Gaung Suara Kaum Progresif di Barcelona

Barcelona, 17 April 2026. Matahari baru saja melewati puncaknya ketika ribuan orang mulai memadati Fira Gran Via, kompleks pameran raksasa di pinggiran barat kota Barcelona.

Mereka datang dari 75 negara dan mewakili lebih dari 400 delegasi pemerintahan, partai politik, serikat buruh, yayasan riset, kelompok aktivis, dan think tank dari lima benua. Di dalam gedung terdapat nama-nama ruang pleno dengan foto-foto pahlawan kaum progresif sedunia: Salvador Allende, Angela Davis, Nelson Mandela, Dolores Huerta, Anna Lingh, Frida Kahlo, Hannah Arendt, Edward Said.

Selama dua hari, 17 dan 18 April, kompleks itu menjadi panggung pertemuan perdana Global Progressive Mobilisation (GPM), sebuah forum yang oleh media internasional disebut sebagai “progressive CPAC”, jawaban kiri atas Conservative Political Action Conference yang sebulan sebelumnya diselenggarakan Viktor Orbán di Budapest, yang mengundang Javier Milei, Santiago Abascal dari Vox, dan Alice Weidel dari AfD Jerman. Satu minggu sebelum GPM berlangsung, Orbán kalah dalam pemilihan umum Hungaria dari Partai Tisza pimpinan Péter Magyar, sebuah ironi yang tidak luput dari perhatian peserta di Barcelona.

Hari pertama (17 April) diisi oleh sekitar 100 sesi workshop dan panel tematik. Hari kedua (18 April) adalah hari publik: sesi pleno terbuka yang dihadiri hampir 7.000 orang, lebih dari 5.000 di dalam aula, ribuan lainnya memadati layar besar di luar gedung. Di dalamnya duduk delapan kepala pemerintahan aktif yang secara kolektif mewakili populasi lebih dari setengah miliar jiwa.

Dari Amsterdam ke Barcelona

GPM bukan lahir dari satu momen inspirasi. Gagasannya dimatangkan melalui serangkaian diskusi selama lebih dari setahun. Inisiatif ini secara resmi diluncurkan oleh Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez dan mantan PM Swedia Stefan Löfven dalam Kongres Party of European Socialists (PES) di Amsterdam, dengan dukungan awal Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva. Momentum itu dikukuhkan oleh Dewan Socialist International dalam pertemuan 2025 di Malta dan oleh Presidium Progressive Alliance di Berlin. Menurut sumber yang terlibat dalam persiapannya, Brasil yang meminta Spanyol memajukan tanggal acara ke musim semi. Dan, bulan April akhirnya dipilih.

Penutupan Global Progressive Mobilisation (GPM) 2025 di Amsterdam, yang masih terbatas pada delegasi Eropa. Kredit: Partai Sosialis Eropa (PES).

Tiga platform besar menjadi promotor resmi, yakni Party of European Socialists (PES), Socialist International (SI), dan Progressive Alliance (PA). Di bawah payung mereka, puluhan mitra dilibatkan, mulai serikat buruh internasional, yayasan Friedrich Ebert Stiftung (Jerman), Foundation for European Progressive Studies (FEPS), Broadbent Institute (Kanada), dan International Coalition of Democratic Thought (CIPED).

Para pemimpin di panggung

”Masa depan memanggil kalian, dan kalian harus menjawab panggilan itu,” kata Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, dari atas panggung.

Berhadap-hadapan dengan pasang sayap kanan ekstrem (far-right), yang mengumbar kebencian, seksisme, perang, dan xenophobia dengan berisik, Sánchez mengingatkan, ”Jangan tertipu, sayap kanan radikal berisik bukan karena menang, tetapi karena tahu waktu mereka sudah akan habis.”

Sánchez menegaskan bahwa harapan harus terus dipupuk dan masa depan yang lebih baik itu sangat mungkin. Ia juga mengumumkan bahwa Spanyol bersama Brasil sedang mengerjakan sebuah mekanisme pajak untuk kaum superkaya, dan menegaskan perlunya regulasi platform media sosial untuk membendung disinformasi. Presiden Brasil,
Luiz Inácio Lula da Silva tiba di Barcelona setelah kunjungan bilateral ke Madrid dan menandatangani sejumlah perjanjian dengan pemerintah Spanyol. Dalam pidatonya di pleno, Lula mengkritik arsitektur PBB: “Lima anggota Dewan Keamanan, yang didirikan untuk memastikan perdamaian setelah Perang Dunia II, telah menjadi tuan-tuan perang.”

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez dan Presiden Brazil Lula da Silva saat pembukaan Global Progressive Mobilisation 2026. Kredit: Global Progressive Mobilisation (GPM)

Ia menegaskan GPM harus menjadi “gerakan serius” yang bekerja 365 hari setahun, bukan hanya saat konferensi. Ia juga mengingatkan pemerintahan maupun gerakan kiri untuk setia pada khittah.

”Motto kita adalah harus selalu berdiri di sisi rakyat,” tegas presiden berlatar aktivis serikat buruh ini.

Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum yang berlatar intelektual, hadir dalam kunjungan pertama seorang presiden Meksiko ke Spanyol dalam delapan tahun, setelah hubungan diplomatik kedua negara lama membeku. Di forum, ia mengajukan dua proposal konkret. Pertama, agar pemerintah-pemerintah mengalokasikan setara 10 persen dari anggaran militer mereka untuk penghijauan. “Setiap tahun, alih-alih menanam benih perang, kita akan menanam benih kehidupan,” katanya. Kedua, ia menyatakan niatnya mengusulkan deklarasi internasional yang menentang intervensi militer di Kuba, merespons komentar Trump.

Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa tampil dengan salah satu pidato paling substansif di forum ini. Ia mengaitkan konflik bersenjata di berbagai belahan dunia dengan warisan kolonialisme: “Ini adalah masa agresi, perang, konflik, dan kehancuran. Hukum dan norma yang selama ini mendefinisikan hubungan antarnegara dilanggar secara sengaja. Institusi tata kelola global sedang dirusak atau disalahgunakan.”

Ramaphosa secara eksplisit mengkritik Dewan Keamanan PBB: “PBB telah menjadi organisasi yang kehilangan tajinya karena mereka yang duduk di Dewan Keamanan justru yang terus melanggar semua hukum dan hak yang telah disahkan oleh institusi itu sendiri.”

Ia mengumumkan Afrika Selatan akan mengajukan draf resolusi ke Majelis Umum PBB pada September 2026 untuk membentuk International Panel on Inequality.

Stefan Löfven, mantan Perdana Menteri Swedia periode 2014-2021 yang juga Presiden Partai Sosialis Eropa (PSE), membuka pertemuan dengan seruan untuk mengangkat isu kesetaraan.

”Kesetaraan antarbangsa, antarbudaya, antarmanusia, tanpa memandang latar belakang, suku, atau jenis kelamin. Bagi kita kaum progresif, inilah fondasi dari segalanya. Inilah yang menyatukan kita. Dan kepada mereka yang berusaha memecah kita: No pasarán. Kalian tidak akan memecah kita. Kita yang akan menang,” katanya.

Para pemimpin progresif dari seluruh dunia berfoto bersama dalam acara Konferensi Pembelaan Demokrasi di Barcelona, 18 April 2026. Sebuah aliansi untuk melawan pasang sayap kanan ekstrim di AS, Eropa, Amerika latin, dan Asia.

Hadir pula Gustavo Petro (Presiden Kolombia), yang mengingatkan Amerika Latin bisa mengalami “pemberontakan” melawan Amerika Serikat; Yamandú Orsi (Presiden Uruguay); Lars Klingbeil (Wakil Kanselir Jerman/SPD); David Lammy (Menlu Inggris/Labour); Magdalena Andersson (mantan PM Swedia, mengumumkan akan kembali mencalonkan diri); Salvador Illa (Presiden Catalonia); Elly Schlein (Sekjen Partai Demokrat Italia); Iratxe García (Ketua S&D Parlemen Eropa); Özgür Özel (pemimpin oposisi Turki); Mohammad Shtayyeh (mantan PM Palestina); Tim Walz (Gubernur Minnesota), yang menyebut Trump sebagai presiden “trigger-happy” tanpa rencana nyata; Chris Murphy (Senator AS); Neera Tanden (Center for American Progress); Risa Hontiveros (Senator Filipina/Akbayan); Teresa Ribera (Wakil Presiden Eksekutif Komisi Eropa); dan ekonom Mariana Mazzucato (UCL). Sementara Zohran Mamdani, Walikota New York dari DSA, hadir via video.

80 panel, enam pilar

Selama dua hari, sekitar 80 panel dan workshop digelar di berbagai ruang Fira Gran Via, diorganisasi di sekitar enam pilar tematik: demokrasi, ekonomi progresif, kesetaraan, lingkungan hidup, kecerdasan buatan dan transformasi digital, serta perdamaian.

Pada pilar demokrasi, Tim Walz memberi kesaksian langsung tentang kondisi AS: “Kami melihat konsolidasi kekuasaan yang mengkhawatirkan—pelemahan sistematis terhadap pers bebas, peradilan independen, dan pemilu yang adil. Kita perlu menyebut itu apa adanya: fasisme. Dan kebenaran tidak hanya terbatas di Amerika Serikat, ia ada di mana-mana.”

Iratxe García (S&D Parlemen Eropa) menegaskan bahwa demokrasi tidak cukup dipertahankan lewat hukum, tetapi harus dibuktikan lewat keadilan sosial. Elly Schlein menyerukan keterlibatan anak muda dalam politik. CIPED bersama FES menggelar panel “Digital Democracy & AI: Platforms, Power, and Disinformation” yang memetakan bagaimana algoritma platform digital digunakan sebagai senjata melawan institusi demokratis. Risa Hontiveros memaparkan kasus Filipina secara konkret, bagaimana disinformasi terorganisir telah melemahkan ruang sipil di Asia Tenggara.

Pada pilar ekonomi, panel utama “Reclaiming the Economy: Green Industrial Policy Beyond Neoliberalism” mempertemukan Mariana Mazzucato dengan Teresa Ribera. Mazzucato berargumen bahwa asumsi dasar ekonomi ortodoks, di mana pasar selalu membenahi dirinya, pertumbuhan menetes ke bawah, pemerintah harus minggir, telah terbukti gagal. Ribera menekankan transisi energi hanya adil jika ketergantungan pada bahan bakar fosil dikurangi sambil menempatkan manusia di pusat kebijakan. CIPED dan FES menggelar panel terpisah bertajuk “Oligarchy or Democracy: Time to Tax the Superrich and End Extreme Wealth Inequality,” yang memetakan mekanisme pajak kekayaan sebagai keharusan demokratis. Neera Tanden menguraikan bagaimana kebijakan tarif dan pemotongan layanan publik di bawah Trump justru memukul kelas menengah yang menjadi basis retorikanya.

Walikota New York dari Demokratik Sosialis (DSA), Zohran Mamdani, hadir lewat virtual dalam Global Progressive Mobilization (GPM) 2026.

Pada pilar perdamaian, Ramaphosa menyerukan pemulihan PBB sebagai institusi yang efektif dan mengkritik Dewan Keamanan secara langsung.

Mohammad Shtayyeh menegaskan hak pengungsi Palestina untuk kembali ke tanah mereka. Özgür Özel membawa pesan ringkas: tidak ada yang selamat sendirian, dan disambut tepuk tangan panjang. Konflik di Ukraina, Gaza, Lebanon, Iran, Sudan, Myanmar, dan Kongo disebut secara eksplisit dalam deklarasi akhir.

Sánchez menekankan bahwa Spanyol menolak wilayahnya digunakan sebagai pangkalan militer untuk operasi terhadap Iran, sebuah sikap yang disambut tepuk tangan Lula secara eksplisit dari podium. Pada pilar AI, para peserta bersepakat bahwa regulasi kecerdasan buatan harus menempatkan prinsip “manusia-dalam-kendali” sebagai fondasi yang tidak bisa ditawar.

15 kesepakatan dan satu Dewan Baru

GPM ditutup dengan adopsi deklarasi bersama bertajuk “Call for a Global Progressive Mobilisation,” yang menetapkan enam bidang mobilisasi: demokrasi, ekonomi progresif, kesetaraan, lingkungan, AI, dan perdamaian. Deklarasi ini merinci agenda konkret yang menolak neo-imperialisme, menyerukan reformasi PBB, menuntut pajak miliarder sebagai keharusan demokratis, dan menggariskan transisi hijau yang berkeadilan.

Secara keseluruhan forum menghasilkan 15 kesepakatan. Yang paling menonjol, pertama, kesepakatan mineral kritis antarnegara, yang relevan dengan persaingan rantai pasokan energi hijau global. Kedua, Sánchez mengumumkan Spanyol dan Brasil sedang mengerjakan bersama mekanisme pajak superkaya. Ketiga, Ramaphosa membawa draft resolusi konkret untuk pembentukan International Panel on Inequality yang akan diajukan ke Majelis Umum PBB September 2026, mengikuti model panel iklim IPCC. Keempat, Sheinbaum mengusulkan komitmen alokasi 10 persen anggaran militer untuk penghijauan.

Pencapaian paling berbobot secara institusional adalah peluncuran Global Council for a Common Good Economy, dikomandoi bersama oleh Mazzucato dan Menteri Ekonomi Spanyol Carlos Cuerpo. Dewan ini akan menghimpun ekonom terkemuka dari Utara dan Selatan Global untuk merombak asumsi-asumsi dasar kebijakan ekonomi yang selama ini dianggap given. Pertemuan pertama dijadwalkan pada musim panas 2026, berikutnya mengikuti kalender Bank Dunia-IMF dan COP. Prinsip-prinsip ekonomi yang diperbarui beserta agenda reformasi multilateral ditargetkan selesai musim gugur 2027.

Antara momentum dan kontradiksi

GPM mewakili upaya paling sistematis dalam tiga dekade terakhir untuk membangun infrastruktur koordinasi permanen di antara kekuatan progresif global. Kanan jauh sudah lebih dulu berhasil. Mereka berbagi narasi, taktik disinformasi, dan pendanaan melampaui batas negara. CPAC Budapest adalah simbol nyatanya. GPM merespons dengan logika yang sama: membangun kerangka bersama yang bisa digunakan oleh partai, serikat buruh, walikota, aktivis, dan pemikir kebijakan dari berbagai negara.

Di dalam forum, Guardian mencatat bahwa GPM membuka pertanyaan tentang apa sesungguhnya makna “progresif” di era ini, yakni sebuah tradisi yang pernah menandakan reformasi sosial dan perlawanan terhadap hak istimewa yang menggurita, kini sedang diperjuangkan kembali maknanya oleh gerakan-gerakan yang memegang kekuasaan di tengah tekanan yang sangat nyata dari pasar modal, eskalasi militer, dan erosi kepercayaan publik.

Penyelenggara secara eksplisit menyebut Barcelona bukan titik akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang. Pertemuan berikutnya sudah direncanakan. Jaringan yang terbangun di Fira Gran Via akan diuji oleh satu pertanyaan mendasar, apakah koordinasi di atas panggung bisa berubah menjadi kebijakan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari rakyat, dari harga perumahan, upah layak, hingga penghentian perang, yang diwakili oleh mereka yang hadir di Barcelona.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Ketika Terbitan Kritis Dicap Bacaan Liar

Ketika Terbitan Kritis Dicap Bacaan Liar

Awal April 2026, konten investigasi Magdalene

Next
Pergeseran Arah Pendidikan, Dari Hak Warga Negara Menjadi Komoditas Pasar

Pergeseran Arah Pendidikan, Dari Hak Warga Negara Menjadi Komoditas Pasar

Namun, di balik pendirian Taman Siswa, terdapat semangat ideologis yang kuat,

You May Also Like
Total
0
Share