Sebuah pemerintahan adidaya ketakutan pada seorang perempuan dengan gitar akustik. Dari sini terlihat, tidak ada bukti yang lebih jelas tentang kekuatan musik sebagai ancaman politik.
- Marvin Gaye (1939–1984)
Pada 1971, Marvin Gaye membuat keputusan yang hampir menghancurkan kariernya: ia menolak merekam lagu-lagu dansa ringan yang menjadi formula sukses Motown, dan sebaliknya merilis “What’s Going On”—album konseptual tentang Vietnam, kemiskinan perkotaan, dan kehancuran lingkungan. Label rekamannya, Motown, menolak merilis singel tersebut. Berry Gordy, pendiri Motown, menyebutnya sebagai “lagu paling bodoh yang pernah kudengar.”

Gaye memaksa. “What’s Going On” dirilis pada Januari 1971 dan langsung menjadi nomor satu. Seluruh album—yang menceritakan seorang veteran Vietnam yang pulang ke Tanah Air dan tidak mengenali lagi negerinya—dianggap sebagai salah satu album terbesar dalam sejarah musik rekaman. Lewat soul yang meleleh dan harmoni berlapis, Gaye mengajukan pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Pentagon: untuk apa semua ini? Sebuah pertanyaan yang masih bergema sampai hari ini.
Deretan 10 musisi di atas hanyalah puncak dari gunung es yang jauh lebih besar. Ada Woody Guthrie dengan gitarnya bertuliskan “This Machine Kills Fascists.” Ada Fela Kuti yang berteriak melawan militerisme Nigeria. Ada Edwin Starr dengan “War (What Is It Good For?).” Ada System of a Down yang meraung tentang genosida Armenia. Daftar itu tidak pernah selesai—karena perang juga tidak pernah selesai.
Namun dari semua pelajaran yang bisa dipetik dari para musisi ini, satu hal paling jelas: suara manusia, ketika diberi kata-kata yang tepat dan keberanian yang cukup, adalah senjata yang tidak bisa dibom, tidak bisa disensor selamanya, dan tidak bisa mati. Selama ada perang, akan selalu ada lagu yang menentangnya. Dan, selama ada lagu yang menentang perang, harapan belum sepenuhnya padam.










