Pemilihan Walikota New York mengukir sejarah baru. Zohran Mamdani, anak muda berusia 34 tahun, seorang demokrat sosialis, keturunan imigran beragama Islam, berhasil menjadi walikota di New York.
Dalam pemilihan walikota New York, yang digelar pada Selasa, 4 November 2025, Zohran mendapat lebih dari 1 juta suara atau sekitar 50,4 persen. Sementara pesaing terberatnya, Andrew Cuomo, hanya mendapat suara sekitar 41,6 persen. Tempat ketiga ditempati kandidat Republik, Curtis Sliwa, yang mendapat suara 7,1 persen.
Kemenangan Zohran menakjubkan. Dia berhasil mengalahkan Andrew Cuomo, politisi senior yang disokong kelompok mapan, dengan selisih yang sangat jauh. Tidak hanya itu, kemenangan Zohran juga merata hampir di sejumlah daerah di Kota New York.
Zohran juga unggul di semua kategori gender. Dominan di kalangan pemilih kulit putih maupun berwarna. Semua fakta ini menunjukkan bahwa politik identitas yang coba dimainkan Cuomo dan kelompok kanan tidak efektif menghentikan langkah politik Zohran.

Dikepung politik identitas dan miliarder
Sejak menang dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat pada Juni silam, Zohran dan gaya berpolitiknya mulai dianggap ancaman bagi kelompok mapan dan kaum kaya di AS.
Para miliarder dan pebisnis besar AS bersatu-padu untuk menjegal langkah politik Zohran. Mereka merogoh kantong dalam-dalam untuk membiayai lawan politik Zohran, Andrew Cuomo. Mereka juga mendanai gerakan anti-Zohran, media massa, dan televisi.
Belum cukup juga, sebulan menjelang pemilihan, ketika angin politik makin bergeser ke Zohran, kartu truf pun dimainkan: politik identitas. Jejak Zohran sebagai seorang keturunan imigran dan muslim dieksploitasi.
Cara makannya yang menggunakan tangan dicemooh sebagai perilaku jorok dan tak beradab khas dunia ketiga. Identitas muslimnya diseret-seret dikaitkan dengan kelompok jihadis dan peristiwa 11 September 2001.
Tidak cukup, posisi politiknya juga diungkit. Kampanye anti-komunis digencarkan. Histeria anti-komunis, yang bakal menguasai New York dan seluruh AS nantinya, ditiupkan kencang-kencang.
Belakangan, Andrew Cuomo, politisi mapan yang pernah terlibat kasus pelecehan seksual terhadap 11 orang perempuan, memposting video buatan AI yang memperlihatkan Zohran sebagai seorang komunis yang mengancam setiap keluarga di New York.
Belum cukup juga, Trump dan Elon Musk ikut turun gunung. Di akun X miliknya, Musk mengajak pemilih mengalihkan dukungan dari Sliwa ke Cuomo untuk mengalahkan Zohran. ”Ingatlah bahwa memilih Sliwa berarti memberi suara kepada Mamdani. Pilih Cuomo,” tulis Musk.
Sementara Presiden AS Donald Trump mengancam akan memotong dana federal untuk New York jika Zohran menang. Sebuah ancaman untuk menakuti pemilih dengan teror “membangkrutkan New York”.
Namun, suara warga New York menjungkirbalikkan semua serangan itu. Ternyata, mayoritas warga New York memilih pemimpin yang bisa membawa kotanya tetap lebih inklusif, demokratis, dengan layanan publik yang bisa dijangkau oleh warganya.
Kemenangan politik harapan
Zohran Mamdani lahir dari politik akar rumput. Ia lahir di Kampala, Uganda, pada 18 Oktober 1991, dari keluarga keturunan India. Bapaknya, Mahmood Mamdani, adalah seorang akademisi. Salah satu bukunya, Good Muslim, Bad Muslim: America, the Cold War, and the Roots of Terror, cukup populer. Sementara ibunya, Mira Nair, seorang filmmaker.
Ia memulai aktivisme dalam gerakan solidaritas Palestina. Saat kuliah di Universitas Bowdoin, ia mendirikan cabang dari Students for Justice in Palestine (SJP).
Sebelum terjun ke politik, ia bekerja sebagai konselor perumahan dan pencegahan penyitaan rumah. Ia membantu para penyewa rumah atau pembeli rumah lewat skema KPR, terutama dari keluarga kurang mampu, agar tak terusir dari rumahnya.
Tahun 2017, ia bergabung dengan Demokratik Sosialis Amerika (DSA), organisasi kiri berhaluan sosialisme demokratik. Dan, tahun 2019, setelah dua tahun menimba pengalaman sebagai relawan politik, ia maju dalam pemilihan anggota Dewan Kota di negara bagian New York.
Ini yang menarik: ketika banyak orang menyembunyikan atau memoderasi stance politiknya demi meraup suara elektoral, Zohran justru tampil otentik. Ia maju dengan platform yang sangat kiri: reformasi perumahan, reformasi kepolisian dan penjara, serta kepemilikan publik atas layanan publik.
Saat menjadi anggota Dewan, Mamdani banyak mengadvokasi isu-isu rakyat di akar rumput. Dia pernah ikut mogok makan bersama para sopir taksi yang menuntut keringanan utang. Dia juga aktif memperjuangkan anggaran kereta bawah tanah dan uji coba bus gratis.
Zohran juga berhasil membuat kampanye medsos yang ringan, renyah, dan kekinian. Ketika kaum kiri dan liberal gagap memanfaatkan medsos, Zohran justru berhasil berselancar dengan baik.
Ia membuat video pendek, dengan kualitas gambar yang bagus. Pesannya sangat kuat dan membumi. Gaya bicaranya ringan dan renyah. Ia tahu, medsos adalah medium untuk menyebarkan pesan yang sederhana, tetapi menancap. Bukan ruang untuk berkhotbah tentang bobot teori yang berat, bahasa yang ndakik-ndakik, dan berlusin istilah yang njelimet.
Dia juga sukses membangun gerakan akar rumput. Dia berhasil melibatkan 104.000 relawan yang bergerak di akar rumput lewat canvassing yang mengetuk pintu rumah setiap warga. Gerakan akar rumput inilah yang menjadi mesin elektoral yang tangguh yang sanggup menghalau berbagai terpaan politik identitas, hoaks, maupun guyuran dana miliarder.
Dengan cepat, Zohran tak hanya mewakili wajah politik perubahan, tetapi ikon baru wajah politik progresif yang kekinian. Selamat Zohran!










