Konflik Israel-Palestina terus menjadi eskalasi yang tak kunjung usai. Dan sekarang melebar menjadi konflik Israel-Iran setelah rezim Netanyahu menyerang Teheran pada 13 Juni lalu. Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan kecaman internasional terbukti tidak cukup kuat untuk menghentikan agresi militer Israel, yang kini mencapai tingkat kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Konteks saat ini jauh lebih mengerikan dibandingkan peristiwa di Sheikh Jarrah pada 2021. Serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dibalas oleh Israel dengan kampanye militer brutal di Jalur Gaza. Hingga pertengahan 2025, serangan ini telah menewaskan lebih dari 40 ribu warga Palestina—mayoritas perempuan dan anak-anak—melukai puluhan ribu lainnya, dan menyebabkan lebih dari 80 persen populasi Gaza mengungsi di tengah krisis kemanusiaan yang parah.
Puncaknya, Mahkamah Internasional (ICJ) pada Januari 2024 menyatakan bahwa klaim genosida yang diajukan Afrika Selatan terhadap Israel adalah “masuk akal” dan memerintahkan Israel untuk mencegah tindakan genosida. Upaya itu diikuti oleh Jaksa Mahkamah Pidana Internasional (ICC) yang pada Mei 2024 mengupayakan surat perintah penangkapan bagi para pemimpin Israel, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Serangan mendadak Israel ke wilayah Iran pada 13 Juni lalu bukan hanya pelanggaran kedaulatan, tetapi sebuah provokasi terbuka untuk mendorong konflik militer berskala luas di Timur Tengah. Korban dari provokasi Israel di bawah rezim Netanyahu ini adalah warga sipil tak berdosa.
Jika resolusi PBB selama lebih dari 75 tahun dan jalur hukum internasional yang lambat belum mampu memberikan keadilan, dunia internasional perlu meninjau ulang cara-cara lain untuk menekan Israel. Salah satu yang paling menonjol adalah gerakan boikot, divestasi, dan sanksi, atau boycott, divestment, and sanctions (BDS).
Apa itu gerakan BDS?
Gerakan BDS adalah inisiatif global yang dipimpin oleh masyarakat sipil Palestina. Diluncurkan pada 2005 oleh 170 serikat pekerja, organisasi pengungsi, kelompok perempuan, dan jaringan masyarakat Palestina lainnya, BDS terinspirasi oleh gerakan anti-apartheid yang berhasil menekan rezim kulit putih di Afrika Selatan.
Tanpa menembakkan satu peluru pun, gerakan ini bertujuan menekan Israel secara ekonomi, budaya, dan politik agar mematuhi hukum internasional. Sebagaimana tertulis di situs resminya, BDS adalah gerakan inklusif yang menentang segala bentuk rasisme, termasuk anti-semitisme dan Islamofobia.
Tiga tujuan utama gerakan BDS:
Mengakhiri pendudukan dan kolonisasi atas semua tanah Arab, termasuk Tepi Barat (termasuk Yerusalem Timur), Gaza, dan Dataran Tinggi Golan, serta membongkar tembok pemisah.
Mengakui hak-hak dasar warga negara Arab-Palestina di Israel untuk mendapatkan kesetaraan penuh.
Menghormati, melindungi, dan mempromosikan hak-hak pengungsi Palestina untuk kembali ke rumah dan properti mereka seperti yang ditetapkan dalam Resolusi PBB 194.
Gerakan ini secara eksplisit tidak mengambil sikap mengenai solusi akhir konflik, baik itu solusi satu negara atau dua negara, dan menyerahkannya pada rakyat Palestina untuk memutuskan.
Tiga pilar aksi BDS
Boikot: Menargetkan produk, perusahaan, dan institusi (akademik, budaya, olahraga) Israel yang terlibat dalam pelanggaran hak-hak Palestina. Boikot konsumen terhadap perusahaan seperti HP (yang menyediakan teknologi untuk militer Israel) atau boikot akademik terhadap universitas Israel yang mendukung pendudukan adalah contohnya.
Dalam sejarahnya, gerakan boikot bukan hal-hal baru dalam sejarah perjuangan bangsa-bangsa Arab menentang Israel. Sepanjang 1948 hingga 1994, gerakan boikot bangsa-bangsa Arab merugikan Israel sebesar $40 miliar.
Divestasi: Meyakinkan lembaga seperti bank, dana pensiun, gereja, dan universitas untuk menarik investasi mereka dari semua perusahaan Israel dan perusahaan internasional yang terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia Palestina.
Di AS, pada 2015, gereja yang bernaung di bawah Gereja Kristus Bersatu (United Church of Christ), yang menaungi 4800-an gereja dan 800 ribu jemaah, sudah menyerukan divestasi terhadap perusahaan-perusahaan yang mengambil untung atas kejahatan Israel di Palestina.
Sanksi: Menekan pemerintah untuk memenuhi kewajiban hukum mereka dengan mengakhiri hubungan militer, melarang perdagangan dengan permukiman ilegal, dan menangguhkan keanggotaan Israel di forum internasional seperti PBB dan FIFA, hingga negara itu mematuhi hukum internasional.
Dampak dan tantangan
Meskipun tidak menggunakan kekerasan, dampak BDS membuat Israel dan para pendukungnya khawatir. Sebuah laporan UNCTAD pada 2014 mengaitkan gerakan BDS dengan penurunan investasi asing langsung ke Israel sebesar 46 persen pada tahun itu.
- Studi dari Rand Corporation memperkirakan bahwa BDS berpotensi merugikan PDB Israel sebesar 1-2 persen setiap tahunnya.
- Perusahaan multinasional seperti Veolia, Orange, dan G4S telah menarik atau mengurangi operasi mereka di Israel setelah kampanye BDS yang berkelanjutan. Raksasa Unilever juga terlibat dalam kontroversi panjang terkait anak perusahaannya, Ben & Jerry’s, yang menghentikan penjualan di wilayah pendudukan.
- Ada ribuan artis ternama, seperti Roger Waters (Pink Floyd), Faithless, Lauryn Hill, Brian Eno dan Elvis Costello, juga menyatakan tak mau tampil di tanah Israel.
- Sejumlah nama besar, seperti Stephen Hawking, Adolfo Pérez Esquivel (peraih Nobel), Ken Loach (sutradara film), Evo Morales (mantan Presiden Bolivia), Manuel Zelaya (mantan Presiden Honduras), hingga Desmond Tutu, juga mendukung gerakan ini.
- Pada 2018, Timnas Argentina membatalkan laga persahabatan versus Israel di Yerussalem setelah protes keras dari Asosiasi Sepak Bola Palestina dan masyarakat pencinta bola di berbagai negara.
Sebagai respons, Israel dan kelompok-kelompok pro-Israel telah menginvestasikan jutaan dollar untuk melawan BDS. Mereka melabeli gerakan ini sebagai “anti-semit” untuk mendelegitimasi para aktivisnya. Di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, telah disahkan undang-undang yang melarang atau menghukum individu dan perusahaan yang berpartisipasi dalam boikot terhadap Israel. Organisasi seperti Canary Mission secara terbuka mengumpulkan data untuk mengintimidasi mahasiswa dan akademisi pro-Palestina.
Namun, BDS dengan tegas menolak tuduhan anti-semitisme, dengan menyatakan bahwa targetnya adalah kebijakan negara Israel, bukan orang Yahudi. Gerakan ini menyambut partisipasi warga Yahudi-Israel yang anti-pendudukan dan menganut nilai-nilai universal: kemerdekaan, keadilan, dan kesetaraan.
Di tengah kehancuran Gaza dan kegilaan perang Israel, BDS menawarkan jalan perjuangan tanpa kekerasan. Jika dukungan internasional terhadap gerakan ini semakin meluas, tekanan ekonomi dan isolasi politik yang dihasilkan bisa menjadi kekuatan yang memaksa Israel untuk menyadari bahwa pendudukan dan apartheid memiliki biaya yang terlalu mahal untuk dipertahankan.










