Dunia aktivisme dan pergerakan Indonesia kehilangan salah satu maestro lagu perjuangan. Johnsony Marhasak Lumbantobing, atau yang lebih akrab disapa John Tobing, pencipta lagu anthem demonstrasi Darah Juang, mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu, 25 Februari 2026, pukul 20.45 WIB di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM), Sleman.
John Tobing, sang aktivis dan musisi kerakyatan, berpulang dalam usia 59 tahun 3 bulan. John telah dirawat intensif sejak pertengahan Desember 2025 akibat serangan stroke berulang yang memperburuk kondisi kesehatannya. Kabar duka ini langsung mengguncang kalangan mahasiswa, aktivis, buruh, petani, dan pejuang keadilan sosial.
Jejak langkah
John Tobing lahir pada 1 Desember 1965 di Binjai, Sumatera Utara, sebagai anak ketiga dari delapan bersaudara pasangan Hakim Mangara Lumbantobing dan Adelina Sinaga. Ayahnya sering bertugas ke berbagai daerah, sehingga John menempuh SD dan SMP di Bandar Lampung. Sejak kecil ia sudah pemberontak dan penuh imajinasi.
Bakat musiknya muncul sangat dini. Pada usia tiga tahun, ia menyanyikan Guantanamera, lagu patriotik dari Kuba yang diambil dari bait-bait puisi pejuang Kuba, José Martí. Tahun 1960-an, lagu ini menjadi bagian dari lagu protes di Amerika Serikat, dan sering dilantunkan oleh Pete Seeger, The Weavers dan Joan Baez.
Musik menjadi napas hidupnya. Secara otodidak ia belajar gitar dan keyboard. Di SMP Lampung, ia membentuk band “cadas” yang ia mainkan gitar dan vokal. Pindah ke SMA Santo Thomas Yogyakarta, ia kembali membentuk band bersama Adi dan Odon, mengidolakan Queen, Led Zeppelin, Deep Purple, dan Uriah Heep. Obsesinya terhadap musik membuat nilainya jeblok; sebagai ketua OSIS ia bahkan gagal lulus SMA. Ayahnya mengirimnya ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan, di mana ia akhirnya menyelesaikan SMA.
Tahun 1986, John masuk Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 1986. Di sana ia bertemu lagi dengan sahabat SMA-nya dan membentuk Yogya Band (Yo Ben) yang memainkan heavy metal ala Judas Priest. Ia bergaul erat dengan Webby Warouw, Rudy Gunawan, Andi Munadjat, Untoro Hariadi, dan Sugeng Bahagijo. Diskusi politik tentang Soeharto dan Orde Baru kerap berlangsung hingga larut malam.

John cepat menonjol sebagai organiser. Tahun 1989 ia terpilih menjadi ketua Keluarga Mahasiswa UGM (KM-UGM). Ia memimpin aksi penolakan Porkas (undian berhadiah untuk dana olahraga) dan demonstrasi Kusumanegaran yang berdarah pada 9 Oktober 1989. Peristiwa itu adalah buntut dari protes mahasiswa lintas kota merespons vonis hakim PN Yogyakarta yang dijatuhkan ke Bambang Isti Nugroho dan Bambang Subono dengan tuduhan subversif. Aktivis lain yang diadili dalam waktu yang berbeda adalah Bonar Tigor Naipospos. Ia menyaksikan temannya dipukul hingga hidung patah oleh aparat, tapi ketakutan membuatnya tak berani mendekati rumah sakit. Pengalaman itu membekas: “Aku takut darah.”
Aktivisme John semakin dalam ketika terlibat solidaritas korban Waduk Kedung Ombo (1985-1991). Ribuan petani digusur demi proyek Bank Dunia, hanya mendapat Rp 250 per meter tanah, padahal dijanjikan Rp 3.000. John ikut membentuk Komite Solidaritas Korban Penggusuran Kedung Ombo (KSKPKO) dan Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY) tahun 1991, di mana ia menjadi wakil ketua. Gerakan ini yang kelak melahirkan dua kubu: Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) dan Partai Rakyat Demokratik (PRD) dengan Dewan Mahasiwa dan Pemuda Yogyakarta (DMPY)/Rode.
Sebagai aktivis, John menciptakan lebih dari 200 lagu antara 1987 hingga 1992–dari lagu anak-anak hingga lagu perjuangan, meski tak semuanya direkam karena ia tak bisa baca not. Ia pernah penyuka minuman beralkohol, tapi berhenti total setelah teman Kedung Ombo bilang, “Rakyat tak suka orang minum.” “Itulah ideologi. Demi rakyat. Aku ini pejuang rakyat. Ngapain aku minum kalau rakyat tak suka?” katanya, dikutip dari artikel yang ditulis Lilik HS berjudul John Tobing, Darah Juang dan Tali Perekat Zaman, yang dimuat Indoprogress, 2013.
Tahun 1994 John mundur dari aktivisme karena “bosan berkelahi terus”. Ia lulus Filsafat UGM tahun 1995 setelah kuliah sembilan tahun. Kerja di media Parhorasan Nusantara (yang cepat tutup), lalu kontraktor keluarga di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Tahun 1997 ia menikah dengan Dona dan dikaruniai tiga anak: Catherin Tana Tania, Sandio Mathias Pawitra, dan Gopas Kibar Syang Proudly.

Memasuki 2000-an, John terjun ke politik praktis: wakil ketua DPD PDI-Perjuangan Riau, mencalonkan diri DPR RI 2009, tapi gagal setelah stroke membuatnya tak bisa bicara berbulan-bulan. Tahun 2010 ia kembali ke Yogyakarta, berjualan kolak durian, tapi tetap kesulitan ekonomi. Stroke berulang dan kerusakan saraf optik membuat penglihatannya kabur. Meski begitu, ia tetap sesekali pentas dengan bantuan istrinya.
Sejarah lagu Darah Juang
Lagu Darah Juang lahir pada 1991 di rumah kontrakan Pelem Kecut, Gejayan, Yogyakarta–tepat di sebelah Jembatan Merah. Saat itu John tinggal bersama Dadang Juliantara dan Satya Widodo di sekretariat KM-UGM. Suatu malam, John bermain gitar sendirian. Tiba-tiba muncul melodi lembut namun kuat seperti himne. Ia merasa nada itu istimewa, tapi kesulitan menulis lirik.
Ia meminta bantuan Dadang Juliantara untuk menyusun kata-kata. Teman-teman lain ikut menyempurnakan: Raharja Waluyajati, Rudy Gunawan, dan terutama Budiman Sudjatmiko (saat itu mahasiswa FE UGM). Budiman menyarankan mengubah pengulangan “Tuhan” menjadi “Bunda” agar lebih puitis dan menghindari kesan pengaduan berulang. “Bunda relakan darah juang kami, tuk membebaskan rakyat” lahir dari diskusi itu. Judul Darah Juang muncul secara spontan saat persiapan Kongres FKMY.

Liriknya lahir dari keprihatinan John terhadap paradoks Indonesia: negeri kaya raya tapi rakyat miskin dan tertindas. Ia sering melihat di Cilacap (pekerja karet miskin) dan Blangguan (lahan tani dirampas militer). Lagu ini pertama kali dinyanyikan massal di Kongres FKMY 1991 dan langsung menjadi wajib di setiap aksi Orde Baru.
Lirik lengkapnya sebagai berikut:
Di sini negeri kami
Tempat padi terhampar
Samudranya kaya raya
Tanah kami subur tuan Di negeri permai ini
Berjuta rakyat bersimbah ruah
Anak buruh tak sekolah
Pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Tuk membebaskan rakyat
Sejak 1990-an, lagu Darah Juang sudah mulai menjadi lagu perjuangan, dinyanyikan di tengah setiap aksi protes, menjadi lagu yang mengingatkan untuk selalu memihak pada nurani dan rakyat. Namun pada Mei 1998 meledak menjadi anthem reformasi. Ribuan mahasiswa menyanyikannya saat menduduki gedung DPR/MPR Jakarta, Aksi Gejayan Yogyakarta, dan setiap demonstrasi anti-Soeharto. Suara massa menggema: “Bunda relakan darah juang kami…” Lagu ini menyatukan mahasiswa, buruh, tani, dan rakyat kecil.
Meski sering hadir dalam demonstrasi, Darah Juang bukanlah lagu protes yang meledak-ledak dipenuhi amarah. Sebaliknya, nada dan lirik Darah Juang lebih terasa khidmat. “Lagu ini terdengar seperti sebuah himne yang bisa mendinginkan emosi massa dan menjernihkan spirit mereka yang sedang atau akan berdemonstrasi,” tulis Yayan Sopian dalam catatan pendek, Musik John Tobing di Antara Aktivisme, pada 2024.
John baru sadar dampak lagu ciptaannya itu pada tahun 2010. Ia tertawa saat diberitahu lagunya ikut menjatuhkan Soeharto: “Ya kalau dia dijatuhkan dengan laguku itu ya, bagus.” Hingga 2026, “Darah Juang” tetap menjadi lagu perjuangan paling populer di Indonesia. Setiap aksi demonstrasi, dari demo menolak revisi UU KPK, menolak UU Cipta Kerja, aksi lingkungan, hingga gerakan 2024-2025, selalu dibuka atau ditutup dengan lagu ini. Ia menjadi himne wajib di Bundaran UGM, Bundaran HI, kampus-kampus seluruh negeri, bahkan di daerah-daerah pelosok.
Popularitasnya merambah semua kanal digital. Pada 2013 saja sudah lebih dari 50 versi di YouTube (paduan suara mahasiswa, punk rock Marjinal, akustik, blues rock Innerbeauty, hingga orkestra). Kini ratusan cover, remix, dan video aksi viral di TikTok, Instagram Reels, Facebook, hingga SoundCloud. Lagu ini tak lekang zaman karena liriknya universal: kritik ketidakadilan struktural dan panggilan pengorbanan demi rakyat.
Darah Juang akan terus menggema
John adalah contoh manusia yang konsisten pada nilai-nilai yang dipegangnya. Ketika ia tahu rakyat tak begitu menyukai meminum alkohol, ia berhenti total. Ia juga selalu menaruh hormat kepada kawannya yang mencintai keluarga: istri dan anak-anaknya.
Suatu hari, kepada saya, dia berbisik: ”Saya suka sikap bung yang setia. Kita, sebagai laki-laki dan suami, harus setia. Kepada pasangan dan menyayangi anak-anak.”
Kepergian John Tobing meninggalkan luka mendalam, tapi Darah Juang abadi. Seperti ditulis Lilik HS tahun 2013, lagu ini adalah “tali perekat zaman”, yang menghubungkan generasi 1980-1990-an dengan setiap generasi aktivis yang tumbuh hari ini dan masa depan. ”Terima kasih John Tobing telah menggubah lagu yang sangat indah ini. Lagu yang membantu mengingatkan kami untuk tidak berkhianat pada nurani,” tulis Fransisca Ria Susanti, penulis, jurnalis, dan kawan seperjuangan John tahun 1990-an.
John tak hanya mencipta nada, ia menciptakan semangat yang membakar nyali perlawanan. Di tengah Indonesia yang masih bergulat dengan ketidakadilan, setiap kali massa meneriakkan “Bunda relakan darah juang kami”, nama John Tobing hidup kembali. Ia tak pernah menuntut royalti. Baginya, lagu itu milik rakyat.
Selamat jalan, Bung John. Perjuangan belum selesai. Darah juang tak pernah kering. Semangatmu terus mengalir di setiap aksi, di setiap dada yang bernyanyi untuk keadilan, dari generasi ke generasi.










