Strategi Iran di Tengah Gempuran AS-Israel

Ketika rudal-rudal Amerika Serikat (AS) dan Israel menghantam Tehran pada 28 Februari lalu, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan sejumlah pejabat senior militer, banyak kalangan di Washington dan Tel Aviv berharap Iran akan runtuh dari dalam. Namun dampak atas serangan yang disebut Operasi Epic Fury itu, justru sebaliknya.

Alih-alih bubar, kepemimpinan Iran bergerak cepat. Majelis Ahli beranggotakan 88 orang segera menunjuk Mojtaba Khamenei, putra kedua mendiang pemimpin tertinggi, sebagai penggantinya. Dalam hitungan jam setelah pengumuman itu, jutaan warga Iran turun ke jalan di Lapangan Enghelab dan kota-kota lain untuk memperbarui “perjanjian dengan pemimpin baru.” Pemerintah bahkan mengirim pesan teks massal kepada seluruh warga Iran, mengundang mereka berkumpul di Lapangan Revolusi di Tehran dan kota-kota lain untuk “memperbarui ikrar setia kepada imam syahid umat Islam.”

Apa yang kini sedang dijalankan Tehran bukanlah strategi bertahan sambil menunggu tekanan mereda. Ini adalah strategi aktif dan berlapis, sebuah upaya untuk mendefinisikan ulang medan perang secara fundamental, melipatgandakan biaya konflik bagi AS, Israel, dan siapa pun yang memilih berpihak.

Membuta-tulikan musuh

Pilar pertama strategi Iran adalah eskalasi militer yang dirancang bukan hanya untuk melukai, tetapi untuk membuat lawan kewalahan. Serangan Iran tidak difokuskan semata pada wilayah Israel. Pangkalan-pangkalan militer AS di berbagai penjuru kawasan, dari Irak, Suriah, hingga negara-negara Teluk, menjadi sasaran, seiring fasilitas radar, jaringan pengintaian, dan infrastruktur logistik yang mendukung operasi militer AS dan Israel.

Tujuannya ganda. Pertama, menjatuhkan kapasitas intelijen musuh, merusak jaringan peringatan dini, sehingga musuh sulit memantau pergerakan Iran dan merespons peluncuran rudal secara efektif. Kedua, dan yang lebih politis: mengirim pesan kepada seluruh kawasan bahwa perang ini tidak akan tetap terkurung di satu wilayah geografis.

Pada Selasa lalu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahkan menyatakan serangan yang sedang berlangsung adalah “hari paling intens” dari seluruh operasi militer AS terhadap Iran sejak perang dimulai. Sementara Iran, menurut IRGC, membalas dengan menyebarkan proyektil dalam jumlah lebih besar dengan hulu ledak berbobot lebih dari satu ton.

Hormuz: Senjata paling ampuh

Namun dari semua senjata yang dimiliki Tehran, yang paling terasa dampaknya bagi dunia justru bukan rudal atau drone, melainkan geografi.

Selat Hormuz, jalur maritim sempit yang menghubungkan Teluk Arab dengan Laut Arab, adalah satu-satunya rute laut bagi minyak dan gas yang diproduksi di kawasan Teluk untuk mencapai pasar dunia. Di titik tersempitnya, selat ini hanya berlebarkan sekitar 33 kilometer, meski jalur yang digunakan kapal tanker jauh lebih sempit dari itu.

Sekitar 13 juta barel minyak melewati selat ini setiap harinya—setara 31 persen dari seluruh aliran minyak lintas laut global, menurut data Kpler. Selain itu, 22 persen perdagangan gas alam cair (LNG) dunia juga melewati Selat Hormuz.

Iran tidak perlu mendeklarasikan blokade formal untuk melumpuhkan selat ini. Yang dilakukan Iran hanyalah beberapa serangan drone di sekitar Selat Hormuz, dan tiba-tiba saja perusahaan asuransi dan pelayaran memutuskan bahwa jalur air yang berbentuk kurva-S sempit itu tidak aman untuk dilintasi. Hasilnya, menurut firma analitik pelayaran Kpler, aktivitas pengiriman melalui selat anjlok hingga 90 persen, sementara lebih dari 150 kapal berlabuh di luar selat untuk menghindari risiko.

Pasokan global kini kekurangan sekitar 20 juta barel per hari. Harga minyak Brent sempat melonjak di atas 100 dolar per barel untuk pertama kalinya sejak 2022, dan bisa mendekati 150 dolar jika gangguan terus berlanjut.

CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, memperingatkan bahwa konflik ini telah memicu “reaksi berantai yang parah” dan “efek domino yang drastis” jauh melampaui sektor perkapalan, dan memukul penerbangan, pertanian, otomotif, dan industri-industri lainnya. “Ini, sejauh ini, adalah krisis terbesar yang pernah dihadapi industri minyak dan gas di kawasan ini,” katanya.

Sementara itu, Irak terpaksa menghentikan produksi di beberapa ladang minyak terbesarnya karena tanpa bisa mengekspor lewat Selat Hormuz, tidak ada tempat untuk menampung minyak itu. Analis Helima Croft dari RBC Capital Markets bahkan menyebut ini sebagai “krisis energi terbesar sejak embargo minyak di tahun 1970-an.”

Presiden AS Donald Trump bereaksi keras. Di Truth Social, ia memperingatkan: jika Iran memblokade Selat Hormuz, “mereka akan diserang oleh Amerika Serikat 20 kali lebih keras dari yang telah mereka terima sejauh ini.” Iran menjawab dengan nada yang sama keras. Pejabat senior Ali Larijani membalas bahwa “rakyat Iran tidak takut dengan ancaman kosongmu,” sementara juru bicara Kementerian Luar Negeri menyatakan semua kapal tanker yang melintas “harus sangat berhati-hati.”

Kesatuan yang dipertunjukkan

Kalkulasi Washington bahwa tekanan militer—termasuk strategi pembunuhan tokoh-tokoh senior—akan memicu perpecahan internal Iran tampaknya meleset.

Di Tehran, demonstran pro-pemerintah turun ke jalan pada 28 Februari, melambaikan bendera Republik Islam dan berteriak menentang AS dan Israel. Aksi serupa terjadi di Yasuj, di mana warga berduka atas kematian Khamenei. Media pemerintah melaporkan gelombang massa di Lapangan Revolusi pada 1 Maret. Beberapa hari kemudian, ratusan ribu warga Iran berkumpul di Tehran untuk menyatakan dukungan kepada Pemimpin Tertinggi baru Mojtaba Khamenei.

Demonstrasi-demonstrasi ini memiliki fungsi politik yang sangat konkret, yakni mempersulit narasi bahwa operasi militer AS-Israel adalah upaya “membebaskan” rakyat Iran dari rezim yang tidak mereka inginkan. Gambar lautan manusia di Lapangan Revolusi adalah antitesis dari narasi pembebasan itu.

Meski begitu, gambaran di dalam Iran tidak sesederhana itu. Sebelum perang meletus, Iran telah diguncang oleh gelombang protes besar sejak Desember 2025—yang oleh beberapa lembaga disebut sebagai pemberontakan terbesar sejak Revolusi 1979—dengan lebih dari 22 ribu demonstran ditangkap. Di luar negeri, lebih dari 250 ribu orang hadir dalam reli diaspora Iran di Munich pada 14 Februari, sementara reli di Toronto dan Los Angeles masing-masing menarik 350 ribu peserta—yang menyerukan dukungan internasional bagi perubahan rezim.

Artinya, kepemimpinan Iran sedang berjalan di atas tali: menampilkan persatuan keluar sembari mengelola keretakan di dalam.

Diplomasi berwajah dua

Di tengah konfrontasi militer yang semakin melebar, Iran juga menjalankan manuver diplomatik yang cermat terhadap negara-negara Arab di kawasan.

Pesan inti yang terus-menerus dikumandangkan Tehran kepada Riyadh, Abu Dhabi, dan Amman adalah serangan-serangan Iran ditujukan kepada instalasi militer AS, bukan kepada kedaulatan negara tuan rumah. Ini bukan sekadar basa-basi, namun kalkulasi strategis untuk mencegah agar Arab Saudi, UAE, dan negara-negara Teluk lainnya tidak berkonsolidasi sepenuhnya di kubu AS-Israel.

Pesan itu bersifat dua lapis: jangan izinkan wilayahmu digunakan untuk menyerang Iran, tetapi jika kalian tidak terlibat langsung, Iran tidak menganggap kalian musuh. Bahkan, laporan menyebutkan Iran memperbolehkan hanya kapal-kapal berbendera Tiongkok untuk melintas di Selat Hormuz, mengutip sikap dukungan Beijing terhadap Tehran sejak konflik memanas.

Ini adalah pembacaan geopolitik yang tajam. Jika Arab Saudi dan UAE ikut aktif memihak AS, dinamika perang akan berubah secara fundamental, dan tidak menguntungkan Iran.

Kerentanan Iran

Kendati strategi Iran tampak terencana dan berlapis, sejumlah kelemahan struktural tetap ada.

Pertama, perang narasi. Dibandingkan dengan infrastruktur media internasional yang dimiliki Washington dan Tel Aviv, kemampuan Iran memproyeksikan pesannya ke audiens global sangatlah terbatas. Hal ini diperparah oleh pemadaman internet yang sudah berlangsung selama 10 hari di dalam negeri per hari ini.

Kedua, gerakan anti-perang global. Di London, lebih dari 50.000 orang berdemonstrasi pada 7 Maret menentang serangan terhadap Iran, diorganisasi oleh kelompok-kelompok termasuk Campaign for Nuclear Disarmament dan Stop The War Coalition. Namun sejauh ini, protes-protes tersebut belum mencapai skala yang mampu memberikan tekanan politik berarti kepada pemerintah yang mendukung operasi militer.

Ketiga, kepemimpinan baru yang belum teruji. Mojtaba Khamenei adalah figur yang nyaris tidak pernah tampil di publik sebelumnya. Ia menghadapi ancaman pembunuhan yang nyata karena AS dan Israel telah berjanji untuk terus menyingkirkan pemimpin-pemimpin Iran. Keabsahan dan efektivitasnya dalam mengelola perang berkepanjangan belum terbukti.

Perang kalkulasi

Yang sedang berlangsung di kawasan ini bukan sekadar perang senjata. Ini adalah perang kalkulasi, seberapa jauh setiap pihak mampu menanggung biaya yang terus meningkat, baik secara militer, ekonomi, maupun politik, sebelum salah satunya mencari jalan keluar.

Iran tampaknya bertaruh bahwa biaya itu akan mencapai titik tak tertahankan lebih dahulu bagi pihak lain: pasar energi global yang tertekan, opini publik Barat yang semakin gelisah, dan negara-negara Arab yang tidak ingin terseret lebih jauh ke dalam konflik yang bukan perang mereka.

Apakah taruhan itu tepat, masih terlalu dini untuk dijawab. Yang jelas, perang ini jauh lebih kompleks dari yang semula dibayangkan oleh perancang Operasi Epic Fury. Dan Iran, setidaknya untuk saat ini, masih berusaha bertahan dan melawan.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Supersemar, Jalan Kudeta Merangkak Suharto
Next
Di Indonesia, Rakyat Mati Tertimbun Sampah

Di Indonesia, Rakyat Mati Tertimbun Sampah

Di Zona 4 Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, gunungan

You May Also Like
Total
0
Share