Di Dolby Theatre, Los Angeles, Amerika Serikat (AS), Javier Bardem melangkah ke podium Oscar untuk mempresentasikan kategori Film Internasional Terbaik, 15 Maret 2026 malam. Sebelum membuka amplop, ia berhenti sejenak dan memandang ke arah penonton. Lalu, dengan tenang dan tegas, ia mengucapkan enam kata: “No to war, and free Palestine.”
Tepuk tangan membahana dari dalam gedung. Di dada setelan tuksedonya terpasang dua pin. Satu bertuliskan “No a la Guerra” dalam bahasa Spanyol, dan satu lagi bergambar Handala—sosok anak kecil berambut keriting yang membelakangi dunia, ikon perjuangan Palestina karya seniman Naji al-Ali. Bagi Bardem, ini bukan momen spontan. Ini adalah kesinambungan dari sebuah komitmen yang telah ia bangun selama lebih dari dua dekade.
Pin yang sama, dua generasi perang
Pin “No a la Guerra” yang dikenakan Bardem di Oscar 2026 bukanlah benda baru. Ia mengenakannya pertama kali 23 tahun lalu di panggung Goya Awards 2003—penghargaan sinema bergengsi Spanyol—sebagai protes terhadap invasi AS ke Irak. Saat itu, pemerintah Spanyol di bawah Jose Maria Aznar mendukung koalisi pimpinan AS meski jutaan warga Spanyol turun ke jalan. Bardem memilih tidak diam.
Ketika ditanya di karpet merah mengapa ia mengenakan pin yang sama di 2026, jawabannya langsung dan tanpa basa-basi: “Saya memakai pin ini karena perang Irak adalah perang ilegal. Dan di sini kita, 23 tahun kemudian, dengan perang ilegal lain yang diciptakan oleh Trump dan Netanyahu, yang menciptakan banyak kerusakan dan membunuh banyak orang tak bersalah.”
Paralel yang ia tarik bukan sekadar retorika. Bagi Bardem, pola yang sama terus berulang: kekuatan besar, pembenaran yang dipaksakan, dan korban sipil yang diabaikan. Bahwa ia menyimpan pin itu selama dua dekade dan memilih untuk mengenakannya kembali adalah pernyataan tentang ingatan dan konsistensi—dua hal yang langka di panggung selebriti.
Menyebut genosida dengan terbuka
Komitmen Bardem terhadap Palestina bukan sekadar simbolisme aksesori. Dalam berbagai kesempatan, ia telah mengartikulasikan posisinya dengan kedalaman yang melampaui seruan umum untuk perdamaian. Kepada Variety, setelah turun dari panggung Oscar, ia mengatakan: “Saya ingin menyebut genosida di Gaza. Saya berbicara tentang IAGS (Asosiasi Internasional Sarjana Genosida) yang mempelajari genosida secara mendalam dan telah menyatakan bahwa ini adalah genosida. Itulah mengapa kami meminta blokade komersial dan diplomatik, serta sanksi terhadap Israel untuk menghentikan genosida ini.”
Ia juga menyoroti kondisi di Tepi Barat yang menurutnya kurang mendapat perhatian publik. “Pembersihan etnis yang terjadi di Tepi Barat sangat mengerikan, dan kita tidak membicarakannya dengan cukup,” ujarnya. Bardem menyebut, sejak gencatan senjata Oktober 2025, lebih dari 600 warga Palestina telah terbunuh—sebuah angka yang ia jadikan argumen bahwa berakhirnya perang di atas kertas tidak berarti berakhirnya kewajiban moral untuk berbicara.
Berlinale dan surat terbuka
Sebelum Oscar 2026, Bardem sudah bergerak di arena yang lebih kolektif. Pada Februari 2026, ia menjadi salah satu dari lebih 100 sineas yang menandatangani surat terbuka yang mengkritik Festival Film Berlin (Berlinale) karena “diam” atas situasi di Gaza.
Surat itu, yang ditujukan kepada institusi industri film, berbunyi: “Kami menulis sebagai pekerja film, semua dari kami adalah peserta Berlinale masa lalu dan saat ini, yang mengharapkan institusi di industri kami untuk menolak keterlibatan dalam kekerasan mengerikan yang terus dilancarkan terhadap warga Palestina.” Penandatanganan surat itu adalah bentuk advokasi yang berbeda. Bukan monolog tunggal di atas podium, melainkan tekanan kolektif yang menyasar mekanisme institusional industri hiburan global.
Salah satu pernyataan Bardem yang paling menggugat malam itu disampaikan bukan dari panggung, melainkan di backstage kepada The Independent. Ketika ditanya mengapa begitu sedikit bintang Hollywood yang berbicara, jawabannya tidak ragu: “Saya pikir ini soal kenyamanan. Mereka tidak ingin membuat diri mereka tidak nyaman. Dan itu membuat saya tidak nyaman; saya dan banyak orang lainnya.”
Ia melanjutkan dengan sesuatu yang lebih optimistis. “Ketika saya berkata ‘free Palestine’ di ruangan itu, di teater itu, ruangan itu meledak dengan tepuk tangan. Jadi ada dukungan, ada banyak orang yang mendukungnya, tetapi tidak cukup keras. Itulah yang ingin saya inspirasi.”
Bardem tidak menempatkan dirinya sebagai suara tunggal—ia menempatkan dirinya sebagai penanda bahwa suara-suara yang selama ini bungkam karena kalkulasi karier atau kenyamanan sosial sebenarnya ada, dan bisa diaktifkan.
Seni dan kewargaan
Bardem adalah aktor kelas dunia—pemenang Oscar untuk No Country for Old Men (2008), dikenal juga lewat Skyfall, Biutiful, dan Before Night Falls. Ia bisa memilih untuk menjaga karier dan diam. Bahwa ia tidak melakukannya bukan karena ia tidak sadar konsekuensinya. Laporan menyebut adanya ketegangan yang dilaporkan dengan beberapa studio besar akibat posisi politiknya. Tetapi Bardem memiliki framing yang jelas tentang apa artinya menjadi seniman: “Penting untuk dipahami bahwa Anda bisa menjadi bagian dari komunitas pembuat film dan juga menjadi warga negara yang menggunakan pengeras suara besar ini untuk mengecam ketidakadilan.”
Bagi Bardem, dua identitas itu—seniman dan warga—tidak terpisah. Ia tidak datang ke Oscar untuk mempromosikan film. Ia datang dengan pin yang ia simpan selama dua dekade, dengan nama-nama yang ia hafal, dan dengan keyakinan bahwa diam di panggung sebesar itu adalah pilihan yang juga bermakna politik. Ia memilih untuk tidak diam.










