Di tengah lanskap politik Inggris yang didominasi oleh dua raksasa, Partai Konservatif dan Partai Buruh, sebuah langkah seismik diambil. Dua figur paling ikonik dari sayap kiri radikal, Jeremy Corbyn dan Zarah Sultana, secara resmi mengumumkan kelahiran sebuah gerakan politik baru.
Pengumuman yang telah lama dinanti-nanti ini datang setelah beberapa minggu melakukan diskusi intens, mengakhiri spekulasi yang beredar di kalangan aktivis dan pengamat politik. Melalui pernyataan bersama di media sosial, Corbyn dan Sultana mengajak para pendukung untuk mendaftarkan diri pada sebuah entitas yang untuk sementara diberi nama “Your Party” (Partai Anda).
“Ini adalah jenis partai politik baru, yang menjadi milik Anda,” demikian bunyi pernyataan mereka yang menggugah. Pesan mereka tajam dan tanpa kompromi, menyoroti ketidakadilan yang meresap dalam masyarakat Inggris.
“Sistem ini curang ketika 4,5 juta anak hidup dalam kemiskinan di negara terkaya keenam di dunia. Sistem ini curang ketika perusahaan raksasa meraup untung dari kenaikan tagihan Anda. Sistem ini curang ketika pemerintah mengatakan tidak ada uang untuk orang miskin, tetapi miliaran untuk perang. Kita tidak bisa menerima ketidakadilan ini, dan Anda juga seharusnya tidak,” lanjutnya.
Ini adalah seruan klasik Corbynisme: sebuah narasi tentang redistribusi kekayaan dan kekuasaan politik di tangan rakyat, kepemilikan publik atas layanan esensial seperti energi, air, kereta api, dan pos, serta pajak yang lebih tinggi bagi kaum kaya. Namun, ada juga sentuhan kontemporer yang relevan: tuntutan penghentian penjualan senjata ke Israel dan pembelaan terhadap hak untuk memprotes genosida di Gaza.
Dua generasi kiri bersatu
Kemitraan antara Jeremy Corbyn, mantan pemimpin Partai Buruh yang karismatik namun kontroversial, dan Zarah Sultana, anggota parlemen muda yang vokal dan energik, melambangkan penyatuan dua generasi sayap kiri.
Corbyn, seorang veteran yang kehilangan posisinya di Partai Buruh pada 2020 tetapi berhasil terpilih kembali sebagai independen, membawa serta pengalaman dan basis massa yang loyal. Sementara itu, Sultana, yang baru terpilih pada 2019 dan juga kehilangan posisinya di Partai Buruh setelah menentang kebijakan partai, mewakili energi baru dan masa depan gerakan.
Meski demikian, jalan menuju pengumuman ini tidak sepenuhnya mulus. Ada kebingungan di awal, di mana pengumuman Sultana seolah mendahului kesepakatan final dengan Corbyn. Namun, kini keduanya menegaskan bahwa mereka bekerja sama erat, dengan rencana untuk mengadakan konferensi pendirian pada pertengahan musim gugur.
Proyek ini dikelola di bawah naungan Peace and Justice Project, organisasi yang didirikan Corbyn, menunjukkan fondasi organisasional yang sudah mulai terbangun.
Lanskap politik yang matang untuk perubahan
Kelahiran partai baru ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Ia adalah puncak dari kekecewaan yang membara terhadap pemerintahan Partai Buruh di bawah Keir Starmer, yang oleh kaum kiri dianggap telah bergeser terlalu jauh ke kanan. Kemarahan meledak atas pemotongan tunjangan yang menyasar kelompok paling rentan, dan yang paling signifikan, atas sikap pemerintah terhadap perang di Gaza.
Dalam beberapa tahun terakhir, tanda-tanda kebangkitan kembali sayap kiri telah terlihat jelas. Inisiatif-inisiatif akar rumput bermunculan seperti jamur di musim hujan. Ada Majority, koalisi progresif di timur laut Inggris; We Deserve Better, yang didirikan oleh aktivis Owen Jones untuk mendukung kandidat alternatif; dan Collective, jaringan kelompok kampanye yang bertujuan menjadi mesin bagi partai kiri baru.
Keberhasilan kandidat independen dalam pemilu nasional dan lokal menjadi bukti nyata adanya dahaga akan alternatif. Corbyn sendiri menang telak sebagai independen. Empat kandidat independen pro-Palestina berhasil mengalahkan pesaing dari Partai Buruh.
Data jajak pendapat pun mendukung narasi ini. Sebuah survei dari YouGov menemukan bahwa 18 persen pemilih akan mempertimbangkan untuk memilih partai yang dipimpin Corbyn, sementara More in Common menemukan angka 10 persen, yang melonjak hingga sepertiga di kalangan pemilih muda (18-24 tahun).
Jalan terjal penuh duri
Namun, antusiasme ini diimbangi oleh tantangan yang luar biasa besar. Sejarah politik kiri Inggris penuh dengan kisah perpecahan dan faksionalisme yang merusak. Kekhawatiran ini membayangi bahkan pada tahap paling awal. Ada ketegangan mengenai siapa yang memimpin dan bagaimana struktur partai seharusnya dibentuk. Corbyn disebut lebih menyukai “politik konsensus” dan formasi yang lebih longgar, sementara langkah Sultana yang lebih tegas sempat menimbulkan riak.
Sejarah juga memberikan pelajaran yang suram. Pada 1980-an, Partai Sosial Demokrat (SDP) yang memisahkan diri dari Partai Buruh akhirnya lenyap ditelan oleh Partai Liberal. Di spektrum lain, Partai Respect yang didirikan oleh George Galloway pada dasarnya adalah pertunjukan satu orang yang bubar setelah pemimpinnya kehilangan pamor.
Tantangan ini tidak unik di Inggris. Di Prancis, aliansi Nupes pimpinan Jean-Luc Mélenchon rapuh. Di Spanyol, Podemos melonjak lalu terpecah. Di Jerman, Die Linke kehilangan koherensi nasional. Ketegangan antara ego, ideologi, dan tekanan institusional seringkali terbukti terlalu sulit untuk diatasi.
Dampak elektoral dan risiko memecah suara
Ancaman terbesar yang paling sering disebut adalah potensi partai baru ini untuk memecah suara progresif. Hal ini dapat secara tidak langsung menguntungkan lawan politik mereka, terutama partai populis sayap kanan, Reform UK, yang dipimpin oleh Nigel Farage. Sumber dari Reform UK bahkan menyambut baik kehadiran partai kiri baru ini, dengan keyakinan bahwa hal itu akan membantu mereka meraih kemenangan.
Partai Buruh, setidaknya secara publik, cenderung meremehkan ancaman ini, mengingat Corbyn telah kalah dalam dua pemilu sebelumnya sebagai pemimpin mereka. Namun, di balik layar, ada kekhawatiran yang nyata. Seorang anggota parlemen senior dari Partai Buruh memperingatkan, “Jika pemilih tidak merasa lebih baik pada pemilu berikutnya, jika layanan publik masih terseok-seok… tentu saja orang akan mulai mencari ke tempat lain.”
Pertaruhan masa depan politik Inggris
Pada akhirnya, kelahiran partai kiri baru ini adalah sebuah pertaruhan besar. Ini adalah manifestasi dari energi, kemarahan, dan hasrat tulus untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil. Gerakan ini didorong oleh keyakinan bahwa sistem yang ada saat ini secara fundamental rusak dan tidak dapat diperbaiki dari dalam.
Namun, ia juga dihadapkan pada rintangan yang terjal: sejarah kegagalan partai sempalan, hantu faksionalisme, dan realitas sistem pemilu yang brutal. Apakah ini akan menjadi kekuatan transformatif yang mampu membentuk kembali politik Inggris dan memberikan suara bagi jutaan orang yang terpinggirkan? Ataukah ini akan menjadi sekadar catatan kaki yang tragis, sebuah eksperimen idealis yang hancur oleh perpecahan internal dan realitas politik yang keras?
Hanya waktu yang akan menjawab. Namun satu hal yang pasti: dengan berdirinya partai baru ini, angin perubahan kini tengah berembus kencang di seberang Selat Inggris, dan panggung politik tidak akan pernah sama lagi.










